Iri

Pintu terbuka, Faris muncul dari balik pintu dengan memasang senyum semanis mungkin dan dia juga berusaha pura-pura terlihat baik-baik saja. Tapi sayangnya, Nirmala masih bisa melihat gelagat salah tingkah dan tak tenang di wajah sang suami. Faris ingin memeluk tubuh Nirmala, tapi dengan cepat Nirmala mengelak dan mendorong kecil tubuh tegap yang ada di hadapannya.

''Mas kok lama buka pintunya? Bibik mana?'' tanya Nirmala dengan wajah di buat lelah.

''Sayang, maaf, ya, tadi Mas lagi siap-siap di kamar. Bibik lagi di dapur menyiapkan sarapan pagi.'' Faris menjawab sedikit gelisah. Ia melihat lekat wajah sang istri yang terlihat lebih cantik dari biasa. Wajah Nirmala nampak lebih bersih dan segar.

''Baiklah, aku mau masuk. Capek, Mas.'' Ucap Nirmala tanpa menatap wajah Faris.

''Kamu tidak salaman dulu sama, Mas? Tadi saat Mas mau memeluk kamu, kamu juga menghindar, apa kamu tidak kangen dengan suami mu ini?'' tanya Faris merasa aneh, biasanya Nirmala tidak pernah lupa menyalami tangannya dan mengecup dengan penuh cinta. Biasanya Nirmala selalu bersikap manja dengan nya. Tapi kali ini tak lagi. Nirmala terlihat abai.

''Ah, iya ... Maaf, aku lelah banget, Mas.'' Nirmala lalu menyalami tangan Faris dan menciumi nya dengan berat hati.

''Lelah? Tapi wajahnya terlihat segar dan makin cantik. Aku lihat Nirmala semakin hari semakin aneh saja, dia seperti sengaja menghindari aku.'' ucap Faris di dalam hati. Mendadak ia takut kalau-kalau Nirmala juga ikut mengkhianati nya. Seperti apa yang dia lakukan di belakang Nirmala.

Setelah itu mereka berjalan masuk ke dalam rumah dengan saling berdampingan. Nirmala tak ada minat sama sekali untuk menggandeng tangan Faris, entahlah, dia merasa jijik sama suaminya sendiri. Suami yang telah berbagi cinta serta tubuhnya juga.

Nirmala langsung berjalan ke kamarnya, untuk meletakkan beberapa barang bawaan nya. Ia masih pura-pura tidak tahu kalau Sintia berada di rumah itu. Begitupun Sintia, saat ini Sintia lagi berada di dapur, pura-pura membantu pembantu memasak.

''Lho, Mas. Kok sprai nya berantakan gini, sih!'' Nirmala berkata dengan wajah merenggut. Ia menarik nafas dalam sembari pandangan menyapu ke seluruh sudut kamar.

''Hehehe tadi malam Mas tidurnya sedikit tidak tenang karena begitu merindukan mu, Sayang. Makanya sprei nya jadi gini.'' Dirga berkata sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.

''Oh, kamu ada-ada saja.'' Nirmala menjatuhkan pantatnya di atas kasur.

''Oh ya yank, di bawah ada Sintia, tadi pagi-pagi sekali dia ke sini katanya dia ingin menyambut kepulangan mu.'' Akhirnya Faris mengatakan tentang keberadaan Sintia dengan santai. Karena ia melihat tidak ada tanda-tanda kecurigaan yang di tunjukkan Nirmala.

''Oh ya?'' tanya Nirmala dengan ekpresi wajah di buat kaget.

''Huum.'' Faris mengangguk mantap dengan senyum mengembang.

''Kok dia nggak ikut menyambut aku di depan pintu tadi?''

''Mungkin dia ingin memberikan mu kejutan.''

''Sintia ada-ada saja.'' Nirmala berjalan ke dapur untuk melihat Sintia. Faris mengikuti nya. Begitu mereka sudah tiba di ruang makan, benar saja, di sana nampak Sintia yang sedang menata beberapa hidangan sarapan pagi di meja makan.

''Hay, Sin, kamu kok repot-repot gini sih!'' sapa Nirmala memasang senyum simpul.

''Nirmala? Kamu udah pulang rupanya. Aku kangen banget tauk sama kamu.'' Sintia langsung menghampiri Nirmala yang berdiri tidak jauh darinya, lalu Sintia memeluk tubuh Nirmala.

''Sama, aku juga kangen benget sama kamu, Sin.'' Kata Nirmala lirih sembari memaksa senyum. Dia membalas pelukan Sintia. Membelai punggung Sintia pelan. Di bagian perut, Nirmala dapat merasakan perut Sintia yang menyentuh perutnya, ''Di dalam sana, mahluk kecil tak berdosa telah tumbuh, mahluk yang pastinya masih sangat membutuhkan kehadiran kedua orangtuanya. Aku takkan menghalangi jalan kalian untuk membesarkan anak kalian secara bersama. Setelah ini kalian bisa hidup bersama, berbahagia dengan keluarga kecil kalian. Karma? Biar itu jadi urusan yang maha kuasa.'' Ucap Nirmala di dalam hati seraya tersenyum getir. Dadanya terasa sesak. Ia sudah mencoba untuk kuat, tapi masalah nya berbeda, ia tidak hanya di khianati oleh sang suami, tapi dia di khianati oleh sahabatnya juga. Sahabat yang selama ini sudah di anggap saudara sendiri.

''Maaf, ya, aku pagi-pagi udah di sini aja, soalnya aku pengen ketemu kamu. Kita 'kan udah lama nggak bertemu.'' Sintia berucap seraya melepaskan pelukannya di tubuh Nirmala. Mereka berdua saling menatap lekat memasang senyum simpul. Sementara Faris yang sudah duduk di meja makan, merasa begitu terharu melihat kedekatan dua orang yang dia sayang. Dia harap saat Nirmala sudah tahu semuanya, Nirmala akan menerima Sintia dengan senang hati sebagai adik madunya. Tapi ia juga takut, takut Nirmala pergi meninggalkan nya.

''Nggak apa-apa. Em itu, lipstik mu kenapa keluar jalur gitu?'' Nirmala menunjuk bibir Sintia. Memang benar, lipstik warna merah menyala yang di pakai Sintia nampak hampir menyentuh area lubang hidung nya.

''Ah masak?'' tanya Sintia salah tingkah. Ia menoleh ke arah Faris, hingga Faris juga bisa melihat itu.

''Iya 'kan, Mas?'' tanya Nirmala para Faris.

''Iya, Sin.'' Jawab Faris. Pembantu yang sedang mencuci piring diam-diam tersenyum, mereka sudah menyadari itu tadi, tapi mereka tidak mau mengatakan.

''Ya ampun, kok gini sih.'' Sintia mengambil tissue di atas meja, lalu dia menghapus lipstik yang menempel tidak pada tempatnya dengan cepat.

''Ih, ini pasti karena aku terburu-buru tadi. Kenapa tuh pembantu tidak bilang apa-apa sih, padahal dari tadi aku 'kan sudah berada di dekat mereka. Dasar pembantu sialan! Awas saja kalian, akan aku pecat kalian berdua saat aku sudah resmi menjadi istri Mas Faris dan saat aku sudah tinggal di sini.'' Sintia ngedumel panjang lebar di dalam hati.

Setelah itu mereka bertiga duduk di kursi meja makan, mereka sarapan bersama. Nirmala masih melakukan kewajiban nya sebagai seorang istri, ia memasukkan nasi beserta lauk dan sayur ke dalam piring Faris. Saat Nirmala memasukkan nasi ke dalam piring Faris, Sintia tidak sengaja melihat cincin yang begitu indah melingkar di jari manis Nirmala. Mendadak saja hatinya di landa rasa iri yang teramat sangat. Ia tahu itu adalah cincin berlian yang memiliki harga yang fantastis.

Mereka bertiga makan, sesekali mereka berbicara. Sintia makan dengan tak bersemangat, dia hanya mengaduk-ngaduk makanan di piring nya dengan sendok. Ia masih mencuri-curi pandang ke arah jari Nirmala.

''Sin, kok makanan nya cuma di aduk gitu? Nggak enak, ya?'' tanya Nirmala. Faris pun melihat ke arah Sintia.

''Enak kok, Nirmala. Cuma aku nya aja yang lagi nggak berselera.'' Jawab Sintia.

''Di makan dong, Sin. Nanti kamu sakit, makan sesendok atau dua sendok aja.''

''Iya, Nirmala. Em Nirmala, itu cincin baru, ya?''

Bersambung.

Terpopuler

Comments

Ajusani Dei Yanti

Ajusani Dei Yanti

iri bilang bos

2023-03-14

0

Yoo anna 💞

Yoo anna 💞

ihh nirmala kok gak jijik se sama seprai nya 🤮

2022-11-25

3

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!