Lisa mengatur nafasnya. Ia ingat terakhir kali ia ke sini bersama ibunya, hanya penghinaan yang ia dapat. "Kalau tahu ada undangan untuk mereka, harusnya sejak awal kita kasih, Mas, jadi aku masih punya tenaga buat nahan kesabaran."
Amar menggenggam tangan Lisa. "Jangan takut, ada aku. Kamu hanya cukup, diam, kalau mereka menghina, jangan kamu lawan, biar aku yang menanggapinya."
Lisa mengangguk mengerti. Mereka pun segera mengetuk pintu rumah Mela.
Selang beberapa menit, pintu pun dibuka oleh Mela yang terlihat mengucek matanya. Sepertinya ia baru selesai tidur siang karena mereka datang.
"Kalian? Ngapain ke sini?" tanyanya sinis.
"Ini, Mel, kami mau antar undangan," ujar Lisa.
Mela tersenyum miring. "Oh, kalau begitu, ayo, masuk."
"Nggak usah, Mel, kami cuma mau ngantar ini aja, kok."
"Udahlah, ngapain malu. Masuk aja, nggak enak dong masa ada tamu aku biarin nganggur di luar, sepupu ku pula." Mela masih memaksa.
"Ya udah, Lis, ayo kita masuk, kesempatan langka bisa masuk ke rumah orang kaya," ucap Amar.
"Nah, itu Amar tau. Yuk, masuk, biar kalian ngerasain gimana enaknya duduk di sofa mahal." Mela membuka pintu lebar-lebar dan menyuruh mereka masuk.
Setelah memasuki rumah, mereka dipersilakan duduk di sofa yang katanya Mela berharga mahal.
"Ini, Mel, undangan buat kamu dan juga pakde dan Bukde. Orang tua aku nggak bisa datang ngasih, soalnya sibuk banget." Lisa menyerahkan dua buah undangan kepada Mela.
Mela meneliti undangan tersebut. "Undangannya tipis, murahan, ya?" Menggantung dan menggoyang undangan di udara.
"Iya, memang murahan sih, ngapain juga bikin undangan mahal-mahal toh ujung-ujungnya ada di tempat sampah," celetuk Amar.
"Ya tapi kan undangan mewah itu memberikan tanda kalau kita mampu, kalau kayak gini menandakan kalau yang ngasih kere," jelas Mela.
"Nggak masalah, kami nggak peduli." Amar tersenyum manis.
"Oh ya, Lis, pernikahan kalian nanti, hidangannya apa aja? Pasti hidangan yang murah, ya?"
"Kalau iya, kenapa?" Lagi-lagi Amar menjawab.
"Nggak papa sih, kalau hidangannya biasa aja, aku nggak makan deh."
"Yang nyuruh kamu makan siapa?"
"Apaan sih, Mar, kok nyolot banget." Mela merasa terganggu.
"Nggak ah biasa aja."
"Kamu itu, ya, Mar. Udah kere, cuma kuli, nggak punya masa depan. Nggak perlu sombong." Mela mulai menghina mereka.
"Lalu apa masalahmu?"
"Ya nggak ada, tapi kamu ngaca deh. Hidup kalian pasti nanti sengsara."
"Kok tau? Kamu dukun sekarang?"
"Ya enggak, tapi aku yakin pasti hidup kalian sengsara."
"Kamu barusan nyumpahin?"
"Aku cuma nerawang aja."
"Nah, kan, dukun."
"Enggak, ah, udah deh, kalian keluar sekarang, aku sibuk." Mela berjalan menuju pintu, lalu membukanya.
Lisa dan Amar pun pergi ke luar.
"Dasar kere. Udah miskin, belagu!"
"Kok tau? Dukun kan?"
"Aaaarrrrghhhh!" Mela membanting pintu dengan kuat. Menyisakan tawa cekikikan dari Lisa.
"Biasanya kalau dia marahin aku, aku cuma bisa diem atau nangis. Kamu hebat, lho, Mas," puji Lisa.
Amar hanya tersenyum. Membungkam orang seperti Mela adalah hal yang mudah untuknya. Mereka pun segera kembali ke rumah Lisa. Mereka sudah mencoba baju pengantin yang sudah dipesan ibu Lisa. Sangat bagus dan cocok sekali. Mereka hanya tinggal menunggu hari H untuk menjadi pasangan yang halal sebagai suami istri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
angkuh sekali Mela.....
2024-04-10
0
pengayom
gampang tinggal ngikutin alur bahasa nya mela
2024-03-26
0
🌸 Airyein 🌸
Yahahhah wahyu
2024-02-21
0