Hukuman

Hari terus berganti. Tak terasa sudah dua tahun berlalu bagi Liona dan Han. Tampak keduanya sudah semakin besar. Mereka pun dipisahkan kala mulai beranjak remaja. Liona sibuk belajar membuat ramuan dengan para tabib istana, sedang Han berlatih berperang.

Usia tujuh tahun masihlah amat muda untuk terjun ke medan perang. Tapi sepertinya hal itu tidak berlaku bagi Han. Sebagai putra mahkota, ia harus dididik bak prajurit tangguh. Han pun seringkali menerima hukuman. Masa-masa kecilnya terabaikan karena perintah sang raja yang menginginkannya untuk segera berlatih berperang. Mau tak mau Han pun menurutinya.

Latihan berperang tidaklah mudah. Han harus melewati berbagai rintangan yang menakutkan. Melompat dari ketinggian bahkan dijatuhkan lawan di atas kolam piranha. Han melalui masa-masa sulit di usia dininya. Ia pun merasa sang ayah tidak lagi menyayanginya.

"Begitu saja tidak becus! Mau jadi apa kamu?!"

Sang raja tampak marah kala Han tidak bisa mahir berperang dalam waktu cepat. Raja pun mencambuk Han dengan pecutan yang terbuat dari rotan kasar. Han kesakitan. Tapi ia menahan rasa sakit itu agar tidak dipandang lemah oleh ayahnya. Raja pun terus memukulinya. Ruang hukuman itu menjadi saksi betapa gelapnya lingkungan kerajaan.

"Suamiku, apa yang kau lakukan?!"

Sang ratu datang tergesa-gesa memasuki ruang hukuman. Tentu saja ratu tidak tega melihat Han dipukul ayahnya. Ia menahan raja agar tidak lagi memukuli Han. Tapi, raja tampak tak berbelas kasihan.

"Lihat hasil didikanmu! Anak ini lemah bahkan tidak bisa berperang dengan cepat! Tidak seperti Liona yang sudah pintar meramu obat-obatan. Aku malu mempunyai anak sepertinya!" Raja membanding-bandingkan Han dan Liona.

Saat itu juga Han menelan pahitnya kehidupan. Badannya sudah terasa sakit karena cambukan. Kini hatinya pun ikut sakit karena sang ayah membandingkannya dengan Liona. Han merasa ayahnya lebih menyayangi Liona ketimbang dirinya yang akan mewarisi tahta kerajaan.

"Suamiku. Setiap anak berbeda-beda. Janganlah terlalu keras kepada Han." Ratu menenangkan sang raja.

"Teruslah bersikap seperti ini. Maka kerajaan tidak akan mempunyai penerus lagi. Semua akan musnah karena calon penerus yang lemah." Raja tidak mengindahkan saran dari ratu. Ia pun ingin mencambuk Han lagi.

"Ayah, jangan!"

Tiba-tiba Liona datang sambil membawa kendi ramuannya. Ia tergesa-gesa memasuki ruang hukuman. Ternyata kabar Han dihukum begitu cepat menyebar ke seluruh istana.

"Liona?"

Saat itu juga sang raja tidak jadi memukul Han. Sedang Han masih berlutut di tempatnya. Ia tidak bergerak sama sekali.

"Ayah, jangan pukul Han lagi. Dia sudah terlalu banyak menerima hukuman. Ayah harus memberinya kesempatan untuk belajar." Liona meminta.

Han pun mendecih di dalam hatinya. Ia merasa Liona hanya pura-pura ingin membantunya.

Dasar penjilat. Kau pura-pura baik di hadapan ayah.

Han menganggap Liona hanya pura-pura membelanya. Karena Han tahu jika sang ayah lebih menyayangi Liona ketimbang dirinya. Han pun mulai tidak menyukai Liona. Ia bahkan berharap Liona tidak berada lagi di istana. Han ingin mendapatkan kasih sayang ayahnya.

"Han sudah membuat ayah malu, Liona. Dia harus menerima hukuman agar berpikir ulang atas tindakannya. Dia memalukan. Dia terlalu banyak bermain. Jadi biarkan ayah menghukumnya."

Raja menatap tajam ke arah Han yang masih duduk berlutut. Ia pun ingin melayangkan cambukannya. Sedang Han tampak pasrah menerimanya. Ia memejamkan mata.

"Terima ini, Bocah Nakal!" Raja melayangkan cambukannya.

"Ayah! Jangan!"

Namun, saat itu juga Liona menghalanginya. Ia memasang tubuhnya untuk melindungi Han dari cambukan. Liona pun terkena cambukan sang raja.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!