Seminggu kemudian, sebuah pesta pernikahan mewah pun digelar di daerah itu. Semua penduduk takjub akan kemewahan pesta pernikahan yang kabarnya menghabiskan dana sekitar seratus juta rupiah. Sesuai memang dengan gaya pernikahan yang mewah, pakaian pengantin yang sangat indah, juga makanan yang lezat.
"Eh, denger-denger Pak Hasan jual sebagian tanahnya ya untuk membiayai pernikahan anaknya," bisik Bu Nina yang merupakan orang paling julid di tempat itu. Jika ada gosip, maka dia sudah pasti ada di sana.
"Hah? Beneran? Sayang banget kalo sampai jual tanah." Bu Ana ikut menanggapi.
"Iya, tapi nggak papa juga sih, katanya suami Mela ini manager lho. Paling berapa bulan udah balik lagi beli tanah," ucap Bu Nina.
"Hah? Beneran? Wah beruntung banget si Mela, ya. Untung dia nggak jadi sama yang kuli bangunan itu, siapa sih namanya, lupa aku." Bu Ana mencoba mengingat.
"Amar."
"Nah, iya si Amar. Memang sih ganteng, tapi kalau cuma modal ganteng doang mana cukup buat checkout belanjaan."
"Iya, begitu dong, harus pinter-pinter milih jodoh. Udah yuk, kita makan dulu. Jarang-jarang ada hajatan makanannya enak-enak begini."
Mela dan Rafli asyik berpose di depan fotografer yang telah dibayar mahal untuk hasil yang berkesan.
"Mas, kamu janji kan bakal pulangin duit orang tua aku yang seratus juta," bisik Mela pada Rafli.
"Iya, Mas janji, Sayang. Uang tabungan Mas kemarin Mas investasikan biar lebih banyak," sahut Rafli.
"Mas, habis ini kita bulan madu kemana? Gengsi dong, masa suami manager bulan madunya di rumah aja," rajuk Mela.
"Aduh, maaf, Sayang, kalau untuk sekarang belum bisa karena Mas lagi banyak kerjaan. Kamu kan bisa bilang sama tetangga kalau Mas mu ini lagi kerja jadi belum sempat ngajak bulan madu."
"Hmm, ya udah, deh, Mas. Oh ya, kapan kita tinggal di rumah kamu? Kan kamu punya rumah yang besar dan mewah."
"Sabar, Sayang, rumah aku kan lagi di renovasi, jadi nanti kita tinggalnya tunggu rumah aku selesai."
"Wah, aku nggak sabar, Mas." Mela berdecak kesenangan.
Dari kejauhan, terlihat sepasang kekasih tengah memasuki area pesta. Mereka memakai pakaian yang seragam. Sang pria terlihat sangat tampan, sedangkan wanita terlihat sangat cantik dan anggun.
"Mas, aku nggak salah lihat? Itu kan Lisa dan Amar, mantan pacarku." Mela mengedipkan matanya berkali-kali.
"Iya, Mel, mereka pacaran?" Rafli sama terkejutnya dengan Mela.
"Ya ampun, malang banget sih Lisa. Udah gagal nikah, dapet ganti malah laki-laki miskin," cibir Mela.
"Iya, kayak nggak laku aja. Mau aja sama kuli bangunan."
Selain Mela dan Rafli, beberapa tetangga juga ikut berbisik.
"Eh, itu calon suami Lisa? Jadi calon suaminya mantan pacar sepupunya sendiri?" Bu Nina memulai obrolan.
"Iya. Selama ini kita nggak tau calon suami Lisa siapa. Tapi masa iya sih cuma kuli bangunan. Yatim piatu, tinggalnya juga di kontrakan, kok mau sih." Ibu-ibu yang lain ikut menanggapi.
"Padahal Lisa itu rajin lho. Malah lebih pantes sama Rafli yang manager itu. Kok Pak Hamid dan Bu Marni mau mau aja sih punya menantu miskin gitu. Udah mereka miskin, punya menantu yang miskin juga."
Lisa dan Amar terlihat mendatangi pelaminan untuk mengatakan selamat pada Mela dan Rafli.
"Selamat atas pernikahan kalian," ucap Lisa sambil mengulurkan tangan.
Namun, uluran tangannya tak disambut Mela maupun Rafli.
"Kalian pacaran? Kok bisa?" Mela masih penasaran.
"Setelah kalian menyakiti kami, mata kami pun terbuka satu sama lain untuk saling melengkapi. Ternyata, Mas Amar orang yang sangat baik. Aku menyesal baru bertemu dia sekarang," ujar Lisa sembari tersenyum menatap Amar.
"Iya, aku juga nyesel baru kenal akrab sama Lisa sekarang. Kenapa nggak dari dulu aja ya. Padahal aku sering lihat dia bantuin beresin rumah kamu, tapi aku nggak berani untuk ajak kenalan. Kalau tahu begitu, harusnya dari dulu aku deketin dia aja." Amar menambahkan.
"Halah, sok mau tegar padahal nyatanya lagi sakit hati dan susah move on." Mela kembali mencibir.
"Kalian yakin mau nikah? Nggak takut hidup susah? Kalian kan sama-sama miskin," ucap Rafli seenaknya.
"Selagi kami mampu bekerja keras, kami nggak akan hidup susah. Yang susah itu justru orang yang malas seperti istrimu ini. Dulu dia selalu mengandalkan Lisa. Nanti, entah siapa yang akan dijadikan pembantu gratisan olehnya," ucap Amar.
"Mas Rafli manager, pasti dia akan cari pembantu buat aku. Nggak kayak kamu. Kerja cuma sebagai kuli bangunan aja bangga. Atau, bagaimana kalau Lisa jadi pembantu di rumah baru kami nanti?" Mela menawarkan.
"Maaf, aku nggak akan membiarkan dia bekerja apalagi di rumahmu. Ya udah, kami pergi dulu. Ini dari kami." Menyerahkan sebuah amplop. "Jangan lupa datang ke pernikahan kami. Kalo manager, bisa dong kasih kado mahalan dikit, malu sama jabatan." Amar menatap datar pada Rafli yang hanya diam saja.
Setelah itu, mereka pun pergi tanpa menikmati hidangan pesta. Mereka memilih makan di pinggir jalan sambil menikmati malam Minggu yang ramai.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
kena kamu Rafli dan Mela 😏😏
2024-04-10
0
pengayom
baguuuss santai tapi ngenak tuh, jangan2 cuma OB si rafli tuh
2024-03-26
0
zahraky
Untung Lisa gak jd sm si Rafli pembohong ini.siap2 aja mela dan keluargamu menyesal
2024-03-10
1