Beberapa jam kemudian...
Lelah, itulah yang Liona rasakan saat bekerja setengah hati. Seperti saat ini, ia dengan malas membawa banyak bunga mawar di keranjangnya. Bunga mawar merah yang merekah indah dan sudah tidak ada lagi durinya. Ia membawa bunga itu untuk diberikan kepada kepala pelayan wanita.
Liona berjalan dari gazebo ke dalam istana. Karena bunga mawar itu sangat banyak, ia jadi kesulitan untuk melihat apa yang ada di depannya. Hingga akhirnya ia tidak tahu jika ada banyak kendi air untuk mengisi pot bunga. Liona pun tanpa sengaja menabraknya.
"Ah!"
Liona kehilangan keseimbangan saat menendang kendi air itu. Bunga mawar yang begitu banyak itu pun tidak lagi bisa ia pegang lebih lama. Pada akhirnya bunga itu terlempar ke udara bersama keranjangnya. Yang mana Liona pun hampir jatuh karenanya.
Ini tidak baik.
Kendi yang tertendang menumpahkan airnya. Liona pun tanpa sengaja terpeleset air kendi yang jatuh. Saat itu juga tubuhnya terhuyung ke belakang. Liona akan jatuh ke lantai.
"Liona!"
Saat itu juga seorang pangeran berjubah putih segera berlari cepat ke arahnya. Kedua tangannya ingin menangkap Liona. Sedang Liona sendiri tampak pasrah jika akan jatuh ke lantai. Namun, dengan sigap pangeran itu menahan tubuhnya.
"Liona!" Tubuh Liona pun tertarik ke arahnya. Liona tidak jadi jatuh ke lantai.
"Pa-pangeran ...???"
Saat itu juga Liona menyadari siapa yang menolongnya. Bunga-bunga mawar yang berjatuhan seolah menjadi saksi keduanya.
"Kau baik-baik saja?" tanya pangeran itu kepada Liona.
Ia adalah Han yang dengan sigap menolong Liona agar tidak jatuh. Ia menopang tubuh Liona dengan kedua tangannya. Kedua pasang bola mata itupun akhirnya saling berpandangan dari jarak yang dekat sekali. Seolah menghantarkan getaran-getaran cinta yang baru saja tercipta. Han menatap Liona begitu dalamnya, begitu juga dengan Liona.
"Astaga! Astaga!" Para pelayan yang melihatnya pun segera bersembunyi.
"Hei, lihat putri dan pangeran!" Mereka membicarakan Liona dan Han dari balik dinding persembunyiannya.
"Mereka seperti bukan kakak beradik, ya? Melainkan seperti sepasang kekasih," cetus yang lainnya.
"Sssssttt, jangan banyak bicara. Nanti ratu mendengarnya. Kita biarkan saja mereka. Hari sudah semakin sore. Lebih baik selesaikan pekerjaan kita." Seorang pelayan berkata kepada pelayan yang lainnya.
Pelayan yang lainnya pun mengangguk. Mereka kemudian meninggalkan kedua insan yang sedang terpaku dalam waktu. Momen itu tentu tidak akan pernah dilupakan keduanya. Apalagi oleh para pelayan yang melihatnya.
Beberapa saat kemudian...
"Pangeran ...." Liona menegur Han yang masih menahan tubuhnya.
"Apa ada yang terluka?" tanya Han dengan lembutnya.
Liona menggelengkan kepala. "Terima kasih," katanya sambil meletakkan tangan ke dada Han.
Saat itu juga Liona merasakan detak jantung Han yang begitu kencang. Han sendiri tersenyum kepada Liona. Senyuman yang baru ini ia berikan setelah belasan tahun lamanya. Hingga akhirnya Han tersadar dengan apa yang dilakukannya.
Astaga!
Ia segera melepaskan Liona begitu menyadari apa yang terjadi. Liona pun merasa heran kembali.
"Pangeran?"
"Maaf, lain kalau hati-hati kalau berjalan." Han pun segera pergi meninggalkan Liona.
"Eh???"
Han pergi tanpa kata pamit kepada Liona. Ia pergi begitu saja yang membuat Liona tidak mengerti akan sikapnya. Sikap Han tiba-tiba berubah tanpa alasan yang jelas. Padahal Liona menantikan kehangatan sikap itu sejak dulu. Tapi waktu begitu cepat merubahnya. Liona pun terdiam di tempatnya.
Dia aneh sekali. Kadang hangat, kadang dingin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Rain4ever
ih kak otor bisa aja
2022-11-14
0