Sementara itu...
"Kalian tunggu di sini. Aku ingin berjalan-jalan sendiri!" Terlihat Liona memarahi prajurit istana yang sedang menemaninya berjalan-jalan.
"Tapi, Putri. Yang Mulia akan marah kepada kami." Prajurit itu takut membiarkan Liona pergi sendiri.
"Sudah, kalian tenang saja. Aku pasti bisa kembali ke istana sendiri. Kalau tidak, kalian tunggu aku di sini. Aku ingin ke sana sebentar." Liona menunjuk suatu tempat yang berada di ujung sana.
Para prajurit itu saling pandang satu sama lain. Mereka takut dimarahi raja, tapi mereka juga tidak bisa menolak permintaan Liona. Mereka tahu bagaimana Liona kepada ayahnya. Bisa-bisa Liona mengadukan hal yang aneh-aneh jika keinginannya itu tidak terpenuhi.
"Baiklah, Putri. Tapi putri harus membawa ini." Salah satu prajurit menyerahkan gumpalan kain berwarna hitam yang entah apa isinya.
"Apa ini?" tanya Liona yang heran.
"Itu adalah alat pelacak jika Putri tersasar di hutan. Tim pelacak bisa mencium aroma gumpalan itu dari jauh. Jadi Putri harus selalu membawanya," terang prajurit.
Ribet sekali. Liona pun menggerutu di dalam hatinya. "Baiklah. Terima kasih. Aku pergi sebentar. Tunggu saja aku di sini." Liona pun bergegas pergi.
Bak tak berdaya, kedua prajurit istana itu menuruti kemauan Liona. Mereka menunggu Liona kembali. Sedang Liona terus saja melangkahkan kakinya menuju ke suatu tempat yang ada di ujung sana. Ia ingin melihat ada hal apa saja di sana. Lantas apakah Han mampu menemukannya?
Beberapa saat kemudian...
"Apa ini?"
Liona tiba di kawasan perbatasan hutan. Tapi ia melihat sesuatu hal yang aneh. Pemandangan di perbatasan itu tampak sangat berbeda sekali. Di luar hutan sangat terang dan juga terdapat banyak rumah dari kejauhan. Liona pun dibuat penasaran.
Liona mencoba melangkahkan kakinya untuk keluar. Namun, saat itu juga ia merasa seperti masuk ke dalam dimensi yang berbeda. Liona pun bertanya-tanya di dalam hatinya.
Ini seperti pagar tembus pandang. Apakah jika keluar dari sini tidak bisa kembali lagi?
Ia bertanya-tanya sendiri. Namun, rasa penasaran itu begitu membuatnya ingin melangkah pergi. Pada akhirnya Liona pun memberanikan diri untuk melangkahkan kaki, keluar dari perbatasan tembus pandang tersebut. Namun...
"Liona!" Belum sempat melangkahkan kaki, Han sudah datang dan menariknya.
"Pangeran???" Liona pun melihat Han sudah berada di dekatnya.
Han menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia mengembuskan napas kuat-kuat seperti orang yang sedang marah. "Kau ... keterlaluan!" Ia pun tiba-tiba menggendong Liona.
"Pangeran, lepaskan!" Liona tidak mau digendong oleh Han.
"Nanti kita bicarakan." Han pun segera berlari cepat, melompat dari dahan ke dahan. Ia membawa Liona pergi dari perbatasan hutan. Sedang Liona tampak mabuk perjalanan.
Sialan kau, Han!
Liona tak berdaya untuk melepaskan diri dari gendongan Han. Tenaga Han terlalu kuat untuk dilawan. Liona pun pasrah dibawa Han ke mana. Ia memejamkan matanya.
Beberapa saat kemudian di jalanan hutan...
Han menurunkan Liona setelah beberapa kilometer dari perbatasan hutan. Liona pun berdiri kelimpungan. Ia merasa mabuk perjalanan. Han lalu segera memberikannya ramuan. Liona pun akhirnya tersadarkan.
"Aduh, kenapa kau cepat sekali?" Liona memijat kepalanya sendiri.
Han diam. Ia tampak kesal dengan seorang gadis yang ada di hadapannya ini. Terlebih Liona tidak memberi kabar sama sekali jika akan pergi. Han pun jadi khawatir karenanya.
"Kau suka sekali membuat orang cemas." Han akhirnya bicara.
Mereka berdiri berhadapan dengan jarak yang dekat. Han tampak memerhatikan Liona yang merasakan pusing di kepalanya. Ia menyadari jika Liona tidak biasa diajak berlari dan melompat dari dahan ke dahan. Han memakluminya. Karena selama ini Liona hanya berada di istana saja.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Rain4ever
gemes sama han
2022-11-21
0