🍃🍃🍃🍃🍃🍃
"Jika kita di pertemukan karena cinta semoga karena Allah SWT hingga kita dipisahkan oleh Allah SWT juga dengan maut menjemput ku dan berjanjilah bertemulah kita kembali di Surga Firdaus kelak."
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Episode 5
Warning warning: untuk episode 5 ini sedikit panjang ya jadi pahami benar alur nya ya gaes ya.
Mama Zahra Khumaira, Aisha dan bibi berserta asisten rumah tangga lainya mengikuti dari belakang.
"Aisha duduk sini yuk, biar bibi dan asisten rumah tangga yang masak." ajak Mama Zahra Khumaira sambil menarik tangan Aisha.
"Maaf Ma, Aisha ingin juga membantu Bibi dan asisten rumah tangga untuk memasak." ucap Aisha menunduk di hadapan Mama Zahra Khumaira.
"Baiklah Aisha, ayo ke dapur." ajak Mama Zahra Khumaira tersenyum memandang Aisha kemudian menggandeng lengan Aisha lekat.
Mereka berdua pun berjalan ke dapur dengan tersenyum mengembang di bibir Mama Zahra, sementara Ayah Ahmad Fatihurahman menghampiri istrinya mengetahui bahwa Aisha sudah merebut hati istrinya untuk menjadikan menantunya.
"Tampaknya ada yang bahagia nih? Sayang jadi keluar sama Aisha?." tanya Ayah Ahmad Fatihurahman.
"Insya Allah Sayang tapi Mama juga harus bertanya dengan Aisha dulu, lihat dia sayang, meskipun dia calon mantu kita, Aisha tetap ingin memasak untuk kita berdua." ucap Mama Zahra Khumaira sambil bergelayut manja ke tangan suaminya.
"Eh ada Ayah, Ayah mau maem apa? Ini Aisha buat nasi goreng uka uka." Aisha menawarkan ke Ayah Ahmad Fatihurahman.
"Hah uka uka? Nasi goreng apa tuh? Bolehlah nanti ayah cicip deh." seru Ayah Ahmad Fatihurahman memberikan jempol ke arah Aisha.
Mama yang sedikit mengenal nasi goreng uka uka pun tertawa lepas hingga Aisha dan Ayah Ahmad Fatihurahman menatapnya bersamaan.
"Kenapa sayang? Ada yang salah dengan nasi goreng itu?" tanya Ayah Ahmad Fatihurahman.
"Itu nasi goreng buatan Uminya saat di pondok dulu yah, saat mengantar kan untuk Abi Hamzah ketika setelah akad nikah tapi saat itu Umi Fatimah kebanyakan garam sehingga Abi Hamzah menyuapinya untuk mencicipi berdua." ucap Mama Zahra Khumaira.
"Oalah yang saat itu toh, tapi bukankah kamu juga ikut buat Sayang?" tanya Ayah Ahmad Fatihurahman.
"Iya tapi tahu sendirikan kamu tak menyuapiku seperti Umi Fatimah disuapi suaminya." Mama Zahra Khumaira merajuk.
"Hehehehehehe, Mama sudah tahu ternyata tapi tenang saja Ma Yah kali ini garamnya pas kok." seru Aisha sambil memotong sayuran.
"Wah, Fatih bisa gemuk Yah saat menikah dengan nya, bau masakan nya saja sudah harum apalagi rasanya, Mama boleh bantu nak Aisha?" pinta Mama Zahra Khumaira.
"Mama duduk saja ya, tunggu bentar lagi matang kok." seru Aisha sambil memasukkan semua bumbu untuk masakan cah sayur.
Mama Zahra Khumaira dan Ayah Ahmad Fatihurahman saling berpandangan kemudian tersenyum, sementara Aisha bertambah akrab dengan bibi dan asisten rumah tangga di dapur.
"Alhamdulillah sudah selesai Bi, yuk kita makan bersama Ayah Mama." ajak Aisha sambil menarik tangan bibi dan asisten rumah tangga.
"Tapi Non? Kita kan......" ucapan bibi terputus karena tatapan tajam Aisha.
Aisha menaruh beberapa masakan dan lauk pauk di meja makan keluarga besar Ahmad Fatihurahman.
"Ayah Mama, Aisha boleh minta satu permintaan?" pinta Aisha sambil mengapit erat tangan bibi dan asisten rumah tangga.
"Apa yang kamu pinta nak? Bilang saja, mau apa hemmm anak Mama Zahra?" ucap Mama Zahra Khumaira lembut.
"Aisha ingin mengajak makan bibi dan mbak asisten rumah tangga untuk makan bersama boleh? Karena menurut Aisha derajat manusia itu sama di mata Allah SWT, boleh kan Ma Yah?" pinta Aisha sambil menunduk.
"Masya Allah Aisha, hanya itu permintaanmu? Sini bi mbak kita makan bersama." ajak Mama Zahra Khumaira beranjak menyambut Aisha serta bibi bersama asisten rumah tangga.
"Tapi Nyonya? Kita kan?" ucap bibi terlihat sedikit panik.
"Apa yang dikatakan Calon Menantuku itu benar bibi, sudah yuk kita makan bersama saja meskipun nanti Aisha pulang, bolehkan Yah?" Mama Zahra Khumaira meminta persetujuan ke suaminya.
"Apa yang di katakan Aisha itu benar Ma, kita selama ini kurang memperhatikan Bibi dan beberapa asisten rumah tangga kita, kita terlalu sibuk mengejar duniawi." sahut Ayah Ahmad Fatihurahman dengan tersenyum penuh bahagia.
Aisha segera menarik tangan Bibi dan asisten rumah tangga untuk segera bergabung untuk makan.
"Makasih Nona muda, kalau seperti ini pasti Den Fatih akan betah di rumah, Bibi doakan sehat selalu dan di lindungi oleh Allah SWT." ucap bibi.
"Amin amin amin." balas Mama Zahra Khumaira dan Ayah Ahmad Fatihurahman kompak.
Saat makan hanya dentingan sendok dan garpu yang terdengar dan wajah Ayah Ahmad Fatihurahman dan Mama Zahra Khumaira sangat kagum dengan masakan Aisha.
"Alhamdulillah selesai, yuk Bi tak bantu ya, jangan nolak nanti tak bilangkan Abiku lho." ucap Aisha sambil menumpuk piring kotor.
"Baik Nona Muda tapi nanti yang cuci piring biar bibi dan asisten rumah tangga saja." balas bibi sambil tersenyum.
Sementara itu Mama Zahra Khumaira dan Ayah Ahmad Fatihurahman menunggu Aisha di ruang keluarga.
"Ayah Mama kenapa? Apa masakan Aisha tak enak? Maaf ya Ma Yah, Aisha jarang membantu Umi masak hanya melihat Umi memasak." ucap Aisha menunduk kepalanya.
"Sini duduk sini, Mama mau tanya." Mama Zahra Khumaira beranjak untuk mengajak Aisha duduk di sampingnya.
"Masakanmu sungguh enak Aisha, Ayah aja sampai lahap makan nya, Mama Zahra Khumaira mau mengajak Aisha ke Pusat Belanja mau?" tanya Ayah Ahmad Fatihurahman.
"Boleh Ma tapi Aisha lupa bawa uang." ucap Aisha sambil meringis.
"Subhanallah Aisha, Mama yang mengajak Aisha untuk memilih dan membeli perlengkapan pernikahan mu dengan Fatih, bagaimana Aisha? Aisha mau kan?" pinta Mama Zahra Khumaira.
"Maaf Ma maaf kan Aisha tadi berburuk sangka, iya Ma Aisha mau kok, yauda Aisha siap siap dulu ya." pinta Aisha sambil mencium pipi Mama Zahra Khumaira.
Mama Zahra Khumaira yang dicium oleh Aisha meneteskan air mata sambil menatap Aisha yang tengah bersiap untuk pergi bersama dengannya.
"Mama bahagia? Belum jadi mantu aja sebaik itu anaknya, semoga Fatih juga menyadari bidadarinya sudah hadir meskipun kita sedikit memaksa dengan perjodohan ini Ma, Ayah minta maaf kalah buat Mama kecewa." sahut Ayah Ahmad Fatihurahman sambil memeluk Mama Zahra Khumaira.
"Mas Ahmad Fatihurahman ndak salah apapun, Zahra bahagia Mas, Mama merasa nyaman dengan adanya Aisha di tengah keluarga kita." ucap Mama Zahra Khumaira.
Sementara itu Aisha yang tengah keluar dari kamar mandi setelah berdandan menatap sebuah foto keluarga besar Al-Fatih.
"Ternyata kamu yang bersama dengan cewek seksi itu, semoga kamu tersadar dengan tingkah lakumu." ucap Aisha dalan hati.
Lama Aisha menatap lekat foto Fatih hingga tak sadar Mama Zahra Khumaira berdiri di samping nya sambil memeluk pinggang Aisha. "Ini Fatih Nur Rakhman anaknya mama yang pertama, sering buat jantung Mama kumat, sementara ini anak Mama kedua bernama Riko Nur Fatihurahman, kebalikan nya dari Kakaknya sifat dan sikapnya."
"Mama bersabar ya, soalnya mereka berdua tadi ke Pondok Pesantren An-Nur, mungkin mau di ruqyah sama Abi Hamzah Ma." celetuk Aisha menghibur Mama Zahra Khumaira.
"Masya Allah Aisha, sudah ketemu Fatih? Kalau di ruqyah emang Abi Hamzah bisa meruqyah Fatih." tanya Mama Zahra Khumaira penuh heran.
"Ndak bisa Ma hehehehehehe, tapi tenang aja Kalau Kak Fatih kurang ajar sama Mama biar Aisha tendang, tapi kalau boleh tahu emang siapa calon Aisha? Kak Fatih atau Kak Riko?" tanya Aisha.
"Eits tak boleh tahu dulu, yauda yuk kita berangkat ke Pusat Belanja yuk keburu sore, Masya Allah mantunya mama cantik ya pakai niqab." puji Mama Zahra Khumaira.
Mama Zahra Khumaira dan Aisha di dampingi sopir pribadi atas permintaan Ayah Ahmad Fatihurahman meskipun Mama Zahra Khumaira bisa menyetir sendiri.
"Pak nanti tunggu saja di mobil ya, biar Saya dan Aisha masuk kedalam." pinta Mama Zahra Khumaira.
"Tapi Nyonya Besar? Saya di beri amanah untuk mendampingi Nyonya Besar dan Nona Muda untuk ikut ke dalam." jawab sopir pribadi nya.
"Bapak istirahat saja, ingat wanita kalau shoping pasti muter muter tak jelas, emang bapak mau capek? Kasihan nanti bapak, udah bapak istirahat saja ya di mobil, ayo Ma kita shoping." kelakar Aisha.
Akhirnya Mama Zahra Khumaira dan Aisha belanja beberapa kebutuhan rumah dan dapur, hingga sekitar satu jam berlalu Mama Zahra Khumaira melihat toko Perhiasan.
"Aisha temani Mama masuk sana mau?" pinta Mama Zahra Khumaira.
"Yuk Ma tapi Aisha cuman....." ucapan Aisha terputus karena jari tangan mama menempel di depan bibir Aisha yang terbalut dengan niqabnya.
"Sudah ikut Mama, hari ini Mama bahagia bisa bertemu dengan calon bidadari surganya anak Mama." senyum Mama Zahra.
Aisha mendengar ucapan Mama Zahra Khumaira langsung merona merah kedua pipinya hanya saja tak terlihat karena tertutup niqabnya.
Mereka berdua akhirnya masuk ke toko perhiasan dan Mama memilih beberapa perhiasan sambil mencocokkan dengan tangan Aisha hingga seorang wanita yang tengah berdebat menarik perhatian Mama Zahra Khumaira dan Aisha, Mama Zahra Khumaira yang merasa familiar dengan suara wanita tersebut sementara Aisha merasa familiar dengan tubuh seksi wanita tersebut.
"Maaf Kak. Semua kartunya terblokir dan tidak bisa di gunakan." ucap pegawai toko.
"Apa sih ke blokir, barusan saya cek kemarin masih bisa." sahut wanita tersebut.
Mama Zahra Khumaira pun menghampiri wanita tersebut dan menyapanya.....
" Assalamualaikum wr wb. Vina Renata?" panggil Mama Zahra Khumaira.
"Eh Mama mertua, Mama di sini pasti di suruh Fatih untuk menolong Vina Renata kan ya?" ucap Vina Renata berusaha memeluk Mama Zahra Khumaira.
"Jangan peluk saya!! Itu kartu anak saya kenapa di kamu!" ucap Mama Zahra Khumaira dengan nada tinggi.
"Lho Mama lupa? Vina Renata kan calon istri Fatih Ma jadi pasti memegang kartu black card unlimited ini dong Ma." Vina Vina Vina Renata berbangga diri.
"Kamu!!!!" Mama Zahra Khumaira naik pitam dan mengayunkan tangan hendak menampar Vina Renata.
Aisha yang melihat dari tadi adanya perselisihan antara Mama Zahra Khumaira dengan wanita tersebut langsung menahan tangan Mama untuk menghentikan tamparan Mama.
"Ma, sudah, Mama jangan emosi, sini biar Aisha yang berbicara dengannya." pinta Aisha sambil memberikan air minum ke Mama.
Mama Zahra Khumaira menurut dengan Aisha sementara itu Aisha langsung menatap lekat wanita tersebut.
"Assalamualaikum wr wb Kak, mohon maaf mengganggu, alangkah baiknya terhadap orangtua jangan seperti itu." ucap Aisha.
"Jangan sok alim, jangan memakai cadar kau berusaha sok alim, asal lu tau!! Gua tug calon menantunya keluarga besar Al-Fatih, pasti kamu pembantunya kan?" sinis Vina Vina Vina Renata.
"Yang pertama saya mengucapkan salam untuk kakak tapi Kakak tidak menjawab dan Kalau saya pembantunya keluarga besar Al-Fatih ada masalah dengan Kakak? Saya memakai niqab dan jilbab karena ingin membatasi yang bukan mahram saya melihat wajah saya karena saya berbeda dengan kakak, kakak terlihat seperti manusia kurang bahan pakaian ya." balas Aisha tajam sembari melihat tubuh Vina Renata dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Kamu!!!!, plak." sebuah tamparan mengenai pipi Aisha sebelah.
Mama Zahra Khumaira yang mengetahui Aisha Calon kuat menantunya pun meradang hingga berdiri dan berusaha menjambak rambut Vina Renata, tapi Aisha mencegah Mama Zahra Khumaira.
"Ma, biarkan, asal Mama tidak kenapa kenapa dan yang kedua orang marah tak bakal tahu akal sehatnya." ucapan Aisha kembali tajam.
Vina Renata yang mendengar ucapan Aisha membuat dirinya bertambah emosi dan ingin menampar kembali Aisha tetapi sayang satpam Mall sudah datang untuk mengamankan Vina Vina Vina Renata.
"Nak, kamu tak apa? Sini biar Mama lihat nak." pinta Mama Zahra Khumaira.
"Ma, Aisha tak apa ma, Mama jadi beli yang mana? Tuh kasihan kakaknya nungguin Mama lho." ucap Aisha sambil menunjuk kakak penjaga toko perhiasan.
"Kamu begitu kuat Aisha, kamu tak membalas perlakuan dari Vina Renata, tenang saja Aisha, akan Mama balas kan tamparan nya di pipi kamu." ucap Mama Zahra Khumaira dalam hati.
"Ma? Mama jangan dendam ke kakak tadi ya, mama doakan agar bisa berubah yang lebih kakak tadi karena Allah SWT dan Rasulullah SAW membenci umatnya pendendam Ma." ucap Aisha memeluk Mama Zahra Khumaira erat.
"Subhanallah Aisha, Mama minta maaf tidak akan dendam, yuk milih lagi." ajak Mama Zahra Khumaira.
Akhirnya kondisi toko perhiasan itu kembali normal, Mama Zahra Khumaira memilih beberapa perhiasan untuk Aisha tetapi Aisha setuju bahwa semua bagus.
"Yauda mbak ini semua bungkus ya untuk Menantu saya." ucap Mama Zahra Khumaira sambil menyerahkan kartu Black Card milik nya.
"Ma? Itu semuanya mahal lho kok buat Aisha? Ma?." ucap Aisha tak percaya.
"Jangan menolak Aisha, habis ini kita pulang atau makan Aisha?" tanya Mama Zahra Khumaira.
"Ma maaf, kita shalat yuk. Uda Ashar nih nanti setelah shalat baru Mama ditemani Aisha lagi karena kita di dunia hanya sebentar Ma, kita tidak tahu berapa dosa kita Ma di dunia." ucap Aisha lembut.
"Astaghfirullah iya nak, yuk kita pulang, terus Mama Ayah antar ya ke pondok pesantren An-Nur, bilang kakakmu kalau di antar Aisha." ucap Mama Zahra Khumaira sambil merangkul tubuh Aisha dari samping.
Aisha mengangguk dan segera menghubungi kakaknya untuk tidak menjemput nya tapi sayangnya kakak nya membalas.....
Aisha: Assalamualaikum wr wb kakak, kak jangan di jemput ya.
Kak Anas: Waalaikumsalam wr wb, dik, oh okeh, ciye di antar Mama mertua ciye.
Aisha: pulang kita baku hantam kak!!!!
Kak Anas: tidak semudah itu Aisha hahahahahahaha.
Aisha mendengus kesal, hingga dia tak sadar di perhatikan Mama Zahra Khumaira.
"Ada apa sayang?" tanya Mama Zahra Khumaira sedikit kepo.
"Kaka Anas nakal Ma." rengek Aisha.
Mama Zahra Khumaira tersenyum ke arah Aisha, hampir tiga puluh lima menit Mama Zahra Khumaira dan Aisha sudah sampai di kediaman keluarga besar Al-Fatih.
"Assalamualaikum wr wb, Ayah oh Ayah, Ayah sudah shalat?" tanya Mama Zahra Khumaira.
"Sudah Ma, lho itu pipi Aisha kenapa Ma?" tanya Ayah menunjuk pipi Aisha.
"Astaghfirullah Aisha, Bibi ambil kan kompres Bi cepat!!" teriak Mama Zahra Khumaira.
"Ma, tenang, yuk berwudlu dulu terus jamaah Ashar." ajak Aisha menggandeng lengan Mama Zahra Khumaira.
Sementara itu Bibi yang tengah tergopoh-gopoh membawa baskom air hangat hanya melongo hanya mendapati Tuan Besar Ahmad Fatihurahman.
"Lho Tuan Besar, Nyonya Besar mana? Siapa yang mau di kompres?" tanya Bibi dengan hormat.
"Tunggu mereka shalat dulu, Bi tolong panggil kan Pak Aden Bi, kenapa Aisha sampai pipinya merah gitu seperti bekas tamparan." ucap Ayah Ahmad Fatihurahman heran.
"Baik Tuan Besar." ucap Bibi dan bergegas pergi untuk memanggil sopirnya.
Setelah shalat Ashar, Aisha di buat heran karena Pak Aden sedang di interogasi oleh Ayah Ahmad Fatihurahman.
"Kamu gimana sih Aden? Kenapa kok tidak di jaga istri dan menantuku? Tadi saya berpesan gimana?" tanya Ayah Ahmad Fatihurahman dengan suara baritonnya.
Aisha yang mengerti keadaan saat ini segera berbisik ke Mama Zahra Khumaira untuk bilang ke Ayah Ahmad Fatihurahman karena itu murni permintaan dari Aisha.
"Pak Aden, makan dulu, Bi siapkan pak Aden makan ya, silahkan pak Aden." ucap Mama Zahra Khumaira sambil menatap tajam ke arah Suaminya.
"Baik Nyonya Besar, terimakasih banyak." ucap Pak Aden gemetar.
"Tapi Ma? Aden kan...." ucapan Ayah Ahmad Fatihurahman berhenti karena Mama melempar bantal ke arah suaminya tersebut.
Aisha yang melihat adegan tersebut hanya nyengir kuda, segera dia menghampiri Ayah Ahmad Fatihurahman dan Mama Zahra Khumaira.
"Yah, Aisha yang mau bukan pak Aden yang salah." ucap Aisha.
"Tapi Nak itu kenapa pipimu bisa merah, Bi kompresnya Bi, anak sahabatku lecet sedikit bisa baku hantam nantinya duh Gusti." Ayah Ahmad Fatihurahman terllihat panik.
"Yah, biar Aisha ceritakan tapi sebelumnya Bibi kalau mengompresnya jangan terlalu nekan ya?" pinta Aisha.
Bibi pun mengangguk setuju, Aisha pun menceritakan semuanya sedetail mungkin tanpa menambah dan mengurangi sedikitpun, Ayah Ahmad Fatihurahman yang mendengar cerita Aisha mendadak merah padam mukanya.
"Fatih Nur Rakhman!!!! Habis kau nanti!!! Mama ayo kita jemput anak ****** itu." ucap Ayah dengan nada tinggi sembari berjalan cepat menuju garasi mobil untuk menyusul Fatih.
"Hah walang? Siapa Ma yang jadi walang?." polos Aisha.
"Haduh gimana jelasinnya ya? Yauda yuk daripada ayahmu itu menghajar habis Fatih." ajak Mama Zahra Khumaira.
Aisha pun diantar Mama Zahra Khumaira dan Ayah Ahmad Fatihurahman sambil memikirkan siapa jadi walang, di balik niqab nya Aisha masih memikirkan siapa yang jadi walang sementara Ayah Ahmad Fatihurahman di tenang kan Mama Zahra Khumaira.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Aisha oh Aisha polos benar kamu, walang itu belalang ya gaes ya, maklum Aisha kan polos hehehehehehehehe, hayo ada yang tahu ada adegan apa selanjutnya?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
Sadewa Dhani
Kartu kredit untuk belanja kok bisa di pegang si wanita itu sih? duh kah ini juga yang jadi jodoh Aisha siapa ya?? Riko atau Fatih sih??🤔🤔🤔
2022-11-07
1
Tyo Prasetyo
Seperti nya Renata bau bau tak ingin melepas Fatih deh
2022-11-06
0
SMA TARBIYATUL MURIDIN
Renata oh Renata adakah alasan mu untuk melakukan itu ke Fatih? gemas rasanya.😡😡😡
2022-11-03
0