Mona dan Rizal yang baru saja selesai dengan kegiatan mereka di atas ranjang, kini sama-sama melempar senyum.
"Kalau mau di kasih jatah, cepat banget ya Mas sampai rumahnya," sindir Mona dengan manja.
"Iya Mas tahu kamu sudah tidak tahankan tadi," sindir balik Rizal dengan manja juga.
Mona senyam-senyum, ia kembali memakai pakaiannya. Setelah itu ia kembali duduk di sebelah Rizal yang masih ada di atas ranjang tempat tidur.
"Mas, boleh aku minta sesuatu?" tanya Mona tatapan matanya begitu lembut.
"Katakan sayang kamu minta apa?" tanya Rizal dengan nada lembut. Coba kalau Lisa yang minta pasti hanya di bentak-bentak saja.
"Mas aku pingin beli baju baru, bajuku sudah pada jelek. Lagian Mas aku kan tampil cantik buat Mas juga," dengan manja Mona dusel-dusel di dada bidang milik Rizal.
"Baiklah, siap-siap ayo kita berangkat sekarang ke Mall!" ajak Rizal dengan senang hati.
Mona langsung bersiap-siap dengan semangat, ia berdandan cantik.
Rizal kini sudah rapi dengan kemeja warna hitam dan celana panjang warna abu-abu, baju yang di kenakan ia hari ini adalah baju yang di tinggalkan di rumah Mona sengaja untuk ganti saat Rizal datang ke rumah Mona, jadi Rizal menaruh beberapa baju di rumahnya Mona. Lagian Rizal juga sering kali menginap di rumah Mona.
Rizal kebangetan sekali anaknya minta sepatu yang harganya tidak seberapa tapi katanya tidak punya uang. Giliran gundik ikan asinnya minta baju baru tidak pikir lama langsung di turuti. Malang sekali nasibmu Tiara.
Setelah siap mereka langsung pergi ke Mall naik motor matic milik Rizal, mereka berboncengan dengan mesra, keduanya sama-sama tidak perduli dengan tetangga yang mencemoh mereka.
"Rizal sering sekali datang ke rumah Mona," kata Nur pada Lela.
"Mungkin benar kata Ibu-ibu di sini kalau mereka punya hubungan gelap," sahut Lela.
"Kasian Mba Lisa," kata Nur sedih.
"Mungkin Mba Lisa tidak tahu akan hubungan suaminya dengan janda itu. Lagian Mba Lisa juga jarang sekali datang ke rumah Bu Ratna," ujar Nur.
"Nur, kamu tahu tidak kalau Bu Ratna itu sangat mendukung hubungan Mas Rizal sama janda itu, bukan hal yang asing lagi Bu Ratna kan tidak suka dengan Mba Lisa."
"Padahal Mba Lisa cantik, dia juga baik."
"Entahlah Nur, Bu Ratna selalu mengatakan kalau Mba Lisa itu bukan mantu yang baik. Katanya juga Mas Rizal mau cerai dengan Mba Lisa."
Hubungan Mona dan Rizal mulai tercium oleh tetangga dekat rumahnya Rizal, tapi Rizal dan Mona tidak pernah peduli akan hal itu. Yang penting bahagia cemohan orang tidak pernah mereka dengerkan.
****
Rizal dengan setia menemani Mona belanja baju baru, Rizal membawakan belanjaan Mona dengan senang hati. Padahal saat dengan Lisa, Rizal tidak pernah memperlakukan Lisa semanis ini. Baju baru saja jarang Lisa beli, make up juga hanya pakai bedak yang plastikan, lipstiknya juga hanya beli yang harganya 5 ribu rupiah. Skincare atau perawatan yang lain tidak pernah Lisa bisa membelinya karena suaminya tidak pernah memberikan uang lebih padanya.
Jika Lisa tahu semua ini pasti Lisa akan sedih, entah apa yang akan Lisa lakukan pada Rizal dan Mona nanti saat suatu saat dia tahu hubungan gelap suaminya ini?
Setelah selesai membeli beberapa setel baju, Mona mengajak Rizal ke toko make-up.
"Sayang, kok kesini?" tanya Rizal kaget saat Mona mengajak dirinya ke toko meka-up besar.
"Mas aku mau membeli skincare, soalnya sudah habis di rumah," sahut Mona dan saat ini tengah sibuk memilih skincare.
Rizal mengangguk, ia ikut melihat-lihat dan cukup terkejut juga melihat harga-harga skincare di toko itu. "Harga skincare mahal-mahal sekali, ini 250 ribu, ini 300 ribu ada juga yang 500 ribu. Pusing aku entah Mona mau membeli yang harga berapa?" batin Rizal dalam hati.
"Mas aku beli sepaket skincare itu harganya 700 tapi sedang ada disko jadi 550, tidak apa-apakan mas?" tanya Mona dengan nada lembut.
Rizal menghela nafas berat, skincare saja harganya segitu mahalnya. Tadi belanja baju juga habis hampir 1 juta. Astaga Mona, kenapa kamu boros sekali? Rizal hanya bisa bergumam dalam hati. Ia tidak berani mengatakannya langsung pada Mona.
"Iya sayang tidak apa-apa," jawabnya biarpun dengan terpaksa.
Mona membeli skincare itu, Rizal membayarnya biarpun dengan berat hati.
Setelah membeli skincare, Mona mengajak Rizal ke toko lingerie seksi. Rizal benar-benar geram dan ingin sekali pulang, tapi lagi-lagi ia tidak berani mengatakannya kepada Mona dan hanya bisa menuruti apa kata Mona.
"Mas, kamu kok cemberut, apa kamu tidak senang membelanjakanku?" tanya Mona agak kesal.
"Bukan seperti itu sayang, Mas hanya capek saja. Bukannya lingerie kamu di rumah banyak, apa harus beli lagi?" Rizal menatap Mona dengan hati-hati, jangan sampai Mona marah nanti aku tidak dapat jatah lagi.
"Mas aku ingin yang terbaru," sahutnya dengan manja dan Rizal mengangguk pasrah.
Akhirnya Mona membeli dua lingerie seksi dan itu harganya juga membuat Rizal tercengang. "Hanya baju seperti itu satu set 250 ribu, ini beli dua jadi 500 ribu. Uang yang aku simpan lenyapnya sudah," batin Rizal dalam hati.
Biarin dengan berat hati, Rizal membayar lingerie itu. Setelah membeli semuanya Mona mengajak Rizal pulang tapi sebelum pulang Mona mengajak Rizal ke restoran untuk makan dulu sebelum pulang.
Hari ini Rizal benar-benar di porotin oleh Mona, padahal untuk membahagiakan istri dan anaknya saja sayang-sayang.
Setelah selesai makan akhirnya Mona mengajak Rizal pulang.
Sesampainya di rumah Mona. Rizal merebahkan tubuhnya di sofa. Lelah sekali rasanya, duit juga habis banyak.
***
Jam menunjukkan pukul 7 malam, Lisa tampak kawatir karena suaminya belum pulang dan Tiara juga badannya panas sekali.
"Papa..." lirih Tiara, buliran air mata keluar dari kedua matanya.
"Tiara, jangan sakit ya Nak!" pinta Lisa, ia mengompres anaknya dengan penuh kasih sayang dan sangat kawatir.
Tiara tiba-tiba panas tinggi, Lisa ingin membawanya ke Dokter tapi Lisa tidak punya uang. Dari tadi Lisa berusaha menghubungi Rizal tapi seperti biasanya telponnya tidak di angkat, di chat juga tidak di baca sama sekali.
Tiara dari tadi juga terus memanggil papanya, membuat Lisa sangat sedih dan hanya bisa nangis.
"Mas Rizal, kamu itu kemana?" tanya Lisa merasa geram pada Rizal.
Lisa terus menelpon Rizal tapi telponnya malah di matikan oleh Rizal. "Kebangetan kamu mas, anak kamu sedang sakit saja kamu tidak peduli," batin Lisa dalam hati.
"Papa...."
"Papa...."
"Panasnya tidak turun-turun aku sudah kasih obat, aku harus membawa ke Dokter," kata Lisa dan dia akhirnya menelpon Ipah untuk meminta bantuan Ipah.
Tanpa menunggu lama Ipah datang dengan suaminya membawa mobil, untung saja ada Ipah yang begitu baik.
Tiara langsung di bawa ke rumah sakit besar yang terdekat dari tempat tinggalnya.
"Pah, ke Klinik umum saja!" pinta Lisa, karena ia tidak punya uang sama sekali dan hanya punya uang 15 ribu.
"Lis, kamu tidak usah kawatir akan masalah biaya. Aku yang akan mengurus semuanya nanti," kata Ipah dengan nada lembut.
"Yang penting Tiara sehat Lis," timpal Fahmi suaminya Ipah.
Lisa mengangguk lagi-lagi ia hanya bisa bersyukur karena hidupnya di kelilingi orang-orang baik seperti mereka.
Sesampainya di rumah sakit, Tiara langsung di bawa ke IGD dan langsung di urus dengan baik oleh Dokter yang menangani Tiara.
Lisa, Ipah dan Fahmi menunggu beberapa lama hingga Tiara di pindahkan ke ruang rawat inap dan itu Ipah pesan yang paling bagus VVIP, Ipah ingin Tiara tidak terganggu istirahatnya dan berharap Tiara cepat sembuh.
"Pah, Fahmi, ini ruangannya pasti mahal. Aku tidak punya uang aku hanya punya 15 ribu rupiah," sedih sekali bahkan Lisa menangis di hadapan Ipah dan menunjukkan uang miliknya.
Ipah memeluk Lisa, mengusap punggung Lisa dengan lembut. "Jangan pikirkan tentang biaya, kan tadi aku udah bilang," kata Lisa di sela-sela pelukannya itu.
Hanya isakan tangis yang terdengar dari mulut Lisa, sungguh Lisa tidak tahu lagi bagaimana cara membalas kebaikan sahabatnya ini?
"Mas Fahmi, kamu mau pulang dulu apa bagaimana? Aku bolehkan Mas nemenin Lisa di rumah sakit?" kata Lisa dengan nada lembut.
"Boleh Dek. Tapi Mas pulang ya besok pagi Mas kesini sekalian ajak Tasya," jawab Fahmi dengan nada lembut.
Fahmi berpamitan pulang, sedangkan Ipah di rumah sakit menemani Lisa.
Ipah dan Lisa duduk di sofa yang ada di ruangan rawat inap Tiara. Untung saja Fahmi itu laki-laki yang sangat baik hati dan menyayangi keluarga, ia bahkan tidak keberatan saat istrinya menemani sahabatnya yang sedang kesusahan.
Ipah membaringkan tubuhnya di atas sofa sedangkan Lisa duduk di kursi dekat bankar sambil terus memegangi tangan Tiara karena Tiara saat ini sedang tidur efek obat dari Dokter.
"Tiara, jangan sakit ya Nak...!" pintanya tetesan air mata terus mengalir deras.
Lisa kembali mengecek ponselnya tapi tidak ada kabar sama sekali dari Rizal, bahkan chatnya saja belum di baca sama sekali oleh suaminya.
"Mas, Tiara sakit saja kamu tidak perduli," lirih Lisa dalam hati.
****
Di saat Tiara sakit, Rizal masih betah di rumah Mona dan ponselnya juga di abaikan begitu saja oleh Rizal. Mungkin Rizal akan datang saat Tiara sudah mati kali, sebagai seorang suami Rizal itu memang jahat, sebagai seorang ayah Rizal juga bukanlah ayah yang baik jadi jangan di contoh buat bapak-bapak yang lain ya.
Pagi menunjukkan pukul 7 pagi, Fahmi sudah datang membawa sarapan dan baju ganti untuk Lisa dan Ipah istrinya. Tasya juga diajak oleh Fahmi agar melihat Tiara yang sedang sakit.
"Lis, kamu tidak tidur?" tanya Ipah, melihat kedua mata Lisa bengkak. Mungkin karena menangis dan kurang tidur.
"Pah, aku tidak bisa tidur, panasnya Tiara belum turun juga," jawab Lisa tampak frustasi.Tiara adalah semangat hidupnya selama ini.
"Tiara masih tidur?" tanya Fahmi dan di anggukin oleh Lisa.
"Sarapan dulu," kata Fahmi dengan penuh perhatian kepada Lisa dan Ipah.
Akhirnya mereka sarapan bersama, sedangkan Tasya duduk di kursi dekat bankar sambil memegang tangannya Tiara.
"Tiara, bangun..!"
"Ini Tasya, ayo kita main!"
Suara Tasya terdengar sendu, melihat teman bermainnya sedang sakit rasanya sedih sekali.
"Nanti kalau kamu sembuh, kita jalan-jalan ke Mall, kita beli baju dan mainan," hibur Tasya dengan harapan Tiara membuka matanya.
Semalaman Tiara hanya tidur, panasnya juga tak kunjung turun membuat Lisa sangat takut.
"Papa...aku...mau se-pat-uu," terdengar suara Tiara begitu lirih dan lemas.
Lisa tidak jadi makan, ia berjalan mendekati Tiara lalu memegang tangan Tiara dengan erat.
"Tiara ini Mama, Nak," bisik Lisa di telinganya Tiara.
"Se-pat-uu, Tiara mau se-pat-uu Pa...pa," nafas Tiara semakin melemah.
Fahmi dan Ipah berdiri di belakang Tasya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Tiara bangun Nak, nanti kita beli sepatu ya, nanti Om Fahmi belikan yang banyak," bisik Fahmi di telinganya Tiara.
Tiara tetap tidak membuka matanya, bahkan ia terus memanggil papanya dan meminta dibelikan sepatu oleh papanya.
Ipah menghubungi Rizal dengan ponselnya Lisa dan lagi-lagi tidak ada jawaban sama sekali.
"Pa...pa..."
"Tia...ra se-pat-uu...." mata Tiara mulai terbuka, Lisa langsung mengegam tangan Tiara dengan erat.
"Tiara sadar ya Nak! Nanti beli sepatu sama Mama," kata Lisa dengan nada lembut.
"Ma...ma...., Pa.. pa mana?" tanya Tiara dengan nafas yang lemas dan terdengar berat.
"Mas Rizal, kamu begitu jahat, anakmu sekarat saja kamu tidak perduli," hanya tangisan yang keluar dari mata Lisa.
Ipah mencoba menghubungi Bu Ratna, namun tidak di angkat.
"Papa.. se-pat-uu....," perlahan-lahan Tiara menutup kedua matanya membuat Lisa menggoyang-goyangkan tubuh Tiara dengan kuat.
"Tiara bangun...!!"
"Bangun anakku ...!!"
Tangis Lisa pecah, Fahmi langsung memencet tombol untuk memanggil Dokter dan setelah beberapa lama Dokter akhirnya datang, Tiara di cek dengan teliti dan saat di periksa denyut nadi dan detak jantungnya ternyata Tiara sudah tidak ada.
"Maaf Bu Lisa, Adek Tiara sudah meninggal," dengan berat hati Dokter menyampaikan berita duka ini kepada Lisa.
"Tidak mungkin Dok, cek lagi! Anak saya masih hidup Dok," tangis Lisa semakin kejer.
"Lisa, sabar ya!" pinta Ipah sambil mengusap-usap punggung Lisa.
Tiara meninggal, menyedihkan sebelum meninggal terus memanggil papanya dan minta di belikan sepatu oleh papanya. Itu keinginan terakhirnya, Lisa meronta-ronta ia masih tidak percaya dengan kabar duka ini.
Fahmi mengurus semuanya, sedangkan Ipah mengurus Lisa yang pingsan karena sanking tidak kuat dengan kabar menyedihkan ini.
Tasya juga nangis teman bermainnya kini pergi untuk selamanya.
"Lisa sadar!" Ipah memberikan minyak kayu putih di hidung Lisa.
Sedangkan jenazah Tiara langsung di urus oleh pihak rumah sakit.
Setelah beberapa lama akhirnya Lisa sadar, ia menangis dan terus manangis permata hatinya kini telah pergi untuk selamanya. Hanya Tiara kekuatan hidup Lisa, entah akan seperti apa Lisa menjalani hidupnya untuk ke depannya?
Takdir tidak ada yang tahu, kemarin Tiara masih sehat, masih bermain dengan Tasya, masih tertawa bahagia dan hari ini Tiara menghembuskan nafas terakhirnya.
Entah saat Rizal melihat semua ini akankah dia sadar akan kesalahannya? Akankah dia menyesali perbuatannya? Dia sia-siakan anak semata wayangnya, dia bahagiakan wanita lain dan anaknya yang hanya minta sepatu tidak di belikan sampai akhirnya meninggal. Percuma menyesal tidak ada gunanya, Tiara sudah pergi ke surga untuk selamanya.
Lisa hanya bisa menangisi takdir malangnya, ia menikah dengan laki-laki yang tidak berguna dan tidak memberikan nafkah yang cukup untuk dirinya dan anaknya.
Setelah selesai mengurus semuanya, jenazah Tiara di bawa pulang ke rumah dan hari ini juga akan langsung di makamkan.
Di saat seperti ini malah Fahmi yang begitu sibuk mengurus jenazah Tiara. Harusnya Rizal tapi manusia itu malah entah kemana perginya? Dasar manusia iblis, seorang ayah tapi dia tidak punya hati nurani sama sekali, bahkan selingkuh lebih penting daripada anak dan istrinya.
Karena Ratna tidak bisa di hubungi, akhirnya Ipah mengirim pesan ke Lita memberi kabar bahwa Tiara meninggal dunia.
Mendengar kabar ini tubuh Lita merasa lemas, air matanya mengalir begitu deras bag air hujan yang turun.
"Tiara, maafkan Tante yang selama ini tidak pernah sayang sama kamu," dalam hati Lita, ia sangat sedih kehilangan Tiara untuk selamanya itu masih tidak di percaya.
Mendengar kabar itu Lita langsung mengabari ibunya dan Ratna juga langsung menelpon Rizal karena Ratna tahu kalau Rizal itu sedang di rumah Mona.
Mendengar kabar duka ini, Rizal langsung pulang ke rumahnya, saat Mona bertanya Rizal juga tidak perduli dan langsung pergi begitu saja.
"Tiara.....!!!" teriaknya saat sampai di depan rumahnya dan bendera kuning sudah berkibar di depan rumahnya.
Orang-orang juga sudah rame di depan rumahnya untuk menyiapkan pemakaman Tiara.
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
Rumini Parto Sentono
😭😭😭
2023-10-07
0
Puji Lestari
klo sudah tidak ada baru menyesal kan sekarang kamu ....
kemaren kemanaa ajaaa bosss..
2022-12-05
1
❤️⃟Wᵃf✰͜͡ᴠ᭄ᴇʟᷜᴍͣuͥɴᷤ✪⃟𝔄⍣⃝కꫝ🎸
Innalillahi wainna ilaihi roji'un...
2022-11-29
1