Tama dan Mimu terdiam menatap satu pria jahat yang tadi ingin menyakiti Tama. Dia masih dalam keadaan pingsan, tapi Tama dan juga Mimu sudah membuat pria itu duduk dengan tubuh yang di ikat kuat bersatu dengan kursi.
" Apa yang mau kita lakukan dengan orang ini? " Tanya Mimu, jelas dia merasa bingung harus diapakan orang itu karena kalau menyekapnya juga akan menjadi masalah nantinya.
Tama membuang nafasnya, tentu saja dia membutuhkan pria itu untuk memberikan informasi tentang dirinya yang sebenarnya. Saat dua penjahat tadi ingin menyerang Tama, jelas sekali Tama bisa melihat kalau mereka memang sudah lama mengincar Tama, dan juga mereka yakin tidak salah orang. Jadi, Tama harus benar-benar menahan pria itu sampai dia mau memberikan informasi sebanyak yang dia tahu.
" Ayahmu kapan akan pulang ke rumah? " Tanya Tama karena dia membutuhkan informasi itu, kalau sampai Ayah Gito melihat adanya orang asing yang berniat mencelakainya dan sedang dia sekap di dalam rumah, jelas saja dia akan merasa kaget juga was-was nantinya.
" Tidak tahu, setelah kita menikah kan Ayah sering berada di bilik hutan di banding tinggal bersama kita. Mau tanya Ayah ke pasar juga dia pasti sudah kembali ke hutan mencari tanaman obat kalau jam segini. "
Tama terdiam sebentar, sebenarnya melas juga melihat Ayah mertuanya begitu sulit mencari uang hingga terus berada di hutan untuk mencari tumbuhan obat yang akan di olah untuk menghasilkan uang. Padahal hutan itu ada beberapa macam hewan buas, tapi Ayah Gito benar-benar tidak memperdulikannya, yah mungkin karena dia sudah terbiasa tinggal di hutan sejak kecil sehingga dia tahu bagaimana mengindari buangan itu, dan bagaimana cara menghadapi binatang buas kalau tidak sengaja bertemu.
" Jadi besok kita pergi ke pasar dan tanya saja kapan Ayah akan pulang kerumah, nanti kalau Ayahmu tidak pulang dalam waktu dekat, jangan ceritakan tentang ini, kita diam saja dulu sampai aku mendapatkan informasi dari orang ini. "
" Iya. "
" Jadi, aku kan sudah sangat lapar dan kalau harus masak lebih dulu pasti akan lama sekali. Bagaimana kalau untuk kali ini kita makan mie instan saja? "
" Tidak! "
Mimu membuang nafas sebalnya.
" Aku sudah kelaparan sekali, memang kau tidak kasihan denganku? "
Tama tak lagi bicara, dia membuang nafas kasarnya dan mengangguk pasrah saja membuat Mimu dengan semangat bangkit menuju dapur meski kakinya masih terasa gemetar.
Setelah Mimu pergi ke dapur, Tama menatap pria jahat itu dengan dingin dan tajam.
" Buka matamu, apa kau tidak lelah berpura-pura seperti ini, hah? "
Pria itu perlahan membuka matanya, rupanya Tama tahu benar jika pria itu hanya berpura-pura tidur saja.
" Katakan padaku siapa yang mengutusmu? "
Pria itu tersenyum lalu berdecih meremehkan sikap Tama yang membuatnya kesal.
" Kau pasti sudah tahu, Jadi untuk apa kau bertanya! Jangan banyak bertele-tele, kalau memang ingin membunuhku ya bunuh saja! Aku tidak mau menjadi tawananmu! "
" Katakan saja, atau kau akan tahu akibatnya karena sudah berani melawanku. " Ucap Tama dengan nada bicara yang rendah karena dia tidak ingin Mimu mendengar apa yang dia katakan kepada pria jahat itu.
" Tentu saja Bosku! Untuk apa kau menanyakan apa yang seharusnya tidak kau tanyakan?! Membuang waktu saja, kau masih tidak bisa terima dikhianati oleh kakak mu sendiri? Menyedihkan sekali, CEO Gorge yang dingin, arogan ternyata memiliki sifat tersembunyi yang sok naif. "
CEO Gorge, dikhianati kakak sendiri, dan begitu dia masih hidup dia ingin kembali dilenyapkan? Gila, sebenarnya kehidupan macam apa yang dijalani Tama selama ini?
Tama terdiam mencoba untuk merangkai mimpi yang sering muncul dan membuatnya gelisah tak bisa tidur dengan segala informasi yang di dapatkan dari orang itu.
" Baiklah, kau sudah boleh pergi sekarang. Jangan mengatakan informasi yang kau katakan padaku tadi, anggap saja tidak pernah terjadi karena aku juga mengalami hilang ingatan. Pergilah jangan pernah datang lagi, aku tidak tertarik dengan kehidupan kalian yang sangat gila itu. "
Pria itu mengeryit menatap Tama dengan tatapan bingung.
Beberapa saat kemudian ketika Mimu kembali ke depan dengan tiga mangkuk mie instan yang sudah dia masak, Mimu tercengang karena Tama tengah duduk berdiam diri sementara pria yang ingin menjahatinya itu.
" Tama, kemana penjahat tadi? "
" Dia sudah kabur. " Tama tersenyum tipis membuat Mimu kebingungan sendiri.
" Kabur? Kenapa kau biarkan dia pergi begitu saja? "
" Dia hampir menembak ku jadi aku tidak punya pilihan selain melepaskannya. "
Mimu sebenarnya bingung dengan apa yang di katakan Tama. Menebak apanya? Jelas-jelas tadi pria itu terikat kuat menyatu dengan kursi, dan sebelum di ikat juga Mimu sudah memastikan tidak ada senjata yang tertinggal di tubuh pria itu. Jadi, apakah Tama sedang mencoba menyembunyikan sesuatu darinya?
" Cepatlah, aku juga lapar. " Ucap Tama.
Mimu segera membawa mie instan itu kepada Tama agar bisa dia makan segera. Jujur saja, Minum benar-benar tidak tenang karena yakin benar Tama mencoba menyembunyikan sesuatu, tapi anehnya dia malah sama sekali tidak berani bertanya ataupun mendesak Tama.
Lari, temui pesuruhmu untuk datang. Aku yakin kau pasti akan datang padanya untuk melapor kan? Jadi, mari kita lihat seberapa seru kehidupan seorang Tama dulu, ah! Maksudnya CEO Gorge.
Tama mengaduk terus mie instan tanpa memiliki minat untuk memakannya, selain dia memang tidak suka bau mie instan, pikirannya juga terus terarah kepada penjahat itu dan memikirkan seperti apa tampang orang yang telah mengkhianatinya hingga hampir saja dia kehilangan nyawanya.
Setelah hari itu Tama mencoba sebaik mungkin untuk tetap bersikap normal seperti biasanya, meskipun tetap saja dia masih bisa melihat tatapan curiga dan khawatir dari seorang Mimu.
" Tama, besok siang aku mau pergi ke ujung desa untuk membeli pupuk ya? Kau tinggal saja di rumah karena aku juga ingin pergi sebentar untuk membeli sesuatu. " Ucap Mimu ketika mereka akan tidur malam ini.
" Kau yakin aku tidak perlu ikut? "
" Iya, kau dirumah saja dan wajib mengusir ayam yang biasanya akan makan tanaman yang baru mulai tumbuh di depan rumah. "
" Iya. "
" Ya sudah, aku tidur duluan ya? aku ngantuk sekali. "
Mimu pikir dia akan langsung tidur dengan nyaman, tapi tidak tahunya Tama malah mengubah posisi tidurnya menjadi berada di tas tubuh Mimu.
" Temani aku berolah raga sebentar. " Ucap Tama tanpa aba-aba langsung menyerang bibir Mimu dengan semangat.
Seperti yang sudah di jadwalkan oleh Mimu, dia benar-benar pergi untuk membeli pupuk tanaman, sedangkan Tama berada di rumah. Suara ketukan pintu terdengar, Tama pikir itu adalah Mimu yang pulang lebih cepat, tapi begitu membuka pintu, seorang wanita cantik dan dua orang pria di belakangnya berdiri di depan pintu.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Naviah
semangat thor
bikin penasaran aja
2022-12-20
0
Eli Sunarya
kenapa tama di tinggal mimu...... smoga tama gak kenapa"
2022-11-06
1
Della Eriana
semangat berkarya ya kak
2022-11-05
1