Di suatu markas organisasi Prime Syndicate, terlihat Thea dan Michael diledeki oleh beberapa anggota lainnya karena kegagalan mereka. Kemudian, sang ketua perwakilan organisasi datang menegur, "Hey, Thea … Michael …. Kalian gagal mengalahkan orang-orang itu, ya …."
"Tch. Mereka memang bocah, tapi … kita takbisa meremehkan mereka lagi!" Michael memukul meja karena kesal.
"Wah … kalian bahkan memberi tahu diri kalian pada mereka, haha," ledek salah satu anggota lain. "Menarik, sih …."
Thea merasa tidak senang dan menunjuk si anggota yang meledeknya. "Kalian pasti akan merasakannya nanti!"
Sang ketua membuat pemberitahuan kepada seluruh anggota untuk waspada dengan apa yang mereka incar, terutama musuh mereka sendiri, Rheina beserta rekan-rekannya. Para anggota menyetujui sarannya. Kemudian, terlihat salah satu anggota lain, yaitu seorang dukun, tersenyum lebar melihat Thea dan Michael gagal dengan rencana mereka.
***
Di sisi lain, Rheina dan kawan-kawan telah memasuki suatu wilayah negeri baru, Fienest. Negeri tersebut merupakan negeri multikultural yang terletak di utara negeri Veroeland. Manusia Bumi dari negeri Belgia dan Perancis menduduki negeri itu. Setelah melakukan perjalanan selama 2 jam, mereka sampai di ibu kota Fienest, Les Axolin. Di sana, kotanya sangat berkilauan. Itu karena penduduknya menggunakan konstruksi bangunan mereka dari emas.
"Kita akan bersenang-senang sebentar di sini selama 3 jam. Jika sudah selesai, berkumpul di balai kota. Mengerti?" Rheina memberi waktu agar semuanya bisa bermain sepuasnya. Masing-masing dari mereka pergi berpencar. Rheina dengan Zihan pergi ke suatu theater di pusat kota. Andi dan Andre bermain di pameran dekat pasar, sedangkan Rozza mencoba berlatih menembak di suatu tempat.
Sementara itu, Andre mengajak Andi untuk pergi membeli atribut serta makanan ringan di suatu toko. Andre hendak melakukan tawar-menawar. Namun, pemilik toko mendadak tuli saat Andre menawarkan barang. Andre menawar, "Hey, Masbro, ini harga 100 perak boleh, tidak?"
"Saya baru datang ke kota. Anda mau makan?"
"B-bukan itu maksudnya. Aku tak bilang begitu. Hanya menawar saja."
"Oh begitu? Saya kira Anda makan di warung. Kebetulan saya makan ayam tadi."
"Ampun, dah …! Telingamu ada masalah apa, sih?!"
"Masalah keuangan? Kan, saya jualan di sini."
"Bodo amat!"
Karena kesal dengan pemilik toko itu, Andre tidak jadi membeli. Sebaliknya, Andi membeli untuk Andre yang merajuk itu. "Kau sepertinya perlu belajar banyak dariku soal tawar-menawar, Dre, haha."
Di tempat lain, Rheina dan Zihan menikmati pertunjukkan seni tari. Rheina pun ikut menari. Dia membawakan sebuah tarian dari Indi Pina, 'Jaipongan', di atas panggung. Zihan takjub melihatnya, begitu juga dengan penonton yang menyaksikan. Setelah selesai, Zihan bertanya pada Rheina tentang hal itu.
"Rheina, dari mana kau bisa menari sebagus itu?"
"Oh, itu … Rheina pelajari waktu di Indi Pina."
"Meski begitu, kau punya niat bagus untuk belajar budaya negeri orang!"
"Hehe. Terima kasih, Zihan. Kamu pun juga bisa!"
"Tapi, yah, aku tak pernah menari, sih …."
Di sisi lain, Rozza melatih kemampuannya dalam sebuah ruang latihan menembak di toko amunisi dan persenjataan. Tak lama, dia dihubungi oleh adiknya, Rosalina, melalui telepon. Rosalina mengatakan bahwa dia sedang dalam perawatan penuh di sebuah rumah sakit khusus berkat Luca dan Veronica yang membawanya. Rozza pun senang mendengar hal itu.
Tiga jam telah dilewati. Mereka berlima berjanji untuk berkumpul dan melanjutkan perjalanan lagi. Rheina dan kawan-kawan meninggalkan ibu kota Les Axolin tanpa adanya halangan yang mengganggu mereka selama di jalan. Hari sudah menjelang malam, Rheina dan kawan-kawan melakukan pemberhentian di suatu puncak gunung berhutan. Mereka membentuk dua tenda, kemudian bersama-sama duduk di bawah api ungu yang hangat, dan bercerita tentang kehidupan sehari-hari mereka, kecuali Andi yang bahkan tidak ingat sama sekali tentang diri dan asalnya.
Zihan berdiri sambil memberi tahu tentang dirinya, "Mungkin kalian mengenalku hanya sebatas nama, bukan? Tugas lamaku adalah mengajar anak-anak di berbagai mata pelajaran, sekaligus menjadi pembimbing olahraga memanah di negeriku."
"Hebat benar kau, Zihan! Sekarang giliranku!" lanjut Andre, "Yah, sejujurnya … aku punya pekerjaan lain, sih. Aku ini seorang pemimpin perusahaan ternama. Dari awal, aku tak punya tujuan lagi selain mengurus perusahaanku itu. Jadi, manager-ku saja yang mengurusnya."
"Kalian tak perlu tahu lagi tentangku," kata Rozza dengan singkat.
Tiba giliran Rheina untuk bercerita. Namun, dia malah mengganti topik pembicaraan, seperti berusaha menyembunyikan masa lalunya pada rekan-rekannya. Zihan dan Rozza merasa ada yang aneh terhadap dirinya. Karena sudah larut malam, mereka berlima tidur di tenda masing-masing. Lagi-lagi, mereka diawasi oleh sosok berjubah dari Prime Syndicate, yaitu si dukun. Dia memandang mereka sambil tersenyum sinis.
Keesokan harinya, Rheina dan kawan-kawan disambut oleh Luca, serta Veronica. Kemudian, Veronica memberi tahu bahwa dia telah mendeteksi sesuatu dari arah barat laut posisi mereka. Rheina dan yang lainnya bergegas untuk memeriksa hal itu. Tak lama kemudian, setelah pergi ke tempat yang dituju, mereka menemukan sebuah hutan yang berkilauan.
"Anjir, ini sepertinya bisa dijual kalau dikumpulkan semua daunnya!" kata Andre.
"Semua dijual. Jangan-jangan harga dirimu juga kau jual, ya?" ledek Andi.
"Ya jelas, dong."
"Apa? Kau serius rela jual diri?"
"Maksudku … jadi badut itu bukannya juga menjual diri, kan?"
"Sial. Kupikir kau serius berkata demikian!"
Mereka berlima masuk ke hutan. Kilauan dari dedaunan pohon dapat merusak mata. Luca melihat mereka dan menyarankan untuk menggunakan kacamata anti radiasi dan tidak terlihat. Mereka pun masing-masing menggunakannya. Setelah itu, tiba-tiba, ada suara bisikan dari telinga Rheina.
"Rheina …." Suara itu seperti sedang memanggilnya. Namun, dia merasa bahwa itu hanya imajinasinya saja.
Tak lama kemudian, muncul seorang pria paruh baya di hadapan mereka berlima. "Siapa kalian yang berani menginjakkan kaki di wilayah hutan ini?!"
"E-eh? Maafkan kami telah masuk ke hutan ini tanpa izin!" panik Rheina.
"A-anu … kalau boleh tahu … apakah Anda penjaga hutan ini?" tanya Zihan.
Si pria paruh baya mulai memperkenalkan diri, "Benar. Aku adalah Lilipaly. Hanya seorang mantan penyihir yang berusaha menjaga Hutan Jade ini agar aman."
Pertemuan Rheina dan kawan-kawan dengan Lilipaly pun dimulai. Diketahui, hutan yang didatangi oleh mereka berlima adalah Hutan Jade. Lilipaly merupakan seorang penyihir veteran yang telah pensiun. Dia dipercaya menjaga hutan penuh berkilauan tersebut agar tidak sembarangan orang memasukinya. Lilipaly mulai menginterogasi mereka berlima.
...Bersambung …....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments