Lisa dan Syifa

"Lis, jika aku menikah lagi, jangan salahkan aku!" pungkas Rizal dengan nada marah.

Lisa hanya tersenyum kecil, jika suaminya ingin menikah lagi, aku juga siap jadi janda.

"Silahkan Mas!" titah Lisa, ia mengangkat Tiara yang sedang tidur di sofa, lalu mengendongnya dan membawa Tiara pergi begitu saja.

Ratna mesem-mesem, melihat Lisa pergi begitu saja sedikitpun Rizal tidak mencegahnya ia cukup tenang dan cuek begitu saja. Dasar laki-laki tidak berguna.

"Sudahlah Zal, wanita seperti itu untuk apa kamu pertahankan?" ujar Ratna, ia duduk di sebelah Rizal. Mengelus-elus punggung Rizal dengan lembut.

"Gimana aku betah di rumah Bu, hampir setiap hari dia mengoceh Bu," keluh Rizal pada Ibunya.

"Ibu kenalkan kamu pada Mona ya, dia wanita cantik, wanita berkarir lagi," ujar Ratna semangat.

Rizal kembali terdiam, membuat Ratna ikut terdiam juga. "Zal, apa yang kamu harapkan dari wanita miskin seperti Lisa itu?" tanya Ratna akhirnya.

"Entahlah Bu, kenapa dulu aku menikahinya?" sesal Rizal pada ibunya.

"Itukan pilihanmu dulu, karena dia gadis kembang desa kamu dengan cepat memutuskan untuk menikah dengannya," dengan entengnya Ratna sepenuhnya menyalakan putranya ini.

Rizal terdiam, ia rasanya pusing sekali. Sedangkan Ratna sibuk dengan ponselnya, entah apa yang sedang Ratna lakukan dengan ponselnya?

*

*

Lisa berjalan kaki sampai di rumahnya, geram sekali hatinya. Setiap kali datang ke rumah mertuanya ada saja yang di ributkan.

"Nak, kamu sabar ya, Mama bakal mencari pekerjaan tapi biar bisa di rumah jagain kamu," kata Lisa sedih. Buliran air mata akhirnya berjatuhan membasahi kedua pipi mulusnya.

"Kerjaan apa yang bisa aku lakukan di rumah? Jualan sosis bakar dan aneka jajanan anak-anak, itu pasti butuh modal. Aku modal darimana?" Lisa tampak berpikir keras, hingga dia kepikiran satu sahabat dekatnya namanya Asyifa yang biasa ia panggil Ipah. "Dulu Ipah pernah bercerita kalau dia kerjanya nulis gitu, sehingga dia bisa kerja sambil jagain anak-anaknya, aku harus tanya padanya," batin Lisa dalam hatinya.

Lisa langsung pergi ke rumah Ipah, rumahnya tidak terlalu jauh dari rumahnya. Tiara juga diajak biarpun sedang tidur Lisa tidak perduli daripada di tinggal di rumah nanti kasian sendirian.

"Ipah....!!" panggilnya dari depan gerbang rumah Ipah.

"Iya sebentar," sahut Ipah bergegas keluar rumah untuk membukakan pagar rumahnya. Padahal hari sudah menjelang sore tapi Lisa tidak perduli.

Ipah membuka gembok pagar rumahnya, ia melihat Lisa mengendong anaknya yang tertidur, Ipah menatap Lisa kawatir. "Lisa, masuklah!" titahnya dengan nada lembut.

Lisa dan Ipah masuk ke rumah, kini mereka duduk di ruang tamu.

"Lisa ada apa?" tanya Ipah kawatir, melihat raut wajah sahabatnya ini tampak sendu.

"Pah, aku ingin kerja seperti kamu," katanya dengan nada agak gemetaran.

Ipah tersenyum kecil, ia menuangkan air putih yang ada di atas meja, lalu memberikan kepada Lisa. "Minumlah dulu!" pintannya dengan nada lembut, Lisa menerima satu gelas air itu dari Ipah, lalu meminumnya sampai tandas. Entahlah karena sanking marahnya kepada suami dan mertuanya ia sampai-sampai menahan rasa hausnya.

Lisa merilekskan dirinya, ia juga sudah menaruh Tiara di kamar anaknya Ipah yang usianya juga sama dan sekolah di Bimba yang sama juga.

"Lis, kamu mau menjadi penulis?" tanya Ipah dengan nada lembut.

"Iya Pah, kamu tahu sendirikan Mas Rizal setiap minggu hanya memberikan uang 50 ribu untuk satu minggu, dia bisa memberikan uang bulanan untuk Ibunya tapi untuk istrinya dia begitu pelit," keluh Lisa dan Ipah sangat mengerti. Memang sangat malang nasib sahabatnya ini.

"Kamu kan perempuan, tunjukkan pada suamimu kalau kamu itu wanita hebat dan jangan buat kamu tergantung pada suamimu yang keterlaluan itu!" nasehat Ipah, geram sekali pada Rizal dasar laki-laki tidak berguna.

Lisa mengangguk, Ipah mengambil ponselnya dan langsung mengajari Lisa untuk menulis. Untung saja Lisa suka membaca novel dan dulu waktu gadis hampir setiap hari menonton film drama, sehingga otaknya mudah diajak traveling kemana-mana dan untuk menghalu Lisa yakin itu tidak akan sulit.

"Lis, kamu download aplikasi berwarna biru ini, lalu kamu pencet ini, terus di sini kamu mulai nulis dan kamu siapkan bab yang banyak dulu agar bisa update banyak setiap hari, karena itu pembaca akan senang," jelas Ipah kepada Lisa dan Lisa mendengar dan memperhatikan penjelasan Ipah dengan baik.

"Kamu mengertikan?" tanya Ipah setelah menjelaskan panjang lebar kepada Lisa.

"Iya Lis, aku mengerti. Mudah-mudahan aku bisa sukses menulis seperti kamu agar aku bisa menjadi wanita yang mandiri," harapan Lisa untuk dirinya.

"Berjuanglah! Semangat!" Ipah memberikan semangat untuk sahabatnya ini.

Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, Tiara dan Tasya asik bermain bersama, mereka baru saja selesai makan. Tiara juga sangat senang makan malam di rumah Ipah, apalagi lauknya enak-enak, anak kecil itu tadi makan dengan lahap.

Air mata Lisa sampai menetes sangking sedihnya melihat nasib malang anaknya. Ipah memeluk erat Lisa dan memberikan semangat untuk Lisa. Ipah tahu sekali seperti apa kehidupan sahabatnya satu ini, nasibnya tidak sebaik dan semulus dirinya.

Ipah mengantarkan Lisa sampai di depan rumahnya dengan motor matic miliknya.

Lisa sangat bersyukur karena punya sahabat sebaik Ipah. Dia lah orang yang selalu menolongnya dalam kesusahannya selama ini.

Lisa dan Tiara melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumahnya, sesampai di dalam rumahnya Rizal yang ternyata sudah pulang ia langsung menatap Lisa dengan tajam.

"Darimana kamu?" tanyanya dengan nada menyentak.

Lisa menyuruh Tiara langsung masuk ke dalam kamarnya dan Tiara menurut.

"Aku dari.... apakah penting aku darimana?" sahut Lisa cuek dan berlalu begitu saja.

Rizal berdecak kesal, ia menatap Lisa yang berlalu pergi begitu saja masuk ke dalam kamarnya.

"Dasar istri kurang ajar!!" teriaknya dengan lantang tapi Lisa tidak perduli sama sekali, rasanya sangat lelah punya suami seperti Rizal.

Lisa membaringkan tubuhnya di atas ranjang tempat tidurnya, lalu ia langsung sibuk dengan ponselnya untuk mulai menulis malam ini.

Saat Rizal masuk ke dalam kamar, melihat Lisa sibuk dengan ponselnya sambil senyam-senyum, ia menatap Lisa curiga, apa dia bermain-main di belakangku?

Bersambung

Terimakasih para pembaca setia

Terpopuler

Comments

Puji Lestari

Puji Lestari

giliran Lisa senyum2 sendiri di HP disangkakan selingkuh ...
hallooooo Rizal yg Budiman kamu gak ngaca kebahagiaan istrimu dah gak dia dapatkan dari mu,, makanya bahagiakan istrimu dulu baru ibu dan adikmu jaangan berat sebelah....

2022-12-05

1

❤️⃟Wᵃf✰͜͡ᴠ᭄ᴇʟᷜᴍͣuͥɴᷤ✪⃟𝔄⍣⃝కꫝ🎸

❤️⃟Wᵃf✰͜͡ᴠ᭄ᴇʟᷜᴍͣuͥɴᷤ✪⃟𝔄⍣⃝కꫝ🎸

Beruntungnya Lisa memiliki sahabat yang baik & pengertian

2022-11-29

1

Adinda

Adinda

Ayo Lisa,, semangat 💪

2022-11-13

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!