Satu minggu sebelum pernikahan, Amar dan Lisa sibuk menyebarkan sebagian undangan di daerah tempat tinggal mereka. Sedangkan sebagian lagi, dibantu sebar oleh orang suruhan Hamid.
Mereka memberi undangan dari rumah ke rumah. Mengetuk pintu yang satu dengan pintu yang lain.
Hingga tiba saat mereka mengetuk pintu rumah Bu Nina, yang keluar adalah Dira, anak Bu Nina yang baru saja melahirkan.
"Eh, Lisa, masuk, Lis," ujar Dira.
"Nggak papa, Dir, di sini aja, aku sama Mas Amar cuma mau kasih undangan aja," ucap Lisa sambil menyerahkan dua buah undangan. "Yang satu buat ibu dan ayah kamu, yang satu lagi buat kamu dan suami mu, jangan lupa dateng, ya," tambahnya.
"Insyaallah, ya, Lis." Dira tersenyum. Namun terlihat sekilas Dira memerhatikan Amar dari ujung rambut sampai ujung kaki.
'Yakin Lisa mau nikah sama dia? Suamiku yang karyawan pabrik aja nggak bisa penuhi kebutuhan ku, apalagi dia yang cuma kuli bangunan. Ganteng sih, tapi masa iya mau makan gantengnya aja,' batin Dira.
"Siapa, Dir?" tanya Bu Nina yang datang dari arah kamar Dira.
"Ini Lisa, Bu, nganter undangan," sahut Dira sambil menoleh ke arah ibunya.
Terlihat Bu Nina sedang menggendong cucu pertamanya itu. Begitu melihat Amar dan Lisa, wajah Bu Nina terlihat begitu sinis. "Kalian jadi nikah juga?" tanyanya.
Amar dan Lisa saling pandang. Apa maksud pertanyaan Bu Nina? Jadi nikah? Memangnya apa yang akan menjadi penghalang mereka untuk menikah?
"Bu, jangan lupa dateng, ya di acara kami," ucap Lisa sesopan mungkin.
"Eh, itu Danu. Lis, aku kasih undangan ke dia, ya," ucap Amar seraya memilah undangan untuk menemukan nama Danu yang merupakan teman satu pekerjaan dengannya.
"Iya, Mas," sahut Lisa.
Setelah Amar pergi, Bu Nina memberikan cucunya pada Dira dan menyuruhnya pergi ke kamar untuk menyusui sang bayi yang terlihat gelisah.
"Lis, kamu yakin mau nikah sama dia?" tanya Bu Nina dengan nada sepelan mungkin.
"Iya, Bu, kenapa?" tanya Lisa dengan ragu.
"Dia itu kan yatim piatu, kerjaan cuma kuli bangunan yang kalau selesai proyek nggak ada kerjaan lagi. Tanah nggak punya, masa depan nggak ada, mending kamu pikir-pikir dulu deh, sebelum terlambat," tutur Bu Nina.
"Insyaallah saya yakin dengan pilihan saya, Bu. Biarpun Mas Amar hanya pekerja kuli bangunan dan nggak punya apa-apa, tapi dia itu pekerja keras, saya yakin dia pasti menginginkan masa depan yang bagus bersama saya," ucap Lisa sambil tersenyum.
"Halah, kamu mau sama dia karena ganteng, kan? Lis, kita itu nggak bisa makan gantengnya doang. Lihat itu si Dira, biarpun suaminya buluk, tapi harta warisan orang tuanya ada. Atau kalau nggak lihat si Mela, dapat suami manager, hidupnya terjamin." Bu Nina mulai memprovokasi Lisa.
Lisa hanya tersenyum menanggapi ucapan Bu Nina. "Saya nggak memandang fisik, Bu. Jika sudah jodoh, mau dibilang apa, insyaallah saya nggak akan menyesal dengan pilihan saya."
"Kamu ini dibilangin orang tua malah ngeyel, lihat aja nanti, kalau hidup kamu semakin sengsara, jangan minta bantuan sama saya."
"Terimakasih atas nasihatnya, Bu, kalau gitu saya permisi dulu, assalamualaikum." Lisa pun pergi setelah mendengar jawaban salah dari Bu Nina.
"Dasar anak jaman sekarang, susah banget kalo dibilangin orang tua," gerutu Bu Nina sambil melangkah ke dalam kamar Dira.
"Kenapa sih, Bu?" tanya Dira.
"Itu, si Lisa. Udah bagus ibu nasehatin supaya pikir-pikir lagi mau nikah sama Amar, tapi tetep aja ngeyel."
"Udahlah, Bu, biarin aja, nanti kalau dia nangis-nangis karena nggak tahan hidup susah kan kita tinggal ketawa aja."
"Iya, biar aja dia tau rasanya hidup susah. Kamu aja yang suami karyawan pabrik masih susah kasih nafkah."
"Ya mau gimana lagi, Bu, kan sebagian gaji Mas Hilman buat bayar hutang nikahan kami yang ibu mau besar-besaran."
"Ya Ibu gengsi dong kalo nikah acaranya sederhana. Kamu sih malah hamil duluan, jadi Ibu nggak bisa minta banyak dari orang tua Hilman."
"Udahlah, Bu, jangan diungkit lagi, itu tadi Bapak minta dibuatin mie yang ada telor ceploknya."
"Hugh itu lagi, udah nggak kerja, maunya makan enak terus," gerutu Bu Nina yang langsung pergi ke dapur memasak makanan pesanan suaminya itu.
"Kalau bukan karena rumah ini punya orang tua dia, udah gue usir tuh laki kayak gitu. Taunya duduk manis setelah pensiun dari pabrik. Mana nggak ada duit bulanan lagi. Untung ada Hilman yang bantuin gue cari nafkah. Hah, gue aja susah kayak gini, apalagi si Lisa yang nyatanya bakalan hidup lebih susah dari gue." Bu Nina terus menggerutu sambil sesekali memukul kuali sebagai tanda kekesalannya pada suami yang malas bekerja itu.
*****
"Lis, udah ngobrolnya?" tanya Amar.
"Udah, Mas, udah ngasih undangan sama Mas Danu?" tanya Lisa.
"Udah, habis ini ke rumah siapa lagi?"
"Ke rumah,,,,,," Lisa tampak ragu.
Amar melihat beberapa undangan yang masih dipegang Lisa. "Oh rumah Mela. Kok bisa sama kamu? Bukannya Bapak yang mau anterin?"
"Tadinya sih iya, tapi kayaknya undangan ini ditambahin Bapak. Soalnya dia masih sibuk banget sama yang lain, gimana dong, Mas." Lisa terlihat bingung.
"Kalau titip gimana?" Amar memberi masukan.
"Nggak bisa, Mas, bisa-bisa nanti Pakde ngamuk. Berasa nggak dihormati," jelas Lisa.
"Ya udah, ayo kita ke sana," ajak Amar.
"Tapi aku takut, Mas. Pasti mereka akan menghina kita." Lisa mengigit bibir bawahnya.
"Kamu nggak usah takut, ada aku." Amar mengusap kepala Lisa sambil tersenyum tampan.
Lisa tersenyum, lalu mengangguk.
Mereka pun segera pergi ke rumah Mela.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
jangan takut Lisa ada bang Amar.......
2024-04-10
0
pengayom
nyesel dulu lis
2024-03-26
0
Hera Dita
lah.. ya beda Bu Nina.. suami ente pengangguran. suami Lisa punya penghasilan.
2024-02-13
1