Setelah beberapa lama akhirnya Ipah kembali dari dalam kamar mandi. Ipah tersenyum kecil saat melihat Lisa asik bercanda dengan Alena, anaknya Faris.
Tiba-tiba Faris datang mengagetkan dirinya, membuat Ipah menatapnya kesal.
"Kak Faris, kamu itu ngagetin sekali," oceh Ipah.
Sorot mata Faris semakin dalam menatap Lisa, membuat Ipah mengikuti pandangan mata Faris dan benar dugaannya kalau Faris itu sedang memperhatikan sahabatnya itu.
"Kak, mau sampai kapan kamu melihatnya tanpa berkedip seperti itu?" sindir Ipah dengan suara lirih.
"Sampai wanita itu menjadi Ibunya Alena," cetusnya asal tapi penuh harap di dalam hatinya.
Dasar Kak Faris, apa dia langsung jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihat Lisa. Baguslah jika seperti itu.
Faris seorang duda anak satu, ia bercerai karena istrinya selingkuh dan istrinya juga yang meminta cerai darinya. Faris awalnya tidak mau bercerai karena kasian dengan Alena, tapi Fitri tetep kekeh minta bercerai dan menyerahkan hak asuh Alena sepenuhnya kepada Faris.
"Dia sudah bersuami Kak," cetus Ipah dan Faris langsung merasa kecewa. Ternyata wanita cantik itu sudah bersuamikan, sudah tidak ada harapan lagi kecuali dia mendadak jadi janda.
"Siapa tahu dia mendadak jadi janda Pah, aku siap menjadi suami pengganti," canda Faris tapi dalam hatinya penuh harap.
"Sudahlah, jangan banyak bermimpi Kak! Ayo ke Alena!" ajak Ipah dan Faris mengikuti Ipah berjalan di belakangnya.
Faris dan Ipah kembali duduk di sofa, Lisa memasang senyum kecil tapi begitu manis.
"Alena, sini sama Papa!" ajak Faris sembari membalas senyum manis Lisa.
Alena menggelengkan kepalanya pertanda ia tidak mau diajak oleh Faris.Lucu sekali anak cantik ini, baru beberapa menit bersama dengan Lisa tapi sudah nempel. Mungkin ini pertanda baik, itu harapan Faris.
"Ini Papa sayang," bujuknya sembari mengajak Alena bercanda tapi bukannya tertawa Alena malah menanyunkan bibirnya.
"Sudahlah Kak, Lena anteng bersama dengan Lisa," ujar Ipah dengan nada lembut.
Dalam hati Faris, tidak biasanya Alena bisa anteng dengan orang lain apalagi orang yang baru dia lihat dan kenal. Tapi hari ini aku melihat Alena begitu anteng dan sangat nyaman bersama dengan Lisa.
Akhirnya Faris membiarkan Alena bersama dengan Lisa.
***
Jam menunjukkan pukul 7 malam, seperti biasanya Lisa menunggu suaminya pulang dari kantornya, ia baru saja selesai menyiapkan makan malam ya biarpun setiap hari lauk sama tempe dan bayam tapi mau bagaimana lagi, jatah uang belanja saja hanya 50 ribu satu minggu.
Kini jam sudah menunjukkan pukul 9 malam tapi Rizal tak kunjung pulang, Lisa menghela nafas berat selalu saja suaminya seperti ini.
Kadang percuma aku siapkan makan malam untuk suamiku, dia juga kadang tidak pulang akhirnya sayang -sayang makanan di buang-buang.
"Sudah jam 9 malam, Mas Rizal tak kunjung pulang juga," hanya hembusan nafas kesal yang keluar dari dalam mulut Lisa.
Lisa yang sudah cukup mengantuk ia terlelap di sofa.
***
Di saat Lisa menunggunya pulang di sisi lain Rizal baru saja selesai makan malam dengan Mona di sebuah restoran.
Hampir setiap hari Mona mengajaknya makan diluar sebenarnya Rizal malas karena ini sangat boros tapi lagi-lagi demi mendapatkan hati Mona apapun di lakukan oleh Rizal.
Tabungan sudah menipis tapi Rizal tidak perduli yang penting bahagia bersama dengan Mona.
"Mas, kalau Lisa masaknya apa saja setiap hari?" tanya Mona penasaran, kini mereka sudah di rumah dan sedang duduk bermesraan di atas sofa.
"Sayang, Lisa hanya masak tempe dan bayam setiap hari. Dia itu tidak bisa masak kali," ujar Rizal meremehkan. Padahal Lisa setiap hari masak, Rizal saja yang tidak mau makan masakan Lisa.
Sendirinya saja tidak mau makan bayam dan tempe setiap hari tapi ia tega memberikan makan untuk anak dan istrinya hanya tempe dan bayam setiap hari, dasar suami dan orang tua tidak berguna.
"Mas, kamu setiap hari makan di rumahku saja!" titah Mona dengan senang hati.
"Iya sayang, masak yang enak-enak ya!" ujar Rizal dengan manja.
"Iya mas, tapi aku minta duit ya 1 juta mas," pinta Mona. Rizal menarik nafas agak kesal tapi Rizal tidak bisa menolak sama sekali.
Saat Lisa minta uang Rizal bisa marah kapan saja bahkan memaki-maki Lisa itu udah hal yang biasa Rizal lakukan pada Lisa dan di saat Mona minta uang tak sedikitpun kata-kata kasar keluar dari dalam mulutnya, bahkan Rizal hanya bisa pasrah.
"Nanti aku transfer ya," jawab Rizal meskipun dengan berat hati.
Malam semakin larut, malam ini cukup dingin Mona meminta Rizal untuk menginap tapi Rizal menolak dan ia memilih untuk pulang ke rumah.
***
Rizal baru saja sampai di rumah, ia masuk ke dalam rumah karena pintu rumahnya tidak di kunci.
Saat ia masuk ia melihat Lisa sudah tidur nyenyak di atas sofa.
Rizal mendekati Lisa, ia berjongkok lalu membelai pipi Lisa dengan lembut, di tataplah Lisa cukup dalam.
Dalam hati Rizal, saat dia tidur, raut wajahnya begitu tenang dan terlihat begitu cantik.
"Lisa, kamu cantik sekali," pujinya dengan suara lirih.
Cantik! Tapi di selingkuhi dasar laki-laki bodoh, suatu saat pasti kamu akan menyesal sudah menyia-nyiakan wanita cantik seperti Lisa.
Rizal mengendong Lisa memindahkan Lisa ke dalam kamar, lalu menaruhnya di atas ranjang tempat tidur, lalu menyelimutinya dengan penuh perhatian.
Entah ini Rizal sedang kesambet setan apa? Tumben-tumbenan dia begitu perhatian pada Lisa. Ini adalah pemandangan langkah.
Sekilas Rizal menatap Lisa, ia tersenyum, lalu berlalu keluar untuk mandi lebih dulu. Setelah selesai mandi ia tidur di sebelah Lisa.
***
Pagi hari yang begitu cerah, Mona sudah datang ke rumah Ratna. Ia membawakan sarapan untuk Ratna, sengaja dia datang ke rumah Ratna, ia ingin mencari perhatian Ratna agar selalu mendapatkan dukungan hubungannya dengan Rizal.
"Mona, kok pagi-pagi sudah datang," kata Ratna begitu senang. Kalau Lisa yang datang pasti Ratna tidak akan sesenang itu.
"Aku bawakan sarapan untuk Ibu dan Lita," jawab Mona sembari menaruh tentengan plastik yang ada di tangannya ke atas meja.
Ratna menghampiri Mona, ia melihat Mona membawa apa? Pagi ini Mona membawa soto ayam dua bungkus, ia juga membawa nasi dua bungkus.
Kini Ratna langsung sarapan tapi Lita tidak sarapan, ia berpamitan ke sekolah. Lita berlalu begitu saja bahkan ia tidak menyalami Mona.
Dia itu pelakor untuk apa? Aku menghormati dia, lagian dia saja tega menyakiti hati Mba Lisa.
"Lita, kamu tidak sarapan? Ini calon Kakak Iparmu bawain soto ayam loh," kata Ratna saat melihat Lita berlalu begitu saja.
"Aku tidak lapar Bu, lagian soto dari calon pelakor kok bangga," sahut Lita menyindir sinis Mona.
Mona menatap Lita geram, dasar anak kecil punya mulut kok tidak di jaga sama sekali.
"Lita jaga mulutmu!" suara Ratna menggema tapi Lita tidak peduli.
Setelah Lita tidak terlihat, Mona langsung memasang wajah sedih, membuat Ratna langsung ibah lalu mengusap-usap punggung Mona.
"Maaf Lita ya Nak," kata Ratna merasa tidak enak kepada Mona.
"Bu, kapan Mas Rizal akan bercerai dengan Lisa?" tanya Mona terdengar geram.
Ratna memikirkan jawaban untuk pertanyaan Mona, ia bahkan tidak tahu mau menjawab apa? Rizal akan cerai dengan Lisa saja Ratna tidak tahu karena itu hanya karangan Ratna saja.
"Sabar ya, pasti Rizal akan segera menceraikan wanita itu. Nanti Ibu yang bicara pada Rizal," ujar Ratna berusaha menenangkan Mona.
Mona mengangguk iya bahkan bersandiwara mengeluarkan air matanya.
"Jangan menangis!" pinta Ratna, langsung memeluk Mona.
Dasar wanita tukang akting, bukannya menjadi pemain sinetron ini malah menjadi pelakor.
***
Rizal sedang sibuk dengan pekerjaannya, ia fokus dengan laptopnya. Bahkan ia enggan membalas pesan dari Mona, tumben banget biasanya Rizal paling gesit membalas pesan dari Mona.
"Mona apalagi sih? Apa dia mau minta duit lagi, bisa-bisa duit aku habis," gumam Rizal berprasangka buruk kepada Mona.
Baru tadi malam aku transfer, jika dia minta duit lagi itu sungguh keterlaluan sekali.
Rizal memilih fokus dengan pekerjaannya, pesan dari Mona bahkan benar-benar diabaikan oleh dirinya.
****
Jam menunjukkan pukul 12 siang, Lisa pergi ke rumah Ratna untuk menengok mertuanya yang jahat itu. Setelah Tiara meninggal Lisa belum datang ke rumah Ratna.
Sesampainya di rumah Ratna, Lisa tercengang melihat motor Rizal ada di depan rumah Ibunya itu. "Ini jam makan siang, apa Mas Rizal makan siang di rumah Ibu," batin Lisa dalam hati.
Pintu rumah yang terbuka lebar, Lisa masuk begitu saja betapa kagetnya di rumah Ibu mertuanya ada Mona. "Ada Mba Mona, sedang apa dia sana?" batin Lisa dalam hati.
Di ruang makan terlihat mereka bertiga tampak begitu bahagia dan terlibat percakapan yang cukup hangat. Membuat Lisa terdiam cukup lama karena mereka juga tidak melihat kedatangannya.
"Mas, kamu kenapa tidak membalas pesan dariku?" tanya Mona agak manyun karena pesannya tidak di balas oleh Rizal.
"Aku sibuk, hari ini kerjaanku banyak," sahut Rizal cukup cuek.
Lisa masih tak bergeming, sungguh mereka punya hubungan yang nyata. Aku harus kuat, tidak boleh lemah, Lisa jangan tunjukkan kelemahanmu.
Saat ini Lisa hanya bisa memberikan kekuatan untuk dirinya sendiri.
"Biasanya juga sibuk tetap balas pesan," protes Mona sinis. Mas Rizal, aku tidak akan melepaskanmu begitu saja.
"Kalian makan siang dulu! Jangan pada ribut, Mona kamu makan yang banyak ya Nak!" ujar Ratna menjadi penengah di antara Mona dan Rizal.
"Kesal Bu, Mas Rizal dari pagi tidak membalas pesanku," aduh Mona ke Ratna. Membuat Ratna tersenyum kecil, lalu menatap Mona lembut.
"Sabar ya Mon, kan Rizal kerja juga buat kamu," nasehat Ratna tanpa memikirkan Lisa yang jelas-jelas istri sah Rizal.
Hati Lisa begitu tersayat, sungguh ibu mertuanya sangat kejam, ia bahkan berpihak kepada Mona.
"Mona, aku bilang aku sibuk!" sentak Rizal biarpun suaranya pelan, tapi tatapannya cukup sinis pada Mona.
Mona terdiam, ia menangis membuat Rizal semakin kesal.
"Mona, aku sibuk, tolong ngertiin aku sekali ini saja," kata Rizal dengan nada menekan.
"Mas...." suara Lisa mengangetkan mereka bertiga secara bersamaan.
"Lisa kapan kamu datang?" tanya Rizal kaget.
Kapan? Aku dari tadi di sini, apa karena kamu terlalu sibuk dengan ikan asin ini? Sampai-sampai kamu tidak melihat istrimu sendiri dari tadi.
"Kenapa Mas, kok kamu kaget gitu?" tanya Lisa berusaha santai sembari menahan rasa sakit di hatinya.
Baru beberapa lama kehilangan putri kecilnya untuk selamanya, dan ini diberikan cobaan lagi oleh yang maha kuasa.
"Tidak sayang, sini makan!" ajak Rizal, Lisa mengangguk ia melangkahkan kaki ke meja makan, lalu menarik kursi dan duduk di kursi sebelah Rizal. "Mudah-mudahan Lisa tidak mendengar semuanya," harapan Rizal dalam hatinya.
"Mba Mona, kok tumben di rumah Ibu mertuaku?" tanya Lisa dengan nada lembut, padahal dalam hatinya ingin sekali menendang Mona.
"Eh iya Mba Lisa, aku tidak masak jadi aku numpang makan di rumah Bu Ratna," jawab Mona dengan santainya. Ia yang tadi sedang menangis kini air matanya sudah di hapus.
Menumpang? Enak sekali, bilang saja kamu sedang berselingkuh dengan Mas Rizal. Kok ada wanita seperti kamu, tidak tahu malu sama sekali.
"Oh kalau tidak masak kan bisa beli di warteg, Mba Mona," sindir Lisa dengan nada menekan tapi Mona tampak cuek.
"Suka-suka aku lah, mau makan di Bu Ratna juga terserah aku," ujar Mona sinis juga.
"Memangnya kamu siapa? Ngatur-ngatur," imbuh Mona semakin sinis.
Ratna menatap Lisa tidak suka, ini kapan dia datangnya? Lagian untuk apa dia datang ke rumah sih? Cari masalah saja, geram sekali aku.
"Eh Lisa, kamu mau makan ya makan saja! Tidak usah banyak ngomong dengan Mona," cetus Ratna geram kepada Lisa.
"Lisa tidak lapar, sudah kenyang dengan pemandangan yang indah ini, iya kan Mas," tatapan Lisa sinis kepada Rizal, hati Rizal tiba-tiba rasanya tidak nyaman sekali.
Rizal malah tampak gugup, ia bahkan tidak berani menatap Lisa. Tapi Lisa cukup santai dan tenang.
"Sayang, kita pulang yuk!" ajak Rizal gugup, membuat Mona menatapnya geram. "Giliran ada istrinya ciut nyalinya," batin Mona dalam hati.
"Kenapa aku diajak pulang?" tanya Lisa sembari menatap Rizal.
"Ya aku mau...."
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
❤️⃟Wᵃf✰͜͡ᴠ᭄ᴇʟᷜᴍͣuͥɴᷤ✪⃟𝔄⍣⃝కꫝ🎸
Sayang sayang... palamu peang
2022-11-29
2
Haniza Haniza
lanjut thor up lg yg banyak
2022-11-20
0