Tidak Aktif

''Maaf Nirmala, Mas kelepasan.'' kata Dirga usai bibirnya dan bibir Nirmala tidak saling bertaut lagi. Dirga menghapus sisa-sisa saliva pada bibir Nirmala.

''Tidak apa-apa, Mas.'' balas Nirmala dengan wajah merah merona. Ia menunduk malu.

''Apa kau juga suka Sayang?'' tanya Dirga sengaja menggoda Nirmala.

''Em, tidak.'' jawab Nirmala berbohong.

''Kenapa wajah mu jadi merah begitu?'' tanya Dirga lagi seraya terkekeh kecil.

''Ah masak, emang iya?''

''Iya Sayang.''

''Sepertinya aku sudah mulai merasa nyaman denganmu Mas. Terimakasih Mas karena kamu sudah memperlakukan aku dengan sangat baik.'' jujur Nirmala.

''Mas juga merasa sangat nyaman berada di sisi mu. Kamu jangan khawatir, Mas akan membantu mu agar cepat terbebas dari pria brengsek itu.'' kata Dirga meyakinkan Nirmala. Ia menggenggam tangan Nirmala.

''Terimakasih Sayang. Kalau kamu tidak ada mungkin aku akan menjadi wanita rapuh, mungkin aku hanya bisa menangis dalam diam karena memikirkan dua manusia pengkhianat itu.''

''Sama-sama Sayang. Mas akan selalu ada untukmu.'' ucap Dirga pasti, setelah itu ia memeluk tubuh Nirmala.

***

Malam harinya, Faris dan Sintia telah berada di kamar hotel bintang lima.

''Ah, nyaman sekali rasanya kasur ini.'' ucap Sintia merebahkan dirinya di atas kasur king size. Kasur yang begitu lembut dan empuk.

''Wajar saja nyaman Sayang, sesuai sama budget nya.'' timpal Dirga, dia duduk di pinggir kasur di samping Sintia.

''Iya, Mas.''

''Nirmala kemana sih?'' gumam Faris seraya mengotak-atik ponselnya.

''Emang kenapa Mas?'' tanya Sintia, lalu Sintia duduk di samping Faris.

''Ini, Mas mau menghubungi Nirmala, menanyakan kapan dia akan pulang dari luar kota, tapi dari sore tadi ponselnya tidak dapat di hubungi. Mana Mama dan Tika juga minta di kirimkan uang lagi. Kata Mama, Nirmala belum mentransfer uang ke rekening Mama, padahal biasanya Nirmala tidak pernah telat mengirimkan uang belanja untuk Mama dan Tika.'' ucap Faris panjang lebar. Wajahnya terlihat kusut.

''Ya udah coba kamu hubungi terus, Mas.'' desak Sintia.

''Enggak masuk-masuk Sayang. Sepertinya ponselnya mati.''

''Mungkin dia lagi sibuk, Mas.''

''Mungkin. Tapi bagaimana dengan Mama, apa Mas pakai uang Mas dulu untuk belanja Mama dan Tika.''

''Jangan dong, Mas. Itukan uang tabungan kamu untuk pernikahan kita sama untuk calon anak kita.'' Sintia berkata dengan cepat. Dia tidak rela kalau Faris mengirimkan uang kepada Mamanya.

''Terus bagaimana dong? Kata Mama uangnya sudah habis. Apa pakai uang mu saja dulu.''

''Em uang aku di rekening juga udah menipis Mas, soalnya udah aku kirim kepada orangtua ku di kampung.'' ucap Sintia beralasan.

''Duh gimana ini.'' Faris menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

''Nanti sajalah kita pikirkan. Kirim pesan ke Mama, suruh dia bersabar sebentar. Palingan nanti pasti ponsel Nirmala sudah bisa di hubungi.'' ucap Sintia lagi.

''Kamu benar Sayang.'' kata Faris mengangguk kecil.

Selama menikah dengan Faris, Nirmala lah yang selalu rutin mengirimkan uang bulanan kepada Mama Faris dan Tika, Nirmala mengirimkan separuh gajinya untuk mereka. Selama ini Nirmala tidak pernah merasa keberatan karena dia sangat menyayangi Faris dan keluarganya. Bagi Nirmala hanya Faris dan Mamanya lah yang ia punya. Makanya Nirmala rela melakukan apapun. Sedangkan uang gaji Faris memang sengaja di tabung, katanya untuk tabungan mereka di hari tua. Tapi kenyataannya Faris malah menggunakan uang itu untuk mencukupi kebutuhan Sintia dan untuk ia pakai bersenang-senang dengan Sintia.

Faris dan Sintia mandi bersama di kamar mandi hotel. Tubuh keduanya yang sudah sama-sama polos berendam di dalam bathtub, di dalam bathtub mereka saling bercumbu mesra.

''Nanti kita main lagi atas ranjang, ya, Mas. Ah ...'' ucap Sintia lirih. Ia menekan kepala Faris diantara dua gundukan kenyal miliknya. Faris mengecup salah satu pucuk gundukan kenyal itu di sertai dengan tangan nya yang meraba-raba.

''Pasti Sayang. Kita main sampai pagi.'' sahut Faris dengan suara terputus-putus karena mulutnya yang tengah sibuk melahap benda kesukaan nya itu. Terkadang sesuatu yang di larang memang terasa lebih nikmat karena setan yang terus menghasut agar anak manusia semakin tersesat. Padahal Nirmala lebih cantik, tubuhnya jauh lebih indah dari Sintia tapi masih saja Faris tidak bersyukur atas semua itu. Bisa-bisanya ia tergoda dengan Sintia hanya kerena Sintia yang selalu menjanjikan akan memberinya keturunan.

Bersambung.

Terpopuler

Comments

Ajusani Dei Yanti

Ajusani Dei Yanti

bener2 mertua gak ada ahlak

2023-03-14

0

Sulati Cus

Sulati Cus

bener2 keluarga g tau diri

2022-12-27

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!