Hari demi hari berlalu kini satu bulan telah berlalu Lisa bersikap semakin dingin kepada Rizal. Lisa lebih fokus menulis dan ia juga semakin cuek kepada Rizal.
Rizal merasakan perubahan istrinya ini tapi ia tidak melakukan apapun ataupun bertanya kenapa pada Lisa? Namun tak Rizal lakukan.
Hubungannya dengan Mona juga semakin panas tapi tetap mujur mulus tak ada kendala, mungkin belum tunggu saja saatnya nanti.
Di malam yang cukup dingin Rizal mengajak Mona makan malam di luar. Rizal bisa mengajak wanita lain makan diluar dan habis uang ratusan ribu tapi untuk Lisa tetap saja tidak berubah hanya 50 ribu setiap minggu.
Lisa juga tidak melakukan protes dan ia hanya menerima semuanya dengan iklhas dan pasrah.
"Mas, kamu kapan sih cerai sama sih Lisa itu?" tanya Mona, hatinya mulai geram karena sampai saat ini Rizal tak kunjung cerai dengan Lisa.
"Tunggu..."
"Tunggu apa? Tunggu 40 hari anakmu, Mas ini sudah satu bulan lebih dan 40 itu tinggal menghitung hari, tapi apakah Mas sudah mengajukan surat cerai? Menalak wanita itu, apa sudah Mas lakukan?" terocos Mona semakin geram. Wanita mana yang mau di janjiin doang? Tapi entah kapan akan di nikahi?
Rizal mengaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, bagaimana caranya aku menceraikan Lisa? Sangat susah mencari istri yang seperti Lisa, dia yang tak pernah neko-neko, bandingkan dengan Mona baru satu bulan lebih kita pacaran uangku sudah habis jutaan rupiah.
"Iya akan segera aku ceraikan," sahut Rizal cuek.
Selalu itu yang di katakan oleh Mas Rizal, entah mereka akan benar-benar bercerai atau tidak? Aku sudah jenuh menjalin hubungan gelap seperti ini.
***
Karena di rumah kesepian Lisa bermain ke rumahnya Ipah, selain ingin bertemu dengan Ipah, dia juga ingin bertemu dengan Tasya.
Saat melihat Tasya seperti melihat Tiara setidaknya untuk mengobati rasa rindunya pada Tiara.
"Tok..tok..."
Ipah yang sedang menonton televisi bergegas pergi membukakan pintu rumahnya.
"Ceklek....."
"Ipah," sapa Lisa sembari tersenyum pada Ipah.
"Lisa, ayo masuk!" ajak Ipah, lalu mengandeng Lisa masuk ke dalam rumahnya.
"Tasya mana?" tanya Lisa, rasanya ingin melihat Tasya dan memeluknya.
Ipah mengajak Lisa ke ruang tengah, lalu ia menunjukkan kalau Tasya sedang tidur di depan televisi. Setelah makan siang Tasya mengantuk jadi anak cantik itu tidur, padahal teman-temannya ngajak main tapi Tasya menolak diajak bermain sama mereka.
Ipah duduk di sofa, ia juga mempersilahkan Lisa untuk duduk tapi Lisa malah berjalan mendekati Tasya yang terlelap dengan nyenyak.
Ipah membiarkan itu, ia tahu kalau saat ini pasti sahabatnya ini sangat merindukan putri kecilnya yang sudah bahagia di surga sana.
"Tiara, lihat Tasya,dia adalah teman bermainmu, Nak," di usap pipi mulus Tasya dengan jari-jari lentiknya. Tak terasa air matanya jatuh menetes di pipi mulusnya. Rindu yang begitu berat dan tidak tahu kepada siapa Lisa harus curahkan? Lisa hanya bisa mengirimkan doa untuk putri kecilnya agar tenang di surga sana.
"Mama...." bayangan putih melambai-lambaikan tangannya terdengar jelas itu adalah suara Tiara.
Mata Lisa mencari-cari suara itu, sekilas ia melihat bayangan putrinya yang sedang tersenyum pada dirinya.
"Tiara..." panggil Lisa.
Sorot mata Ipah mengikuti pandangan Lisa, ia melihat kearah jendela rumahnya. "Tidak ada siapa-siapa, pasti Lisa berhalusinasi," batin Ipah dalam hatinya.
"Mama...." tangan itu dadah pada Lisa, membuat Lisa beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mengikuti bayangan itu. "Tiara...." panggilnya tapi bayangan itu memghilang begitu saja.
Bayangan itu jelas terlihat tapi aku tidak bisa menyentuhnya, Tiara apa kamu datang karena kamu tahu kalau mama sangat merindukanmu?
Tiba-tiba Lisa lemas dan jatuh terduduk, Ipah dengan sigap menolong Lisa.
"Lis, kamu tidak apa-apa?" tanya Ipah, ia membantu Lisa bangun dari tempatnya terjatuh, lalu memapah Lisa ke sofa.
Lisa masih diam, Ipah memberikan satu gelas air putih, Lisa pun meminumnya.
"Lis, kamu tidak apa-apa?" tanya Ipah kawatir.
"Pah, aku melihat Tiara, dia tersenyum padaku, dia pergi menghilang begitu saja," celoteh Lisa seperti orang tidak sadar.
Malang sekali nasib sahabatnya, di tinggal untuk selamanya oleh putrinya dan suaminya juga tidak perduli padanya. Untung saja dia tidak gila, sabar ya Lisa. Mudah-mudahan Allah mengirimkan jodoh yang terbaik untukmu dan biarkan Rizal pergi dari hidupnya.
"Lis, Tiara sudah bahagia makanya dia tersenyum padamu. Kamu tidak boleh sedih dan seperti ini, nanti Tiara sedih," pinta Ipah dengan nada lembut.
Lisa mengangguk, lalu ia memeluk Ipah dengan penuh kasih sayang.
Setelah itu mereka duduk di sofa, lalu mereka mengobrol sambil menikmati cemilan yang ada di atas meja, Ipah beranjak ke belakang untuk mengambil air minum untuk dia dan Lisa.
Setelah beberapa lama Ipah kembali, kini mereka kembali mengobrol dan kali ini mereka mengobrol tentang novel-novel mereka.
"Pah, aku bulan ini langsung narik tahu," ujar Lisa dengan raut wajah bahagia.
"Sungguh, syukurlah Lis. Kamu narik berapa Lis?" tanya Ipah penasaran, rejeki Lisa cukup bagus baru pertama kali nulis tapi langsung bisa narik. Rejeki wanita soleha.
Ipah mengotak-atik layar ponselnya, lalu ia menunjukkan ke Aplikasi tempat ia menulis dan menunjukkan berapa yang ia tarik kepada Ipah.
"Lis, ini kamu dapat 5 juta. Beruntung sekali kamu Lis, kamu harus terus berjuang dalam menulis. Jika suatu saat suamimu yang tak berguna itu menceraikanmu, kamu sudah punya uang sendiri untuk bertahan hidup," ujar Ipah tampak geram sekali pada Rizal yang tidak lain adalah suaminya Lisa.
Lisa mengangguk mantap, ini memang tujuannya agar bisa menjadi wanita yang mandiri juga tidak bergantung kepada laki-laki terutama.
"Lis, aku harus mencaritahu tentang perselingkuhan suamiku dengan janda gatel tetangga mertuaku, aku melihat pesan mereka sangat mesra tapi Mas Rizal belum mengakuinya," kata Lisa dengan nada agak sendu.
"Aku akan membantu kamu mencaritahu semuanya Lis," ujar Ipah mantap.
Mungkin di depan Rizal, Lisa selalu terlihat baik-baik saja dan hanya bersikap dingin saja, tapi dalam hati Lisa yang paling dalam rasanya sudah sangat geram dengan perlakuan Rizal yang tidak pernah sedikitpun peduli padanya, bahkan istri sendiri di anggap orang lain, laki-laki macam apa itu?
Lisa berpikir keras bagaimana caranya agar bisa membongkar hubungan gelap suaminya dan janda gatel itu? Tidak akan mudah pasti, tapi aku harus mencaritahunya secepatnya.
"Tok..tok....."
Mendengar suara ketukan pintu Ipah beranjak dari tempat duduknya. "Sebentar Lis, aku buka pintu dulu," kata Ipah sebelum berlalu pergi. Lisa hanya mengangguk.
Ipah berjalan ke pintu depan, lalu ia membukakan pintu rumahnya. "Ceklek," saat pintu terbuka betapa kagetnya Ipah melihat kakaknya dan anaknya yang begitu cantik.
"Kak Faris, Alena, masuk!" kata Lisa sembari mengambil Alena dari gendongan Faris.
Faris masuk mengikuti langkah kaki Ipah, sesampainya di ruang tengah saat melihat Lisa, Faris menatap Lisa cukup lama dan tanpa berkedip sedikitpun.
"Ipah, itu siapa?" tanya Faris dengan suara lirih.
"Itu Lisa Kak sahabatnya Ipah," jawabnya dengan suara lirih juga.
Faris mengangguk, tatapan matanya tak hentinya menatap kecantikan Lisa yang manis dan begitu natural.
"Duduklah Kak!" titah Ipah, Faris duduk di sofa yang tidak terlalu jauh dari Lisa.
Lisa tersenyum kecil saat melihat Faris tersenyum padanya.
"Lis, nitip Lena dulu ya, aku mau ke kamar mandi," kata Ipah lalu menaruh Alena di pangkuan Lisa, anak cantik yang kira-kira usianya baru 3 tahun cukup lucu dan menggemaskan sekali.
"Sini Nak, sama Papa ya!" karena tidak enak Faris hendak mengambil Lena dari pangkuannya Lisa. Tapi Lisa menahannya. "Tidak apa-apa biar saja saya saja, saya suka dengan anak kecil," kata Lisa dengan nada lembut.
Seketika hati Faris begitu sejuk mendengar suara lembut Lisa, sudah cantik, manis, suaranya lemah lembut tapi dia sudah punya suami atau belum?
Rasanya penasaran sekali dengan Lisa, jika belum ingin rasanya aku jadikan sebagai istri sahku. Biar Alena punya Ibu, aku juga punya teman di ranjang, tidak enakkan menduda terlalu lama. Entah kapan aku menemukan jodohku untuk kedua kalinya?
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
Dian Rahmi
sudah tau dikampung ada perzinahan,.kok malah diam aja...bodoh juga warga dikampung si Mona
2023-11-01
0
Rumini Parto Sentono
nah tuh jodoh lisa selanjutnya udah otw....
2023-10-07
0
Puji Lestari
naahh lisaa jodohmu mu telah oteweee tuh, dah yampe didepan mata....
semangaat Lisa, sambut hari2 ceria mu,
Abaikan saja si Rizal biar nyesek nyesek dah tuh Rizal dan ibunya Ratna dapet ikan asin gatel dan bay...
2022-12-07
1