Meramu Obat

Semilir angin di taman bunga menyapu helaian rambutnya yang tergerai panjang. Liona menyadari jika selama ini Han memerhatikannya dalam diam.

"Selama ini dia selalu menghindar dariku. Tapi kenapa hari ini aku melihatnya melukis wajahku? Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Apakah dia menyukaiku?" Liona bertanya-tanya sendiri.

Karena tidak ingin terlarut dalam pikiran, Liona kemudian memutuskan untuk pergi ke ruang pengobatan istana. Liona ingin melatih keterampilannya di sana.

"Lebih baik aku ke ruang pengobatan saja untuk melatih keterampilanku. Ya, daripada memikirkan pria itu," cetus Liona kepada dirinya sendiri. Ia lalu beranjak pergi.

Liona segera pergi dari taman bunga menuju ruang pengobatan istana. Ia meninggalkan lukisan Han dan tidak menggubrisnya. Liona membiarkan lukisan itu terembus angin taman yang lewat. Ia pun segera melangkahkan kakinya ke ruang pengobatan. Liona ingin belajar lagi dalam meracik obat-obatan.

Di ruang pengobatan istana...

Di ruang ini Liona bertemu dengan Rum. Seorang tabib wanita yang dipercaya ratu dalam meracik obat-obatan untuk keluarga kerajaan. Rum pun menyambut Liona dengan hangatnya. Wanita tua itu tampak mengenakan kaca mata tebal dengan rambut yang sudah hampir memutih semua. Rum adalah saksi Liona datang ke istana. Ia orang kepercayaan Ratu Endless.

"Nenek, hari ini ajari aku membuat obat-obatan penawar ya." Liona begitu bersemangat ingin belajar.

"Sudah bilang kepada ibumu? Nanti dia marah putrinya ada di sini," terang Rum yang khawatir ratu mencari Liona.

Sejak kecil Liona diarahkan untuk meracik obat-obatan. Berbeda dengan Han yang diajarkan berperang. Tak ayal meracik obat-obatan sudah menjadi keahliannya. Liona pun pandai dalam membuat berbagai macam campuran herbal.

Liona dipercaya para penghuni istana untuk membuatkan ramuan. Ia begitu senang dalam menerima setiap pelajaran. Tak ayal Rum pun menyukainya. Liona ternyata berbakat di bidang pengobatan.

Pagi ini Liona meminta diajarkan untuk membuat ramuan penawar. Yang mana pelajaran itu akan memakan waktu yang lama. Rum pun memperingatkan Liona untuk bilang lebih dahulu kepada ibunya. Agar ibu Liona tidak mencari-carinya. Tapi Liona dengan yakin menjawabnya tidak. Ia sudah cukup dewasa untuk berkeliling istana.

"Nenek tenang saja. Ibu pasti tahu aku ada di sini." Liona tersenyum kepada tabib wanita tersebut.

"Dasar kau ini. Jika ratu marah, maka aku akan menimpalimu." Rum pun mengancam Liona.

"Hahahaha. Nenek bisa saja."

Bukannya marah, Liona malah tertawa. Tawa renyah di ruang pengobatan istana yang sepi. Tawanya pun membuat Rum tersenyum. Ia tidak menyangka jika Liona bayi sudah sebesar ini. Ternyata waktu berlalu tanpa henti. Meninggalkan sejuta kenangan yang pasti.

"Baiklah. Siapkan akar-akaran itu lebih dulu." Rum menunjuk akar tanaman yang ada di atas meja pengobatan.

"Baik, Nek." Liona pun menurutinya.

"Akar-akaran ini harus direbus terlebih dahulu baru difermentasikan ya." Rum memberi tahu.

"Berapa lama, Nek?" tanya Liona kepada Rum.

"Sekitar tiga sampai empat hari, baru kemudian diminum airnya. Nanti jika memang ada racun, akan keluar dengan sendirinya." Rum menerangkan.

"Di mana kita bisa mendapatkan akar-akaran ini jika habis, Nek?" tanya Liona lagi.

"Di perbatasan hutan. Tapi kau tidak boleh ke sana karena sangat berbahaya," terang Rum.

"Oh ...," Liona pun mengangguk. "Kalau begitu baik, Nek." Liona pun mulai membersihkan akar-akaran yang ia pegang.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!