"Zal...."
Apalagi yang akan Ratna lakukan?
"Zal, kamu itu jangan terlalu memanjakan istri. Ingat lebih baik uangmu untuk sekolah adikmu, dia kan adikmu sendiri, kalau istri kan hanya orang lain," kata Ratna menasehati Rizal.
"Iya Bu, lagian Lisa juga setiap hari ribut akan masalah uang Bu. Rasanya Rizal tidak tahan Bu," sahut Rizal dengan entengnya.
Ratna malah senyam-senyum, ia tampak bahagia melihat putra kesayangannya ini selalu mendengarkan apa katanya?
"Zal, kenapa kamu tidak menikah lagi saja? Ibu ada wanita cantik namanya Mona, dia itu pekerja keras dan menurut Ibu cocok jika kamu dengannya," kata Ratna dengan nada lembut.
Hati Rizal tergerak, ia menatap serius ibunya seolah-olah meminta penjelasan lebih.
"Dia seorang wanita karir dan gajiannya juga tinggi, cocoklah denganmu, di banding dengan Lisa yang hanya Ibu rumah tangga dan itu hanya menjadi beban saja," lanjut Ratna yang lagi-lagi mencibir Lisa, padahal orangnya tidak ada tapi Ratna senang sekali mencibirnya apalagi di hadapan Rizal.
Jika aku punya menantu orang kaya, aku yakin aku dan Lita pasti hidupnya akan terjamin. Yang ada di otaknya Ratna hanya uang dan uang saja sungguh ibu yang keterlaluan.
Rizal kembali mencerna kata-kata ibunya, seketika Rizal teringat akan Tiara yang masih kecil dan jika Rizal menikah lagi, apa yang akan terjadi kepada Tiara?
"Sudahlah Bu, Rizal mau pulang dulu," pamit Rizal akhirnya daripada terlibat obralan lebih jauh dengan ibunya jadi ia memilih untuk pulang. .
Rizal menyalami tangan ibunya, sedangkan Lita sudah masuk ke dalam kamarnya. Saat Rizal sudah tidak terlihat, Ratna mendengus kesal.
Rizal kamu itu diajak hidup enak, daripada dengan istrimu yang setiap hari meributkan masalah uang dan uang, rasanya ibu pun lelah mendengar keluh kesahmu setiap hari.
Ratna beranjak dari tempat duduknya, ia tersenyum senang melihat banyak uang berwarna merah berada di genggaman tangannya. "Sudahlah daripada aku mikirin Rizal, sama mantu sialan itu mending aku jalan-jalan terus belanja daging dan ikan segar," dengan semangat Ratna masuk ke dalam kamarnya untuk segera bersiap-siap pergi ke pasar.
Ratna enak di kasih uang banyak oleh Rizal, ia bisa makan enak setiap hari dan saat uangnya habis Ratna juga langsung menelpon Rizal, dengan senang hati Rizal juga langsung mentransfer uang untuk ibunya itu.
Dengan alasan ibunya seorang janda dan ia harus merawatnya sampai-sampai Rizal lalai akan tanggung jawabnya sebagai seorang suami dan bapak satu anak ini.
*
*
Rizal melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumahnya, ia melihat Tiara dan Lisa sedang makan di meja makan yang begitu sederhana.
Di atas meja hanya ada tempe goreng dan telur dadar satu itu pun hanya untuk Tiara, sedangkan Lisa hanya makan lauk tempe saja.
Melihat Tiara makan dengan lahap Lisa tersenyum simpul, biarpun dalam hatinya begitu sedih dan ingin menangis tapi Lisa selalu berusaha kuat demi putri semata wayangnya.
"Papa," sapa Tiara saat melihat papanya sudah duduk di sofa dekat tempat makan, rumah yang begitu sederhana dan ruangan juga sempit tapi Lisa bersyukur karena tidak harus tinggal bersama dengan mertuanya.
Rumah yang di tinggali oleh Lisa dan suaminya itu adalah rumah peninggalan dari bapak dan ibunya yang sudah meninggal.
"Iya Nak, kamu sudah makan?" tanya Rizal pada Tiara dengan tatapan cuek. Yang penting aku sudah kenyang.
"Ini Pa, aku sudah selesai makan," jawabnya dengan nada lembut.
"Baguslah," sahut Rizal cuek dan dia malah fokus dengan televisi.
Lisa mengelus dadanya berharap selalu sabar, Tiara yang sudah selesai makan ia langsung membawa piring kotornya ke dapur, ini adalah ajaran dari Lisa agar Tiara terbiasa mandiri sejak kecil.
Setelah selesai makan, Lisa mencuci piring, setelah itu Lisa duduk di sofa sebelah Rizal.
"Papa, Mama, aku main dulu ya," pamit Tiara dan langsung berlari keluar rumah. Dasar Tiara selalu saja seperti itu, tapi namanya anak kecil dan Lisa juga tahu Tiara main dimana? Jadi Lisa tidak tidak kawatir.
Lisa menghela nafas berat, ia menatap suaminya yang sedikitpun tidak menatapnya dan hanya fokus dengan televisi.
"Kamu sudah makan, Mas?" tanya Lisa sebagai seorang istri.
"Sudahlah, di rumah Ibu lauknya enak-enak. Sedangkan kamu setiap hari masak tempe jika tidak tempe ya tahu, lama-lama telingaku jadi budek," sahut Rizal dengan ketus.
"Mas kalau mau makan enak, ya jatah uang belanja jangan 50 ribu satu minggu, Mas hitung saja beli tempe 1 setiap hari 5 ribu, belum minyak dan bumbu kalau habis itu bisa lebih dari dari 5 ribu. Lalu uang jajan Tiara, apa Mas tidak memikirkan semua itu? Mas kamu itu terlalu pelit jadi suami," cecar Lisa panjang lebar. Berharap suamiku ini sadar.
"Jangan sampai karena ke pelitanmu itu anakmu mati karena kekurangan gizi," imbuh Lisa dengan amarah yang ia tahan.
Wanita mana sih yang tidak ingin marah-marah saat uang belanja dan uang jajan anaknya hanya 50 ribu satu minggu? Kalau pun ada yang tahan dan ada kuat ya itu hanya wanita yang benar-benar sabar, bukannya aku tidak bersyukur tapi suamiku ini gajiannya gede dan bisa di bilang cukup bahkan lebih tapi suamiku ini tidak pernah memberikan uang gajiannya sepenuhnya padaku, entah kemana uang gajian itu? Aku juga tidak tahu, akan kah aku sabar menjadi istrinya?
"Lancang kamu Lisa...." bentaknya tidak sabar dengan mata yang berapi-api.
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya mas, uang gajimu kemana?" tatapan Lisa seperti singa betina yang ingin merekam mangsanya. "Apa uang itu kamu berikan pada gundikmu, Mas?" tanyanya menggebu-gebu. Reflek Rizal mengangkat tangannya dan hampir saja mendaratkan ke pipi mulus Lisa.
"Kenapa? Kamu tidak bisa menjawab, makanya kamu mau main tangan!" sentak Lisa geram.
Rizal mengepalkan tangannya dan kembali menurunkan tangannya.
"Jaga mulutmu! Kamu saja yang tidak pernah bersyukur, masih untung aku kasih uang," pungkas Rizal dengan entengnya. Bagi Rizal uang 50 ribu itu banyak sekali apa ya? Dasar laki-laki cungguk.
"Pulsa listrik aku yang beli, gas aku beli, beras setiap bulan aku belikan satu karung, sekolah Tiara aku yang bayar," cecar Rizal merasa paling hebat.
"Semua kebutuhan aku tanggung, kamu 50 ribu hanya untuk belanja satu minggu dan jajan anak saja selalu mengeluh tidak cukup. Lalu kamu maunya berapa?" lanjut Rizal dengan nada menyentak.
Lisa menatap Rizal penuh dengan amarah, kedua tangannya sudah mengepal sempurna.
"Aku mau semua gajianmu Mas, aku yang mengatur semuanya, apa kamu bisa?" tatang Lisa pada Rizal.
Seketika Rizal menatap Lisa penuh tanda tanya? Akankah Rizal memberikan uang gajiannya setiap bulan pada Lisa?
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
tukang nyimak
kasih suami mu sate sianida aja Lis,,
wong lanang edan, mertua salah otak
2023-04-21
0
Puji Lestari
daah lah Lisa kamu minta pisah aja, dan cari kerja sendiri buat anakmu, palagi Tiara dah gede ini bisa maen sendiri tinggal diawasin aj dari jarak jauh sambil kamu cari usaha kecil2 yg menghasilkan..,, biarin Rizal ngetek Ama ibunya terus...
2022-12-05
2
❤️⃟Wᵃf✰͜͡ᴠ᭄ᴇʟᷜᴍͣuͥɴᷤ✪⃟𝔄⍣⃝కꫝ🎸
Orang tua macam apa begitu kasih saran bengek sama anaknya... g mutu banget lho
2022-11-29
1