"Gimana? Kamu suka yang ini?" tanya Amar saat menunjukkan sebuah cincin yang ada permata di tengahnya.
"Bagus, Mas, tapi ini kemahalan, ganti yang murah aja, ya," bujuk Lisa.
"Nggak apa-apa, kok. Ini cincin yang akan menjadi tanda pernikahan kita."
"Kamu yakin mau beli yang ini?" Lisa mencoba bertanya lagi.
"Iya, yakin, biar kita ambil."
"Kamu nggak ngutang kan, Mas?" Lisa masih belum yakin.
"Enggak, Lis. Sejak memulai kerja aku udah nabung. Impianku sih mau bikin rumah sendiri."
"Kalo dibeliin cincin, berkurang dong, uang tabungan yang untuk bikin rumah."
"Nggak apa-apa, uang bisa dicari, kok."
Lisa tersenyum. "Ya udah, deh, Mas."
"Mbak, bungkus ya ini, ya." Amar meminta pegawai membungkus cincin itu.
Setelah itu, mereka pun pergi dari sana. Saat melewati toko baju, Amar menawarkan Lisa untuk membeli pakaian.
"Lis, kamu mau beli baju, nggak?"
"Nggak, Mas, bajuku masih bisa dipake, kok." Lisa menolak.
"Gimana kalau sepatu, atau tas?" Amar kembali menawarkan.
"Nggak usah, Mas, mending uangnya ditabung. Buat masa depan kita."
"Iya, iya, oh ya, undangan yang aku pesan udah jadi, kapan mulai disebar?"
"Wah cepet banget, ya, Mas. Kalau begitu, kita sebar satu Minggu sebelum pernikahan aja," ujar Lisa.
"Oke," sahut Amar.
Mereka pun segera pergi dari mall tersebut. Amar mengambil sepeda motor berjenis matic warna hitam di parkiran. Namun, baru saja ia ingin menghidupkannya, seseorang memanggilnya.
"Bos Amar!"
Amar menoleh ke sumber suara. Betapa terkejutnya ia saat melihat si pemanggil adalah seorang pria berjas.
Cepat-cepat ia menghampiri Lisa, menyuruhnya naik, lalu melajukan motornya.
"Lho, kok pergi, sih. Apa jangan-jangan dia bukan bos Amar? Apa aku salah orang, ya? Kalo kata neneknya sih dia lagi di luar negeri. Mungkin cuma mirip aja kali, ya. Nggak mungkin juga Bos Amar pakai pakaian biasa dan naik motor, setahu aku, dia kan nggak bisa naik motor."
Di jalan, Amar masih terlihat gelisah. Sesekali ia melihat kaca spion, ia takut jika pria tadi mengikutinya. 'Bisa gawat kalau Ridwan tau aku lagi nyamar gini,' batinnya.
"Mas, kenapa sih kok kayak orang gelisah?" tanya Lisa dengan suara sedikit berteriak agar terdengar oleh Amar. Maklum saja, mereka sedang berada di atas motor.
"Emm, anu, Mas mau ke toilet," sahut Amar.
"Apa?"
"Toilet!" Kini suara Amar sedikit dinaikkan agar terdengar.
"Hah? Monyet? Apa sih, Nggak kedengaran!"
"Mau pipis!" teriak Amar.
"Oh, toilet! Ya udah, ke pom bensin aja," ujar Lisa.
"Iya!"
"Apa?"
"Iya! Ya Allah, kamu kok mendadak budek, sih!"
"Hahaha, suara kamu hilang terbawa angin." Lisa tergelak di atas motor yang sedang melaju.
Sesampainya di pom bensin, Amar langsung menuju kamar mandi. Meski tadi ia berbohong, namun nyatanya ia ingin buang air kecil juga.
Lisa menunggu di atas motor. Ia memerhatikan sepeda motor yang sedang ia duduki sekarang. Terdapat inisial di bagian stang motor. "AA? Inisial Mas Amar, ya? Berarti nama panjangnya juga dimulai huruf A juga," gumam Lisa.
Tak berselang lama, Amar pun kembali. Dari kejauhan, Lisa dapat melihat betapa tampan dan gagah calon suaminya itu.
Tubuh tinggi tegap, kulit putih, meski terlihat sering tebakar matahari, mata setajam elang, bibir yang manis ketika tersenyum, lesung pipi, dan juga rambut cepak yang berjajar rapi di atas kepalanya.
Sejenak, darah Lisa berdesir. Jantungnya berdebar seolah sedang merasa gugup. "Pertanda apa ini? Masa aku jantungan hanya karena melihat Mas Amar. Ganteng memang, tapi masa secepat itu aku,,,,ah! Apaan sih!" Lisa menepis pikiran yang ada di kepalanya.
"Kenapa, Lis?" tanya Amar ketika ia sudah berada di atas motor.
"Nggak apa-apa, Mas."
Amar pun mengangguk. Ia segera melajukan motornya meninggalkan SPBU. Melewati jalanan yang ramai pengendara.
Sesampainya di rumah, Amar menemui orang tua Lisa di ruang tamu.
Orang tua Lisa terkejut saat Amar menyerahkan amplop berisikan uang dengan nominal puluhan juta. Begitu juga dengan Lisa. Ia tidak menyangka Amar mempunyai tabungan sebanyak ini.
"Nak Amar, ini nggak salah? Uangnya banyak sekali," ucap Hamid yang masih membiarkan uang tergeletak di atas meja.
"Nggak, Pak, ini uang untuk biaya pernikahan kami. Insya Allah, uang ini saya kumpulkan sejak saya bekerja selama lima tahun."
"Tapi ini terlalu banyak, Nak, simpan saja untuk kehidupan kalian nanti."
"Saya masih punya tabungan, Pak, Buk. Uang ini memang saya niatkan untuk pernikahan saya kelak," sahut Amar.
"Alhamdulillah kalau begitu. Ya sudah, uangnya kami terima. Pakaian pengantin kalian sudah kami pesankan, seminggu sebelum hari H, Insyaallah sudah selesai," ucap Marni.
"Terima kasih, Buk, Pak." Amar mengangguk seraya tersenyum. Setelah puas mengobrol, Amar pun pamit pulang.
"Gimana, Nduk, sudah beli cincinnya?" tanya Marni.
"Udah, Buk, ini." Lisa mengeluarkan kotak berisi sepasang cincin pernikahan dari tasnya.
"Wah, bagus banget. Malah lebih bagus dari punya Rafli, ya." Marni meneliti cincin yang masih berada di dalam kotaknya.
"Amar baik, ya, Buk, dia juga royal," ucap Hamid.
"Iya, Pak, ternyata dia nggak seburuk yang orang lain omongin. Masa waktu belanja di tukang sayur keliling, Bu Nina bilang kalau nanti mereka menikah bakalan hidup sengsara karena sama-sama miskin." Marni mengingat kejadian tadi pagi.
"Hah? Bu Nina ngomong gitu, Buk? Terus, Ibuk bilang apa?" tanya Lisa penasaran.
"Ya Ibu bilang aja, nggak boleh menjengkali hidup orang. Ngaca juga, anaknya nikah lima bulan, udah lahiran, langsung deh dia kebakaran jenggot."
"Ibu harusnya jangan begitu. Jangan terlalu menanggapi omongan orang," ucap Hamid mengingatkan istrinya.
"Ya, mau gimana lagi, Pak, kuping Ibu panas dengernya. Lagian Bu Nina itu kan udah terkenal sebagai biang gosip di sini, wajar sesekali dibungkam. Jangan diem aja kalo ditindas," ucap Marni dengan penuh keyakinan.
"Wah, Ibu hebat!" Lisa memeluk ibunya. Ia bangga mempunyai ibu yang membela anaknya. Karena, kebanyakan ibu-ibu di daerahnya selalu menceritakan keburukan anaknya sendiri, entah apa untungnya. Hanya beberapa saja yang selalu memuji anaknya meski itu bukan kenyataan. Misalnya ibunya Mela yang selalu membanggakan Mela, namun di mata masyarakat, Mela adalah wanita yang sangat malas dan sombong.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
apakah Amar menyamar sebagai pekerja bangunan untuk melihat kejujuran Lisa......
2024-04-10
0
pengayom
belum tau saja siapa amar
2024-03-26
0
🌸 Airyein 🌸
Jadi keinget Jaehyun NCT
2024-02-21
1