Bu Vita mengambil beberapa kue ke piring untuk sang suami.
"Eh, Bu, jangan, biar kami aja. Lagian ibu kan tamu. Bu Marni gimana sih, masa Bu Lurah sampai ambil makanan sendiri." Bu Nina mencoba membantu menaruh kue-kue ke atas piring.
"Oh, nggak papa, saya ke sini juga bukan sebagai tamu, tapi juga sebagai teman Bu Marni."
"Hah? Teman? Masa Bu Vita mau temenan sama Bu Marni." Bu Dea berceletuk.
"Ya emangnya kenapa, Bu? Saya suka orang seperti Bu Marni. Nggak pernah ngomongin keburukan orang. Dia juga berhasil mendidik anaknya. Lihat si Lisa, tumbuh jadi anak yang rajin dan suka menolong. Memangnya ibu-ibu nggak lihat, banyak sekali yang ikut bantu di sini. Kenapa? Karena Lisa ringan tangan dan ramah. Dia nikah juga bukan karena hamil duluan. Nggak pernah kelihatan jalan sama pacarnya. Kalau aja anak saya itu laki-laki, pasti udah saya jadiin menantu si Lisa itu." Bu Vita bercerita panjang lebar.
"Ya tapi tetap aja, Bu, jodohnya kuli bangunan." Bu Nina masih tak mau kalah.
"Kita nggak boleh meremehkan pekerjaan orang lain, Bu. Dulu, suami saya juga kuli angkut di pasar. Alhamdulillah, berkat kerja kerasnya, suami saya bisa kuliah, dan sekarang terpilih jadi lurah."
"Eh, beneran, Bu?" tanya Bu Dea.
"Iya, waktu kami baru menikah. Makanya, jangan suka menilai orang dari luarnya saja. Amar itu laki-laki pekerja keras, buktinya aja dia ngasih uang tiga puluh juta dan barang hantaran dari hasil kerja kerasnya selama ini."
"Hah? Tiga puluh juta?" Para ibu serempak terbengong mendengar ucapan Bu Vita.
"Oh, kalian nggak tau? Hahaha, saya lupa, Bu Marni kan cuma mau cerita sama saya. Dia nggak suka pamer sih. Udah dulu, ya, saya mau bantu-bantu di depan." Bu Vita lekas beranjak dari dapur. Ia kembali ke depan, ikut membantu Marni.
"Kalian percaya?" tanya Bu Nina yang masih belum puas.
"Ya nggak tau sih, tapi masa Bu Vita bohong," ucap Bu Lastri.
"Bu Vita mungkin nggak bohong. Bisa aja Bu Marni yang bohong dan asal bicara. Mana mungkin Amar punya uang sebanyak itu. Paling juga minjem sama bosnya. Nanti tiap gajian dipotong, deh, kayak menantu saya," ucap Bu Nina keceplosan.
"Loh, memangnya Hilman berhutang, ya, Bu?" tanya Bu Dea.
"Eh, enggak, maksud saya, pabrik tempat Hilman kerja itu memberikan pinjaman dengan dipotong gaji tiap bulan."
"Oh, kirain Hilman minjem juga."
"Enggak, ah, udah ayo bungkus lagi." Bu Nina pun mengakhiri pembicaraan karena tak ingin jika sampai rahasia pesta mewah yang berhutang sampai tersebar.
*****
"Oma." Amar memeluk sang nenek.
Pagi tadi, ia memang berencana mengunjungi sang nenek untuk meminta restu.
"Cucu Oma, bagaimana kabarmu, Nak?" tanya wanita tua yang bernama Niar.
"Baik, Oma. Aku senang bisa bertemu dengan Oma."
Mereka langsung pergi ke ruang tamu dan mengobrol sebentar.
"Apa tidak ada yang mengikuti mu?" tanya Niar."
"Tidak, Oma, aku pergi pagi-pagi sekali."
"Lihat dirimu, kau sangat berbeda sekarang. Kulitmu tidak secerah dulu, tangamu kasar, dan wajahmu berkurang tampannya." Niar mengusap pipi Amar dengan lembut.
"Tidak apa-apa, aku senang dengan kehidupan ku sekarang."
"Maafkan Oma, Sayang. Karena dulu Oma memaksa mu menikah dengan Velia, kau pun pergi meninggalkan rumah. Padahal Oma sudah membatalkan perjodohan kalian? Tapi kenapa kau enggan kembali ke rumah ini? Kembalilah, Nak, lima tahun bukanlah waktu yang sebentar," bujuk Niar.
"Maafkan aku, Oma. Bukannya aku tidak menyayangi mu, tapi, aku punya dua misi."
"Misi apa?"
"Aku belum bisa menceritakannya sekarang, Oma."
"Kenapa?"
"Karena satu misi lagi sedang aku jalani. Calon istriku tidak boleh tahu bahwa aku adalah pewaris tunggal keluarga Adijaya. Berkenala sebagai orang biasa membuat mataku terbuka seperti apa wanita yang dulu mengejar ku karena harta. Aku tidak ingin kejadian Velia terulang lagi. Oma tahu kan kenapa aku tidak mau dijodohkan dengannya? Itu karena dia gila harta, tapi Oma tidak percaya."
"Iya, Oma mengerti. Kau terlalu nyaman hidup bebas sebagai orang biasa sehingga kau enggan kembali pada Oma."
"Jangan begitu, Oma. Tentu saja aku rindu memimpin perusahaan kita. Oma bersabarlah, ketika aku selesai dengan kedua misiku, maka aku akan kembali padamu, bersama Alisa, calon istriku, restuilah kami, Oma." Amar menggenggam tangan Niar dengan erat.
"Iya, Sayang. Oma merestui kalian berdua. Jangan terlalu lama memisahkan Oma dengan cucu menantu Oma." Niar tersenyum mengangguk.
"Pasti, Oma, aku akan membawanya padamu." Amar menatap penuh keyakinan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
pengayom
tuh kan dia sultan
2024-03-26
3
TATI PUTRISOLO
woooo umar ternyata kakap mak
😁
2024-02-23
0
🌸 Airyein 🌸
Mulut rombeng
2024-02-21
0