Begitu sampai di pasar, Mimu segera mencari keberadaan Ayahnya di lapak yang biasa digunakan Ayahnya untuk menjajakan obat herbal buatannya. Yah, benar saja Ayahnya masih di sana melayani orang-orang yang sedang memilih teh herbal buatannya, ada juga obat tumbuk untuk rematik yang kemarin di buat Ayah Gito. Melihat banyak dagangan yang habis, Mimu benar-benar merasa sangat bahagia dan senang bukan main. Untung saja dia memiliki Ayah seperti Ayah Gito yang memiliki ilmu untuk meracik obat-obatan yang diturunkan dari generasi ke generasi, kalau tidak entah jadi apa hidupnya, batin Mimu di dalam hati.
" Ayah! "
" Kalian kenapa datang ke pasar? "
" Memangnya tidak boleh? Aku kan harus membeli garam, gula dan micin Yah. "
" Ke warung saja kan bisa, Mimu. Kau tahu sendiri kan kalau jalan ke pasar itu jelek kalau hujan juga sangat licin. Lebih baik cari yang lebih dekat kalau ingin berbelanja supaya aman. "
Mimu memaksakan senyumnya, di dalam hati dia tengah membatin, bagaimana bisa Ayahnya berbicara seperti itu? Lalu bagaimana dengan dia sendiri? Selama ini naik dan turun ke gunung, pergi ke hutan untuk mencari tumbuhan yang akan di gunakan untuk obat padahal jelas sekali kalau hutan juga banyak binatang buas yang membahayakan. Ayahnya juga pergi ke pasar hanya menggunakan sendal jepit seperti itu pasti juga tidak mudah kan? Entahlah, sekarang ini Mumu justru merasa dia menjadi tidak berguna sebagai anak.
" Eh, Mimu ya? Katanya kemarin kau menikah, yang mana suamimu? Padahal calon suamimu kan menikah dengan Nita? " Tanya salah satu penjual makanan ringan yang berjualan tidak jauh dari Ayah Gito, dia juga tidak jauh tekat tinggalnya dari Nita, sebab itu dia tahu mengenai pernikahan mereka yang gagal.
Mimu menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Tama. Cukup lama dia mencari Tama dengan pandangannya, dan akhirnya dia mendapati Tama sedang melihat penjual makanan anak-anak.
" Tama! " Panggil Mimu membuat Tama tersentak dan menoleh. Sebenarnya Tama tadi tengah minat mobil-mobilan yang di pegang oleh penjual mainan, entah mengapa dia seperti merasa bahwa dia pernah menggunakan mobil mewah seperti itu.
" Ada apa? " Tanya Tama begitu datang kepada Mimu dengan wajah datarnya.
" Ah, perkenalkan Bu, ini suami saya namanya Tama. "
Wanita paruh baya itu ternganga takjub melihat bagiamana tampannya wajah Tama yang jelas tidak ada bandingan di desanya. Belum lagi tubuhnya tinggi besar membuat kesan pria itu semakin gagah saja. Rupanya bukan hanya Ibu itu saja yang takjub, bahkan hampir semua orang yang berada di sana mengagumi betapa tampannya Tama. Mereka mengeluhkan kalau Mimu terlalu beruntung hingga memiliki Tama sebagai suaminya.
Osan dan Nita hanya bisa menatap dari kejauhan dengan tatapan iri, padahal selama ini mereka berdua selalu menjadi pusat perhatian. Osan jelas memiliki wajah yang lumayan, sudah begitu dia adalah anak kepala desa, sedangkan Nita adalah anak dari pemilik perkebunan teh yang jelas tidak kesulitan mengenai uang.
Sial, padahal mereka pergi ke pasar melalui jalan yang sulit hanya untuk mendapatkan simpatik dari orang-orang, tapi tidak tahunya semua orang sekarang ini malah sibuk dengan Mimu juga Tama.
" Eh, kalian masih belum belanja? Mimu, kita belanja bersama yuk? " Sebenarnya ajakan dari Nita ini adalah demi memecahkan konsentrasi para orang di sana agar sedikit memperhatikannya. Memang benar berhasil, karena tidak lama Nita dan Osan mendekat, mereka juga mendapatkan ucapan selamat menempuh hidup baru dan semoga pernikahan mereka awet tahan lama.
Mimu menatap sebal lagi-lagi karena harus melihat Osan dan Nita begitu mesra bergandengan tangan, seolah-olah mereka begitu saling mencintai.
" Tidak usah, yang aku mau beli berbeda dengan yang mau kau beli. " Mimu ogah menatap Nita dan juga Osan karena memang begitulah yang dia rasakan.
Nita tersenyum.
" Iya aku paham, kau pasti mau beli bumbu dapur ya? Kalau aku ke pasar untuk beli perlengkapan perawatan kulit wajah dan tubuh. Bagiamana pun sekarang sudah menikah, jadi aku tidak ingin sampai jadi bau dan jelek, nanti kalau suamiku ini kabur bagaimana? Sebenarnya sih dari dulu juga ku selalu rajin merawat diri, jadi hanya menambah penangkapan saja supaya suami tidak lirik sana sini. "
Mimu terdiam tak bisa lagi berkata-kata, iya memang benar kalau di bandingkan dengan Nita dalam merawat tubuh dan wajahnya tentu saja Mimu bukanlah apa-apa. Kulitnya lusuh, dia juga tidak kenal wewangian, lipstik, krim untuk perawatan wajah dan kulit tidak tubuh, tapi ya setidaknya ucapan Nita tadi semakin membuatnya paham jika dia harus melakukan hal yang sama setidaknya selain untuk kebersihan dan untuk tubuhnya sendiri, dia juga sudah menikah dengan Tama. Meskipun dia tidak memiliki perasaan apapun terhadap Tama, tapi dia juga adalah seorang istri yang seharusnya melakukan hal seperti yang dilakukan Nita kan?
" Ya sudah, aku pergi ke toko kosmetik dulu ya? " Nita melambaikan tangan dengan perasaan puas karena dia bisa melihat wajah sedih Mimu tadi. Osan juga merasa bahagia dan bangga, setidaknya dia memilih istri yang tepat, dan membatin senang karena akhirnya tidak perlu menikahi gadis lusuh seperti Mimu.
" Mau sampai kapan berdiri di sini? Kau pikir kakiku milik negara yang bisa gratis kau gunakan? "
Mimu membuang nafas sebalnya.
" Kita beli bumbu dapur dulu, baru nanti temani aku ke toko kosmetik ya? "
Tama tak menjawab, tapi dia seperti bisa merasakan apa yang tengah di rasakan oleh Mimu. Aneh, dia seperti merasakan bagaimana sakitnya dikhianati.
Apa aku juga mengalami hal seperti ini?
Tama mengikuti saja langkah kaki Mimu menuju tempat dimana pedang perlengkapan bumbu berada. Setelah selesai membeli barang yang dia inginkan, Mimu menuju toko kosmetik di ujung jalan karena dia tahu Nita pasti akan membeli perlengkapan kecantikan di toko yang paling besar langganan.
" Tidak perlu seperti itu, jadilah dirimu sendiri dan jangan mudah terbebani oleh ucapan orang lain. " Ucap Tama saat melihat Mimu bergegas menuju toko kosmetik.
" Setidaknya aku juga harus membuat orang yang mengatai rambutku lengket dan bau itu tidak mengatakannya lagi. "
Tama terdiam meski langkah kakinya terus bergerak maju, dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena inga benar orang yah di maksud Mimu adalah dia.
Sesampainya di sana, Mimu membeli shampo, sabun, handbody, parfum, vitamin bibir, tidak ketinggalan bedak dan perawatan wajah lainnya. Memang bukan barang mahal seperti perawatan kulit yang di beli Nita, tapi kebutuhan Mimu serta keluarganya kan bukan hanya untuk dirinya sendiri. Jadi dia membeli saja apa yang dia mampu beli.
" Aku tidak tahu kenapa, tapi aku yakin suatu hari nanti bisa membelikanmu barang yang jauh lebih bagus dari milik wanita itu. " Ucap Tama.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Shyfa Andira Rahmi
👏👏👏
2025-01-04
0
Naviah
semangat thor
semangat juga ya Mimu
2022-12-18
1
Dinda Putri
semangat lanjut
2022-10-19
2