Menolak

Setelah selesai bergumul dengan sang kekasih, Faris mengambil ponselnya lagi untuk menghubungi Nirmala. Sintia berbaring di dada bidangnya, keduanya belum memakai pakaian, hanya selimut tebal yang menutupi tubuh keduanya. Satu kali panggilan tak di angkat, dua kali panggilan pun masih tak di angkat, padahal nomer ponsel Nirmala sudah aktif. Hingga panggilan ke tiga masih tetap tidak di angkat. Faris merasa kesal karena panggilan darinya tak kunjung di angkat oleh sang istri.

''Nirmala ke mana sih?!'' seru Faris berdecak kesal.

''Udah tidur kali Mas. Mas sepertinya telat menghubungi nya. Lihat tuh jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.'' Kata Sintia. Jari jemari nya mengelus dada bidang sang kekasih.

''Coba Mas hubungi lagi,'' ucap Faris lagi lalu jarinya mulai menyentuh layar ponselnya lagi. Kali ini, hanya dengan sekali panggilan Nirmala langsung mengangkat. Faris tersenyum senang karena akhirnya Nirmala mengangkat panggilan darinya.

''Hallo Sayang,'' Faris berkata begitu mesra. Sintia tidak suka mendengar itu, ia mencubit kecil perut sang suami.

''Iya, Mas. Maaf Mas aku telat mengangkat panggilan dari mu, soalnya tadi aku lagi sibuk dengan leptop ku.'' Jawab Nirmala dari seberang sana.

''Iya, tidak apa-apa Sayang. Mas kira kamu ke mana tadi. Mas merasa cemas karena kamu tak kunjung mengangkat telpon. Mana tadi siang kamu juga tidak pernah menghubungi Mas,''

''Aku baik-baik saja, Mas.''

''Syukurlah. Kamu kapan pulangnya Sayang?'' tanya Faris mesra. Lagi-lagi Sintia mencubit perut Faris hingga membuat Faris terlonjak kecil.

''Kira-kira dua hari lagi, Mas.'' Sintia tersenyum senang mendengar perkataan Nirmala.

''Yah kok lama amat sih. Padahal Mas sudah sangat merindukan mu. Mas merasa kesepian di rumah karena tidak ada kamu.'' Ucap Faris berbohong.

''Hehehe ... Aku juga merindukan mu, Mas. Yang sabar, ya,'' Nirmala terkekeh kecil. Diapun ikut berbohong.

''Sayang, Mas mau tanya, apa kamu sudah mentransfer uang bulanan untuk Mama dan Tika?'' kata-kata itu akhirnya keluar juga dari mulut Faris. Emang kata itulah yang menjadi tujuan nya menghubungi Nirmala.

''Belum Mas. Maaf Mas aku lupa.''

''Yahh kok lupa sih! Makanya Mama dari tadi menghubungi Mas terus meminta agar Mas menghubungi mu. Kata Mama uang belanja mereka sudah habis, kamu transfer segera, ya.''

''Duh, maaf, Mas. Aku tidak bisa mentransfer uang gaji ku lagi untuk Mama.'' Anjani menolak dengan halus.

''Kenapa?'' tanya Faris merasa heran. Karena tidak biasanya Nirmala berkata seperti itu. Biasanya Nirmala selalu gercep kalau di suruh mentransfer uang untuk mama dan adik iparnya itu.

''Nggak kenapa-kenapa. Bulan ini pakai uang mu saja dulu.''

''Nggak bisa gitu Nirmala!'' Faris protes. Intonasi suaranya semakin meninggi. Sintia yang bisa mendengar percakapan antara suami istri tersebut juga ikut merasa kesal sama Nirmala.

''Lahh kenapa? Kamu tanya kenapa? Selama ini selalu aku yang mengirimkan uang untuk mama dan adik mu. Coba mulai sekarang kamu lagi yang mengirimkan uang untuk mereka. Gaji kamu 'kan lumayan besar Mas. Dan selama ini gaji kamu hanya kamu gunakan sendiri. Sedangkan gaji ku bercabang entah ke mana. Sekarang apa salahnya uang kamu, kamu kirim ke mama. Maaf Mas bukan apa-apa, mulai sekarang aku hanya ingin menabung Mas!'' tutur Nirmala terdengar tenang.

''Menabung untuk apa Nirmala? Lagian Kamu 'kan sudah tidak punya siapa-siapa lagi yang menjadi tanggungan mu, hanya kami keluarga mu. Dan soal anak, sampai saat ini kamu masih belum di beri kepercayaan untuk mengandung, jadi kamu tidak usah menabung, biar Mas saja yang menabung.''

''Tidak bisa Mas. Maaf, kali ini aku tidak akan mentransfer uang ke mama.''

''Kok kamu jadi perhitungan sekarang Nirmala?''

''Nirmala, Nirmala ...'' Faris membanting kasar ponselnya ke atas kasur. Nirmala telah memutuskan panggilan secara sepihak. Faris benar-benar tidak mengerti kenapa Nirmala mendadak menjadi perhitungan sama mama dan adiknya. Faris bisa menyadari kalau sikap sang istri sedikit berubah.

''Iihh Nirmala kok gitu sih, Mas? Egois banget jadi orang! Lagian gaji dia kan lebih besar dari kita,'' ujar Sintia malah semakin memanasi Faris.

''Mas tidak tahu juga Sayang. Bulan ini biar Mas saja yang transfer uang ke mama. Kasihan mama.''

''Berkurang dong uang tabungan kita,'' Sintia memasang wajah cemberut.

''Hanya untuk bulan ini saja Sayang.''

''Ya sudah.'' Sintia akhirnya setuju. Sebenarnya dia sungguh tidak rela Faris memberikan uang kepada mama dan adiknya. Tapi dia juga tak kuasa untuk melarang dan mendebat sang kekasih. Lagian posisinya sekarang hanya sebatas kekasih, mereka belum menikah. Rencananya minggu depan Faris dan Sintia akan melangsungkan pernikahan secara siri.

***

Di tempat berbeda, Dirga membawa Nirmala dalam dekapannya. Tadi dia juga ikut mendengar percakapan antara Nirmala dan Faris. Dirga tidak habis pikir, ternyata selama ini wanita sebaik Nirmala telah di manfaatkan oleh keluarga Faris. Dirga benar-benar merasa kasihan sama Nirmala, dia mengelus punggung Nirmala dengan lembut. Dia takut kondisi Nirmala yang sudah stabil kembali memburuk karena ulah Faris. Apalagi tadi Faris juga sempat menyinggung soal anak. Bila berbicara mengenai anak, Nirmala selalu merasa sedih karena dirinya yang tak kunjung hamil. Dia merasa dirinya tak benar-benar sempurna menjadi seorang wanita.

''Yang kamu lakukan sudah benar, Sayang.'' Dirga berkata lirih seraya mengecup pucuk kepala Nirmala beberapa kali.

''Iya, Mas. Selama ini aku terlalu bodoh, aku telah memberi makan musuh-musuh ku. Mas Faris, Sintia, mama dan Tika, selama ini mereka bisa hidup dengan berkecukupan berkat campur tangan ku. Bisa-bisanya mereka mengkhianati aku, menjadikan aku bahan omongan mereka saat mereka lagi bersama. Ternyata masih ada manusia seperti mereka di dunia ini, manusia-manusia yang tidak tahu terimakasih.'' Nirmala berkata dengan suara tertahan. Meskipun mencoba tegar, tetapi sebagai manusia biasa dia masih merasa sakit di sudut hatinya yang terdalam ketika mengingat tentang kebaikan nya selama ini terhadap keluarga Faris, tapi malah di balas dengan hal yang paling menyakitkan oleh Faris dan keluarga.

''Kamu tidak usah pulang ke rumah itu lagi Sayang. Tetaplah di sini.''

''Tapi itu rumah orangtua ku, Mas.''

''Kalau begitu kamu ambil surat-surat berharga di rumah itu, ambil sertifikat rumah sebelum semuanya terlambat. Itu semua hak mu Sayang. Maaf, Mas tidak ada maksud apa-apa. Terkadang orang-orang seperti mereka mesti di ingatkan lagi dari mana mereka berasal dan berkat siapa mereka bisa hidup senang.''

''Kamu benar sekali, Mas.''

''Dan untuk kedepannya, kalau kamu sudah menjadi istri Mas, kamu tidak usah bekerja lagi. Kamu harus tetap di rumah, Mas akan mencukupi semua kebutuhan mu Sayang. Apapun yang kamu minta akan Mas berikan.''

''Tapi aku tidak bisa punya anak, Mas. Bagaimana mungkin kamu menikah sama wanita seperti ku. Sementara dirimu merupakan seorang CEO, siapa yang akan mewarisi harta-harta mu.''

''Jangan pikir kan itu. Siapa bilang kamu tidak bisa punya anak. Apa perlu kita melakukan itu sekarang? Siapa tahu saat bersama Mas kamu bisa mengandung anak Mas.'' Goda Dirga.

''Iiihh ... Nikahi dulu baru boleh.''

''Oke Sayang.'' Lagi-lagi Dirga mengecup pucuk kepala Nirmala dengan begitu mesra.

Bersambung.

Terpopuler

Comments

Erlinda

Erlinda

aq pikir si Nirmala pintar dan main cantik ternyata dia bodoh sekali udah tau klo suaminya mau nikah lg bukan nya dia mempersiapkan diri dan mengemasi aset aset nya ..eh malah sibuk dgn perasaan nya pada Dirga bukan nya aq ga suka sama Dirga cuma Nurmala kan masih berstatus istri org..

2023-07-03

0

Ajusani Dei Yanti

Ajusani Dei Yanti

lanjut thorrrr kuh semangat

2023-03-14

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!