Tidak ada rasa simpati

Satu minggu telah berlalu, Lisa masih saja terbayang-bayang putri semata wayangnya yang sudah berada di surga sana.

Bukan hal yang mudah untuk melupakan Tiara, bahkan setiap kali Lisa melakukan apapun yang ada di pikirannya hanya Tiara.

"Tiara, Mama kangen," lirihnya saat memasak sayur bayam Lisa langsung teringat Tiara, ini adalah salah satu lauk yang di sukai oleh Tiara.

Ingat sekali Tiara selalu makan sayur bayam dengan lahap, tapi sudah satu minggu ini tidak ada Tiara lagi yang selalu lahap makan sayur bayam dan tempe goreng.

Lisa mematikan kompornya, lalu ia terduduk lemas dengan tatapan sendu.

"Lisaa...!!" panggil Rizal, suaranya terdengar lantang. Lisa menghela nafas berat, lalu ia beranjak dari duduknya dan pergi ke kamar menemui Rizal.

"Ada apa sih, Mas?" tanyanya sinis.

"Ini uang 50 ribu, ingat jangan boros-boros itu uang untuk satu minggu!" titah Rizal sambil memberikan selembar berwarna biru kepada Lisa.

Lisa menerima uang itu dengan tatapan cuek, sedikitpun Lisa enggan untuk menatap Rizal, setelah menerima uang dari Rizal, Lisa kembali keluar dari dalam kamar.

Rizal yang sudah rapi dengan setelan kerjanya, ia keluar dari dalam kamar membawa tas kerjanya.

Rizal sudah tidak merasakan kesedihan sama sekali bahkan dia malah terlihat bahagia pagi ini.

"Lis, aku malam tidak pulang, aku mau ningap di rumah Ibu. Tidak usah menungguku pulang," ujar Rizal begitu cuek kepada Lisa.

"Di rumah Ibu, apa di rumah janda gatel itu?" sindir Lisa dengan santai.

Rizal menatap Lisa berapi-api, kali ini tatapannya semakin dalam kepada Lisa. Tapi Lisa lagi-lagi cuek kepada Rizal.

"Jaga mulutmu!" pekik Rizal sinis.

"Jangan seenaknya bicara, ingat aku ini suamimu, jadi kalau bicara yang sopan!" imbuhnya dengan tatapan galak.

Lisa meringis cuek, geram sekali pada suaminya yang masih minta di saponi. Sungguh wanita mana yang mau bersikap sopan kepada suami yang sudah berkhianat?

"Namanya bangkai lama-lama juga tercium juga, Mas," sindir Lisa lagi masih santai dan tenang.

"Bicaramu ngawur, sudahlah aku mau berangkat kerja," karena kesal Rizal berlalu keluar begitu saja dan tidak berpamitan dengan Lisa.

Setelah suaminya pergi, Lisa mengingat akan tadi malam saat ia melihat isi chat suaminya dengan Mona. Lisa mengenal Mona yang walaupun tidak secara langsung tapi beberapa tetangga di desa suaminya sering sekali membicarakan tentang Mona.

Saat hatinya masih berduka dengan kepergian putri semata wayangnya. Ini Lisa di buat geram dengan hubungan gelap suaminya dengan janda gatel itu.

Mas kamu mungkin sekarang tidak mau mengakui hubungan itu, tapi aku akan mencaritahu hubungan gelapmu dengan janda gatel itu.

****

Jam menunjukkan pukul 7 malam, Rizal benar-benar tidak pulang malam ini. Lisa meraih ponselnya, lalu ia mengirim pesan ke Lita.

"Lit, apa Mas Rizal menginap di rumah Ibu?"

Lita yang sedang sibuk dengan buku pelajarannya, ia meraih ponselnya, lalu membaca pesan dari Lisa.

"Mas Rizal tidak menginap di sini Mba."

Lita terdiam, ia tahu Rizal itu dimana? Ia ingin memberitahu kepada Lisa tapi Lita tidak berani karena pasti ibunya akan marah padanya.

"Kasian Mba Lisa, Mas kamu tega sekali dengan Mba Lisa. Mba Lisa, aku minta maaf ya dulu aku selalu jahat sama Mba. Aku harus membantu Mba Lisa, tapi bagaimana caranya?" kata Lita kepada dirinya sendiri.

Membaca balasan pesan dari Lita, Lisa menghela nafas berat. "Ke bohonganmu satu persatu akan aku bongkar Mas," batin Lisa dalam hati.

Lisa hanya diam saja, malam yang begitu sunyi membuat dirinya semakin kesepian, biasanya ada Tiara yang bisa diajak ngobrol, bercanda dan tertawa bersama kini hanya sendirian dan di temani angin malam yang cukup dingin. Kehangatan dari Rizal juga sudah jarang ia rasakan, Lisa juga sudah tidak pernah menuntut ini dan itu.

Setidaknya tunggu Tiara 40 harian, baru aku memikirkan akan kehidupanku untuk ke depannya bagaimana?

****

"Sayang, Mas datang....!!" Rizal begitu bahagia saat masuk ke dalam rumah Mona.

Mona yang sangat bahagia ia langsung berlari menghamburkan dirinya ke pelukan Rizal. Wajar saja satu minggu ini Rizal tidak datang ke rumah dan Mona juga jarang sekali di belai, tahukan rasanya tidak tahan ingin di belai.

Setelah melepaskan rasa rindunya Mona melepaskan diri dari pelukan Rizal, lalu ia memasang wajah masam dan bibirnya manyun. "Kamu itu kemana saja sih, Mas?" Mona merajuk manja.

"Anak Mas meninggal dunia, jadi Mas di rumah dulu. Kenapa kamu merindukan Mas ya?" goda Rizal jail dan begitu nakal.

Padahal kuburan anaknya belum kering tapi Rizal sedikitpun tidak memikirkan perasaan istrinya dan Tiara juga pasti sedih di surga sana.

"Sih Tiara Mas?" tanya Mona cuek.

"Iya sayang, kan anak Mas cuma Tiara," jawab Rizal sembari mendaratkan pantatnya di sofa.

Anaknya sudah meninggal baguslah jadi kalau suatu saat aku punya anak, anakku tidak harus punya saudara tiri.

"Mas, kan Mas biasa punya anak dariku. Lagian Mas dan Lisa itu akan bercerai, baguskan kalau anak Mas sudah tidak ada," ujar Mona tidak ada rasa empati sama sekali. Ia duduk di samping Rizal dengan manja berglendotan manja.

"Iya sayang, sabar ya nanti Mas akan segera ceraikan Lisa," kata Rizal dengan nada lembut. Sedikitpun Rizal tidak memikirkan hati dan perasaan Lisa.

Mona dusel-dusel manja membuat Rizal mulai terangsang, dengan nakal bibir manjanya mencium bibir Rizal tanpa rasa malu dan jijik. Wajar saja hal seperti ini sudah sering kali mereka lakukan saat setiap kali bertemu.

"Mona sayang, kita ke kamar yuk!" ajak Rizal menggoda, tanpa jual mahal Mona mengangguk karena ia juga sudah sangat merindukan Rizal beberapa hari ini. Ladang miliknya juga sudah lama tak diairi. Rasanya kangen sekali di bajak bag sawah yang akan di tanam benih.

Rizal dan Mona berpindah ke kamar untuk melanjutkan kegiatan mereka di dalam sana.

Hujan malam ini membuat suasana yang dingin menjadi hangat, pergulatan panas sedang terjadi di atas ranjang. Dua sejoli yang sedang memadu kasih di atas duka Lisa saat ini. Mereka sama sekali tidak merasakan kesedihan Lisa, bagi mereka kenikmatan itu lebih dari segalanya. Penyesalan Rizal atas meninggalnya Tiara, itu hanya sebuah sandiwara nyatanya dia sudah kembali bahagia bersama dengan Mona.

Sebagai suami aturan Rizal berada di samping Lisa, ini malah di samping wanita lain. Malang sekali nasib Lisa hanya angin malam dan hujan yang menemaninya malam ini, selimut tebal menyelimuti tubuhnya, bantal guling kesayangan Tiara di peluk erat dengan harapan malam ini Tiara datang ke mimpinya.

Bersambung

Terimakasih para pembaca setia

Terpopuler

Comments

Dian Rahmi

Dian Rahmi

sudah tau selingkuh, kenapa di grebek aja tuh pasangan pezina itu

2023-11-01

0

Puji Lestari

Puji Lestari

dasar pasangan Dajjal kaliaaann yaaa
dah lisaa kunci pintunya dan buang smua baju2 nya Rizal didepan biar dia pulang kerumah ibunya aja ato tidur dirumah Mona aj teruus

2022-12-05

2

Iis Dawina

Iis Dawina

di grebeg ke ko pd diem wae

2022-12-01

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!