Mimu membuang nafas sebalnya setelah lelah seharian penuh hanya melihat Tama dengan segala kebodohannya. Mulai dari tidak bisa mencangkul tanah, tidak tahu cara menanam sayuran, tidak tahu bagaimana menyiram tanaman, bahkan memasukkan tanah kedalam wadah plastik untuk di tanami bibit tanaman saja Tama tidak bisa, yang ada tanahnya malah jadi berantakan, beberapa plastik juga sobek tak bisa di gunakan lagi. Entah selain tampan apakah Tama punya kelebihan? Ah, melihat tampangnya yang kebingungan, apalagi Tama begitu ketakutan saat melihat cacing tanah tadi, sepertinya Tama benar-benar tidak bisa melakukan apapun untuk membantunya bercocok tanam. Yah, padahal Mimu pikir dia bisa menggunakan tenaga Tama untuk membantunya mengerjakan semua pekerjaannya, karena kalau tanaman subur dan menghasilkan lumayan banyak, Rencananya Mimu ingin menjual hasil kebunnya ke pasar, kan lumayan untuk tambahan hasilnya bisa ia gunakan untuk keperluan rumah.
" Ck! Sepertinya aku harus bekerja sendirian deh. Apa ini termasuk resiko memiliki suami yang tampan ya? Cuma bisa di pajang saja dan di pamerkan kepada semua orang, tapi tidak bisa di gunakan. " Gumam Mimu sembari menatap Tama yang terdiam tak bicara, jelaslah Tama bisa melihat dan mendengarnya samar-samar, tapi mau bagaimana lagi kalau memang kenyataannya dia tidak mempu melakukan pekerjaan berkebun seperti Mimu tadi.
Baru saja Mimu bangkit untuk membersihkan diri dan tidur, suara ketukan pintu membuatnya beralih langkah menjadi membukakan pintu dan melihat siapa yang datang bertamu di waktu yang mulai malam ini, yah padahal di desa mereka tinggal penerangan masih jarang, dan rumah Mimu masih menggunakan penerangan minim, itu semua karena Mimu menyukai banyak drama di televisi, jadi demi mengirit untuk bayar listrik, jadilah penerangan di rumahnya sengaja di kurangi.
" Kalian? " Mimu menatap sebal karena ternyata yang datang adalah Nita dan Osan.
" Maaf kalau kami mengganggumu ya Mimu? "
" Yah, kira-kira hal mendesak dan sepenting apa hingga sepasang manusia agung ini datang ke rumah paling ujung yang jalanan menuju kemari lumayan gelap dan banyak pepohonan. Kalian berdua apa tida ngeri kalau di culik oleh makhluk berdaster putih yang bergelantungan di pohon? "
Nita mengeratkan posisi tubuhnya dengan Osan karena makhluk yang di ceritakan oleh Mimu untuk menakut-nakuti Nita memang masih di percaya ada di sana.
" Berhentilah menakuti istriku, apa kau tidak lihat wajahnya langsung memerah? Jangan meremehkan kedatangan kami, kami datang membawa rezeki untukmu asal kau tahu! "
" Cih! Merah apanya? Disini kan gelap. "
" Kulit istriku itu putih bersih, tidak seperti kulitmu yang gelap! "
Mimu terperangah kesal, sialan! kenapa juga sih Osan begitu kurang ajar, batinnya.
" Oh, iya iya putih bersih kurus tinggi dan licin seperti bihun. "
Osan tadinya ingin membantah lagi, tapi Nita segera mencegahnya.
" Mimu, kami datang kesini bukan untuk membahas hal lain yang tidak penting, kami datang untuk membeli makanan ringan yang biasa kau jual kalau ada hajat di desa kita. Aku ingin pesan sekitar seratus biji, kau bisa kan menyedihkannya besok? "
Aduh, sebenarnya kalau mengikuti egonya sih dia ingin menolak, tapi kalau seratus biji yang dia pesan, bagaimana bisa di tolak karena untungnya saja sangat banyak.
" Sudahlah, jangan sok berpikir, bagimu untung lima puluh ribu itu kan banyak sekali, lebih baik kau cepat setujui saja, aku dan Nita harus cepat pulang. Kami ini pasangan pengantin baru yang banyak sekali membutuhkan waktu berduaan saja, jadi jangan sok jual mahal padahal kau mau kan? "
Mimu membuang nafas kasarnya, sialan! Padahal tadinya dia memang ingin menerima pesanan itu dan berniat membelanjakan keuntungan untuk membelikan Tama baju baru, tapi mendengar kalimat menyebalkan yang penuh kesombongan dari mulut Osan rasanya dia benar-benar tidak tahan lagi.
" Sialan! Buat saja kue sendiri, kalian kan orang kaya, suguhkan saja uang di piring kalian saat akan menyambut tamu. Bukan cuma kalian berdua saja yang ingin baru, aku juga pengantin baru kalau lupa. Aku harus segera mandi dan menyusul suamiku yang sudah menunggu di kamar. "
Nita menggeleng menolak saat Mimu akan menutup pintu rumahnya. Dia benar-benar membutuhkan kue dari Mimu karena saudara dari orang tuanya akan datang ke rumah mereka besok, karena kue buatan Mimu terkenal enak, jadi dia pikir menyuguhkan kue buatan Mimu sebagai teman teh pasti sangat pantas.
" Tunggu! Mimu, aku benar-benar minta tolong karena aku butuh kue buatanmu, tolong ya? Aku tidak masalah kalau harus membayar dua kali lipat kok. "
" Apa?! Sayang, kenapa bayar dia kali lipat sih? Rugi besar nanti kita. " Ujar Osan yang tidak sengaja.
" Sudah deh, jangan bicara lagi! " Kesal Nita.
Mendengar akan di bayar dua kali lipat tentu saja Mimu langsung tertarik, dia membuka kembali pintu rumahnya lebar-lebar tapi wajahnya dia buat seperti terlihat tidak membutuhkan uang itu.
" Kau pikir aku akan tergiur dengan uangmu itu? Suamiku itu punya banyak uang, jadi aku tidak terlalu membutuhkan uang darimu. " Ucap Mimu.
Nita menggigit bibirnya, dia sendiri juga tidak tahu kemana harus memesan kue seenak kue buatan Mimu jadi dengan cepat dia mengajukan kembali tawarannya.
" Aku Kaka bayar tiga kali lipat! "
Mimu menahan bibirnya untuk tidak tersenyum kegirangan. Tiga kali lipat? Uang itu pasti nanti bisa dia gunakan untuk bertapa hal setelah membeli baju baru untuk Tama kan?
" Yah, karena kau terlihat sangat membutuhkannya mau tidak mau aku harus membantu orang yang membutuhkan. "
Osan terperangah karena dia bisa melihat betapa liciknya Mimu, sementara Nita malah tersenyum lega menunjukan betapa bodohnya dia.
" Oke, ini uangnya. Aku bayar sekarang, besok tolong antar ke rumahku ya? "
" Oke! "
" CK! Katanya suamimu orang kaya, tapi rumahmu yang sudah akan roboh ini masih belum di perbaiki, suamimu juga hanya diam di rumah seperti orang tidak ada kerjaan dan orang linglung. " Ujar Osan mengejek tak terima karena uang yang di gunakan untuk membayar Mimu adalah uangnya yang ia berikan kepada Nita untuk kebutuhan rumah tangga mereka.
Mendengar kata linglung Mimu menelan salivanya sendiri. Tidak, Osan tidak boleh tahu, semua orang juga tidak ada yang boleh tahu kalau Tama memang linglung dan tidak mengingat apapun.
" Omong kosong apa?! Suamiku sebenarnya adalah orang sibuk, biasanya dia akan menggunakan jas seperti yang di drama-drama itu. "
" Pft! " Osan menahan tawanya karena menyepelekan ucapan Mimu.
" Mimu, kau menyimpan pakaian gantiku? " Tanya Tama sembari mendekati Mimu dengan telanjang dada dan membuat semua orang terperangah terpesona melihat bentuk tubuh Tama yang begitu berotot dan terlihat sangat kekar. Osan, padahal dia adalah pria, tapi dia juga tida bisa kalau tidak terpesona.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Naviah
Osan aja yang cowok terpesona kepada Tama apalagi yang cewek 😂😂😂
2022-12-19
1
Dinda Putri
lanjut
2022-10-23
2
Desy Noviana
ngiler2 dah tuh
2022-10-23
2