Happy Reading.
Keill dan Fara berangkat menuju perusahaan bersama-sama, kedua sejoli itu tidak pernah berhenti tersenyum, aura pengantin baru yang mereka pancarkan benar-benar membuat setiap orang yang melihatnya akan merasa iri.
Di perjalanan, Keill tidak berhenti curi pandang kepada Fara yang duduk di sebelahnya, pagi ini Fara memakai kemeja berwarna coklat susu dengan bawahan yang senada dan memakai jilbab berwarna coklat tua.
Biasanya Fara akan berganti pakaian memakai seragam khusus untuk resepsionis ketika sudah sampai kantor.
Di perusahaan itu setiap resepsionis memiliki tiga seragam dengan warna yang berbeda-beda. Ada yang berwarna hitam putih, hijau Army dan juga merah bata. disesuaikan dengan hari-harinya saat memakai seragam itu.
"Apa kamu tidak ingin berhenti bekerja, sayang?" Fara merasa blushing saat Keill memanggilnya dengan sebutan 'sayang'.
"Aku masih betah bekerja, Mas. Baru 2 tahun aku bekerja di perusahaan Abraham grup, belum dapat tabungan apa-apa masa iya sudah harus resign!" jawab Fara.
"Fara, kenapa harus memikirkan masalah tabungan? apa kamu lupa jika suami ini adalah pemilik perusahaan tempat kamu bekerja?" Fara mendengus.
"Iya-iya, yang punya perusahaan! tapi 'kan tetap saja beda, Mas! aku ingin punya uangku sendiri, nanti aku sisihkan untuk Ibu, kalau nafkah dari kamu nanti akan ku tabung untuk anak-anak kita di masa depan, jadi intinya uangmu - uangku kalau uangku ya uangku!" Keill tertawa mendengar istilah dari sang istri.
"Nanti Ibu juga sudah dapat jatah dariku, kamu tenang saja, lebih baik kamu resign dari perusahaan, berdiam diri di rumah, jadi ibu rumah tangga yang patuh dan membesarkan anak-anak kita dengan didikanmu yang aku yakin akan mendidik mereka dengan baik." Ujar Keill melirik istrinya yang pagi ini benar-benar terlihat sangat cantik. Tidak pernah bosan untuk dipandang.
Itulah pesona dari seorang Safara Maulida, wanita itu memang sangat sederhana tidak pernah memakai make up berlebihan tetapi memiliki aura yang sanggup memikat para laki-laki yang sudah mengenalnya.
Jika tersenyum, setiap yang melihat rasanya tidak akan pernah bosan untuk selalu menatap gigi gingsulnya yang memiliki daya tarik tersendiri.
"Besok-besok aja kalau aku sudah hamil, mas. Sekarang aku masih ingin bekerja," jawab Fara.
Keill hanya bisa pasrah menuruti keinginan sang istri.
Akhirnya mobil SUV hitam itu sampai di perusahaan.
"Tunggu dulu, biar aku yang bukain pintunya," ucap Keill.
Pria itu melepaskan seatbeltnya kemudian keluar dari dalam mobil dan berjalan memutar lewat depan menuju ke pintu samping kemudi.
Fara tidak bisa untuk menyembunyikan senyumannya ketika melihat suaminya yang sekarang semakin memperlihatkan perhatiannya.
'Rasanya kok bahagia banget ya,!' batin Fara.
Keill membuka pintu mobil untuk istrinya, Fara dengan senang hati menerima uluran tangan sang suami.
"Terima kasih, Bapak keil Abraham," Fara tersenyum lebar diperlakukan bak seorang Putri oleh suaminya yang tampan itu.
"Panggil saja mas, meskipun di kantor, harus panggil seperti itu, kita 'kan udah menikah, jadi nggak papa kalau kamu manggil aku dengan sebutan Mas," ucap Keill sambil menutup pintu mobilnya.
Fara mengerucutkan bibirnya, "siapa dulu yang minta aku harus bicara formal saat di kantor," cibir Fara.
Keill begitu gemas melihat sang istri yang seperti ini apalagi dengan bibir yang mengerucut seperti itu, membuat pria itu ingin sekali melahapnya saat ini juga.
"Kenapa aku baru sadar, ya! kalau ternyata kamu itu sangat cantik, nggak ngebosenin kalau dipandang!" bisik Keill di telinga Fara.
Meskipun tertutup hijab, tapi Fara bisa merasa merinding sekaligus malu saat Keill berkata dengan jarak sedekat ini dengannya di tempat umum.
"Aduh, emang mata kamu selama ini ke mana aja, mas! nggak pernah lihat aku, berarti kamu juga nggak perhatiin aku dong selama ini!" ucap Fara berusaha bersikap biasa saja
"Bukan gitu maksudnya sayang, dulu 'kan gak berani memandang lama karena bukan muhrim," jawab Keill yang nampak masuk akal ditelinga Fara.
Akhirnya mereka berdua masuk ke dalam perusahaan bersama, bahkan Keill sudah menggandeng tangan sang istri dan tentu saja itu menjadi pusat perhatian seluruh karyawan. Biasanya mereka memang berangkat bersama tetapi berbeda dengan dengan hari ini, di mana kedua pengantin baru itu tampak lebih bersinar.
Yuni mengedipkan matanya ketika melihat Fara berjalan bersama atasan mereka yang juga merupakan pemilik dari perusahaan itu yang tidak lain adalah suami Fara sendiri. Melihat cara berjalan Fara yang sedikit berbeda, Yuni bisa menebak bahwa sahabatnya itu pasti sudah tidak perawan lagi.
"Selamat pagi Pak Keill, Bu Fara!" sapa Yuni yang dibalas anggukan kepala oleh Keill.
"Pagi juga, mbak, maaf gue telat," jawab Fara mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Keill tapi pria itu tetap tidak melepaskannya.
"Tidak apa-apa, saya paham kok gimana rasanya menjadi pengantin baru, telat dikit tidak masalah!" lagi Yuni mengedipkan mata pada Fara.
Fara hanya bisa melototkan matanya pada Yuni tanpa bisa meneriaki sahabatnya itu karena Fara masih bersama Keill.
"Aku gak ikut naik ke atas 'kan, mas?" tanya Fara ketika Keill terus menggandengnya sampai ke depan lift.
"Maunya sih, kamu ikut sampai ke ruangan saya, nanti kamu nungguin saya bekerja dan setelah itu kita bersenang-senang," Fara melototkan matanya pada sang suami.
Sungguh kenapa suaminya itu sekarang begitu mesum, sepertinya akibat buka segel subuh tadi, hingga membuat Keill mungkin masih ketagihan dan ingin lagi.
Memang tidak bisa dipungkiri bahwa kill merasa ketagihan dengan tubuh istrinya.
"Mas, aku harus bekerja, kita ini udah telat loh, nanti gimana kalau pada iri sama aku kalau aku datangnya telat seperti ini?" Fara merasa tidak enak pada Yuni.
Keill menghela nafas, sebenarnya dia tidak ingin istrinya bekerja kembali setelah mereka menikah tapi dia sudah berjanji tidak akan melarang Fara bekerja.
"Baiklah kali ini aku akan melepaskanmu tapi nanti siang kamu harus ke ruanganku seperti kemarin," ucap Keill.
"Iya-iya, mas! Ya sudah aku mau ganti seragam dulu," Fara langsung menarik tangan Keill dan mencium punggung tangan suaminya itu.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Keill langsung masuk ke dalam lift saat sang istri sudah menghilang, pria itu masuk ke dalam lift khusus yang langsung menuju ke lantai di mana ruangannya berada.
Keill melangkahkan kakinya keluar dalam lift dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
Ternyata melakukan 'itu' sangat nikmat dan bikin nagih! Apalagi tanpa ada paksaan sama sekali. Ternyata Fara juga mencintai ku, Ya Allah sungguh beruntung nya aku!' batin Keill.
Baru beberapa menit berpisah dari Fara sudah membuatnya rindu dan ingin bertemu kembali.
Keill sudah sampai di depan pintu ruang kerjanya, namun tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya.
"Keill, tunggu!"
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
bunda syifa
pas itu Fara setuju, prinsip sejuta wanita😅😅😅
2023-02-17
0
☠ᵏᵋᶜᶟ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🐝⃞⃟⃝𝕾𝕳ɳҽˢ⍣⃟ₛ♋
pasti lidya
2022-11-07
0
Tari Gan
pertahankan keromantisan kelean berdua ya keill Fara 🤭🥰🥰🥰 semoga makin bucin
2022-11-06
1