Tama terus menunjukan betapa tidak sukanya dia harus membawakan barang belanjaan Mimu. Entah mengapa dia sama sekali membenci apa yang dia lakukan, padahal dia adalah suaminya Mimu tapi ini terlalu sulit untuk diterima hingga sulit sekali menyembunyikan wajah dingin.
Mimu, gadis itu benar-benar melenggang sendirian sembari bernyanyi kecil entah nyanyian apa membuat Tama jadi tambah kesal karena tidak mengerti sama sekali nyanyian gila apa yang sedari tadi di nyanyikan oleh Mimu. Apalagi jalanan yang yang tidak rata benar-benar semakin membuat kekesalannya naik tak tertahankan.
" Berhentilah menyanyikan lagu aneh itu, bahasa apa yang sebenarnya kau gunakan? Kenapa kau membuat telingaku sakit? "
Mimu mengentikan langkah kakinya, dia berbalik menatap Tama dengan tatapan kesal.
" Aku sedang menyanyikan lagu, still loping mi! Masa kau tidak tahu?! "
Tama mengeryit bingung, sebentar dia terdiam karena memang bingung dengan apa yang dikatakan Mimu.
" Apa maksudmu, still loving me? "
Mimu membuang nafas sebalnya.
" Iya! Itu kau tahu! "
" Aku tidak tahu lagu apa itu, hanya saja pengucapanmu yang aneh tidak seperti bahasa Inggris. "
Mimu menjebik kesal.
" Memang kau pandai menggunakan bahasa Inggris? "
Tama terdiam, benar saja dia tidak tahu apa dia bisa atau tidak. Tadi dia seperti reflek tak menyadari jika dia bisa menggunakan beberapa kata bahasa asing. Kalau ditanya apakah dia pandai menggunakan bahasa asing atau tidak, tentu jawabannya adalah, dia tidak tahu karena dia tidak ingat apapun.
" Cih! Bingung kan? Makanya jangan mengejek, aku ini sudah mengatakan kalimat bahasa asing dengan aksen yang baik loh. "
Tama tak lagi menanggapi apa yang dikatakan oleh Mimu karena dia juga meragukan tentang dirinya sendiri.
Begitu sampai di rumah, dengan segera Mimu mengambil semua belanjaan dari tangan Tama, membawanya ke dapur untuk dia letakkan di tempatnya dan memasak untuk makan mereka berdua, dan Ayahnya yang tidak lama lagi juga pasti akan pulang ke rumah. Untuk sayuran Mimu tentu hanya tinggal memetiknya dari halaman rumahnya. Setelah selesai memasak, Mimu dengan segera membersihkan dirinya dulu. Dia mencoba menggunakan perlengkapan untuk mandi dan juga perawatan tubuh yang tadi ia gunakan.
Beberapa saat kemudian.
Mimu tersenyum senang, ternyata jika tubuh bersih dari ujung kepala sampai ujung kaki di tambah dengan wewangian benar-benar membuat otak menjadi ikut segar pula rasanya. Entah kenapa dia begitu bodoh dulu karena mengabaikan waktu untuk merawat diri padahal rasanya menyenangkan seperti ini.
Mimu segera bangkit dari posisinya karena sampai lupa kalau harus makan, padahal beberapa saat lalu dia begitu kelaparan. Begitu keluar dari kamar dia tersentak melihat Tama sudah selesai makan, bahkan sayur sudah mau habis, dan untungnya masih ada dua ikan goreng yang bisa untuk dia dan Ayahnya nanti.
" Kau makan semua tadi? "
Tama mengangguk sembari menyeka mulutnya.
Mimu tak lagi bisa bicara, ya sudahlah mau di apakah lagi? Makanan sudah masuk dalam perut, cuma bisa bilang untung karena sayur ada sisa sedikit dan ikan juga masih ada dua ekor pas untuk dia dan Ayahnya sekali makan saja.
" Tidak heran badanmu bisa tinggi selain dan bidang, rupanya makanmu banyak sekali ya? "
Tama tak menjawab karena dia sendiri juga tidak tahu. Tadi dia hanya ingin sedikit saja makan, tapi perutnya tidak juga merasa kenyang jadilah dia menghabiskan banyak makanan yang baru saja di masak oleh Mimu.
" Baiklah, nanti setelah aku makan kita cangkul halaman samping rumah ya? Kita harus cabut sayuran lama yang sudah mulai keting, nanti kita tanam yang baru lagi. "
Tama menggaruk tengkuknya, aneh sekali dia seperti sangat asing dengan benda yang di sebut Mimu dengan sebutan cangkul, juga menanam. Jelas itu adalah pekerjaan biasa bagi warga desa, tapi kenapa Tama merasa pekerjaan itu tidak cocok untuknya? Rasanya ingin menolak, tapi bukankah dia bisa di sebut tidak tahu diri kalau begitu?
Beberapa saat kemudian.
" Tama, jadi sampai kapan kau hanya akan melihatku mencangkul? " Protes Mimu yang kesal karena melihat Tama hanya berdiam diri melihatnya tanpa keinginan untuk mengerjakan apa yang sedang di kerjakan oleh Mimu. Awalnya Tama mengatakan jika ingin melihat bagaimana caranya, tapi sampai Mimu sudah hampir selesai dia masih merasa pekerjaan itu sangat tidak cocok untuknya dan jadi ogah melakukan pekerjaan aneh itu.
" Maaf, Mimu. Kau saja yang mencangkul ya? Sepertinya aku tidak cocok mencangkul. "
Mimu terperangah tak percaya dengan apa yang dikatakan Tama.
" Tama, kalau kau malas-malasan seperti itu, bagaimana kita bisa sukses? Memang kau tidak mau memiliki banyak uang? Dengan uang kan kita bisa membeli mobil dan membuat orang yang suka menghina dan merendahkan jadi menunduk saat melihat kita! "
Tama membuang nafas kasarnya.
" Aku yakin aku juga lebih suka menunduk saat melihat orang menggunakan mobil. "
Mimu menggigit bibir bawahnya menahan kesal, rasanya ingin sekali mencangkul kepala Tama tapi takut di penjara.
" Kau ini bodoh ya?! Kenapa juga kau harus merasa malu?! "
" Aku tidak merasa malu, hanya saja aku seperti sering menggunakan helikopter, jadi hanya bisa melihat ke bawah jika ingin melihat kendaraan seperti mobil dan motor atau sejenisnya kan? "
Duh! Mimu benar-benar tidak habis pikir dengan omong kosong yang dikatakan Tama. Helikopter apanya?! Orang yang tidak bisa melakukan apapun seperti Tama apa mungkin bisa naik helikopter? Ah, jangan-jangan Tama itu bukan hilang ingatan, tapi dia gila! Batin Mimu kesal.
" Cepat kemari, Tama. Kau harus belajar mengerjakan pekerjaan ini! Aku ini istrimu, masa iya pantas istri mencangkul lalu suaminya menonton saja? "
Tama bangkit dari posisinya dengan wajah yang ekstra tidak rela.
" Pegang ini! "
Mimu menyerahkan cangkul itu kepada Tama, mau tak mau juga Tama hanya bisa menerimanya dan mencoba menggunakan alat itu siapa tahu memang benar dia sebenarnya bisa melakukanya.
" Aduh! Posisimu jangan seperti itu, nanti yah kau cangkul bukanya tanah, tapi malah kakimu. "
Mimu membantu Tama memposisikan punggungnya, renggang kakinya dan cara memegang cangkul yang benar.
" Jangan sembarangan mengerakkan cangkul ya? Ingat di bawah sana ada kakimu. "
Tama menakan salivanya, jelas lah dia ngeri karena takut benda itu mengenai kakinya.
" Apa tidak ada sepatu yang bisa digunakan untuk melindungi kaki? " Tanya Tama.
" Tidak ada, sedari kecil aku sudah menggunakan cangkul, hingga sekarang aku dewasa kakiku masih baik-baik saja kok. " Ujar Mimu meyakinkan.
Tama tak lagi ingin bertanya, dia pelan-pelan menggerakkan cangkul karena takut kakinya akan terluka, beberapa kali seperti itu hingga tanah yang di cangkul oleh Tama sama sekali tidak bergerak.
" Sudahlah Tama, biarkan aku- Ah! "
Mimu berpegangan kepada tubuh Tama saat akan merebut cangkul dari tangan Tama tadi dia tidak sengaja terpeleset dan hampir saja terjatuh. Pandangan mereka bertemu untuk beberapa saat dengan begitu intens.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Naviah
semangat thor
sepertinya Tama orang kaya
2022-12-18
1
rosediana
lanjut
2022-10-23
0
Eli Sunarya
tama seperti nya kamu orang kaya deh.... tuan muda tuan muda gtu.
2022-10-21
2