Rheina dan rekan-rekannya memasuki hutan berkilauan bernama Jade. Namun, mereka berlima ditegur oleh penjaga hutan tersebut, yaitu Lilipaly. Dia hendak menginterogasi dengan membaca pikiran mereka semua. Setelah membaca semuanya, dia mengetahui bahwa Andi, Zihan, Andre, serta Rozza, memiliki tujuan masing-masing dengan menjadi rekan Rheina. Namun, Lilipaly menemukan sesuatu tidak terduga dari Rheina. Dia merasa bahwa Rheina memiliki suatu hal yang membingungkannya.
"Ada yang aneh dari kalian semua …." Lilipaly berwajah masam sambil menunjuk mereka berlima.
"Kami?" tanya Rheina. "Ada apa dengan kami, Tuan Lilipaly?"
Lilipaly menjelaskan, "Aku tahu, kalian memiliki tujuan masing-masing. Tapi, aku merasakan hal tak biasa dari salah satunya."
Mendengar hal itu, Rozza dan Zihan yakin dengan berasumsi bahwa itu adalah Rheina sendiri. Tidak sampai di situ, Lilipaly memberi mereka sebuah ujian. Rheina dan rekan-rekannya dibawa ke suatu labirin. Di sana, mereka berlima harus diuji bagaimana mereka bisa keluar dari tempat itu. Lilipaly hilang meninggalkan mereka di tengah labirin.
"Kalian harus perlihatkan apa yang kalian punya. Dengan begitu, kalian akan lolos," tegas Lilipaly dengan suara gemanya pada mereka berlima.
Rheina dan rekan-rekannya menjelajahi labirin sampai mereka sadar bahwa dari tadi mereka hanya berkeliling di tempat yang sama. Mereka juga tidak dapat menghubungi Luca maupun Veronica dikarenakan tidak ada sinyal. Setelah mencoba menjelajah sepuluh kali putaran, mereka lelah dan berhenti sejenak. Tak lama kemudian, Rozza mulai berbicara tentang hal yang Lilipaly sampaikan pada mereka semua.
"Aku masih takmengerti. Tadi si pak tua itu berkata bahwa di antara kita ada yang aneh." Rozza menatap Rheina. "Jangan-jangan … itu kau, Nona."
"E-eh … kenapa Rheina …?" Rheina berkeringat dingin.
"Itu benar. Kemarin, di saat masing-masing dari kita bercerita, aku merasa kau seperti menyembunyikan sesuatu, Rheina. Ada apa denganmu?" Zihan mengeraskan suaranya sambil menegur.
Andi turut berkata, "Dari awal kita bertemu pun begitu, Rheina. Sejujurnya, aku tak keberatan waktu itu. Hanya saja … sekarang kami semua penasaran, lho."
"Hey, hey. Jangan begitu pada Nona Rheina. Siapa tahu dia lupa tentang dirinya seperti Andi," ujar Andre.
Rheina menjadi ragu dan bimbang setelah mendengar keluhan mereka tentang dirinya. Di sela keributan itu, tiba-tiba, ada guncangan di sekitar mereka. Asal guncangan itu tidak lain dan tidak bukan adalah sesosok monster Veidro yang hendak menghampiri mereka berlima.
"Veidro!" tunjuk Andi sembari berteriak kaget.
Veidro berjenis ular kobra itu menyerang Rheina dan rekan-rekannya secara mendadak. Mereka turut membalas, namun kekuatan mereka tidak bisa menandingi Cobra Veidro tersebut. Tak lama kemudian, Veidro itu meludah ke arah Andi. Beruntung, Andi dapat menghindar. Ternyata, air liur dari Cobra Veidro itu mengandung zat asam yang dapat melelehkan benda sekitarnya.
"Anjir … mengerikan sekali. Bisa gawat kalau kena!" panik Andre berkeringat dingin.
"Kita takbisa melawannya," kata Zihan sambil menggeleng kepala. "Pasti dia punya kelemahan, tapi itu sulit memeriksanya …!"
Andi mengajak, "Ayo kita mundur!"
Dikarenakan takut terkena air liur Cobra Veidro, mereka semua kabur untuk menghindarinya. Veidro tersebut terus mengejar. Tiba-tiba, terjadi lagi guncangan yang tidak diketahui asalnya. Guncangan itu membuat Rheina beserta rekan-rekannya terdampar.
Andi, bersama dengan Andre, serta Rozza, terdampar di sisi lain labirin. Setelah siuman, mereka bertiga pun bangkit. Mereka sadar bahwa Rheina dan Zihan tidak bersama dengan mereka. Karena panik, Andi dan yang lainnya hendak mencari jalan keluar.
Sementara itu, Rheina dan Zihan terdampar bersama. Mereka bangkit, lalu berusaha mencari cara untuk keluar dari labirin itu. Rheina khawatir tentang Andi dan yang lainnya. Melihat Rheina panik, Zihan mulai berbicara empat mata padanya.
"Rheina … ada suatu hal ingin kukatakan padamu."
"Apa itu, Zihan?"
"Aku benci dengan orang yang suka main rahasia-rahasia'an. Bisa kau hentikan itu?"
"I-itu …."
Zihan menegur sambil memegang kedua bahu Rheina, "Dengar, ya. Aku tak ingin kalian semua mati karena terjebak di sini. Satu-satunya cara adalah … kau harus jujur pada dirimu sendiri. Jangan kau tanggung semua bebanmu itu. Bukankah kita ini satu rekan? Sesama rekan itu saling mengerti satu sama lain!"
Mendengar perkataan Zihan, Rheina merasa bersalah pada dirinya. Dia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya lantaran tidak ingin membuat orang lain khawatir. Dia sebenarnya ragu tentang hal tersebut.
AKKKHH …!
Tiba-tiba, terdengar suara teriakan dari kejauhan. Rheina dan Zihan pun bergegas pergi ke tempat teriakan itu berasal. Rheina beserta dengan Zihan datang ke sumber teriakan tersebut. Ternyata, Andi, Andre, juga Rozza, diserang oleh Cobra Veidro.
[Firatier: Fireball Bounce]
Rheina menghempaskan sihir bola apinya ke Cobra Veidro, namun tidak berefek sama sekali. Veidro itu malah mendatang Rheina. Zihan hendak melindunginya dan menyerang Veidro itu. Di saat seperti itu, Zihan mengatakan, "Rheina … ini bukan saatnya begitu. Kau harus pikirkan cara agar kita bisa keluar dari situasi seperti ini!"
Andi membantu Zihan dengan menggunakan pedang sebagai perisai, "Aku … akan menahannya! Kita harus berinisiatif untuk menolong sesama!"
Rheina panik karena berpikir tidak ada jalan lain untuk menang. Dia melihat rekan-rekannya terdesak. Akhirnya, karena tidak punya pilihan, dia mengatakan semua tentang dirinya yang sebenarnya.
"Rheina … Rheina berasal dari negeri Roe St. Kingdom. Ada suatu pemberontakan di sana. Keluarga Rheina adalah salah satu korbannya. Ibu Rheina meninggal akibat kejadian itu dan Rheina terdampar di pulau selatan Indi Pina. Jadi … tujuan Rheina sebenarnya adalah … RHEINA INGIN PULANG!" jelasnya seraya terisak.
Mereka berempat lega setelah mengetahui kebenaran tentangnya. Tak lama kemudian, ada sebuah cahaya yang mengelilingi tubuh Rheina. Cahaya itu juga menghempas Cobra Veidro sampai jauh. Lalu, sebuah kristal muncul di hadapannya. Ternyata, itu adalah sebuah Magic Conductor berwarna hijau keemasan.
Lilipaly muncul dalam sebuah hologram, kemudian berkata, "Selamat! Dengan ini, kalian semua telah lolos. Aku akan mengungkapkan bahwa Hutan Jade ini merupakan Hutan Kejujuran. Berkat gadis itu, kalian bisa mengatasi ujian ini saat dia mengatakan hal sejujurnya tentang dirinya. Terimalah batu itu sebagai hadiahnya dan gunakan sebijaknya untuk melawannya."
[Jadeite Sparkling]
Rheina dan rekan-rekan lolos dengan baik pada ujian kejujuran dari Lilipaly. Mereka tidak tahu bahwa Jadeite yang dipegang Rheina adalah salah satu dari 7 zat mistis. Tanpa banyak bicara, Rheina menggunakan zat mistis tersebut di tongkat sihirnya.
[Jadetier: Shining Burst]
Kekuatan dari zat mistis Jadeite sangatlah dahsyat, bahkan dapat menghantam Cobra Veidro saat Rheina mengeluarkan mantra tembakan sinarnya tadi.
"Gila …," takjub Andi matanya berbinar-binar. "Luar biasa!"
"Ayo! Hajar dia, Rheina!" seru Andre menyemangati.
[Jadetier: Sparkling Explosion]
Boom …!
Rheina mencoba berbagai pola mantra dari zat mistis Jadeite. Akhirnya, terciptalah sebuah sihir ledakan kilauan yang dapat membutakan mata Cobra Veidro. Kemudian, Rheina menggunakan sihir secara bergantian dengan mengganti elemen lain, yaitu tanah.
[Grountier: Earth Buckler]
Sihir pelindung dari tanah diaktifkan. Kemudian, Rheina berkesempatan untuk menyerangnya di saat Veidro itu melelehkan pelindungnya. Sekarang, Rheina dapat menggunakan kembali Jadeite dan membuat pola lagi untuk mengeluarkan sihir lainnya.
[Jadetier: Star Sprinkler]
"Teman-teman, ayo gabungkan senjata kita!" ajak Rheina.
Mereka berlima menggunakan Mixture Arsenal lagi. Kali ini, Rheina menaruh Magic Conductor berwarna coklat, yaitu elemen tanah. Senjata gabungan pun siap digunakan untuk menghancurkan Veidro itu.
Mereka berlima menyebut nama jurus dengan kompak, "TEMBAKAN GANDA … LAND BURST!"
Cobra Veidro berhasil dikalahkan. Rheina dan rekan-rekannya berhasil keluar dari labirin saat tempat itu memudar. Lilipaly melihat aksi tersebut. Dia mengagumi kerja sama mereka berlima dalam menghadapi semua itu, termasuk ujiannya kepada mereka.
Lilipaly berucap, "Ternyata, kalian adalah orang-orang terpilih untuk menyelamatkan dunia ini dari maut yang sudah diprediksi dari masa depan. Semoga tercapai tujuan kalian semuanya."
"Itu pasti. Kami akan terus berpetualang dalam kewajiban kami saat ini, Tuan Lilipaly," balas Rheina.
"Ambil saja zat mistis itu. Aku percayakan pada kalian semua untuk menjaganya," harap Lilipaly. "Tapi ingat … jangan sampai ini jatuh ke tangan orang yang salah. Aku berharap banyak pada kalian."
Rheina dan rekan-rekannya berpamitan pada Lilipaly untuk melanjutkan perjalanan lagi. Rheina telah menghubungi Luca dan Veronica bahwa mereka berlima telah menemukan hal menarik dari petualangan mereka hari ini. Perjalanan Rheina dan yang lainnya terus berlanjut.
Di waktu yang sama, lagi-lagi, muncul seorang dukun berjubah merah dari Prime Syndicate tengah mengawasi mereka berlima.
"Aku menemukan hal menarik, nih …," kekeh si dukun. "Jika kurebut benda itu, mereka pasti akan kesulitan kedepannya, hehehe."
Dukun tersebut sangat antusias dengan pencapaian mereka mendapatkan zat mistis yang pada dasarnya dicari-cari oleh organisasinya. Saat itu juga, dia pergi setelah melihat semuanya.
...Bersambung …....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments