Tama membuka matanya perlahan saat sinar matahari masuk dari celah anyaman bambu yah di gunakan untuk menjadi pengganti dinding rumah. Perlahan dia ingin bangkit karena merasakan sebelah tubuhnya yang begitu berat, baru saja menoleh untuk melihat apa yang menindihnya, dan betapa terkejutnya Tama karena ternyata dia adalah Mimu. Yah, dia baru ingat kalau ternyata mereka memang sudah menikah.
Tama tersentak sekarang, dia melupakan sesuatu yang sangat penting! Ternyata dia sudah tidur begitu nyenyak hingga sengatan dari sinar matahari begitu terasa baru membangunkannya. Jelas ini sudah lebih dari jam delapan kan? Bagaimana bisa? Padahal yang ia rasakan selama ini adalah kesulitan tidur, bahkan kalau sudah pukul tiga subuh dia tidak akan bisa tidur lagi.
Tama menatap wajah Mimu yang begitu nyenyak tidur sembari memeluk tubuhnya. Aneh, bagaimana bisa dia begitu nyenyak saat tidur bersama Mimu? Padahal Mimu bukan wanita yang begitu dekat dengannya meski sekarang Mimu adalah istrinya. Perlahan Tama bangkit dan mencoba juga untuk menjauhkan tubuhnya dari Mimu.
" Em! " Mimu juga ikut terbangun karena gerakan tubuh Tama barusan.
" Ya ampun! Ini sudah siang ya? " Tanya Mimu kebingungan sendiri. Di jam segini biasanya dia sudah bangun dan membantu Ayahnya, ah! Ini pasti Ayahnya juga sudah berangkat ke pasar untuk menjual tanaman herbal kan?
Mimu segera bangkit dari posisinya, dia bergegas berjalan keluar untuk melihat apakah Ayahnya sudah berangkat apa belum. Yah, matahari saja sudah begitu menyengat, jadi benar saja kalau Ayahnya pasti sudah berangkat ke pasar. Mimu menghela nafas sebalnya, ini apakah nanti saat Ayahnya pulang dari pasar akan mengoceh seperti biasanya?
" Duh, gara-gara si Tama yang terus memegangi tanganku dan memelukku kuat semalaman sampai aku tidak bisa tidur, aku mana mungkin akan bangun siang seperti sekarang? " Gerutu Mimu sembari berjalan me uji dapur untuk minum air.
Tama yang keluar dari kamar jelas bisa mendengar apa yang di katakan Mimu tadi. Dia jadi berpikir, apakah benar dia tidur nyenyak karena memeluk Mimu? Jika saja wanita atau orang lain yang berada di ranjang yang sama dengannya apakah mungkin dia bisa tidur dengan nyenyak juga? Apakah sebenarnya dia hanya merasa takut tidur sendirian selama ini hingga ketakutan saja? Entahlah, sekarang ini dia benar-benar tida tahu harus percaya dengan dugaan yang mana, intinya benar-benar dia harus memastikan alasannya dengan benar dan tidak terburu-buru.
" Kau mau kemana? " Tanya Tama begitu melihat Mimu keluar dari dapur dan langsung mengambil tas polos yang terbuat dari kain.
" Menyusul Ayah ke pasar, sekalian aku ma beli bahan makanan. Di rumah cuma ada sayuran di pekarangan rumah, tapi untuk garam, gula kan tidak ada. Ah, yang paling penting adalah micin, aku tidak bisa makan makanan yang tidak ada micinnya! "
Tama mengeryit bingung.
" Kenapa aku merasa micin itu seperti sesuatu yang tidak sehat ya? "
Mimu menghela nafasnya.
" Micin tidak sehat, tapi tetap dijual jadi itu artinya micin layak untuk dikonsumsi. "
'' Oh. "
Mimu menaikkan sisi bibirnya karena sebal dengan kata oh dari mulut Tama.
" Kau mau ikut atau tinggal disini saja? "
Tama nampak sebentar berpikir.
" Ikut. "
Beberapa saat kemudian, Tama dan juga Mimu tengah berjalan kaki menuju pasar.
" Aduh! Tunggu! Kau ini jalannya cepat sekali! Kau kan lelah juga mengarahkan jalan dari belakang! "
Tama menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
" Jalanmu terlalu pelan. " Ucap Tama yang sontak membuat Mimu terperangah kesal.
" Bukan jalanku yang pelan, tapi kaki panjangmu yang mirip jerapah itu melangkah terlaku lebar! "
Tama membuang nafasnya karena tidak bisa berkata-kata lagi.
" Wah, Mimu baru saja menikah kok sudah bertengkar? "
Mimu menoleh ke arah sumber suara, yah sebelum menoleh sih sepertinya dia sudah bisa menebak suara siapa itu.
Sepasang makhluk menyebalkan yang turun dari neraka jahanam, siapa lagi kalau bukan Nita dan Osan? Mereka bertingkah sok mesra dengan saling bergandengan tangan dan memancarkan kebahagiaan antara satu dengan yang lainnya.
" Wah kalian baru saja menikah sedang pamer kemesraan ya? " Sindir Mimu tapi dia tersenyum lebar untuk menutupinya.
Nita tersenyum manis, dia menampilkan wajah malu-malu membuat Mimu bergidik ngeri sampai ingin memukul wajah Nita hingga muncrat bubar kemana-mana susunan kepalanya beserta isinya juga. Tapi yah sayang sekali, membunuh orang kan bisa dipenjara. Mana mungkin dia mau di penjara? Jadi biarlah saja dia bertingkah semaunya.
" Iya dong, kami ini pengantin baru dan masih hangat-hangatnya. Tidak seperti kalian yang mirip anjing dan kucing. Oh, atau jangan-jangan suamimu itu menyesal deh setelah menikah denganmu. " Osan terkekeh setelah selesai mengatakan itu, Nita juga tak tahan untuk tidak tersenyum membuat Mimu menaikkan sisi bibirnya dengan tatapan kesal.
" Hangat-hangatnya apaan? Kalian bahkan sudah kikuk kikuk sebelum menikah. Kalian pasti sudah bosan lah, iya kan? Aduh duh! Kasihan sekali sudah di cicip dulu sebelum dinikahi. Kalau aku sih jelas masih gress, baru semalam saja segelnya di buka, aku bertengkar dengan suamiku karena suamiku tidak mau berhenti dan maunya melakukan itu terus. Yah maklum lah, rasa perawan dan perawan kutukan jelas beda, iya kan? Untungnya saja aku mengajak dia kepasar, kalau tidak aku sih tidak yakin besok masih bisa jalan. "
Nita terlihat kesal, begitu juga dengan Osan yang sebal di saat Mimu bisa membuatnya kalah telak. Tapi tunggu dulu, Nita yang merasa terhina tentu saja tidak akan mengalah begitu saja.
" Tama, aku benar-benar senang sekali loh akhirnya ada pria yang mau menikahi Mimu. Kau pasti tahu kan kalau Mimu sama sekali tidak perduli dengan penampilan? Dia itu jarang sekali mandi, apalagi mencuci rambut, aku bahkan dulu sering menahan nafas saya dekat dengan Mimu. Semoga kau bisa tahan dengan Mimu yang seperti itu ya? Oh iya, maklumi saja jika Mimu bertingkah seperti pria, dia itu memang ahli taekwondo, tidak seperti gadis lain yang terlihat anggun. "
Mimu mengepalkan kedua tangannya kuat menahan marah. Memang iya sih dia jarang mandi, apalagi keramas, tapi waktu itu dia sering bertanya kepada Nita apakah badannya bau? Apakah ada bagian tubuhnya yang bau? Jarang mandi tentulah bukan karena Mimu malas untuk mandi, itu semua karena banyaknya lomba menjelang tahun baru kemarin, di tambah dia juga harus berkebun dan membantu Ayahnya mengemas obat herbal, dia sering melewatkan mandi karena dia benar-benar sibuk kala itu.
" Sudah selesai? " Tanya Tama dengan tatapan dingin membuat Osan dan Nita menakan salivanya dengan tatapan gugup.
" Kalian berdua ini sedari tadi bicara apa? Aku tidak mengerti bahasa lalat jadi lebih baik minggir saja dan jangan terus berdengung, membuat telinga sakit saja. "
Osan dan Nita terperangah keharanan, baru kali ini ada orang yang bisa berbicara dengan begitu tidak sopan terhadap mereka.
Mimu, gadis itu tersenyum manis dan bahagia karena ternyata Tama benar-benar sangat berguna.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Naviah
semangat thor
Tama dan Mimu bikin ngakak🤣🤣🤣
2022-12-18
1
Della Eriana
lanjut t
2022-10-18
2
Desy Noviana
dahh cocok botol ketemu tutup mimu sama tama
2022-10-18
2