Cukup lama Tama terdiam tak kunjung menutup matanya, sementara Mimu dia sudah mulai pulas karena dengkuran halus terdengar oleh telinga Tama. Lelah berada di posisi yang sama seperti itu, Tama segera memiringkan tubuhnya menatap punggung Mimu. Aneh, Tama tiba-tiba merasa jika memeluk Mimu pasti akan sangat nyaman. Tanpa sadar tangan Tama bergerak memeluk punggung Mimu dan perlahan-lahan mulai tertidur.
Seperti hari kemarin, Tama bangun bahkan lebih siang dan dia sama sekali tidak terbangun atau bahkan mimpi buruk sekalipun. Begitu bangun dia keheranan sendiri bagaimana bisa dia begitu nyenyak seperti ini? Sudah dua malam tidur bersama dengan Mimu dan ini juga tidak bisa di sebut kebetulan kan? Dulu dia juga pernah tidur dengan Ayah Gito, tapi dia sama sekali tidak bisa tidur karena perasaan gelisah, takut akan sesuatu yang bahkan dia tidak tahu apa, jantungnya berdegup kencang padahal dia tidak merasa ada yang bahaya. Benar-benar dia ingat betapa nyamannya memeluk Mimu semalam hingga dia tertidur pulas tanpa sekalipun merasakan yang namanya mimpi buruk.
Cukup lama dia duduk di pinggiran tempat tidur, Tama akhirnya bangkit untuk mencari keberadaan Mimu.
" Kau bangun juga akhirnya. " Ucap Mimu sembari mengemas kue buatannya yang sudah selesai dia buat.
" Kau yang membuat ini? " Tanya Tama kaget.
" Iya lah, memang siapa lagi? "
" Kau bangun jam berapa? "
" Jam enam. "
" Kau kan bisa membangunkan ku, setidaknya aku bisa membantu sedikit kan? "
Mimu menelan salivanya, tadi pagi niatnya memang dia ingin membangunkan Tama ketika dia bangun agar Tama bisa membantunya, tapi melihat posisinya saat membuka mata tadi pagi, Mimu benar-benar merasa malu sendiri hingga tidak berani membangunkan Tama. Tadi pagi ketika dia membuka mata, rupanya wajah mereka sangat dekat, bahkan kulit bibir mereka sampai bersentuhan dan mereka tidur saling memeluk seperti pasangan pengantin baru saja.
" Wajahmu merah, kau sakit? "
Mimi berdehem untuk menghilangkan rasa gugupnya.
" Merah apa? Aku ya mungkin karena terlalu lama di dekat api tadi jadi merah begini wajahku. "
Tama mengangguk saja, dia kemudian ikut duduk di lantai berniat untuk membantu Mimu merapihkan kue buatannya.
" Apa yang bisa aku bantu? "
" Susun saja di wajah ini, harus rapih. " Ucap Mimu sembari menentukan sebuah wajah persegi panjang untuk menyusun kue buatan Mimu.
" Iya. " Sembari menyusun kue, sesekali Tama mencuri pandang untuk memperhatikan Mimu. Entahlah seberapa berpengaruhnya hinaan dari mantan sahabat dan mantan pacarnya, karena semenjak itu Mimu benar-benar merawat dirinya dengan baik. Rambutnya selalu terlihat berkilau, wajahnya juga terlihat bersih. Eh, tapi bukan itu tujuan Tama mencuri pandang, dia hanya mencari jawaban dari apa yang membuat dia bisa tidur begitu nyenyak saat memeluk Mimu.
Tama benar-benar cukup aktif dalam mencuri pandang, hingga pada akhirnya tatapannya bertemu dengan Mimu dan membuat mereka sama-sama merasa malu sendiri. Setelah selesai mengemas kue, Mimu sebentar untuk membersihkan diri barulah dia akan mengantarkan kue itu ke rumah Nita dan Osan.
" Tama, nanti bantu aku bawa kue ini sampai ke rumah Nita dan Osan ya? " Pinta Mimu yang langsung di angguki oleh Tama. Begitu selesai Mimu mandi, Tama dengan segera kebelakang untuk mandi.
Mimu kali ini benar-benar tidak ingin melewatkan apapun, dia sudah mencuci bersih rambut dan juga tubuhnya, dia menyisirnya dengan rapih, menggunakan perawatan wajah lalu sedikit bedak dan vitamin bibir, tak lupa pula Mimu menyemprotkan parfum ke tubuhnya. Dia benar-benar tidak ingin menjadi gunjingan orang lagi, dan yang paling penting adalah dia tidak ingin Tama merasa malu dan jijik padanya. Memang benar Tama tidak ingat apapun tentang masa lalunya, tapi tetap saja mereka adalah suami istri sekarang kan? Entah hubungan mereka akan seperti pasangan suami istri lainnya atau tidak, Mimu hanya berharap dia bisa melakukan yang terbaik yang bisa dia lakukan.
Tama yang selesai mandi segera masuk ke kamar dan sebentar dia menatap Mimu. Iya memang Mimu terlihat lebih cantik dan rapih, tapi untuk apa penampilan seperti itu padahal nanti bisa membuat orang jadi terus melihatnya kan?
" Kau kenapa diam saja? " Tanya Mimu yang bingung melihat Tama diam saja tak bergerak padahal dia sudah menahan diri untuk tidak melihat badan Tama yang sangat kekar itu.
Tama tersadar dari lamunannya lalu segera mengambil baju untuk dia kenakan.
" A aku tunggu di luar saja. " Mimu segera beranjak dari tempatnya menahan wajahnya yang kembali memerah karena malu juga terlalu lama melihat dada Tama. Kalau di ingat-ingat dulu dia begitu berani sampai pernah ingin membuka isi celana Tama. Ah, gila! Dia benar-benar menyesal pernah melakukan itu karena tidak percaya jika Tama adalah manusia sepertinya hanya karena rupa Tama yang sangat tampan, di tambah kulitnya yang putih mulus dan lembut itu, jadi sulit awalnya untuk menerima Tama sebagai manusia biasa sepertinya.
Tama tersenyum tipis melihat rona merah di wajah Mimu. Padahal dulu dia begitu berani di saat dia sangat malu kala itu, tapi karena Tama pikir dia sudah menikah dengan Mimu jadi dia tidak perlu seperti dulu lagi.
Segera setelah Tama berpakaian, Mimu segera bangkit dengan satu boks kue buatannya dan satu lagi niatnya dia akan meminta Tama untuk membawanya.
" Berikan saja semuanya padaku. " Ucap Tama seraya mengambil satu boks kue dari tangan Mimu dan mengambil satu lagi yang ada di meja. Sederhana sekali memang, tapi dulu saat dia pergi jalan-jalan bersama Osan, dialah orang yang akan membawa semua barangnya karena Mimu pikir dia adalah atlit taekwondo jadi tidak masalah untuk membawanya. Tapi, dia benar-benar tidak menyangka kalau tindakan yang dulu dia sering lakukan akan di lakukan oleh Tama untuknya, dan anehnya dia merasa benar-benar bahagia, dia seperti di perlakukan layaknya seorang wanita seperti seharusnya.
" Pakai kantung besar saja dan aturan saja supaya lebih mudah membawanya ya? "
" I iya. " Ucap Mimu setuju.
" Ayo! "
" Hah? Iya! "
Semalaman memang gerimis jadi jalanan lagi ini benar-benar licin dan mereka berdua benar-benar harus ekstra hati-hati agar tidak terpleset dan terjatuh.
" Ah! " Mimu berpegangan pada lengan Tama saat dia hampir saja terjatuh karena tanah yang ia injak cukup licin.
" Berikan tanganmu, kau bisa berpegangan padaku. " Tama meraih jemari Mimu dan membuat jemari mereka saling menggenggam membuat Mimu terdiam karena terkejut.
" Ayo jalan lagi! "
" I iya. " Mimu mengikuti saja langkah kaki Tama sembari menunjukan kemana arah mereka harus berjalan, dan sesekali dia menatap genggaman tangan mereka berdua.
Kenapa aku berharap genggaman tangan ini tidak akan pernah lepas?
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Naviah
semangat thor
2022-12-19
1
Desy Noviana
ya jangan dilepas to mimu
2022-10-27
2
rosediana
semangat berkarya
2022-10-26
1