Happy Reading
"Keill, tunggu!"
Keill menoleh ke belakang dan melihat Lidia sudah berada di hadapannya, alis keil terangkat sebelah, menunggu apa yang ingin diucapkan oleh sahabatnya itu.
"Ehm ... Keill, aku mau bicara," ucap Lidia menunduk, merasa tidak enak saat ditatap oleh pria yang berdiri di hadapannya saat ini dengan tatapan tajam.
Sebenarnya Lidia hanya ingin meluruskan tentang perasaannya pada Keill, bahwa dia akan melepaskan Keill untuk Fara karena dirinya juga sudah memiliki calon suami.
Tetapi entah kenapa melihat penampilan Keill yang pagi ini terlihat sangat tampan membuat jantung Lidia berdetak dua kali lipat lebih cepat, bahkan wanita itu sampai mengurungkan niatnya setelah berhadapan dengan Keill langsung.
"Lidia, sebaiknya mulai hari ini biasakan memanggil saya dengan sebutan 'Pak' karena biar bagaimanapun sekarang saya adalah atasan kamu di perusahaan ini terlepas dari kita adalah teman," Lidia sedikit terkejut mendengar ucapan Keill yang tiba-tiba memakai bahasa formal kepadanya.
Padahal dulu dia tidak pernah mempermasalahkan sebuah panggilan karena waktu itu Keill sendiri yang menyuruhnya, bersikap layaknya teman saat mereka hanya berdua.
Tapi kenapa sekarang pria itu berubah pikiran? apakah ini ada hubungannya dengan pesan yang Lidia kirim kan tadi malam?
Bukanlah pesan itu sudah dihapus, Keill juga belum sempat membaca pesan tersebut.
Sedangkan Keill sendiri merasa bahwa Lidia melampaui batasannya dan dia harus tegas pada sahabatnya itu, apalagi secara terang-terangan Lidia mengatakan bahwa wanita itu mencintainya.
Sungguh tidak pernah ada dalam benak Keill jika Lidia akan begitu berani mengutarakan perasaannya, bahkan dengan percaya dirinya menganggap pernikahannya dengan Fara hanyalah karena pelampiasan.
"Ba-baik, Pak," kali ini Lidia merasa sangat canggung, dengan sikap seperti ini seolah Keill memberi dinding pembatas yang jelas di antara mereka.
'Sepertinya Keill sendiri juga sudah memiliki keputusan untuk terus bersama istrinya tentu aku tidak akan pernah bisa memisahkan mereka. Ya Tuhan, Lidia! tolong jangan berpikir seperti itu, ingatlah bahwa kamu sudah memiliki calon suami,' jerit Lidia dalam hati.
"Jadi ada keperluan apa kamu memanggilku, Nona Lidia?" Lidia sedikit terkejut Keill mendengarkan menyebut nya dengan panggilan Nona.
"Sebenarnya saya hanya ingin mengatakan pada anda bahwa saya meminta maaf, saya menyesal telah mengatakan yang tidak tidak kemarin saat di ruangan anda," kali ini Lidia benar-benar bersikap formal terhadap atasannya itu.
Tentu saja Keill paham apa yang dimaksud oleh wanita dihadapan nya ini, "saya sudah memaafkan mu dan saya harap kamu menjaga batasan karena sekarang saya sudah menikah, bahkan saya sangat mencintai istri saya," jawab Keill.
Lidia mendongak menatap wajah Keill, ingin mencari tahu apakah benar pria ini sudah mencintai Fara. Lidia tidak menemukan kebohongan di dalam kedua mata hitam Keill, yang artinya pria itu memang mencintai istrinya.
'Kenapa Keill cepat sekali jatuh hati pada gadis seperti Fara, dan bagaimana dengan perasaannya dulu padaku, bukankah dia telah mengatakan akan melamarku yang itu artinya dia juga mencintaiku?'
"Baiklah saya sudah memaafkan kamu, meskipun tadi malam pesan yang kamu kirimkan ke saya dibaca oleh Fara, dan hampir saja kami salah paham tapi untung istriku itu bisa mengerti setelah mendapatkan penjelasan," jawab Keill.
Lidia sedikit terkejut mendengar ucapan kail bawah tadi malam ternyata sempat di baca oleh Fara.
'Ya Allah! bagaimana ini, aku harus mengatakan apa pada Fara kalau bertemu? sungguh aku tidak menyangka jika hubungan mereka sudah sangat dekat, aku tidak tahu kalau HP Keill dibawa oleh istrinya!'
Lidia langsung berpamitan kepada Keill karena merasa sudah sangat malu, mau ditaruh di mana muka dia kalau bertemu dengan Fara nanti, tapi itu juga bukan salahnya 'kan karena dari dulu dia sudah mencintai Keill.
Keill langsung masuk ke dalam ruangannya begitu Lidia sudah pergi, sepertinya ini sudah keputusan yang bagus untuk membuat Lidia paham dengan kondisi mereka saat ini, mungkin Keill memang telah menyinggung perasaan Lidia tapi dia harus melakukannya agar wanita itu sadar akan posisinya.
Di sisi lain.
Yuni dari tadi tidak berhenti tersenyum memandang Fara, melihat hubungan gadis itu dengan sang suami yang sangat romantis, membuat Yuni ikut bahagia, bahkan Yuni selalu berdehem-dehem menggoda sahabat itu.
"Apaan sih Mbak liat-liat! naksir?"
"Gue masih normal, Fara! masa iya jeruk makan jeruk, masih banyak tuh pisang di luar sana yang bagus-bagus," Fara mendengus.
"Terus kenapa senyum-senyum gitu, kalau lo nggak naksir gue, Mbak," Fara terkekeh senang sekali dia menggoda sahabatnya ini.
Yuni mengibaskan tangannya, "gue cuma ngelihat cara lo jalan, Ra! Aneh gitu," Yuni cekikikan. "Jujur deh sama gue, pasti lo udah jebol 'kan?"
Fara melotot, sungguh sahabatnya satu ini benar-benar blak-blakan, "jangan keras-keras dong Mbak kalau ngomong tuh, nanti pada dengar, gimana?"
"Lah, emang kenapa kalau pada dengar? Kan udah halal juga," Fara mencubit pinggul Yuni yang berisi itu.
"Awww, sakit neng!" seru Yuni mengelus pinggulnya yang tadi kena sasaran jemari Fara.
"Habisnya lo itu ngawur Mbak, meskipun gue sama Pak keill udah halal tapi yang nggak juga harus mengumbar masalah pribadi di kantor, tau nggak sih," sungut Fara.
"Berarti kalau nggak di kantor boleh dong lo ceritain gimana pengalaman malam pertama lo sama CEO kita yang tampan dengan body yang gagah itu? gimana rasanya berada di bawah tubuh Pak Keill?" Fara kali ini benar-benar menarik lengan sahabatnya untuk di cubit. Yuni tergelak sambil menutupi mulut.
Tiba-tiba ada dua orang melewati meja resepsionis dan saling bicara, entah apakah mereka sengaja atau tidak, tapi yang jelas Fara dan Yuni mendengar ucapan kedua orang itu.
"Kalian tahu nggak sih, kabar yang beredar di perusahaan, katanya dulu Pak Keill dan bu Lidia itu adalah sepasang kekasih, tapi sepertinya mereka tidak direstui karena Bu Lidia sudah di jodoh kan," ucap salah satu dari mereka.
"Eh masa?"
"Iya, bahkan beredar foto-foto kebersamaan Pak Keill dan Bu Lidia saat mereka masih kuliah di Amerika, coba cek grup kantor!"
Farah dan Yuni sama-sama saling menatap, apa tadi mereka tidak salah dengar?
"Mbak mereka ngomongin suami gue kan?" Yuni mengangguk.
"Ini sih nggak bisa dibiarin, Ra! Tapi apa iya gosip itu benar?" Yuni mengambil ponsel dan membuka grup kantor.
Matanya membelalak ketika melihat obrolan yang ada di grup tersebut.
"Apa sih, mbak? Gue lihat donk," Fara menggapai HP Yuni.
Dia juga penasaran dengan gosip yang beredar mengenai Lidia dan Keill. Untung saja suaminya itu sudah menjelaskan pada Fara tentang kesalahpahaman di antara mereka.
"Eh, ini beneran foto mereka bukan sih, kok mesra banget?" seru Fara.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
Sulaiman Efendy
WAJARLH KEI MNCINTAI SAFARA, KRN SAFA ADALH CINTA PERTAMA KEI ZAMAN SMA, APALAGI SAFA PRNH SELAMATKN NYAWANYA WKTU HMPIR TENGGELAM
2023-07-07
0
Riyanti Riri
Fara..Fara..emg kamu gak punya HP sendiri ya...sampai2 harus liat gosip di HP Yuni
2022-11-13
1
☠ᵏᵋᶜᶟ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🐝⃞⃟⃝𝕾𝕳ɳҽˢ⍣⃟ₛ♋
kerjaan nya lidya nih pasti
2022-11-07
0