Menikah lagi

"Aku mau semua gajianmu Mas, aku yang mengatur semuanya, apa kamu bisa?" tatang Lisa pada Rizal.

Seketika Rizal menatap Lisa penuh tanda tanya? Akankah Rizal memberikan uang gajiannya setiap bulan pada Lisa?

"Haahh mimpi kamu Lisa, memangnya kamu siapa?" tatapan Rizal begitu sepele, ia lupa dulu ia menikahi Lisa karena mencintai Lisa, apa cinta itu sudah hilang di telan bumi?

"Mas aku ini istrimu, aku berhak atas uangmu, aku berhak menerima nafkah lahir dan batin," hardik Lisa dengan tegas.

"Lis istri hanyalah orang lain, yang asli keluarga itu ya Ibu dan Lita," pungkas Rizal dengan kekeh.

Lisa menggelengkan kepalanya, rasanya sangat geram sekali pada suaminya ini, dia lupa dulu dia menikahinya dan berjanji akan membuat hidupnya bahagia tapi ini apa? Pernikahan yang aku impikan akan indah seindah film drama, kini nyatanya tidak seindah itu. Mungkin bisa di sebut aku itu dulu salah satu kembang desa di tempat tinggalku tapi aku malah menikah dengan laki-laki yang salah.

"Oh gitu, sampai kapan Mas kamu akan berpikir kalau istri itu orang lain? Ibu macam yang selalu meracuni otak anaknya dengan hal tidak benar," hardik Lisa menatap marah Rizal. Aku sudah sangat sabar dan kesabaran manusia itu ada batasannya.

"Sudahlah Lis, Ibuku itu tidak pernah salah," pekik Rizal tidak mau kalah dan membela ibunya.

Lisa menghela nafas berat, Ibu mertuaku memang jahat bahkan dia tidak pernah mau menganggap aku sebagai menantunya, baginya aku ini hanya orang lain.

"Itu ada beras satu karung, nanti kita antar ke rumahny Ibu, kasian dia janda buat makan saja susah," kata Rizal sedikitpun Rizal tidak perduli akan kemarahan Lisa.

"Kenapa kamu tidak bawa kesana sendiri saja Mas?" tanya Lisa, ia cukup malas untuk bertemu dengan ibu mertuanya.

"Sudah tidak usah banyak omong, ayo kita ke rumah Ibu, ajak Tiara juga!"sahut Rizal tegas.

Mereka bertiga langsung ke rumah Ratna naik motor matic,Tiara juga ikut dengan mereka, karena kalau di tinggal takut nangis. Jarak rumah Ratna juga tidak terlalu jauh hanya beberapa menit saja dari rumah.

Padahal Rizal sudah memberikan uang setiap bulan untuk Ratna tapi beras masih ia belikan, kadang juga saat pulang dari kantor Ratna dan Lita di belikan makanan enak tapi sedikitpun Rizal tidak membelikan untuk istri dan anaknya.

Biarpun dengan perasaan yang masih marah tapi Lisa tetap mau diajak ke rumah orangtuanya Rizal.

Sesampainya di sana, rumah tampak sepi dan hanya ada Lita di rumah.

"Ibu, kemana Lit?" tanya Rizal, ia menaruh satu karung beras di dapur.

"Sedang jalan-jalan Mas, tadikan di kasih uang bulanan oleh Mas," jawab Lita, ia menyalami tangan Lisa dan Rizal secara bergantian.

Deggg.

Hati Lisa sangat geram, aku yang istrinya di kasih uang 50 ribu satu minggu. Tapi ibu mendapatkan uang bulanan dari Mas Rizal, dari dulu memang suamiku selalu seperti ini.

"Ohh ternyata ibu dapat uang jatah bulanan, senang ya jadi Ibu," sindir Lisa sinis. Aku tidak marah jika suamiku memberikan uang pada ibunya, asal aku juga di cukupi.

"Mba Lisa, Ibu itu yang melahirkan Mas Rizal. Lalu apa salahnya jika Mas Rizal memberikan jatah uang bulanan untuk Ibu? Apa Mba Lisa tidak senang?" Lita menatap sinis Lisa, padahal dia masih SMA tapi tidak punya akhlak saat bicara dengan yang lebih tua.

"Lita, aku tidak akan marah, jika Mas tersayangmu ini mencukupi kebutuhan istrinya juga," pekik Lisa dengan nada menekan. .

Tiara sudah duduk di meja makan, ia membuka tudung saji dan di dalam tudung saji itu isinya makanan enak-enak. .

"Mama aku mau makan," kata Tiara.

"Ehh itu cuma masak sedikit, kamu jangan makan!" seru Lita kasar, hati Lisa begitu tersentak, hanya makanan saja sampai berseru kepada anaknya.

"Lit, biarkan saja Tiara makan!" kata Rizal pada Lita.

"Lita belum makan Mas, jadi kalau itu di makan oleh Tiara. Lita makan apa?" sahut Lita tidak rela jika Tiara sampai makan makanan yang ada di atas meja makan itu.

Lisa menghampiri putri kecilnya, Tiara kelihatan ketakutan karena Lita memolototi dirinya dengan tajam.

"Nak, kita makan di rumah saja ya!" titah Lisa, ia memeluk anaknya dengan hati yang begitu tersayat.

"Mama, lauk di rumah nenek enak, Tiara mau makan itu, Ma," lirihnya membuat air mata Lisa hampir saja terjatuh dan dia menahannya.

Bahkan melihat putri kecilnya menangis suamiku sedikit saja tidak ada rasa ibah sama sekali, jangankan menenangkan putrinya dia sekarang malah duduk di sofa dan fokus dengan televisi. Tangisan Tiara diabaikan begitu saja, sedih hatiku, menangis hati ini.

"Nak, nanti mama belikan lauk enak buat kamu ya, nanti kita beli ayam goreng," hibur Lisa dengan nada lembut. Tiara mengangguk, ia sangat semangat saat mendengar ayam goreng. Wajar di rumahnya setiap hari hanya lalu tahu dan tempe saja.

Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya Tiara juga tertidur, Ratna pulang juga.

Lisa dan Rizal menyalami tangan Ratna secara bergantian.

"Zal, kok..."

"Rizal dan Lisa anterin beras Bu," jawab Rizal sebelum ibunya melanjutkan kata-katanya.

"Ibu darimana?" tanya Lisa dengan nada lembut.

"Dari pasar, Ibu habis beli cincin baru, lihat baguskan! Kamu menikah sudah cukup lama tapi emas saja kamu tidak pakai," tatapan Ratna begitu tidak suka pada Lisa.

"Mau beli emas uang darimana Bu? Kan yang dapat jatah bulanan dari Mas Rizal Ibu bukan Lisa," sindir Lisa secara halus.

"Lancang kamu Lisa kalau bicara," hardik Ratna menggebu-gebu.

Lisa tersenyum masam. "Tidak ada yang lancang kan memang benar Bu, senangkan Bu? Lisa juga pingin nikmati gajian suami Lisa sepenuhnya tapi sayangnya suami Lisa begitu patuh pada Ibunya," cebik Lisa dengan santainya. Sabarku jangan di tanyakan lagi.

"Punya istri kok kebanyakan ngeluh, gimana Rizal tidak bosan?" kata Ratna sinis.

"Punya suami juga selalu menganggap istrinya sebagai orang lain, siapa yang akan tahan?" timpal Lisa dengan entengnya.

Ratna semakin geram akan Lisa, memang ini anak kalau di bilangin tidak pernah mau dengerin, dia itu batu sekali. Menurut Ratna.

Dasar Ratna tidakkah dia berkaca lebih dulu? Sudah baik belum dia sebagai mertua?

"Lisa, jika kamu tidak tahan, kamu mau apa?" sahut Rizal meremehkan dan di tertawai oleh Lita, bocah bau kencur yang sok dewasa.

"Rizal tampan Lis, dia bisa menikah lagi," sambung Ratna dengan sombongnya dan begitu bangga akan Rizal.

"Biarpun menikah lagi, belum tentu wanita yang ia nikahi akan sesabar aku Bu," tatang Lisa dengan mantap.

"Lis, jika aku menikah lagi, jangan salahkan aku!" pungkas Rizal dengan nada marah.

Lisa hanya tersenyum kecil, jika suaminya ingin menikah lagi, aku juga siap jadi janda.

Bersambung

Terimakasih para pembaca setia

Terpopuler

Comments

Puji Lestari

Puji Lestari

biarkan saja Rizal nikah lagi luas, dan kamu akan jadi janda yg bisa bebas gak perlu makan hati lagi setiap ngadepin Rizal yg gak punya otak bin akhlak yang Sudah digadein diketek ibunya itu...
semoga besok kamu mendapatkan suami yg lebih mapan, tajiir meliintiir biar Ratna dan Lita nyahook

2022-12-05

3

Yovi yanti Erfa

Yovi yanti Erfa

Orang seperti Rizal cocoknya ditinggalkan lalu Lisa menikah lg dgn suami yg syg sm Lisa klau kt mau membalas perbuatan seseorang dgn cr kt mendapatkan yg lbih baik biar skit ht suami yg sdh tdk menghargai kt

2022-12-02

1

❤️⃟Wᵃf✰͜͡ᴠ᭄ᴇʟᷜᴍͣuͥɴᷤ✪⃟𝔄⍣⃝కꫝ🎸

❤️⃟Wᵃf✰͜͡ᴠ᭄ᴇʟᷜᴍͣuͥɴᷤ✪⃟𝔄⍣⃝కꫝ🎸

Semoga saja dg kamu nikah lg krluargamu bakal kena karmanya

2022-11-29

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!