🍃🍃🍃🍃🍃🍃
"Percayalah rusuk mu tidak mungkin tertukar mungkin saja saat ini jodoh mu masih berdoa untukmu agar kamu mencintai dzat agung terlebih dahulu sebelum mencintainya."
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Episode 8
Part ini sangat panjang ya gaes jadi cermati benar ya jalan ceritanya, terimakasih.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Suasana di ruang inap VVIP terlihat sudah berangsur membaik karena terlihat Mama Zahra Khumaira masih terpasang oksigen dan beberapa alat pendukung lainya.
"Dok, bagaimana hasilnya?" tanya Ayah Ahmad Fatihurahman.
"Tolong jangan dibuat menderita lagi Tuan Besar Ahmad Fatihurahman, jika terjadi lagi maka akan berakibat fatal dengan Nyonya Besar." jelas dokter itu penuh penekanan.
Semua terdiam setelah mendengar penjelasan dari dokter tersebeut, hingga suara dokter memecah keheningan.
"Dan satu lagi, jika Nyonya Besar tidak sadar kembali maka satu satunya jalan adalah melakukan sebuah prosedur, prosedur ini biasa disebut dengan Percutaneous Coronary Intervention (PCI) atau angioplasty koroner." perjelas dokter.
"What? Ring jantung? Apa tidak bisa di tunda dokter?" tanya Aisha.
"Alhamdulillah Nona ini mengerti ternyata,tidak bisa di tunda karena kondisi jantung Nyonya Besar sudah kurang membaik oleh karena itu jangan buat kembali meningkat kinerja jantungnya." ucap dokter kembali penuh penegasan.
Akhirnya dokter dan suster itu pamit meninggalkan ruangan.
"Dengar kamu Fatih! Jangan pernah bisa bermimpi melihat mamamu kembali jika membuat kesalahan sekali lagi, akan Ayah kirim kau ke neraka! Delon, bawa keluar anak ****** ini!!" ucap ayah tegas.
"Astaghfirullah Ahmad Fatihurahman sabar, oh ya titip Aisha ya besok biar dia berangkat kuliah dari sini saja, yuk Umi kita pulang." ajak Abi Hamzah ke Umi Fatimah.
"Abi, Aisha ikut pulang ya, ndak enak nanti Aisha di sini." pinta Aisha.
Abi Hamzah mengangguk setuju, Aisha pun pamit ke Mama Zahra Khumaira.
"Ma, Aisha pamit pulang dulu ya, Mama cepat sembuh dan sehat, nanti Aisha buatkan nasi uka uka lagi deh, love you Mama." ucap Aisha di telinga Mama Zahra Khumaira.
Setelah bisikan tersebut ada respon dari jari Mama Zahra Khumaira.
"Abi, panggil dokter tolong, Mama Zahra Khumaira merespon." ucap Aisha.
Mendengar ucapan Aisha segera Ayah Ahmad Fatihurahman menatap istrinya tersebut dan memeluknya erat. Dokter yang di panggil oleh Abi Hamzah pun sudah kembali datang untuk memeriksa keadaan Mama Zahra Khumaira, sementara Delon memberikan ceramah ke Fatih di kantin rumah sakit.
"Alhamdulillah, Nyonya Besar merespon, alangkah baiknya Nona ini berada di sini untuk membantu kesadarannya." ucap dokter sambil menatap Ayah Ahmad Fatihurahman.
"Baik segera saya pertimbangkan dokter, terimakasih atas bantuannya." sahut Ayah Ahmad Fatihurahman.
"Bukan saya yang membantu tetapi Nona itu juga membantu, oke saya pamit dulu." ucap dokter sambil berlalu.
Aisha segera bangkit untuk membereskan barang bawaannya akan tetapi Ayah Ahmad Fatihurahman mengiba dengan berkata.....
"Nak, tunggulah Mama Zahra Khumaira, Ayah akan segera menikahkan kamu dengan Fatih." ucap Ayah Ahmad Fatihurahman tegas.
"Eits tidak bisa begitu sahabatku, anakmu Fatih apa mau dengan putri ku? Dan putriku apa mau menikah dengan anak mu? Bagaimana Aisha?" Abi Hamzah menatap Aisha.
Aisha terdiam, dia masih belia untuk menikah muda, dia kepikirandengan karirnya serta bagaimana karirnya sebagai dokter kelak setelah dia menikah nanti? Apakah masih boleh tetap meraih cita-citanya, sebagai dokter spesialis jantung.
"Diam adalah iya Hamzah, bukan begitu Ning Fatimah?" Ayah Ahmad Fatihurahman mencari dukungan ke Umi Fatimah.
"Saya ikut Suami saya Kak Ahmad Fatihurahman karena dia kepala keluarga." sahut Umi Fatimah.
"Bagaimana sahabatku Hamzah? Apakah kamu bersedia menjadi besanku?" ucap Ayah Ahmad Fatihurahman penuh harap.
"Gini sahabatku, Aisha saat ini masih kuliah di jurusan kedokteran, jika menikah kelak apakah masih bisa kuliah? Karena bagaimanapun itu cita citanya sejak kecil untuk menjadi dokter." sahut Abi Hamzah sambil berjalan mengajak Ayah Ahmad Fatihurahman duduk.
"Kuliah? Kuliah dimana dia sahabatku?" sahut Ayah Ahmad Fatihurahman.
"Aisha kuliah di Universitas Al-Fatih dan dia mengambil jurusan kedokteran." ucap Abi Hamzah menatap Aisha lekat yang sedang membenahi selimut Mama Zahra Khumaira.
"Hah? Itu kan Universitas yang aku kelola? Jangan jangan dosenmu Fatih sendiri? Bukankah itu lebih baik jika menyegerakan pernikahan ini?" sahut Ayah Ahmad Fatihurahman dengan penuh harap.
"Jangan bercanda sahabatku, bagaimana ceritanya bisa mendirikan Universitas sehebat itu?." tanya Abi Hamzah.
"Masih ingat kesukaan kita berdua dalam membaca kisah Al-Fatih? Dan bukankah kamu masih ingat jika salah satu di antara kita ada yang berjanji untuk bertemu kembali dalam kesuksesan dunia maupun akhirat kelak? Serta bukankah keinginan kita saat itu mendirikan sebuah perguruan tinggi untuk menjadikan sebuah pendidikan untuk seluruh umat Hamzah? Jika kamu menolak berbesan denganku itu tak mengapa Hamzah." ucap Ayah Ahmad Fatihurahman dengan sedih.
Aisha yang mendengar perkataan Ayah Ahmad Fatihurahman yang merasa sedih. Dia menatap ke arah Abi Hamzah dan Umi Fatimah bergantian.
"Abi, Ayah dan Umi, apakah Aisha boleh berbicara?" ucap Aisha.
Ketiga orang tua mengangguk memberikan jawaban....
"Aisha bersedia asal satu syaratnya, minimal Mas Fatih bisa shalat dan membaca Al Qur'an itu saja Abi dan Umi, karena mengingat kesehatan Mama Zahra Khumaira adalah prioritas utama." ucap Aisha menundukkan kepalanya.
Abi Hamzah mengerti jawaban Aisha, dia memberikan nama Aisha Khumairah tidak semata-mata hanya sebuah nama akan tetapi nama tersebut bermakna perjuangan.
"Jika suamimu tidak mencintaimu kelak apa yang kamu lakukan anakku, Aisha? Bukankah ridhanya suami itu Ridhanya Allah SWT? Serta surgamu ada di suamimu kelak?" tanya Abi Hamzah untuk memancing jawaban Aisha.
"Biarkan Aisha menambah cinta dulu ke Allah SWT dulu Abi, entah Mas Fatih nantinya mencintai Aisha atau tidak biar saja yang terpenting Aisha melakukan kewajiban seorang istri. Karena apa Abi? Karena Allah SWT maha mengetahui dan maha besar, jadi Abi tenang saja, Aisha ikhlas lahir dan batin." ucap Aisha menunduk.
"Yauda izinkan aku istikharah dulu sahabatku dan biarkan Aisha di sini dulu dan besok biar kakaknya membawakan baju ganti beserta kebutuhannya selama di sini, mari kita pulang sahabatku." ajak Abi Hamzah sambil menggandeng tangan Umi Fatimah.
Suasana rawat inap kembali lenggang setelah kepulangan Ayah Ahmad Fatihurahman, Abi Hamzah dan Umi Fatimah, sementara itu Aisha segera menunaikan ibadah shalat Maghrib nya.
Delon yang telah di telfon Ayah Ahmad Fatihurahman untuk segera menjaga istrinya di kamar bersama anaknya yang super super keras kepala, siapa lagi kalau bukan Fatih Nur Rakhman.
Fatih dengan malas malasan mengikuti Delon dari belakang untuk beranjak ke kamar inap Mama Zahra Khumaira.
"Ya Rabb, jika hambamu ini harus menerima semua ini Insya Allah Aisha ikhlas, pinta Aisha satu ya Rabb, pertebal Iman dan Islam Aisha Ya Rabb, ya Rabb sembuhkan Mama Zahra Khumaira, Allahumma Fighfirlii Wa Liwaa Lidhayya Warham Humaa Kamaa Rabbayaa Nii Shaghiraa, Rabbana atina fiddunya hasanah wafil akhiroti hasanah waqina adzabannar, amin amin amin." Aisha memanjatkan doa nya hingga tak menyadari jika Fatih mendengar nya.
"Masih saja berpura pura di balik niqab mu itu Nona?" ucap Fatih dalam hati.
"Assalamualaikum wr wb, maaf Nona, apakah kita bisa masuk?" pinta Delon membuka suara.
"Waalaikumsalam wr wb, eh iya Kak, silahkan, saya keluar dulu beli minuman ya, tolong jaga Mama Zahra Khumaira dulu ." pinta Aisha.
"Baik Nona." Delon menunduk.
Aisha segera keluar untuk membeli minuman dan beberapa camilan nantinya, sementara itu Delon memberikan isyarat untuk Fatih agar menyusul Aisha dengan alasan menjaga Aisha. Fatih yang sebal hanya menurut jika tidak maka akan bertambah runyam nantinya.
"Hem beli apa ya? Wuih ada permen kapas." ucap Aisha girang hampir melompat kegirangan.
"Mau? Yuk beli." ajak Fatih berniat menggenggam tangan Aisha.
"Maaf, anda siapa ya? Mahram saya bukan, main pegang pegang saja, emangnya saya cewek apaan?" ucap Aisha tajam sambil berlalu meninggalkan Fatih.
Fatih melongo dengan jawaban Aisha, seumur hidupnya tidak pernah ada yang menolak untuk di gandeng tangan dengan nya, baru kali ini hanya Aisha yang menolak. Fatih mengikuti Aisha membeli camilan dan makanan kecil, hingga.....
"Assalamualaikum wr wb, pak nasi Padangnya dua ya, lauknya sama ayam gulai saja." ucap Aisha.
"Lho kok dua?" sahut Fatih.
"Anda di sini kan? Bisa memesan sendirikan?" ucap Aisha.
"Jangan judes judes nanti jatuh cinta ke diriku baru tahu rasa kamu, jangan jual mahal juga menjadi wanita." bisik Fatih di telinga Aisha.
"Hey, jangan dekat-dekat, mau saya hajar kau?" ucap Aisha sambil memasang kuda kuda karatenya.
Fatih melongo melihat gerakan kuda kuda Aisha, "Mampus tehnik beladirinya seperti pemegang sabuk hitam." batin Fatih.
"Neng semuanya 35 ribu." ucap pemilik warung membuyarkan tehnik kuda kuda Aisha.
"Eh iya pak, maaf ada pria jahil soalnya, nih pak, oh ya pak bisa nambah bungkus dua lagi buat Ibu yang di depan itu ya." ucap Aisha menyodorkan selembar kertas berwarna merah.
"Oh iya neng, ini kembaliannya, terimakasih neng, mohon di tunggu." ucap pemilik warung.
Setelah semuanya selesai Aisha pun mengantarkan bungkusan nasi untuk seorang ibu dan anak nya.
"Assalamualaikum wr wb ibu, ibu sudah makan? Ini untuk ibu dan ini untuk adik ya." ucap Aisha sambil duduk sejajar dengan seorang ibu dan anak yang tengah membawa barang dagangan nya.
"Waalaikumsalam wr wb neng, wah terimakasih neng, neng orang baik, langgeng dengan suaminya ya neng, nduk bilang terimakasih ke neng." ucap ibu itu menyuruh anak nya.
"Makasih kakak, pengen meluk kakak tapi baju aku kotor." ucap anak kecil tersebut.
"Sini peluk kakak, adik sekolah yang rajin ya." ucap Aisha memeluk anak kecil tanpa memperdulikan pakaian anak yang tengah di peluk nya.
Fatih terdiam terpaku melihat perilaku Aisha yang begitu hebat, "Dia tak jijik dengan mereka berdua, ternyata di balik cadarnya dia begitu cantik perilakunya, duh ngapain aku memujinya sih, bego bener aku ." batin Fatih.
"Makasih kakak, eh icu cuaminya akak? Adik doakan akak langgeng hingga maut ya kak, boleh peluk suami kakak?" tanya anak kecil itu sambil menunjuk Fatih.
"Eh dia bukan ......" sahut Aisha terputus karena Fatih sudah sejajar dengan anak kecil tersebut.
"Amin amin amin, sini kakak gendong ." ucap Fatih sambil merentangkan tangannya ke arah anak kecil tersebut.
Aisha yang mendengar jawaban Fatih hanya menunduk, entah itu hanya sebagai pencitraan di depannya atau tulus dari hati nya entahlah.....
"Yauda yuk sayang kita balik." ucap Fatih memanggil Aisha dengan sebutan sayang di depan anak kecil dan ibu nya.
Aisha mendelik ke arah Fatih karena Fatih berani memanggilnya sayang sementara Fatih tersenyum lebar melihat reaksi Aisha di panggil dengan kata "Sayang".
"Saya pamit dulu ya Bu, sekolah yang rajin ya dik, assalamualaikum wr wb." ucap Aisha sambil mencium tangan ibu dan anak kecil tersebut.
Aisha dan Fatih berjalan beriringan hingga semua kejadian tadi di rekam oleh seorang wanita, "Sial!! kenapa kamu dengannya Fatih?! apa kurangnya aku?" ucap seorang wanita dari jauh.
Aisha berjalan terlebih dahulu hingga Fatih menyusul nya dan ketika sudah sejajar Fatih bertanya.....
"Kenapa reaksimu kesal tadi saat aku panggil sayang? Anda tak suka?" tanya Fatih sambil berjalan angkuh.
"Terus saya harus bangga? Melayang hingga ke langit ke tujuh gitu? Tidak semudah itu Tuan Muda Fatih!!" ucap Aisha penuh penekanan.
"Kenapa kamu ingin merawat Mama ku? Berapa bayaran yang kamu ingin kan Nona?" ucap Fatih hingga membuat langkah Aisha berhenti.
"Tebus saja dengan perilaku dan sifatmu itu! Punya otak? Punya hati? Kenapa tak di pakai kedua organ itu Tuan Muda Fatih." ucap Aisha sinis.
Fatih yang mendengar ucapan Aisha hanya bisa diam seribu bahasa, dirinya seorang laki laki yang selalu diperbutkan wanita kini tidak ada harganya di depan calon istrinya tersebut. Sementara itu Aisha yang cuek bebek langsung masuk ke kamar inap Mama Zahra Khumaira.
"Assalamualaikum wr wb, ini kak dimakan, maaf hanya nasi padang." ucap Aisha memberikan bungkusan nasi padang ke Delon.
"Waalaikumsalam wr wb, ini saya sudah pesan online Nona, maaf ya Nona lebih baik kasih ke Tuan Muda saja, tuh dia berharap mendapatkan nasi dari calon istrinya." ucap Delon enteng.
"Hei enteng sekali mulutnya itu, siapa yang mau nasi dari dia, tak sudi." ucap Fatih penuh gengsi.
"Ya Allah, ya Rabb, ya Rasulullah, aku bermunajat untuk berharap menyatukan mereka berdua, amin amin amin." ucap Delon sambil menengadahkan tangannya untuk berdoa.
Fatih dan Aisha yang mendengar doa tersebut hanya terdiam saling bertatapan satu sama lain, hingga.....
"Astaghfirullah ya Allah, Aisha khilaf ke dua kalinya." lirih Aisha.
"Sering sering juga tak apa kok Nona, mungkin anda jatuh cinta ke saya itu lebih baik daripada jual mahal." ucap Fatih angkuh.
"Maaf Tuan Muda Fatih, alangkah baiknya anda makan saja nih dan maaf saya memberikan nasi ini bukan karena saya perhatian tetapi daripada mubadzir nantinya." ucap Aisha menaruh nasi bungkus di depan Fatih.
Delon yang mendengar ucapan Aisha hanya tertawa cekikikan sementara Fatih melongo mendengar ucapan Aisha.
Aisha membuka nasi bungkus dan berdoa dahulu sebelum memakan nasi nya, sementara Fatih terus menatap Aisha berharap Aisha membuka niqab nya.
Tapi sayang sungguh sayang sekali, keinginan Fatih tidak terlaksana karena Aisha masih menggunakan niqab untuk makan dengan cara membuka celah sedikit niqab nya kemudian memasukkan suapan demi suapan ke mulutnya.
"Lho kok bisa ya? Apa anda tak risih memakai niqab ketika makan?" tanya Fatih polos.
Aisha tak menggubris pertanyaan Fatih, dia segera menghabiskan makanan tanpa tersisa sedikitpun, sementara Fatih hanya memandang Aisha sambil mencuri pandang dengan nya.
"Oh ya Kak, ini nanti bawa keluar saja ya sih onar jangan tidur di dalam kamar inap Mama Zahra Khumaira ya." pinta Aisha.
"Dengan senang hati Nona, silahkan keluar Tuan Muda Fatih." ajak Delon sambil mengangkat tubuh Fatih yang tengah membereskan makannya yang hampir habis.
"Tunggu!! Kenapa pertanyaan saya tidak di jawab? Apakah begini akhlak seorang wanita bercadar?" sinis Fatih.
"Maaf, ketika makan alangkah baik nya kita tidak berbicara karena nantinya akan tersedak atau keselek, paham Tuan Muda Fatih? Yang kedua saya tidak akan membuka niqab saya kecuali untuk mahram saya yaitu suami saya, abi umi dan kakak saya!!" ucap tegas Aisha.
"Oh begitu, terus kenapa saya di usir dari kamar Mama Zahra Khumaira? Saya anaknya lho." jelas Fatih.
"Karena kita belum mahram, paham? Sudahkan? Sana sana keluar keluar atau tak telfon Ayah Ahmad Fatihurahman?" ancam Aisha.
"Santai Nona, oke oke saya keluar, awas mamaku kenapa-kenapa denganmu." ancam Fatih sambil berlalu.
"Waalaikumsalam wr wb, hati hati di gigit nyamuk, beli autan sana." ucap Aisha ke arah Fatih.
Fatih hanya menggeleng mendengar ucapan Aisha, sementara Delon mengikuti Fatih dari arah belakang.
"Kita tidur dimana ini?" tanya Fatih sambil menoleh ke arah Delon.
"Kita tidur di lantai saja Tuan, bagaimana? Jarang jarang Tuan Muda
hidup susah kan? Yuk kita tidur sini." ajak Delon sambil menepuk lantai di sampingnya.
Fatih menelan ludahnya dengan kasar, seumur hidupnya tidak pernah tidur di lantai tetapi saat ini, dia hanya pasrah untuk malam ini.
Sementara itu Dio yang di ancam Vina Renata saat kepulangan dari rumah sakit itu pun mengakui jika Mama Zahra Khumaira masuk rumah sakit dan memberikan informasi bahwa Fatih menginap di rumah sakit tapi Vina Renata saat itu yang ingin bertemu Fatih hanya mendapatkan Fatih berjalan dengan Aisha untuk membeli nasi padang, hingga dia memutuskan besok menjenguk Mama Zahra Khumaira dengan dalih ingin mendapatkan perhatian.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya.......
Anas yang tengah turun dari mobilnya melihat seorang wanita
yang sangat dia kenal dan akhirnya Anas mengejar wanita tersebut, hingga pertemuan itu kembali terjadi setelah ratusan purnama menunggu...... (Author nya puitis sekali ya gaes ya).
"Assalamualaikum wr wb, Vina Renata?" sapa Anas.
"Eh, Kak Anas, kok di sini? Ada apa?" ucap Vina Renata mengoleskan lipstik di bibir nya.
"Mau kemana? Gimana kabarnya?" ucap Anas menunduk.
"Ke calon mertua dong, kenapa? Masih sulit move on kak? Mangkanya dulu kita pacaran aku yang gak betah karena ya kamu tak tak pernah menatap ku hanya menunduk saja." ucap Vina Renata sinis.
Anas yang mendengar ucapan tersebut hanya tertunduk lemas.....
"Yauda ya, bye, aku menemui calon mertua ku yang super super tajir, tak seperti kau." ucap Vina Renata pedas.
" Masih tetap tak berubah kamu ternyata Vina Renata, aku hanya ingin....." ucapan Anas terputus karena Vina Renata memanggil seseorang di belakang nya.
"Sayang woi tunggu, oh ya Kak Anas satu hal yang harus kamu tahu, dulu aku suka ke kamu karena kecerdasan dan posisimu di sekolah saat itu menjadi ketua OSIS dan itu tak lebih, bye aku mau nemuin calon mertuaku." ucap Vina Renata sambil menabrak bahu Anas.
"Waalaikumsalam wr wb, hati hati Vina Renata." lirih Anas.
Laki laki yang di panggil Vina Renata itu pun menoleh ke arah Vina Renata sementara Anas berjalan lemas hingga dia tak menyadari Delon yang tengah berlari untuk mencari Fatih menabrak bahu Anas.
"Maaf Tuan Anas, apakah anda baik baik saja?" ucap Delon sambil menjabat tangan Anas untuk meminta maaf.
"Waalaikumsalam wr wb Mas Delon, ada apa kok kelihatan tergesa-gesa?" tanya Anas.
"Eh, assalamualaikum wr wb Tuan Anas, ini anu." ucap Delon.
"Anu apa? Jangan buat otakku aneh aneh mikirnya, masih pagi ini." sahut Anas.
"Anu Mas, Nyonya Besar sudah siuman, ini lagi di suapi Nona Muda." ucap Delon.
"Alhamdulillah, yauda ayo ke sana segera." ucap Anas antusias.
Anas dan Delon pun memutuskan untuk segera ke kamar inap Mama Zahra Khumaira sementara itu Fatih yang tengah di peluk Vina Renata hanya melongo.
"Sayang kok diam? Rindu ya? Muach muach." Vina Renata mencium pipi Fatih.
"Tahu darimana aku disini?" tanya Fatih sambil membalas pelukan Vina Renata.
"Dari Dio sayang, gimana mama mertua? Yuk kita kesana." ajak Vina Renata.
"Malas ah, aku mau makan dulu, di kamar mama ada cewek aneh juga jadi gak betah aku." ucap Fatih sambil bermanja-manja di pelukan Vina Renata.
"Yauda yuk makan, aku mau menanyakan sesuatu." ajak Vina Renata.
Mereka berdua yang tengah berpelukan mesrah dan berciuman tadi tidak mengetahui jika Riko tengah memfoto adegan mereka berdua.
"Lagi apa dik? Kok belum masuk ke kamar Mama?" tanya Ayah Ahmad Fatihurahman ke Riko.
"Nih aku dapat pemandangan bagus yah, gimana?" ucap Riko sambil menunjukkan foto Fatih yang tengah di cium Vina Renata.
Ayah Ahmad Fatihurahman yang menatap foto dari ponsel Riko berusaha mengontrol emosinya yang kembang kempis di buat pemandangan itu terjadi lagi, tapi dia memiliki rencana hingga.....
"Blokir semua fasilitas untuk kakak mu itu melalui Delon!! Sialan benar tuh anak, awas kau entar!!! Kirim foto itu ke Ayah!! Segera Riko!!" tegas Ayah Ahmad Fatihurahman.
"Yaelah senjata nuklirnya keluar deh, blokir terus blokir." sungut Riko.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Nah kan beneran di blokir fasilitas mu Fatih, tuh kamu bentar lagi jadi gelandangan deh, eh ada yang tahu cerita selanjutnya? komentar nya dong, jangan lupa like, vote dan hadiah nya juga boleh kok, hehehehehehehehe.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
Sadewa Dhani
Anas kok bertemu Renata sih? berarti benar dugaan ku ada cinta segi empat eh salah segitiga 😂😂😂
2022-11-07
1
Tyo Prasetyo
Anas sama Renata, Fatih sama Aisha, lha Riko?? Thor kok jahat? Riko sama Aisha aja ya😁😁😁
2022-11-06
0
SMA TARBIYATUL MURIDIN
Tuh otak nya Fatih kena gesekan apa ya Thor? jelas jelas Renata seperti itu itu pula kenapa Anas masih mencari Renata?
eh
eh
eh
bukan Renata yang sama kan? awas kau thor jangan pasangkan Anas dengan Renata
2022-11-03
1