Pesta telah usai. Para tamu undangan sudah pulang. Hanya tersisa beberapa orang saja karena ingin bergadang sampai pagi, sekaligus menjaga barang-barang yang ada di luar rumah Lisa. Mereka para pemuda yang selalu datang tiap tengah malam ketika ada pesta pernikahan atau hajatan lainnya. Selain untuk berkumpul dan mengobrol, mereka juga mendapat makanan gratis dari tuan rumah.
Lisa dan Amar sudah berada di dalam kamar. Keduanya telah membersihkan diri masing-masing. Memakai pakaian pernikahan sepanjang hari bukanlah hal yang mudah. Mereka berkeringat, kepanasan, serta merasa tidak nyaman apalagi tadi siang cuaca sangat terik.
Keduanya kini duduk saling membelakangi di atas ranjang. Lisa bingung harus melakukan apa. Ia ingin tidur, tetapi harus menunggu Amar tidur duluan.
Malam yang tadinya gerah, kini berganti dingin karena tiba-tiba saja hujan datang melanda. Para pemuda berlindung di teras rumah Lisa ditemani kopi dan juga makanan ringan. Mereka memutuskan untuk main kartu saja, namun tidak mempertaruhkan apapun, karena itu bisa dianggap judi.
Lisa merasakan tubuhnya yang mulai kedinginan. Udara dingin masuk melalui ventilasi kamarnya. Ia mengusap kedua telapak tangannya untuk menghangatkan diri.
Amar yang melihatnya, langsung mendekati Lisa. Ia membentangkan selimut, lalu merengkuh tubuh Lisa dengan itu. "Tidurlah, Lis, sudah malam," ujarnya.
Seketika jantung Lisa berdegup kencang. Jarak wajahnya dan Amar sangatlah dekat. Ia benar-benar bisa melihat dengan jelas betapa bersihnya wajah pria yang pagi tadi telah resmi menjadi suaminya.
Lisa langsung mengangguk cepat, lalu menggeser duduknya agar menjauh dari Amar.
Amar yang mengerti akan tingkah Lisa langsung tersenyum lembut. "Jika kamu belum siap, aku nggak akan memaksa kamu. Tidurlah, aku berjanji nggak akan macam-macam denganmu."
Lisa terlihat tidak enak pada Amar. Jelas sekali setiap pria pasti menginginkan malam yang indah bersama pengantinnya. Apalagi malam ini sedang turun hujan dan udara terasa sangat dingin. Mereka berdua sama-sama memerlukan kehangatan.
"Mas, jangan bicara begitu. Kamu seakan-akan menganggap aku wanita asing."
"Nggak, Lis, bukan itu maksud aku. Kamu kelihatan gugup banget di malam pertama kita. Aku nggak mau memaksakan keinginan ku pada mu jika kamu belum siap. Aku akan menunggu." Amar tersenyum sembari beranjak dari posisinya.
"Mas Amar," panggil Lisa.
Amar menoleh. "Ya, ada apa, Lis?" tanyanya.
"Apa kamu mencintai ku?" Lisa menatap ragu. Jelas sekali ia ingin mengetahui bagaimana perasaan Amar padanya.
Amar tersenyum. Ia kembali mendudukkan diri di samping Lisa. "Insyaallah, sekarang aku sudah mencintai kamu. Siapa yang nggak jatuh cinta pada wanita yang baik, sopan, rajin, sederhana, cantik pula."
Ah sial! Pipi Lisa mendadak bersemu merah. Ia sangat senang mendengar ucapan Amar. "Terima kasih, Mas."
"Lalu, bagaimana denganmu? Apa kamu mencintai ku? " Amar menatap dengan lembut.
"Aku,,,,juga,,,,cinta sama kamu, Mas." Lisa menundukkan kepalanya karena menahan malu. Wajahnya kini semakin memerah saja.
Amar mendekati Lisa. Ia memegang dagu Lisa, lalu mengangkatnya hingga kini wajah mereka saling berhadapan. "Terima kasih."
Sebuah kecupan lembut mendarat di kening Lisa. Seketika jantung Lisa kembali berdegup kencang. Rasanya ia sangat bahagia mendapatkan ciuman kasih sayang dari Amar.
"Aku berjanji akan berusaha untuk membahagiakan kamu." Amar kembali mendaratkan ciuman di kening Lisa yang lagi-lagi membuat Lisa tersenyum malu.
Setelah itu, Amar kembali menatap wajah Lisa dengan lembut. "Apa kamu siap malam ini?"
Dengan perlahan, Lisa pun menganggukkan kepalanya.
Setelah selesai, mereka pun memutuskan untuk melanjutkan tidur dengan berpelukan dalam satu selimut.
"Wah, enaknya yang dingin-dingin gini lagi malem pertama," celetuk salah seorang pemuda.
"Iya, tapi kita jadi nggak bisa denger, ya."
"Ya mau gimana lagi, kan hujan. Nggak bakal kedengaran."
"Nggak asyik, padahal alasan kita jagain, selain makan gratis, juga pengin denger suara pengantin baru."
"Nasib baik si Lisa sama Amar sih. Cuma mereka nih yang lolos. Sebelum-sebelumnya nggak ada yang lolos. Terus Lo pada inget nggak ******* siapa yang paling kenceng?"
"Ya inget, lah. Si Mela kan, hahaha. Gue masih inget waktu si Mela bilang 'terus Mas, ahh' itu gokil banget."
Mendengar celetukan salah satu pemuda, yang lain pun ikut tertawa.
"Lagian pengantin baru berisik banget."
"Ya makanya elu nikah biar ngerasain enaknya."
"Hala, kayak elu udah nikah aja."
"Gue emang belum nikah, tapi cewe gue ngasih jatah tiap bulan."
"Wah, parah Lo, awas hamil anak orang."
"Kalo hamil yang tinggal nikahin. Lumayan, nggak diminta duit banyak kayak si Dira."
"Dasar otak mes*um lu!!" seru para pemuda lain sambil menjitak kepala temannya itu.
Mereka semua pun tertawa ditengah dinginnya cuaca meski hujan baru sama berhenti.
Di sisi lain,
Rafli dan Mela sedang tidur. Namun, tiba-tiba ponsel Rafli berdering. Rafli yang sudah nyenyak tak mendengar panggilan tersebut.
Mela terbangun dan melihat ponsel Rafli. Terlihat bahwa si pemanggil bernama Bos Besar.
"Hah? Dari siapa? Pak Direktur? Ngapain jam segini nelpon? Apa ada yang penting?" Ragu-ragu Mela akhirnya mengangkat panggilan tersebut.
Belum sempat ia berucap, seseorang dengan suara keras membentaknya dari seberang telepon.
[Bersengsek Lo! Balikin motor gue! Katanya minjem satu minggu doang. Ini udah sebulan lebih nggak lu balikin.]
Jantung Mela berdebar kencang mendengar makian dari si penelpon yang ternyata seorang pria.
[Kok diem, Lo. Awas aja kalau nggak Lo balikin, gue bakal pecat Lo dari kerjaan]
Panggilan pun mati. Mela masih syok dengan apa yang ia dengar. Seorang manager meminjam motor pada bosnya dan mendapat makian pada dini hari? Apa mungkin seorang direktur mengatakan hal itu pada bawahannya dan waktu yang tidak tepat seperti ini?
Mela ingin membangunkan Rafli, namun ia enggan karena ini masih dini hari. Bertanya pun hanya akan percuma karena Rafli baru tidur satu jam karena keasyikan main game.
Ia pun memutuskan untuk tidur bersama ribuan pikiran buruk yang kini membuat tidurnya tidak nyenyak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
satu persatu satu kebohongan Rafli akan terbongkar......
2024-04-10
1
pengayom
akan terbongkar satu persatu siapa rafli mel siapa jantungan
2024-03-26
1
❤️⃟Wᵃf❦DέȽΜɑɌ❦•§¢• ⍣⃝ꉣꉣ🍉
karma bakal datang ke kamu mela siap sedia ahahaha
2024-02-11
1