Hujan membawa berkah

Malam yang di nantikan oleh Rizal akhirnya datang juga, Reza sudah rapi dengan setelan kemeja warna biru muda dan celana panjang warna hitam, aroma tubuhnya juga sangat wangi dan rambutnya begitu rapi. Rizal yang tidak biasa memakai minyak rambut, kini ia memakai minyak rambut. Malam ini Rizal begitu beda dari biasanya. Apalagi ini sudah malam tidak mau pergi ke kantor juga.

Lisa yang baru saja selesai dengan tulisannya, ia cukup terkejut melihat penampilan suaminya dan aroma tubuhnya yang begitu wangi. "Tidak biasanya," pekiknya dalam hati.

"Mau kemana kamu, Mas?" tanyanya penasaran.

"Mau bertemu dengan klien kantor," sahutnya asal dan sedikitpun tidak melihat Lisa.

"Semalam ini? Ini sudah mau jam 9 malam Mas," tatapan Lisa penuh curiga tapi buru-buru ia menepis semua itu.

"Lis, bertemu klien memangnya harus siang atau pagi? Mereka orang sibuk, aku tidak bisa menentukan waktu mereka untuk bertemu denganku," pungkas Rizal terdengar kasar. "Sudahlah, aku itu pergi untuk mencari uang kamu tidak usah banyak tanya," lanjutnya dengan nada kasar.

"Cari uang untuk Ibu dan Adikmu ya Mas, semangat ya Mas....!" sindir Lisa secara halus.

Kedua mata Rizal langsung menatap garang Lisa tapi Lisa cukup tenang dan cuek. Sudah tidak heran lagi jika Rizal memasang tatapan garang, itu sudah biasa Mas Rizal lakukan.

"Kenapa mau marah? Kan aku bicara kenyataan Mas," tanya Lisa sengaja yang diiringi senyum sinis.

"Terserah kamu! Dasar wanita tidak pernah bersyukur," cebik Rizal dan berlalu pergi dari hadapan Lisa begitu saja.

Lisa hanya menatap kepergian suaminya dengan tatapan kosong, rasanya lemas dan Lisa menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. "Kurang bersyukur apa aku ini? Setiap minggu hanya di jatah 50 ribu, dasar laki-laki tidak berguna," lirih Lisa dalam hatinya.

"Lis, lebih baik kamu fokus dengan tulisanmu! Biar kamu sukses dan jika suatu saat Mas Rizal ninggalin aku, aku punya tujuan untuk melanjutkan hidup dan aku bisa membahagiakan Tiara," dengan nada sendu Lisa berbicara pada dirinya sendiri.

Lisa kembali meraih ponselnya yang ada di atas tempat tidur, lalu ia kembali fokus menulis untuk bab selanjutnya.

Beberapa hari menulis Lisa sudah dapat 20 bab karena Lisa rajin update dan terus semangat. Ia selalu ingat pesan dari Ipah kalau ia harus rajin update agar pembaca tidak sampai menunggu lama dan itu Lisa lakukan dengan baik, view harian Lisa juga sudah di atas 10 ribu pembaca rasanya Lisa sangat bersyukur banget.

Setelah beberapa jam berlalu Lisa akhirnya menyeselesaikan 3 bab dan tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 12 malam.

Lisa beranjak dari tempat tidur, ia beranjak keluar dari kamarnya dan pergi ke kamar Tiara, ia melihat Tiara sudah tidur nyenyak. Buku-bukunya juga sudah tertata rapi, bersyukur sekali punya anak seperti Tiara yang begitu mandiri.

"Maaf ya Nak, biasanya Mama menemani kamu belajar, malam ini Mama malah sibuk nulis. Ini semua Mama lakukan biar bisa bahagiain kamu Tiara," melihat putri kecilnya yang terlelap dengan nyenyak hati Lisa begitu tersayat, anak yang malang yang hanya ingin membeli makanan enak saja tidak bisa.

Apa Rizal sedikitpun tidak melihat putri kecilnya ini? Ia bisa makan enak dengan perempuan lain tapi untuk keluarganya sedikitpun dia tidak pernah mencukupi kebutuhannya sehari-hari.

Lisa kembali menutup pintu kamar Tiara, ia berjalan menuju ke pintu depan lalu membuka sedikit tirai jendela untuk melihat ke depan. "Sudah jam 12 lewat Mas Rizal belum pulang juga, kemana dia?" ada rasa kawatir di dalam hati Lisa. Biar bagaimanapun Rizal adalah suaminya.

Lisa termenung kembali menutup tirai jendelanya, ia memilih kembali ke dalam kamar dan menunggu Rizal di dalam kamar.

Di saat istrinya kawatir di rumah menunggu kepulangannya, di sisi lain Rizal malah sedang bersenang-senang dengan Mona di rumah Mona.

"Mon, kamu tidak takut tinggal sendirian?" tanya Rizal dengan harapan Mona menyuruh dirinya menginap di rumahnya. Ia sudah tidak kepikiran akan Lisa dan Tiara lagi, bahkan sudah larut malam saja ia lupa untuk pulang.

"Mas apa yang di takuti? Lagian Mona juga bukan perawan lagi, Mona sudah janda dan anaknya Mona meninggal," jawab Mona begitu enteng. Tidak ada rasa sedih sama sekali saat mengatakan anaknya meninggal.

Rizal kaget, lalu ia menatap Mona dengan lekat. "Kamu janda, tapi kelihatan bukan seperti janda," goda Rizal dengan nakal.

"Aku kan perawatan Mas, suamiku yang dulu tidak mampu mencukupiku lalu dia menceraikanku, anak aku juga meninggal karena sakit," cerita Mona pada Rizal tanpa ada rasa sedih sama sekali.

"Anak kamu sakit apa?" tanya Rizal penuh perhatian, berharap bisa mendapatkan hati Mona.

"Dia panas tinggi mas, waktu itu aku biarkan saja karena suamiku tidak memberikan uang untuk berobat," jelas Mona dengan jujur.

"Kenapa tidak pakai uang kamu?" tanya Rizal lebih dalam.

"Mas uangku habis untuk perawatan biar aku cantik," jawab Mona dengan jujur lagi.

Kok ada ibu seperti Mona, mungkin ini hanya ada di dalam cerita novel saja. Buat ibu-ibu di dunia nyata jangan di tiru ya perbuatan Mona yang tidak boleh di contoh itu, membiarkan anak sakit itu tidak boleh aturan kita sebagai ibu harus berusaha tapi Mona lebih mementingkan kecantikannya daripada anaknya.

Rizal hanya tersenyum kecil, biarin dia janda yang penting tidak ada anaknya dan aku bisa puas-puasan dengan dia.

"Sudahlah Mas jangan di bahas lagi, oh iya sudah malam Mas tidak pulang?" tanya Mona kepada Rizal dengan tatapan sedikit genit.

"Tidak terasa sudah malam sanking asiknya mengobrol," jawab Rizal mengaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

Jegerrrr!!!

Terdengar suara bunyi petir yang begitu menggema, membuat Mona reflek dan bringsut kepelukan Rizal dengan erat.

"Mas aku takut," lirihnya dengan manja.

"Ada Mas tidak usah takut!" Rizal memeluk erat Mona, ia mencium aroma tubuh begitu wangi. "Beda sekali dengan Lisa, dia tidak sewangi Mona," batin Rizal dalam hatinya.

Dasar jatah saja cuma 50 ribu satu minggu pingin istrinya wangi, Author saja 50 ribu sehari cuma buat beli sayur sama jajan. Bersyukur rasanya Author tidak punya suami seperti Rizal, jika punya suami seperti Rizal bisa-bisa itu uang 50 ribu aku beliin garam saja terus kasih makan dia lauk garam saja biar awet dan bisa irit setiap hari. Author ikut geram membaca karay Author sendiri.

"Mas di luar hujan sangat deras, suara petir juga sangat menakutkan, aku pasti tidak akan bisa tidur mas jika tidak ada orang," dengan manja Mona semakin erat memeluk Rizal.

Lalu kemarin-kemarin pas hujan Mona sama dan petirnya menakutkan Mona sama siapa? Biasanya juga sendirian dasar Mona cari kesempatan saja.

"Lalu bagaimana?" tanya Rizal dengan nada lembut.

"Mas menginap saja di sini, lagian kan Mas juga kata Bu Ratna sedang mengurus surat perceraian Mas dan Istrinya Mas," jawab Mona dengan nada lembut juga.

Sekilas Rizal senyam-senyum, ia bersorak hore di dalam hatinya. Akhirnya Mona menyuruhku menginap di rumahnya, hujan kamu pembawa berkah. Biarin janda yang penting masih cantik dan tidak seperti Lisa yang bau itu.

"Baiklah Mon," jawab Rizal.

"Ya sudah kamu tidur sana! Mas tidur di sofa," kata Rizal kepada Mona. Di dalam pelukan Rizal Mona menggelengkan kepalanya.

Rizal melepaskan Mona dari dalam pelukannya, lalu ia menatap Mona dengan tatapan begitu dalam.

"Lalu kamu maunya bagaimana?" tanya Rizal dengan tatapan semakin dalam, ada hasrat yang mulai bergejolak sebagai seorang laki-laki apalagi saat ini sedang hujan, bukankah cuacanya sangat pas untuk menanam benih, lebih tepatnya memberikan kehangatan untuk seorang janda.

"Mas tidur di kamar Mona saja!" pinta Mona tanpa ada rasa malu sedikitpun. Aku sudah lama tidak di sentuh oleh laki-laki, aku butuh kehangatan.

Dasar keduanya sama-sama gatal, ulet bulu sama ulet keket jadi satu.

Rizal sekilas tersenyum ada rasa senang ada rasa gugup juga.

"Kita baru saling kenal, apa harus langsung tidur berdua?" tanya Rizal pura-pura tidak enak, padahal dalam hatinya sudah sangat girang.

"Tidak apa-apa Mas, bukankah malam ini dingin dan kita berdua butuh kehangatan kan," goda Mona nakal dan tatapan matanya semakin dalam kepada Rizal.

Mona mendekatkan dirinya pada Rizal, lalu bibirnya dengan nakal mencium bibir Rizal, membuat Rizal tercengang dan tidak percaya.

"Mona..."

"Mas kita sudah sama-sama tahu, ayo ke kamar!" ajaknya dengan nakal dan manja.

Mona dan Rizal beranjak dari tempat duduk mereka, lalu Mona mengajak Rizal masuk ke dalam kamarnya. Di dalam kamar dengan sadar keduanya melakukan hubungan suami-istri di atas ranjang.

Sebagai seorang suami Rizal lupa akan Lisa yang masih sah menjadi istrinya.

Lisa masih terjaga padahal sudah jam 2 malam, ia sangat kawatir kepada suaminya, di hubungi juga tidak bisa hujan juga sangat lebat dan petirnya juga sangat menakutkan. Tapi Rizal tak kunjung pulang ke rumah, hingga matanya mulai mengantuk dan Lisa tertidur dengan sendirinya.

Di saat seorang istri menunggu suaminya pulang tapi di sisi lain itu suaminya tidak ingat pulang dan sedang asik dengan pergulatan panasnya dengan seorang janda di rumahnya, jika Lisa tahu dia akan bagaimana? Entahlah.

Bersambung

Terimakasih para pembaca setia

Terpopuler

Comments

Jena

Jena

mantan suamiku dulu juga kayak gini, ngejatah 50rb tp untuk 3hr, dan ibunya dan kakaknha sangat2 mendukung perbuatan mantan suamiku, kalo inget itu rasanya sakit tp ngebaca novel ini seakan terwakilkan kisah hidupku 😭

2023-04-20

1

Rahma Inayah

Rahma Inayah

hello rizal 50 utk seminggu sya aja 50 utk pgi dan mkn siang sm mlm tu pun di ckpim msh aja.kurg gk termasuk jajan ank sama ongkos sekolah ank 2 ..pas km sama mona gk lm bkl cerai jg ...modelan mona apalagi.mau nya instan gk mau masak ..

2023-03-12

0

Tasya Nazala Q

Tasya Nazala Q

wkwkwkwkwk klo aku punya suami kek gitu aku kasih jatah ranjang sebulan 2x itung2 sekali main seratus ribu

2023-03-01

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!