Malam menunjukkan setengah 8 malam, Ipah sekeluarga juga sudah hadir di rumah Lisa untuk mengikuti acara pengajian di hari pertama Tiara yang sudah tiada.
Pengajian di mulai dengan khusyuk, malam ini yang mengaji semua para laki-laki dan yang perempuan mengurus masalah dapur sedangkan Lisa dan Ipah hanya duduk, Lisa masih terlihat sangat lemas dan dari tadi malam juga belum makan apapun.
Setelah beberapa lama pengajian selesai, bingkisan juga di bagikan kepada semua yang hadir dan saat semua tamu sudah pulang. Ipah dan suaminya masih ada di rumah Lisa, sedangkan Tasya tidur di sofa mungkin karena kelelahan.
"Lis sudah jam 9 malam, kamu belum makan apapun dari tadi malam. Kamu makan dulu ya!" pinta Ipah, dengan tatapan penuh rasa kawatir takut Lisa kenapa-kenapa.
"Aku tidak lapar," jawabnya dengan suara lemas dan kedua tangannya dari tadi memeluk foto Tiara dengan erat.
"Sedikit saja!" bujuk Ipah dengan nada lembut, Ipah menyuapkan nasi ke mulut Lisa, akhirnya Lisa mau membuka mulutnya dan itu membuat Ipah sangat senang. "Lis, Tiara tidak mau melihat Mamanya sedih terus, harus sehat," nasehat Ipah dengan nada lembut.
Ipah sebagai sahabat Lisa, dia sungguh sahabat yang sangat baik.
Fahmi dan Rizal duduk berdampingan, Fahmi memegang bahu Rizal dengan pelan.
"Sabar ya Zal, ini semua sudah takdir dari Allah," kata Fahmi dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku ini seorang Ayah yang tidak berguna, aku abaikan putriku saat masih ada di dunia ini, aku menyesal sekali," tangis Rizal kembali pecah.
"Zal, jika kamu benar-benar menyesal kamu perbaiki dari sekarang! Jika kamu tidak bisa membahagiakan Tiara, maka bahagiakan Lisa. Pasti di surga sana Tiara akan bahagia," turut Fahmi dengan penuh ketulusan.
Rizal hanya diam, ia tidak tahu harus menjawab apa? Biarpun sedang berduka tapi Rizal masih saja ingat dengan Mona.
"Mba Lisa, maafkan aku ya," kata Lita tiba-tiba, ia bersipu di hadapan Lisa, membuat Lisa kaget dan menatap Lita heran, mata Lita terlihat sembab dan bengkak.
"Untuk apa kamu minta maaf, Lit?" tanya Lisa bingung, Lisa dan Lita memang tak pernah akur dari dulu.
"Karena selama ini aku tidak pernah menyayangi Tiara, aku ini Tante yang jahat Mba," sesal Lita dari dalam hatinya.
"Tidak apa-apa, kasian selama hidupnya Tiara tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari orang-orang terdekatnya jangankan Tantenya, Neneknya saja tidak pernah menyayanginya, Papanya juga selalu cuek padanya, hanya aku yang selalu menyayangi Tiara kecilku," lirih Lisa dan kembali tangisnya pecah bag air hujan.
Lita baru menyadari semua itu sekarang, ternyata ponakannya sangat malang sekali nasibnya.
Ratna beranjak dari tempat duduknya, lalu ia datang menghampiri Lita.
"Lita ayo pulang! Acaranya kan sudah selesai," ajak Ratna dengan nada ketus dan tatapan sinis kepada Lisa.
Dasar mertua tidak ada akhlak saat sedang berduka seperti saja Ratna tidak ada rasa simpati sama sekali kepada Lisa. Di depan banyak orang juga Ratna menunjukkan rasa tidak sukanya kepada Lisa.
"Bu, Mba Lisa kan masih berduka, kita menginap saja duku, lagian besok Lita libur sekolah," pinta Lita dengan nada lembut.
"Halah buat apa menginap? To Tiara nya juga sudah di kubur, tidak mungkin bangun lagi," sahutnya agak menyentak.
"Kamu juga Lis, untuk apa nangis terus? Anakmu itu sudah mati dan tidak mungkin hidup lagi," ocehnya pada Lisa. Dasar dedemit, sama sekali tidak punya hati nurani.
Lisa yang tadinya cukup tenang, ia berapi-api menatap Ratna.
"Aku tidak butuh kehadiran Ibu mertua sepertimu, silahkan pergi dari rumahku!" usir Lisa dengan tegas dan sorot mata tajam.
"Dasar mantu tidak punya sopan santun," bentak Ratna dan langsung menyeret Lita dengan kasar.
Ipah mengelus dada, kok ada mertua seperti Bu Ratna? Lisa saat ini sedang berduka, ini malah bicara seperti itu. Manusia tidak punya hati.
Rizal tidak mendengar saat Lisa dan Bu Ratna cekcok karena Rizal dan Fahmi sedang mengobrol serius antara laki-laki.
Setelah Ratna dan Lita pulang, Lisa kembali duduk dengan lemas. Ipah mengusap-usap punggung Lisa berusaha menenangkan Lisa.
"Lisa, kamu yang sabar, yang kuat!" titah Ipah hanya itu yang bisa katakan pada Lisa.
Jam menunjukkan pukul 12 malam, Ipah dan suaminya pamitan pulang karena sudah malam, besok juga Tasya harus berangkat sekolah.
Kini tinggal Rizal dan Lisa yang sama-sama saling diam padahal mereka duduk bersebelahan. Lisa pun enggan melihat Rizal, ia memilih cuek.
"Lisa," panggil Rizal dengan nada lembut ia berusaha membuka percakapan.
"Apa? Saat Tiara sakit dan butuh kamu, kamu kemana saja?" tanya Lisa dengan tatapan geram.
Deg hati Rizal berdetak, ada rasa takut dan rasa yang sulit ia jelaskan pada Lisa.
"Aku sedang bersama dengan klien," jawabnya dengan gugup.
"Klien, oke klien lebih penting daripada putrimu," pungkas Lisa dengan cuek. Tiara bahagia di surga sana ya Nak! Mungkin Allah mengambilmu lebih cepat karena Allah tidak mau melihat kamu menderita di dunia ini.
"Lis, aku minta maaf," kata Rizal dengan perasaan bersalah.
"Makan maafmu mas, Tiara sudah tidak butuh itu," tepis Lisa dan ia memilih untuk tidur, enggan rasanya meladeni manusia seperti iblis seperti suaminya ini.
Lisa memejamkan matanya, sedangkan Rizal masih terdiam merenungi kesalahannya.
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
Puji Lestari
kapookkmu kapaan Rizal, sudah tiada baru menyesal kan gak bergunaaa tau,ikuti ibumu aja sanaa
2022-12-05
3
❤️⃟Wᵃf✰͜͡ᴠ᭄ᴇʟᷜᴍͣuͥɴᷤ✪⃟𝔄⍣⃝కꫝ🎸
Maaf,tp yg diinget Mona
2022-11-29
2
Alifa Nur aisyah
rizal masih aja ke inget mona, rizal g benar" menyesal tuh
2022-11-17
1