Rencana Baru

Setelah itu, mereka pun segera pergi ke meja makan. Di sana, ayah dan ibu Mela sudah menunggu.

Mereka langsung memakan sarapan yang tersedia.

"Lho, Bu, kenapa lauknya gini aja? Biasanya kan ada daging atau ayam," protes Mela.

"Ya mau gimana lagi? Kan hasil sawah nggak sebanyak dulu karena sebagian udah di jual. Jadi makan aja apa yang ada, jangan protes. Nanti juga kalau kamu udah pindah ke rumah Rafli bakalan makan enak terus," ucap Ayu.

Rafli yang mendengarnya sedikit gugup. Ia hanya tersenyum memaksa mendengar ucapan sang ibu mertua.

"Iya, Bu, oh ya, kata Mas Rafli, sebentar lagi dia bakalan jadi direktur di cabang perusahaan tempat dia kerja, lho," ucap Mela.

"Wah, beneran, Mel? Berita ini harus segera tersebar di tempat ini supaya orang-orang tau." Ayu kegirangan menanggapi ucapan anaknya.

"Selamat ya, Raf. Bapak dan ibu bangga punya menantu seperti kamu. Makanya, kelakuan kamu agak dirubah biar pekerjaan kamu lebih baik lagi di kantor.

"Iya, Pak, sebenarnya aku juga punya cita-cita, sih. Nanti ketika uangku udah terkumpul banyak, aku mau membuka perusahaan untuk memulai bisnis. Bukan hanya menjadi direktur aja. Karena menjadi direktur itu gajinya sedikit. Kalau aku punya usaha sendiri, harta kita pasti semakin banyak. Apalagi, banyak perusahaan lain yang tertarik kerja sama denganku jika aku punya perusahaan sendiri."

"Emangnya berapa yang kamu butuhkan untuk bangun perusahaan sendiri?" tanya Hasan antusias.

"Nggak banyak, Pak, cuma satu milyar aja. Aku bangun perusahaan kecil, lalu, jika perusahaan semakin berkembang, maka tarafnya akan sama seperti perusahaan tempat ku bekerja sekarang."

Hasan tampak berpikir mendengar cerita Rafli. "Kalau Bapak yang modalin dulu gimana?" tanyanya.

Seketika mata Rafli berbinar-binar mendengar usulan bapak mertuanya itu.

"Modalin? Bapak uang darimana?" tanya Ayu.

Gampang, Bu, kita bisa gadaikan sertifikat rumah dan juga sawah. Rumah ini besar, tentunya untuk pinjaman segitu pasti bisa. Lagian tanah milik Hamid yang ada di daerah sebelah juga bisa kita jual, dia kan nggak berani ungkit harta warisan bagiannya," ucap Hasan.

"Terus bayaran bulanannya gimana?" tanya Ayu yang masih belum yakin dengan keputusan Hasan.

"Hasil sawah ada, ditambah lagi dengan uang yang akan dihasilkan Rafli dari pinjaman itu, pasti kita bisa bayar." Hasan mencoba meyakinkan.

"Tapi cuma rumah dan sawah harta kita, Pak, jangan sampai salah langkah."

"Bu, Ibu tenang aja. Ketika perusahaan yang aku jalankan berhasil, dalam beberapa bulan sertifikat itu pasti akan balik lagi," ucap Rafli.

"Iya, Bu, nanti ketika Mas Rafli udah berhasil, kita pasti bisa nunjukin sama orang di daerah ini kalau kita orang kaya." Mela menambahkan.

"Ya udah, deh, besok kita urus pinjamannya. Raf, kamu beneran kan bisa balikin?" tanya Ayu kembali ingin meyakinkan.

"Pasti bisa, Bu, ibu tenang aja." Rafli tersenyum pada mereka.

Selesai sarapan, ia pun segera berangkat ke tempat yang ia sebut kantor yang tak lain adalah sebuah bengkel motor. Di sana, ia bekerja sebagai montir.

Sesampainya di tempat itu, ia sudah disambut cengkraman di kerah bajunya oleh bos besar yang tadi malam meneleponnya.

"Berani juga lo nunjukin batang hidung Lo setelah sebulan Lo bawa kabur motor gue!"

"Eh, tenang dulu, gue minta maaf, nih gue kasih duit." Rafli menyerahkan uang sebesar lima ratus ribu kepada bosnya itu.

"Banyak duit Lo! Dan kenapa Lo pakai pakaian kantoran gini!" Bosnya melihat penampilan Rafli yang sangat rapi dan bersih. Memakai setelan jas yang rapi seperti seorang pekerja kantoran.

"Ini nggak gue kasih cuma-cuma. Gue minjem motor Lo yang lain, bulan depan gue kasih duit lagi. Soal baju nggak urusan lo," ucap Rafli.

"Bener Lo, jangan bohong!"

"Iya, gue nggak akan lari. Kan ijazah asli SMA gue Lo tahan sebagai jaminan."

"Ya udah, itu ada motor gede, Lo bawa sana." Orang itu menunjukkan sebuah sepeda motor besar yang masih terlihat bagus.

Rafli menghampiri sepeda motor itu, lalu menelitinya dengan senyuman yang melebar.

Hingga tak berselang lama.

"Mas, gimana motor saya? Udah beres?" tanya seseorang yang tak lain adalah Doni, teman Mela yang katanya tidak asing dengan wajah Rafli. Jelas saja, ia beberapa kali pergi ke bengkel tersebut dan melihat Rafli.

Rafli yang terkejut langsung bersembunyi dibalik motor besa itu.

"Woy, Raf, ambilin motor Vario warna putih yang di samping Lo!" seru bosnya.

"Gue lagi beresin motor ini, Bos!"

"Benerin apaan sih, nggak ada yang rusak juga." Bos Rafli langsung menghampiri Rafli, namun untuk mengambil motor Doni.

"Ini, Mas, motornya. Biayanya tiga ratus lima belas ribu."

"Ini, Mas." Doni menyerahkan uang pas pada bos Rafli. Sebenarnya ia masih penasaran dengan sang montir yang tadi dipanggil bosnya. Suaranya seperti tidak asing baginya. Tapi ia masih banyak urusan lain sehingga mengabaikan Rafli.

Setelah Doni pergi, Rafli keluar dari persembunyiannya.

"Lo kenapa sih, gue suruh bukannya kerja, malah sembunyi."

"Nggak apa-apa, Bos. Oh ya, gue resign, ya, gue ada job lain. Motor Lo tenang aja, bakalan gue balikin kalau gue udah beli motor."

"Emang Lo punya duit? Jadi montir gue aja Lo males banget."

"Ada lah, gue kan udah bilang ada job. Oke bos."

"Ya udah terserah Lo. Yang penting itu motor jangan sampai lecet."

"Oke, gue pergi dulu, ya."

Rafli melajukan motornya ke suatu tempat untuk meminta bantuan pada temannya perihal uang yang akan ia dapat sebentar lagi.

Hingga saat jam pulang kantor, ia pun pulang dengan motor besar yang membuat para tetangga berdecak iri karena mereka pikir Rafli habis berganti motor.

Terpopuler

Comments

pengayom

pengayom

🤣🤣🤣🤣🤣ternyata cuma pembual

2024-03-26

1

Disya♡💕

Disya♡💕

Ngeri ih 😶

2024-02-23

0

🌸 Airyein 🌸

🌸 Airyein 🌸

Huuu si kamvret

2024-02-21

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!