Jalan

Rafli dan Mela baru saja bangun tepat jam sepuluh pagi. Pesta kemarin benar-benar membuat mereka kelelahan.

Mereka pun segera mandi, lalu bersiap-siap untuk sarapan. Begitu keluar kamar, pandangan mata orang-orang yang sedang bantu-bantu beres-beres rumah tertuju pada mereka.

"Wah, yang pengantin baru, pasti capek, ya." Bu Nina berceletuk.

"Eh, ada Bu Nina, iya, Bu, habisnya tamunya banyak banget, hehehe," sahut Mela sambil tersenyum malu.

"Nggak papa, namanya juga pengantin baru. Oh ya, Mel, katanya suami kamu punya mobil. Mana mobilnya? Ibu mau dong diajak jalan-jalan pakai mobil," ucap Bu Nina asal.

"Oh, mobil sedang saya service, Bu, karena mobil mahal, jadi memakan waktu lama. Untuk sekarang terpaksa saya pakai motor saya yang butut itu," sahut Rafli.

"Wah, padahal motor kamu bagus, kayak masih baru, masa dibilang butut, sih."

"Ya gimana ya, Bu, saya kan manager, jadi motor kayak gitu bagi saya motor butut."

"Wah, pasti kamu kaya banget. Saya denger rumah kamu ada di perumahan mewah, ya."

"Iya, Bu, sedang direnovasi."

"Oh, begitu, ya udah, kalian sarapan gih, tadi ibu-ibu sudah masak bubur, ada juga nasi goreng," ujar Bu Nina.

"Terima kasih, Bu." Rafli mengangguk.

Mereka pun pergi ke meja makan dan menyantap yang ada di sana.

"Mas, kamu cuti berapa hari?" tanya Mela.

"Dua hari, kenapa, Sayang?"

"Yah, kok cepet banget. Ya udah, gimana kalau nanti kita jalan-jalan ke mall."

"Ke Mall? Ngapain?"

"Ya belanja lah."

"Aduh, Sayang, aku mana ada uang cash. ATM aku hilang, mau urus ke bank tapi ini hari libur."

"Ya udah, nanti kita buka amplop yang dari teman- aku dulu, ya. Uangnya kita gunain buat belanja," ujar Mela bersemangat.

Rafli mengangguk.

Selesai sarapan, mereka pun segera ke kamar dan menghitung uang dari amplop.

"Hah? Kok dapetnya dikit banget. Teman-teman aku ngasihnya cuma dua puluh ribu, padahal kan mereka temen deket aku, kerjaannya juga pada bagus. Malah paling banyak dari Amar tiga ratus ribu." Mela menyilangkan tangannya di dada. "Terus ini kok nggak ada dari temen kerja atau bos kamu sih, Mas? Masa mereka nggak dateng." Menatap Rafli dengan serius.

"Aku memang nggak undang mereka. Nanti aja pas acara di rumah aku. Setelah orang tua aku pulang dari luar negeri, mereka akan ngadain pesta paling mewah yang nggak akan dilupakan seumur hidup." Rafli mencoba menghibur Mela.

"Hah? Beneran, Mas." Mata Mela berbinar-binar.

"Iya, makanya kamu harus sabar dulu, ya. Beberapa bulan ini aku mungkin belum bisa kasih kamu uang belanja karena aku juga harus mengumpulkan uang buat bantu persiapan acara resepsi kita nanti. Sekalian juga nanti uang orang tua kamu aku ganti," ucap Rafli.

"Ya udah deh, kalau gitu nggak apa-apa kamu nggak kasih aku uang dulu. Lagian orang tua aku setiap bulan juga dapet hasil dari sawah kok." Mela mengangguk mengerti.

"Ya udah, kita jadi belanja?"

"Jadi dong. Walaupun cuma dapet dua juta, tapi bisa lah buat beli baju baru. Lagian kadonya kalo aku lihat dari bungkusnya palingan bingkai foto, piyama, handuk, semua barang murahan. Aku nggak mau pakai ah, kan aku istri manager." Mela tersenyum pada Rafli.

"Kamu itu kalo senyum makin cantik aja. Yuk pergi."

Rafli dan Mela bergegas keluar rumah, menuju tempat dimana motor mereka terparkir.

"Lho, Mel, mau kemana?" tanya Ayu.

"Mau jalan-jalan, Buk," sahut Mela.

"Kamu dan Rafli nggak bantuin beres-beres rumah? Masih banyak kerjaan lho, Mel."

"Buk, Mas Rafli kan manager, mana bisa kerja berat. Mela capek Buk, pengen jalan-jalan, udah dulu ya, Mela pergi dulu."

Tanpa mendengarkan jawaban sang Ibu, Mela dan Rafli langsung pergi.

"Duh, dasar pengantin baru. Untung menantuku itu manager, kalo cuma kuli bangunan kayak Amar, sudah aku pites dari tadi."

Ayu masuk ke dalam rumah. Ia pun mengajak suaminya pergi ke kamar untuk membuka amplop. Jelas saja, ia ingin tahu apakah pesta kemarin menguntungkan atau tidak.

"Lho, Pak, kenapa yang kasih amplop isinya dikit-dikit, ya. Ini juga nih, ada yang kasih dua ribu, lima ribu, tapi nggak tulis nama." Ayu melemparkan amplop ke sembarang arah.

"Halah, biasa itu, Bu. Namanya orang iri sama kita. Menantu kita kan manager." Hasan menanggapi.

"Ya, masa iya sih temen-temen arisan ibu cuma ngasih dua puluh lima ribu." Ayu bersungut-sungut.

"Emang waktu mereka hajatan, kamu ngasih berapa?" tanya Hasan.

"Ya, aku nggak ngasih sih. Aku kan jarang datang ke hajatan orang. Ya aku nggak tau kalau malah jadi gini."

"Ya ampun, Buk. Makanya kalau Bapak suruh kondangan ya pergi aja, jangan mikirin duitnya. Kondangan itu ibarat kita main arisan yang suatu saat kita bakal narik arisan. Orang-orang yang pernah kita kasih amplop, otomatis akan mengembalikan sesuai sama yang kita kasih, atau bahkan lebih kalau kamu rajin rewang." Entah mengapa Hasan malah berpikir seperti itu.

Rewang adalah ikut membantu di acara hajatan orang lain.

"Ya Bapak kan tau Ibu nggak suka desak-desakan di dapur. Sumpek, panas, capek, jadi setiap ada hajatan ibu nggak pernah ikut rewang."

"Mulai sekarang dirubah, ya, Buk. Kalau ada yang pesta, ibu datang, jangan lupa rewang juga. Nanti kalau Mela melahirkan, kita kan bakalan hajatan lagi," ucap Hasan.

"Iya, iya, jadi amplop Bapak dapet berapa?" tanya Ayu.

"Cuma dua puluh juta, Buk. Bapak pensiunan, wajar nggak ada yang datang."

"Ibu cuma sepuluh juta, Pak."

"Berarti yang balik cuma tiga puluh juta?"

"Iya, tapi kata Mela, nanti bakalan diganti Rafli, kok."

"Bapak jadi heran Buk, dia kan manager, tapi kenapa nggak ngasih sedikit pun untuk biaya pernikahan, ya?" tanya Hasan.

"Kata Mela uangnya diinvestasikan supaya jadi lebih banyak."

"Oh, begitu, syukurlah, beruntung juga ya kita punya menantu orang kaya. Untung Mela sudah putus dari Amar."

"Iya, Pak, malah sekarang Amar pacaran sama Lisa. Kayaknya Hamid takut malu, Pak, sampai kuli bangunan aja diterima."

"Halah, biarlah, Buk. Derita mereka yang tanggung. Biar hidup sengsara terus, mudah-mudahan cepat koid, biar harta warisan jadi milik Bapak semua."

"Iya, ya, Pak. Sayang kalau bagi-bagi warisan sama dia. Enak aja dia, orang tua yang kerja, dia malah dapat warisan lebih banyak hanya karena, sebelum Bapak dan Ibu wafat, dia dan istrinya yang merawat."

"Iya, Buk, pokoknya kita harus pertahankan harta warisan ini, jangan sampai dia tahu kalau dia dapat bagian, apalagi bagian dia lebih banyak."

Ayu mengangguk setuju. Dua orang serakah itu pun langsung menyimpan uangnya, lalu kembali ke pekerjaan masing-masing.

Terpopuler

Comments

Yunerty Blessa

Yunerty Blessa

Ayu dan suaminya gila harta....

2024-04-10

0

pengayom

pengayom

penasaran siapa sebenarnya rafli

2024-03-26

0

TATI PUTRISOLO

TATI PUTRISOLO

hahaaaaa dasar gila hornat... manajer kok bgt.... haaaaa emang enak dibohongin yaaa😀😀😀😀

2024-02-23

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!