Journey 11: Decision

Sebelumnya, Rozza kabur tanpa sebab dari kelompok Rheina. Andre berusaha mengejarnya. Dia sampai tersandung dan menabrak bapak-bapak bersepeda sehingga membuat bapak itu tercebur ke parit. Andre pun meminta maaf padanya, lalu meneruskan pengejaran. Tak lama, Rozza berhenti di taman berumput.

"Berhenti … kau ini pakai kabur segala …!" kata Andre dengan napas tersengal-sengal. "Mau kutusuk pantatmu lagi, ya, hehehe …."

"Aku tak memiliki urusan lagi padamu," kata Rozza.

Andre sebenarnya merasa kesal saat Rozza berkata demikian. Dia tidak terima dengan semua yang sudah terjadi semalam. Namun, dia berusaha mendinginkan kepala, kemudian berkata, "Hey, aku tak akan marah jika kau mau terbuka satu sama lain. Bukan buka baju, ya."

Setelah dibujuk Andre, akhirnya Rozza mulai membuka mulut untuk menjelaskan semua tentang dirinya pada Andre, "Aku adalah seorang Hitman/Pembunuh Bayaran. Banyak hal terjadi padaku. Itu cukup sulit …."

Di sisi lain, adik Rozza, Rosalina, juga menjelaskan tentang kakaknya, " Dia berjuang keras demi aku. Aku tidak bisa berjalan dan kakak menanggung semua beban yang kupunya."

Mendengar penjelasan dari Rosalina, Rheina dan lainnya turut bersimpati dengannya. Hal itu kerap membuat mereka merasakan penderita yang selama ini dipikul oleh kakaknya. Hal sebenarnya telah terungkap dengan jelas bahwa Rozza sangat menyayangi adiknya. Dia berusaha keras untuk bisa mengobati penyakit adiknya dan rela bekerja sebagai Hitman untuk mendapatkan uang.

Sebaliknya, di lain tempat, Rozza memberi penjelasan panjang lebar kepada Andre tentang tugasnya sebagai Hitman. Dia hanya bertugas membunuh para petinggi seperti bangsawan, pejabat, konglomerat, serta orang elite yang memiliki reputasi buruk di mata masyarakat atau dikenal sebagai orang korup. Atas perintah atasan Rozza, Andre juga termasuk salah satu targetnya. Itu dikarenakan dia memegang jabatan sebagai CEO perusahaan ternama, 'Partonation'. Perusahaan itu dikenal dengan reputasi buruk.

"Apa-apaan. Kau melakukan begitu memangnya sudah tahu bagaimana aslinya diriku dan perusahaanku?" kata Andre kesal dengan penjelasan Rozza.

Saat itu juga, giliran Andre menjelaskan latar belakangnya pada Rozza. Perusahaan Andre adalah perusahaan milik mendiang ayahnya. Ayah Andre merupakan seorang korup akut yang memiliki kebiasaan buruk untuk menggelapkan uang semasa hidupnya. Jadi, semua keburukan ayahnya itu ditanggung oleh dirinya sendiri. Sangat sulit baginya untuk menyandang posisi sebagai CEO atau pemegang perusahaan peninggalan ayahnya itu.

Mendengar penjelasan Andre, Rozza terdiam sesaat. Sejak awal, dia mendapatkan tugas itu tanpa mengetahui latar dan sejatinya dari orang yang hendak dia buru. Dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi ragu-ragu.

Kemudian, Andre berkata lagi, "Hey, adikmu punya penyakit langka, kan, katamu? Aku bisa menolongnya sekarang juga. Tapi kau harus—"

"Itu tidak akan membantu," potong Rozza pada perkataan Andre.

Rozza meninggalkan Andre setelah mengatakan demikian. Pembicaraan empat mata mereka berakhir dengan canggung. Hal itu membuat Andre berpikir bahwa Rozza adalah orang aneh. Tak lama kemudian, Rheina dan yang lainnya datang menghampiri Andre setelah melacak keberadaannya. Rheina bertanya, "Andre, kalian sedang berbicara apa tadi?"

"Itu bukan masalah. Kami hanya berbicara empat mata saja. Tidak ada perkelahian, haha …," jawab Andre. "O iya, kalian sedang apa dengan adiknya?"

Zihan menjelaskan, "Kami sudah tahu yang sebenarnya. Jadi, kami merasa kasihan dengan Rosalina, adiknya."

Setelah itu, mereka berempat kembali pulang ke vila. Mereka ingin mengajukan persetujuan quest pada Raja Rovin, tetapi hari sudah hampir menjelang sore. Maka dari itu, mereka harus memutuskannya esok hari. Namun, di tengah perjalanan pulang, tiba-tiba mereka dihadang lagi. Kali ini ada dua orang pasangan pria dan wanita berjubah.

"Apa lagi ini sih?!" kesal Andre. "Kalian ini siapa?"

Salah satu dari kedua orang berjubah dengan nada wanita berkata, "Jadi, mereka-mereka ini orangnya? Ternyata masih bocah dari kelihatannya."

"Hey, Andre. Dia membicarakanmu," kata Andi.

"Hah?! Hanya aku?"

"Tentu saja. Mereka, kan, hanya memandangmu."

"Sial … kelihatan bohongnya."

Kemudian, kedua orang tersebut memperkenalkan diri bahwa mereka berasal dari organisasi yang disebut sebagai 'Prime Syndicate'. Tak lama setelah perkenalan singkat itu, mereka memanggil Veidro jenis Cheetah. Kedua orang berjubah menyerang mereka bersama dengan Veidro itu.

"Kenapa kita selalu kena serang, sih?" ujar Zihan merasa kesal dengan keadaan sekarang.

***

Di sisi lain, Rozza pulang ke gubuk untuk melihat Rosalina, adiknya. Rosalina tampak segar bugar, wajahnya bersinar, juga riang gembira. Di meja sudah ada makanan dan beberapa ramuan di kotak obat. Lantas, Rozza bertanya bagaimana hal itu bisa terjadi.

Rosalina menjelaskan, "Kak, kamu tahu … mereka baik sekali! Aku diberikan ramuan spesial dan menjadi sehat. Kakak berambut oranye bilang, kondisiku akan membaik jika meminum obat buatannya secara rutin, Kak!"

"Mereka melakukan ini … untukmu …?" tanya Rozza dengan wajah tercengang.

"Benar, Kak. Tapi … apa kakak yakin tidak ingin berteman lebih lama dengan mereka? Aku senang jika kalian semua saling dekat. Ayolah, Kak … aku ingin kakak bisa berada di sisi mereka! Gadis berambut oranye itu menyenangkan sekali, lho …," pinta Rosalina pada Rozza.

Mendengar permintaan adiknya, Rosalina, Rozza merasa bersalah dengan semua yang dia perbuat pada mereka, terutama pada si Andre yang hendak dia bunuh. Dia dengan senang hati menerima permintaan adiknya, lalu pergi mencari Rheina dan kawan-kawannya.

***

Sementara itu, Rheina dan Andi menyerang Cheetah Veidro, sedangkan Zihan dengan Andre menyerang kedua anggota Prime Syndicate. Andi bersemangat menyerang Veidro, kemudian Rheina turut mendapat giliran untuk menyerang.

[Twistier: Typhoon Burst]

Sihir tembakan angin topan milik Rheina ditembak ke arah Cheetah Veidro, sayangnya Veidro itu bisa menghindar dengan cepat. Rheina hendak dihampiri oleh Veidro itu. Andi berusaha melindunginya, tetapi dia terkena pukulan. Veidro itu sangat cepat, bahkan kecepatannya di luar nalar.

Zihan dengan Andre menyerang kedua orang berjubah itu. Namun, kedua orang itu bukanlah tandingan bagi mereka. Zihan kewalahan dalam melawan si wanita berjubah. Dia bahkan tidak bisa meraihnya. Begitu juga dengan Andre, dia kelelahan mengejar si pria berjubah yang berlarian itu. Mereka berdua pun diserang bersamaan oleh duo berjubah itu.

Mereka berempat terdesak melawan dua pasangan berjubah dan Cheetah Veidro. Andre bersikeras untuk melawan mereka semua, tetapi apa yang dia lakukan sia-sia. Dia malah dihajar habis-habisan oleh Cheetah Veidro. Veidro itu sangat cepat sekali melakukan serangan. Andre berusaha untuk terus melakukan serangan walaupun tidak ada yang bisa dia lakukan.

"ANDRE …!" teriak Rheina, Andi, dan Zihan khawatir dengan Andre yang bertindak gegabah.

"Jangan khawatir … ini … tidak ada apa-apanya, sialan!" Andre menyerang di saat-saat terakhir. Dia menjadi lemah dan tidak berdaya. Veidro itu menghempas ke udara. Tanpa diduga, tiba-tiba Rozza datang meraih Andre yang terhempas itu.

"A-apa …," lirih Andi.

"Tidak mungkin …!" lanjut Zihan.

Andre terkejut dengan kehadiran Rozza yang menangkapnya, kemudian berkata, "Sial … kok kau bisa datang di saat seperti ini, sih …, haha."

"Jangan salah. Aku kemari atas permintaan adikku," jawab Rozza.

Melihat hal itu, Rheina dan yang lainnya senang saat Rozza datang. Duo berjubah itu meremehkan mereka semua, bahwa dengan kondisi seperti itu, mereka tidak akan bisa menang. Namun, Rozza membalas perkataan mereka dengan tembakan peringatan.

Bang …!

"Sudah diputuskan. Serahkan semuanya padaku," ujar Rozza. "Kalian tak usah ikut campur."

"Hey, kau yakin …? Monster itu sangat cepat, lho. Mungkin kau akan merasakannya nanti, haha …," jelas Andre.

Tanpa basa-basi, Rozza melakukan aksinya dengan kecepatan penuh. Dia mengecoh musuh dalam gerakannya itu. Setelah menghampiri, hanya sekali tebas saja, duo berjubah itu terlempar. Cheetah Veidro secepatnya menghampiri untuk menyerangnya. Beruntung, Rozza bisa membaca gerakan dan refleks menggores tubuh Veidro itu dengan belatinya yang tajam. Duo berjubah itu pun kabur setelah terkena serangannya tadi.

Sekian lama pertarungan berlangsung, Rozza berhasil membuat Cheetah Veidro kewalahan dengan beradu kecepatan. Rheina dan yang lainnya tercengang sesaat melihat kemampuannya itu.

"Gila. Dia hebat sekali!" Andi matanya melotot melihat aksi Rozza.

"Bukan main, sih, ini …," lanjut Zihan.

Kemudian, Rozza hendak mengakhiri pertarungan dengan menyerang Veidro itu secara bertubi-tubi. Sambil menyerang dengan jarak dekat, kemudian dia menjaga jaraknya untuk memulai baku tembak. Veidro itu ditembak tanpa ampun, kemudian ditusuk sampai menembus tubuh. Dengan tembakan akhir, Cheetah Veidro pun hancur berkeping-keping.

"Berhasil!" seru Rheina.

"Sadis benar itu orang, anjir!" Andre terkaget-kaget setelah melihat cara bertarung Rozza. Rheina dan yang lainnya menghampiri, lalu berterima kasih padanya karena telah menolong dengan sukarela.

Di saat itu juga, Rozza mengungkapkannya dengan  penuh penyesalan pada mereka. Dia bahkan mengatakan bahwa dirinya sudah tidak lagi melakukan pekerjaan sebagai Hitman dikarenakan kegagalannya. Jika gagal melaksanakan tugas, dia dijadikan sebagai buronan oleh atasannya sendiri. Dia harus melarikan diri bersama dengan adiknya.

Setelah mendengar penjelasan Rozza, Andre berkesempatan mengajaknya, "Aku punya ide! Bagaimana jika kau ikut saja dengan kami. Adikmu pasti akan baik-baik saja jika bersama kami, tenanglah."

"Rozza, Rheina ingin bertemu dengan Rosalina lagi! Untuk itulah Rheina membuat ikatan padanya, begitu juga denganmu!" jelas Rheina seraya tersenyum.

"Kalian ini …." Rozza bersikap dingin di hadapan Rheina dan yang lainnya. "Baiklah. Tapi jangan salah. Aku hanya ingin mengikuti kalian saja."

"Haha, kau ini malu-malu kucing saja," ujar Zihan.

"Kami senang kau mau bergabung!" seru Andi.

Rozza bersalaman dengan Andre sebagai tanda persahabatan, begitu juga dengan Rheina, Andi, dan Zihan. Dengan bergabungnya Rozza, Rheina semakin yakin itu akan memudahkannya menjalankan quest sang raja nanti. Karena hari sudah menjelang sore, mereka semua pun pulang ke vila. Sebelumnya, Rozza harus membawa adiknya, Rosalina, untuk bersama dengan Rheina dan yang lainnya. Kehidupan di vila menjadi lebih ramai dari biasanya setelah hadirnya Rozza beserta dengan Rosalina.

...Bersambung …....

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!