Pada kegelapan malam di tengah hutan, pertarungan Andre melawan pria bertopeng kian memanas. Andre terus-menerus menangkis serangan dengan tongkat kayunya. Tak lama kemudian, pria misterius itu mengeluarkan pistol, lalu mulai menembak. Melihat senjata api itu, Andre mendadak panik bukan main. Karena panik, dia malah menghindari tembakan sambil menari-nari. Tingkah konyolnya membuat pria bertopeng itu merasa kesal dan terus-menerus menembakinya.
Di waktu yang sama, Rheina, Andi, serta Zihan, masih terkunci di dalam vila. Rheina tidak bisa menggunakan sihirnya untuk membuka pintu dengan alasan berpotensi menghancurkan pintu. Dia juga tidak bisa berpindah tempat karena keterbatasan sihir. Andi pun mencoba mendobrak pintunya. Dia terus mendobrak sekuat tenaga.
Zihan berbatin khawatir, "Ya Tuhan, sebenarnya apa yang terjadi? Semoga si Bodoh itu baik-baik saja."
"Ayolah, semoga bisa!" Rheina mencoba mengakses kode pada fitur pintu itu.
Berbalik ke peristiwa di mana Andre sempat kewalahan dan lengah. Dia pun panik setelah tongkat kayu miliknya patah. Dalam kepanikan itu, dia hanya bisa menghindari serangan. Si pria bertopeng itu bertarung dalam jarak dekat maupun jarak jauh. Dia juga sangat lincah, bahkan suara gerakannya tidak sekalipun terdengar. Hal itu menjadikannya lawan terberat bagi Andre.
"Bro, jelaskan apa salah dan dosaku, sayang- eh, tidak kena, haha," kata Andre sambil menghindari tembakan pria itu. "Duh, anjir. Bahaya ini orang. Bisa-bisa kena tembak betulan aku. Awas kau, ya!"
Andre menjaga jarak untuk bersedia menyerangnya dengan sungguh-sungguh. Dia juga bertanya sekali lagi alasan dia diburu, namun pria itu acuh tak acuh dan terus-menerus menembakinya. Dalam upayanya menggunakan trik, dia melemparkan batu sebanyak-banyaknya sampai membuat pria bertopeng tidak fokus. Dia langsung menghampiri, lalu menyingkirkan pistol beserta belati milik pria itu. Dalam kesempatan itu, Andre memukulnya dengan keras. Pria itu membalasnya juga. Mereka pun saling pukul-memukul sampai membuat mereka berdua jatuh terguling-guling menuju turunan dataran.
Sementara itu, di vila, Andi masih terus mendobrak pintu. Rheina tidak bisa mengakses kode lagi dikarenakan 'error' berkali-kali. Andi tidak menyerah. Dia mengerahkan seluruh kekuatannya untuk terus mendobrak. Akhirnya, pintu berhasil terbuka. Andi bergegas keluar, lalu berteriak, "Andre! Woy, di mana kau?!"
Melihat Andi terburu-buru, Rheina hendak mengikutinya. Zihan yang masih belum bisa bergerak secara aktif dituntun Rheina.
"Rheina. Ayo ikuti Andi."
"Baiklah. Tapi Zihan, kamu tidak apa-apa, kan?"
"Sudahlah. Jangan pikirkan aku. Pikirkan si Bodoh yang dalam bahaya itu."
"Em, baiklah. Mari sini."
***
Andre ingin pertarungan diakhiri. Dia berencana mengakali si pria bertopeng dengan kembali menari-nari. Dari awal, Andre telah berencana menyimpan pistol milik si pria bertopeng untuk melaksanakan triknya. Sambil menari, pistol itu dilempar ke atas langit. Secara otomatis, si pria bertopeng itu lengah. Dia pun menoleh ke atas dan melompat untuk meraih pistolnya. Setelah pistol didapatkan, pria itu kembali melihat ke arah depan, namun Andre sudah tidak ada di sana. Ternyata, Andre berada di belakangnya. Cepat-cepat dia menusuk pantat pria itu dengan menggunakan jari. Seketika membuat si pria bertopeng kesakitan.
"Hahaha … sakit, ya?" ejek Andre sembari mencium jarinya sendiri. "Ugh, bau bener pantatmu …."
Di saat itu juga, setelah pria bertopeng itu terbaring kesakitan, Andre mengikatnya dengan melilit menggunakan akar pohon. Karena penasaran, dia membuka topeng si pria itu. "Siapa kau sebenarnya? Buka, ah."
Ternyata, pria misterius itu tidak lain dan tidak bukan adalah Rozza Marlvazu. Di waktu tepat, Rheina, Andi, serta Zihan pun datang. Rheina terkejut tidak percaya setelah mengetahui bahwa Andre diserang oleh orang yang baru dia kenal tadi siang. "Apa? Rozza Marlvazu …? Tidak mungkin …."
"Eh … kamu kenal dia, Nona?"
"Lepaskan dia, Andre. Dia pasti punya alasan untuk ini!"
"Memangnya Nona pikir dia bakalan mau bicara?"
Di sela perdebatan itu, tak lama kemudian, tali akar pohon yang mengikat pria bernama Rozza itu terlepas. Pada kesempatan itu, dia kabur dari mereka semua secepatnya. Zihan memberi tahu mereka setelah melihatnya kabur.
"Argh, sialan. Dia kabur!" kesal Andre. "Rozza Marlvazu, ya …. Akan kuingat dia!"
"Ayo, semuanya. Hari sudah larut malam. Kita harus tidur," ajak Rheina.
Mereka semua kembali pulang ke vila. Keesokan harinya, Zihan sudah mulai beraktivitas lagi, sedangkan Andre mengalami cidera pada tangannya. Namun, saat Rheina ingin menyembuhkan, Andre malah ingin keluar untuk mencari tahu pria bernama Rozza itu.
"Andre, kamu masih harus Rheina sembuhkan. Jangan bertindak ceroboh, tolonglah …," pinta Rheina sambil menahan Andre.
"Tak apa-apa, Nona. Aku ingin mengurus sesuatu. Dadah." Andre meninggalkan vila untuk segera menuju ke pusat kota. Mereka semua khawatir pada Andre, terutama Andi maupun Zihan. Sesampainya di pusat kota, dia pergi ke kantor Sensus Penduduk. Di sana, dia memiliki kenalan yang bertugas mendata penduduk kota Lariza.
Andre meminta tolong pada kenalannya, "Hey, Kawan. Bisa tidak kau carikan orang bernama Rozza Marlvazu di pencarian penduduk?"
Kenalan Andre pun mencari data tentang pria bernama Rozza, sayangnya hasil tidak ditemukan. Namun, ada seseorang dengan nama marga yang sama, yaitu Rosalina Marlvazu. Dia termasuk dalam daftar beserta dengan alamatnya. Andre berpikir bahwa orang tersebut juga anggota keluarga Rozza.
"Terima kasih, Kawan!" Andre segera pergi ke alamat orang bernama Rosalina Marlvazu. Tanpa disadari, Rheina, Andi, juga Zihan mengikuti Andre diam-diam. Andre berjalan sesuai alamat dan menemukan sebuah gubuk di dekat perkebunan terpencil. Dia masuk ke sana. Setelah masuk, ada seorang gadis kecil sedang terbaring di tempat tidurnya. Andre pun mendatanginya.
"Anu … apa benar kamu bernama Rosalina Marlvazu?" tanya Andre.
"Benar, itu saya sendiri," jawab gadis bernama Rosalina. "Ngomong-ngomong, ada keperluan apa Anda datang kemari? Jangan-jangan, Anda temannya kakak saya, ya?"
"Apa kau adiknya Rozza Marlvazu? Jika iya, kakakmu dalam masalah sekarang!" ucap Andre dengan lantang.
Tak lama kemudian, akhirnya Rheina dan yang lainnya memperlihatkan diri setelah membuntuti Andre. Mereka khawatir karena berpikir Andre akan melakukan sesuatu buruk dengan bertindak kasar terhadap gadis itu. Rheina menarik bajunya seraya berkata, "Andre … jangan begitu padanya!"
"Eh, kalian mengikutiku dari tadi?" Andre berdiri keheranan setelah tahu dia dibuntuti sejak dari tadi.
Zihan memukul kepalanya lantaran kesal melihatnya bertingkah sesuka hati. Rheina mengkhawatirkan kondisi Andre saat pertarungannya kemarin melawan Rozza. Mendengar hal itu, Rosalina, adik Rozza, bersedih terisak. "Maaf … jika kakakku … merepotkan kalian semua …."
"T-tidak, kok … kami tidak merasa begitu … jangan khawatir, ya," jelas Rheina.
Di sela percakapan, Rozza pun pulang. Dia kaget setelah melihat Rheina dan kawan-kawannya berada di dekat adiknya. Setelah melihat hal itu, dia malah pergi untuk kabur. Suasana menjadi sangat serius sesaat. Andre pun mengejar si Rozza.
"Maafkan kakakku, semuanya. Dia punya hal yang harus dia tanggung sendiri. Akan kujelaskan semuanya tentangnya." Rosalina mulai bercerita tentang dia bersama kakaknya. Dijelaskannya juga secara berterus terang mengenai pekerjaan Rozza. Hal itu menjadi pembicaraan panjang untuk disimak Rheina dan lainnya.
...Bersambung …....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments