''Nirmala, itu cincin baru, ya?''
''Em, iya, ini cincin baru, Sin.'' Jawab Nirmala sekenanya dengan mengulas senyum semanis mungkin. Ia pun mengangkat jari manisnya lebih tinggi, hingga cincin itu terlihat jelas. Sengaja, dia ingin memanas-manasi Sintia. Faris yang tadi tengah fokus dengan makanan yang ada dihadapan lalu beralih menatap ke arah jari manis Nirmala. Ia pun bisa melihat kalau cincin yang di pakai oleh sang istri sangat lah cantik dengan kilaunya. ''Oh, mungkin karena ingin membeli cincin itu makanya Nirmala menjadi perhitungan belakangan ini. Mahal tuh kayak nya, sepertinya itu berlian asli. Nanti lah aku tanyakan sendiri sama Nirmala berapa harga cincin itu. Kok mau-maunya Nirmala menghabiskan uang cukup banyak hanya karena ingin memiliki cincin yang gunanya hanya untuk menghiasi jari. Bisa-bisanya ia meninggalkan kewajiban mentransfer uang ke Mama hanya untuk membeli cincin itu.'' Ucap Faris di dalam hati dengan dugaannya yang salah.
''Itu berlian asli apa palsu?'' tanya Sintia lagi penuh selidik. Pertanyaan sengaja meremehkan.
''Asli dong pastinya. Soalnya ini cincin di kasih Pak Dirga tadi malam.'' Jawab Nirmala dengan senyum mengembang. Sementara Faris mendadak terbatuk-batuk setelah mendengar jawaban Nirmala.
''Uhuk, uhuk, uhuk ....''
''Makannya yang pelan dong, Mas.'' Kata Nirmala seraya menyodorkan segelas air putih kepada Faris, Faris meminumnya cepat. Setelah beberapa saat batuknya pun reda.
''Apa? Pak Dirga? Maksud kamu Pak Dirga yang beli cincin itu untuk mu, Sayang?'' Faris bertanya dengan nada sedikit lebih tinggi. Pandangan nya menelisik menatap lekat wajah sang istri.
''Em, iya, Mas. Kata Pak Dirga cincin ini ia kasih kepada aku sebagai bonus karena aku sudah bekerja dengan baik selama ini.'' Nirmala menjawab santai dengan masih menyuapi makanan ke dalam mulutnya. Sementara Faris dan Sintia masih kaget mendengar pengakuannya.
''Wow, mahal sekali itu pastinya.'' Kata Sintia lagi, ia menganggap kalau Nirmala beruntung sekali bisa punya atasan seperti Dirga.
''Pastilah.'' Balas Nirmala singkat.
''Beruntung banget kamu dapat atasan yang kayak gitu, Nirmala.''
''Alhamdulillah, Sin.'' Nirmala berucap dengan rona bahagia. Faris yang melihat merasa cemburu, karena menurutnya Nirmala terlalu berlebihan dalam menilai Dirga.
Setelah makanan mereka habis, Faris dan Sintia pamit pergi ke kantor.
***
"Mas, aku juga pengen cincin kayak Nirmala,'' ucap Sintia manja saat dirinya dan Faris sedang di dalam mobil. Ia memeluk mesra lengan Faris.
''Mahal itu, Sayang. Uang Mas tidak cukup untuk membeli nya. Bisa-bisa tabungan kita habis hanya untuk membeli cincin itu.''
''Tuan Dirga baik banget, ya, bisa-bisanya dia memberikan cincin berlian kepada Nirmala sebagai bonus. Em, aku jadi curiga, jangan-jangan bonus yang lain lagi? Ck!'' Sintia terkekeh kecil.
''Maksud kamu apa, Sin?'' Faris berkata dengan nada sedikit tinggi.
''Udah, kita yang udah dewasa ini pasti tahulah. kalau pria dan wanita sering menghabiskan waktu bersama apa lagi yang akan terjadi selain, anu ... Itu. Sama seperti kita.''
''Sintia, jangan keterlaluan kamu! Nirmala itu wanita baik-baik, dia tidak mungkin melakukan itu dengan pria lain. Dia itu wanita yang setia dan sangat menyayangi, Mas sebagai suaminya.'' Faris menepis kasar tangan Sintia yang bergantung pada lengannya. Wajahnya memerah. Baru kali ini ia se marah itu dengan Sintia. Menurutnya apa yang dikatakan Sintia tentang Nirmala sudah keterlaluan. Sedangkan Sintia merasa kaget dengan kemarahan sang kekasih. Ia berusaha bersikap santai dan membujuk sang kekasih.
''Em, percaya deh! Lagian mana mau, ya, Tuan Dirga yang tampan rupawan dan kaya raya itu berhubungan dengan Nirmala si istri orang. Pastilah dia bisa mengencani wanita yang lebih cantik dak seksi dari Nirmala.'' Sintia berkata dengan lembut.
''Tuh, kamu tahu Sayang. Maaf, tadi Mas kelepasan marah sama kamu.'' Faris berkata dengan suara yang melunak. Ia pun menciumi pucuk kepada Sintia berulangkali sebagai ungkapan permintaan maafnya.
***
''Bik, tolong ganti sprei kamar aku, ya. Sekalian bantal dan guling nya juga. Jijik banget rasanya aku melihat tuh sprei.'' Kata Nirmala ketika Faris dan Sintia tidak ada lagi di rumah. Sekarang Nirmala lagi duduk santai di sofa ruang keluarga. Ia sedang berbalas pesan sama sang kekasih.
''Iya, Non. Non Nirmala yang sabar, ya.'' Kata Bibik ikut prihatin dengan apa yang terjadi kepada Nirmala.
''Iya. Aku nggak apa-apa kok, Bik. Makasih.'' Nirmala berkata dengan senyum simpul.
''Itu, pria yang membawa Non waktu itu sangat tampan, ya. Bibik lihat, wajahnya waktu itu juga sangat khawatir saat Non tidak sadarkan diri. Sepertinya dia suka sama, Non.''
''Ah ... Bibik bisa aja.''
''Semoga saja Non Nirmala berjodoh dengannya. Ya sudah, kalau begitu Bibik ke kamar Non dulu, ya.''
''Ya, Bik.''
Beberapa menit setelah itu, terdengar dari pintu utama suara seseorang tengah memanggil nama Nirmala. Nirmala berjalan dengan langkah kaki lebar menuju pintu utama, ia ingin melihat siapa yang memanggil nya.
Begitu pintu sudah terbuka, ia melihat sang Mama mertua dan sang adik ipar tengah berdiri di dapan pintu.
''Mama, Tika ...'' Nirmala berkata dengan senyum mengembang. Di dalam hati ingin sekali rasanya ia mengusir dua manusia yang tak tahu terimakasih itu.
''Nirmala, Mama dan Tika sengaja berkunjung ke sini karena kami sudah merindukan mu. Tadi Faris mengirim pesan ke Mama mengatakan kalau kamu sudah pulang dari luar kota. Kamu kenapa akhir-akhir ini tidak pernah main ke rumah Mama lagi?'' ucap Retno begitu ramah. Tika pun sama, dia selalu tersenyum melihat ke arah Nirmala.
''Ya udah, yuk masuk dulu. Kita ngobrol nya di dalam aja.'' Kata Nirmala. Setelah itu mereka bertiga berjalan beriringan masuk ke dalam rumah. Mereka lalu duduk di sofa ruang keluarga. Nirmala memanggil sang asisten rumah tangganya untuk menyuguhkan makanan ringan dan minuman untuk Retno dan Tika.
''Kak Nirmala, nggak beli oleh-oleh waktu di luar kota kemarin?'' tanya Tika seraya menikmati brownies kukus kesukaan nya.
''Em, tidak, Tik. Kakak nggak sempat belanja soalnya sibuk banget.''
''Yahh ... Padahal kami ke sini pengen minta oleh-oleh sama Kak Mala ...''
''Maaf, Nirmala. Adik ipar mu ini kalau ngomong emang suka ceplos ceplos.''
''Nggak apa-apa, Ma.''
''Cincin baru, ya, Kak? bagus banget.'' Tanya Tika.
''Em, jadi karena ingin beli cincin itu makanya kamu tidak mentransfer uang ke Mama kemarin, Nirmala? Kamu tuh, ya, jadi orang jangan boros-boros amat. Sayang uangnya mubasir.'' Retno berkata dengan nada ketus.
''Bukan, Ma. Ini cincin di kasih sama atasan aku di kantor.'' Perkataan Nirmala berhasil membungkam mulut Retno hingga Retno terdiam dengan wajah malu.
''Baik banget tuh atasan Kakak. Aku jadi pengen.''
''Hehehe, iya. Makanya kamu kuliah yang bener, supaya bisa kerja di perusahaan besar seperti Kakak.''
Setelah mereka mengobrol panjang lebar, akhirnya Retno dan Tika pamit pulang. Tapi sebelum pulang, Tika meminta uang kepada Nirmala, katanya untuk jajan. Nirmala pun memberikan uang kepada adik ipar nya itu dengan berat hati.
''Emang uang dari Mas Faris nggak cukup?'' tanya Nirmala ketika Tika meminta uang yang tidak sedikit kepadanya. Tika meminta uang sebanyak tiga juta.
''Mana cukuplah Nirmala. Kebutuhan kita berdua ini banyak. Apalagi Tika yang masih mahasiswa. Kamu jadi mantu itu jangan pelit pelit kenapa.'' Retno berkata sinis. Dan akhirnya Nirmala pun memberikan apa yang Mama mertua dan Iparnya minta. ''Nggak apa-apa. Ini yang terakhir kalinya.'' Nirmala berkata pada dirinya sendiri.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Ajusani Dei Yanti
dasar mertua gila
2023-03-14
0
Windy Lyana
padahal bukti udah nyata tapi ttp aja di kasih tu kluarga Muna.semakin di ulur semakin lama rumah Nirmala di buat Zina ma tukang selingkuh.
2022-11-26
2
efridaw995@gmail.com
kapan berpisah Thor Nirmala Uda cukup bermain cantik nya
2022-11-26
3