BAB 10 : Tidak Bisa Menerima

Tama terus menunjukan betapa tidak sukanya dia harus membawakan barang belanjaan Mimu. Entah mengapa dia sama sekali membenci apa yang dia lakukan, padahal dia adalah suaminya Mimu tapi ini terlalu sulit untuk diterima hingga sulit sekali menyembunyikan wajah dingin.

Mimu, gadis itu benar-benar melenggang sendirian sembari bernyanyi kecil entah nyanyian apa membuat Tama jadi tambah kesal karena tidak mengerti sama sekali nyanyian gila apa yang sedari tadi di nyanyikan oleh Mimu. Apalagi jalanan yang yang tidak rata benar-benar semakin membuat kekesalannya naik tak tertahankan.

" Berhentilah menyanyikan lagu aneh itu, bahasa apa yang sebenarnya kau gunakan? Kenapa kau membuat telingaku sakit? "

Mimu mengentikan langkah kakinya, dia berbalik menatap Tama dengan tatapan kesal.

" Aku sedang menyanyikan lagu, still loping mi! Masa kau tidak tahu?! "

Tama mengeryit bingung, sebentar dia terdiam karena memang bingung dengan apa yang dikatakan Mimu.

" Apa maksudmu, still loving me? "

Mimu membuang nafas sebalnya.

" Iya! Itu kau tahu! "

" Aku tidak tahu lagu apa itu, hanya saja pengucapanmu yang aneh tidak seperti bahasa Inggris. "

Mimu menjebik kesal.

" Memang kau pandai menggunakan bahasa Inggris? "

Tama terdiam, benar saja dia tidak tahu apa dia bisa atau tidak. Tadi dia seperti reflek tak menyadari jika dia bisa menggunakan beberapa kata bahasa asing. Kalau ditanya apakah dia pandai menggunakan bahasa asing atau tidak, tentu jawabannya adalah, dia tidak tahu karena dia tidak ingat apapun.

" Cih! Bingung kan? Makanya jangan mengejek, aku ini sudah mengatakan kalimat bahasa asing dengan aksen yang baik loh. "

Tama tak lagi menanggapi apa yang dikatakan oleh Mimu karena dia juga meragukan tentang dirinya sendiri.

Begitu sampai di rumah, dengan segera Mimu mengambil semua belanjaan dari tangan Tama, membawanya ke dapur untuk dia letakkan di tempatnya dan memasak untuk makan mereka berdua, dan Ayahnya yang tidak lama lagi juga pasti akan pulang ke rumah. Untuk sayuran Mimu tentu hanya tinggal memetiknya dari halaman rumahnya. Setelah selesai memasak, Mimu dengan segera membersihkan dirinya dulu. Dia mencoba menggunakan perlengkapan untuk mandi dan juga perawatan tubuh yang tadi ia gunakan.

Beberapa saat kemudian.

Mimu tersenyum senang, ternyata jika tubuh bersih dari ujung kepala sampai ujung kaki di tambah dengan wewangian benar-benar membuat otak menjadi ikut segar pula rasanya. Entah kenapa dia begitu bodoh dulu karena mengabaikan waktu untuk merawat diri padahal rasanya menyenangkan seperti ini.

Mimu segera bangkit dari posisinya karena sampai lupa kalau harus makan, padahal beberapa saat lalu dia begitu kelaparan. Begitu keluar dari kamar dia tersentak melihat Tama sudah selesai makan, bahkan sayur sudah mau habis, dan untungnya masih ada dua ikan goreng yang bisa untuk dia dan Ayahnya nanti.

" Kau makan semua tadi? "

Tama mengangguk sembari menyeka mulutnya.

Mimu tak lagi bisa bicara, ya sudahlah mau di apakah lagi? Makanan sudah masuk dalam perut, cuma bisa bilang untung karena sayur ada sisa sedikit dan ikan juga masih ada dua ekor pas untuk dia dan Ayahnya sekali makan saja.

" Tidak heran badanmu bisa tinggi selain dan bidang, rupanya makanmu banyak sekali ya? "

Tama tak menjawab karena dia sendiri juga tidak tahu. Tadi dia hanya ingin sedikit saja makan, tapi perutnya tidak juga merasa kenyang jadilah dia menghabiskan banyak makanan yang baru saja di masak oleh Mimu.

" Baiklah, nanti setelah aku makan kita cangkul halaman samping rumah ya? Kita harus cabut sayuran lama yang sudah mulai keting, nanti kita tanam yang baru lagi. "

Tama menggaruk tengkuknya, aneh sekali dia seperti sangat asing dengan benda yang di sebut Mimu dengan sebutan cangkul, juga menanam. Jelas itu adalah pekerjaan biasa bagi warga desa, tapi kenapa Tama merasa pekerjaan itu tidak cocok untuknya? Rasanya ingin menolak, tapi bukankah dia bisa di sebut tidak tahu diri kalau begitu?

Beberapa saat kemudian.

" Tama, jadi sampai kapan kau hanya akan melihatku mencangkul? " Protes Mimu yang kesal karena melihat Tama hanya berdiam diri melihatnya tanpa keinginan untuk mengerjakan apa yang sedang di kerjakan oleh Mimu. Awalnya Tama mengatakan jika ingin melihat bagaimana caranya, tapi sampai Mimu sudah hampir selesai dia masih merasa pekerjaan itu sangat tidak cocok untuknya dan jadi ogah melakukan pekerjaan aneh itu.

" Maaf, Mimu. Kau saja yang mencangkul ya? Sepertinya aku tidak cocok mencangkul. "

Mimu terperangah tak percaya dengan apa yang dikatakan Tama.

" Tama, kalau kau malas-malasan seperti itu, bagaimana kita bisa sukses? Memang kau tidak mau memiliki banyak uang? Dengan uang kan kita bisa membeli mobil dan membuat orang yang suka menghina dan merendahkan jadi menunduk saat melihat kita! "

Tama membuang nafas kasarnya.

" Aku yakin aku juga lebih suka menunduk saat melihat orang menggunakan mobil. "

Mimu menggigit bibir bawahnya menahan kesal, rasanya ingin sekali mencangkul kepala Tama tapi takut di penjara.

" Kau ini bodoh ya?! Kenapa juga kau harus merasa malu?! "

" Aku tidak merasa malu, hanya saja aku seperti sering menggunakan helikopter, jadi hanya bisa melihat ke bawah jika ingin melihat kendaraan seperti mobil dan motor atau sejenisnya kan? "

Duh! Mimu benar-benar tidak habis pikir dengan omong kosong yang dikatakan Tama. Helikopter apanya?! Orang yang tidak bisa melakukan apapun seperti Tama apa mungkin bisa naik helikopter? Ah, jangan-jangan Tama itu bukan hilang ingatan, tapi dia gila! Batin Mimu kesal.

" Cepat kemari, Tama. Kau harus belajar mengerjakan pekerjaan ini! Aku ini istrimu, masa iya pantas istri mencangkul lalu suaminya menonton saja? "

Tama bangkit dari posisinya dengan wajah yang ekstra tidak rela.

" Pegang ini! "

Mimu menyerahkan cangkul itu kepada Tama, mau tak mau juga Tama hanya bisa menerimanya dan mencoba menggunakan alat itu siapa tahu memang benar dia sebenarnya bisa melakukanya.

" Aduh! Posisimu jangan seperti itu, nanti yah kau cangkul bukanya tanah, tapi malah kakimu. "

Mimu membantu Tama memposisikan punggungnya, renggang kakinya dan cara memegang cangkul yang benar.

" Jangan sembarangan mengerakkan cangkul ya? Ingat di bawah sana ada kakimu. "

Tama menakan salivanya, jelas lah dia ngeri karena takut benda itu mengenai kakinya.

" Apa tidak ada sepatu yang bisa digunakan untuk melindungi kaki? " Tanya Tama.

" Tidak ada, sedari kecil aku sudah menggunakan cangkul, hingga sekarang aku dewasa kakiku masih baik-baik saja kok. " Ujar Mimu meyakinkan.

Tama tak lagi ingin bertanya, dia pelan-pelan menggerakkan cangkul karena takut kakinya akan terluka, beberapa kali seperti itu hingga tanah yang di cangkul oleh Tama sama sekali tidak bergerak.

" Sudahlah Tama, biarkan aku- Ah! "

Mimu berpegangan kepada tubuh Tama saat akan merebut cangkul dari tangan Tama tadi dia tidak sengaja terpeleset dan hampir saja terjatuh. Pandangan mereka bertemu untuk beberapa saat dengan begitu intens.

Bersambung.

Terpopuler

Comments

Naviah

Naviah

semangat thor
sepertinya Tama orang kaya

2022-12-18

1

rosediana

rosediana

lanjut

2022-10-23

0

Eli Sunarya

Eli Sunarya

tama seperti nya kamu orang kaya deh.... tuan muda tuan muda gtu.

2022-10-21

2

lihat semua
Episodes
1 BAB 1 : Harus Bagaimana?
2 BAB 2 : Pria Menggoda
3 BAB 3 : Pria baruku!
4 BAB 4 : Pria Rendah Selera
5 BAB 5 : Calon Suami!
6 BAB 6 : Menikahlah Denganku!
7 BAB 7 : Menikahi Pria Super Tampan
8 BAB 8 : Jangan Berdengung!
9 BAB 9 : Suamiku Paling Tampan!
10 BAB 10 : Tidak Bisa Menerima
11 BAB 11 : Suamiku Sibuk Dan Kaya!
12 BAB 12 : Kami Juga Suami Istri Sungguhan!
13 BAB 13 : Gugup Dan Malu
14 BAB 14 : Istri Sungguhan
15 BAB 15 : Suami Bodoh Atau terbaik
16 BAB 16 : Itu Karena Aku Malu
17 BAB 17 : Jangan Menipu Istriku!
18 BAB 18 : Cemburu
19 BAB 19 : Secuil Informasi
20 BAB 20 : Kecurigaan Untuk Tama
21 BAB 21 : Membujuk Tama
22 BAB 22 : Tama Atau Gorge
23 BAB 23 : Kehilangan Tama
24 BAB 24 : Lahir Dari Pria Bajingan
25 BAB 25 : Orang Yang Ingin Dilindungi
26 BAB 26 : Berita Mengejutkan
27 BAB 27 : Ayah Yang Juga Patah Hati
28 BAB 28 : Jenni Yang Bodoh
29 BAB 29 : Mimu Yang Sedang Sakit
30 BAB 30 : Hamil!
31 BAB 31 : Rencana Dadakan
32 BAB 32 : Sebuah Kejanggalan
33 BAB 33 : Kesabaran Di butuhkan
34 BAB 34 : Siapa Sebenarnya Jenni?
35 BAB 35 : Mereka Siapa?
36 BAB 36 : Anak Haram!
37 BAB 37 : Tinggal Di Tengah Hutan
38 BAB 38 : Siapa Mimu Sebenarnya?
39 BAB 39 : Biarkan Semua Berjalan Sewajarnya
40 BAB 40 : Pertengkaran Sengit
41 BAB 41 : Rumah Baru
42 BAB 42 : Rumah Baru, Dan Tamu
43 BAB 43 : Kepercayaan
44 BAB 44 : Sumber Stres
45 BAB 45 : Menyerahkan Kekayaan!
46 BAB 46 : Anak Perempuan
47 BAB 47 : Sepasang Sendal jepit
48 BAB 48 : Kedatangan Ibu Mertua
49 BAB 49 : Masa Senggang
50 BAB 50 : Pergi Dan Datang
51 BAB 51: Pahlawan Lorn
52 BAB 52 : Putri Yang Tampan
53 BAB 53 : Ujian Akan Datang
54 BAB 54 : Morette Cyrene Ghasond
55 BAB 55 : Bertemu Cyrene
56 BAB 56 : Terlambat Menyerah
57 BAB 57 : Belajar Etiket
58 BAB 58 : Gadis Desa
59 BAB 59 : Perubahan Besar Terjadi
60 BAB 60 : Mari Kita Mulai Bergerak!
61 BAB 61 : Undangan Mewah
62 BAB 62 : Pesta Teh
63 BAB 63 : Serangan Balik!
64 BAB 64 : Bahagia Karena Cyrene
65 BAB 65 : Pertengkaran
66 BAB 66 : Janji
67 BAB 67 : Perasaan Takut
68 BAB 68 : Pesta Lagi!
69 BAB 69 : Kekhawatiran Di Luar Dugaan
70 BAB 70 : Ragu-Ragu Bertindak
71 BAB 71 : Menangis Dalam Diam
72 BAB 72 : Antara Iya Dan Tidak
73 BAB 73 : Perdebatan Panjang
74 BAB 74 : Penyesalan Seorang Ibu
75 BAB 75 : Peringatan Terakhir
76 BAB 76 : Rencana Sadis
77 BAB 77 : Menjadi Ibu
78 BAB 78 : Menjadi Ibu Yang Baik
79 BAB 79 : Bawa, Dan Lindungi Dia!
80 BAB 80 : Memohon Sebuah Kebebasan
81 BAB 81 : Kedatangan Mimu
82 BAB 82 : Pengakuan
83 BAB 83 : Final Episode
84 Promosi Novel Baru, seru banget! kepoin yuk!!
Episodes

Updated 84 Episodes

1
BAB 1 : Harus Bagaimana?
2
BAB 2 : Pria Menggoda
3
BAB 3 : Pria baruku!
4
BAB 4 : Pria Rendah Selera
5
BAB 5 : Calon Suami!
6
BAB 6 : Menikahlah Denganku!
7
BAB 7 : Menikahi Pria Super Tampan
8
BAB 8 : Jangan Berdengung!
9
BAB 9 : Suamiku Paling Tampan!
10
BAB 10 : Tidak Bisa Menerima
11
BAB 11 : Suamiku Sibuk Dan Kaya!
12
BAB 12 : Kami Juga Suami Istri Sungguhan!
13
BAB 13 : Gugup Dan Malu
14
BAB 14 : Istri Sungguhan
15
BAB 15 : Suami Bodoh Atau terbaik
16
BAB 16 : Itu Karena Aku Malu
17
BAB 17 : Jangan Menipu Istriku!
18
BAB 18 : Cemburu
19
BAB 19 : Secuil Informasi
20
BAB 20 : Kecurigaan Untuk Tama
21
BAB 21 : Membujuk Tama
22
BAB 22 : Tama Atau Gorge
23
BAB 23 : Kehilangan Tama
24
BAB 24 : Lahir Dari Pria Bajingan
25
BAB 25 : Orang Yang Ingin Dilindungi
26
BAB 26 : Berita Mengejutkan
27
BAB 27 : Ayah Yang Juga Patah Hati
28
BAB 28 : Jenni Yang Bodoh
29
BAB 29 : Mimu Yang Sedang Sakit
30
BAB 30 : Hamil!
31
BAB 31 : Rencana Dadakan
32
BAB 32 : Sebuah Kejanggalan
33
BAB 33 : Kesabaran Di butuhkan
34
BAB 34 : Siapa Sebenarnya Jenni?
35
BAB 35 : Mereka Siapa?
36
BAB 36 : Anak Haram!
37
BAB 37 : Tinggal Di Tengah Hutan
38
BAB 38 : Siapa Mimu Sebenarnya?
39
BAB 39 : Biarkan Semua Berjalan Sewajarnya
40
BAB 40 : Pertengkaran Sengit
41
BAB 41 : Rumah Baru
42
BAB 42 : Rumah Baru, Dan Tamu
43
BAB 43 : Kepercayaan
44
BAB 44 : Sumber Stres
45
BAB 45 : Menyerahkan Kekayaan!
46
BAB 46 : Anak Perempuan
47
BAB 47 : Sepasang Sendal jepit
48
BAB 48 : Kedatangan Ibu Mertua
49
BAB 49 : Masa Senggang
50
BAB 50 : Pergi Dan Datang
51
BAB 51: Pahlawan Lorn
52
BAB 52 : Putri Yang Tampan
53
BAB 53 : Ujian Akan Datang
54
BAB 54 : Morette Cyrene Ghasond
55
BAB 55 : Bertemu Cyrene
56
BAB 56 : Terlambat Menyerah
57
BAB 57 : Belajar Etiket
58
BAB 58 : Gadis Desa
59
BAB 59 : Perubahan Besar Terjadi
60
BAB 60 : Mari Kita Mulai Bergerak!
61
BAB 61 : Undangan Mewah
62
BAB 62 : Pesta Teh
63
BAB 63 : Serangan Balik!
64
BAB 64 : Bahagia Karena Cyrene
65
BAB 65 : Pertengkaran
66
BAB 66 : Janji
67
BAB 67 : Perasaan Takut
68
BAB 68 : Pesta Lagi!
69
BAB 69 : Kekhawatiran Di Luar Dugaan
70
BAB 70 : Ragu-Ragu Bertindak
71
BAB 71 : Menangis Dalam Diam
72
BAB 72 : Antara Iya Dan Tidak
73
BAB 73 : Perdebatan Panjang
74
BAB 74 : Penyesalan Seorang Ibu
75
BAB 75 : Peringatan Terakhir
76
BAB 76 : Rencana Sadis
77
BAB 77 : Menjadi Ibu
78
BAB 78 : Menjadi Ibu Yang Baik
79
BAB 79 : Bawa, Dan Lindungi Dia!
80
BAB 80 : Memohon Sebuah Kebebasan
81
BAB 81 : Kedatangan Mimu
82
BAB 82 : Pengakuan
83
BAB 83 : Final Episode
84
Promosi Novel Baru, seru banget! kepoin yuk!!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!