Mimu membuang nafas sebalnya setelah mendengar kalimat yang sangat tidak enak di dengar keluar dari mulut keluarganya Nita. Osan, pria itu juga sepertinya sangat suka mencari gara-gara dengan Mimu entah apa saja bahannya dia selalu menemukan cela untuk merendahkan Mimu. Kali ini bukan Mimu sendiri yang menjadi bahan gunjingan, mainkan Tama.
" Untuk apa tampan dan badannya gagah, tapi cuma hidup numpang, yang mencari uang juga istrinya. Wanita jaman sekarang ini harus cerdas dan pintar-pintar memilih suami, karena kalau cuma menang tampan saja ya tidak akan membuat perut kenyang, malah yang ada membuat sakit kepala, sakit hati, jadi mati lebih cepat dari jadwalnya. "
Osan tersenyum miring, benar-benar puas sekali karena unek-unek yang selama ini dia pendam ada yang mewakili untuk menyampaikan secara gamblang. Iya, orang itu adalah masih keluarga dengan Nita, alias tamu yang di undang keluarga Nita untuk acara syukuran pernikahan mereka beberapa hari yang lalu.
" Yah, setidaknya kalaupun lelah mencari uang untuk hidup dan makan bersama, asalkan melihat wajah tanpa suamiku tentu saja tidak akan merasa terbebani sama sekali. " Ujar Mimu yang tidak terima Tama menjadi bahan gunjingan. Sebenarnya dia tidak masalah sih kalau dia sendiri yang di hina karena memang sudah biasa juga dia dengar. Padahal sih kalau di pikir-pikir Mimu adalah gadis yang membawa nama harum bagi desanya karena sudah memenangkan perlombaan taekwondo, dan sudah dua kali juga dia mendapatkan kemenangan. Tapi yah, apapun prestasi yang dia dapatkan nyatanya masih tidak mampu membuat orang lain berhenti untuk membicarakannya.
" Pemikiranmu itu terlalu bodoh, Mimu. Mana ada orang yang hanya akan bahagia karena rupa? kau itu seharusnya mencari suami yang memiliki uang supaya tidak perlu Merasa takut kelaparan nantinya. "
" Yah, bibi juga pasti tidak percaya, tapi dari beberapa kali kami bertemu dengan Tama, baju yang di pakai Tama juga hanya itu-itu saja padahal mengaku kaya dan sibuk, tapi apa? Malah cuma jadi pengantar kue saja. " Osan tersenyum puas, akhirnya bisa menghina Mimu sekaligus Tama setelah beberapa waktu ini selalu di puji-puji oleh penduduk desa.
Mimu menunduk sedih, yah memang benar apa yang di katakan Osan, karena baju yang di pakai oleh Tama adalah baju baru Ayahnya, jelas lah tidak banyak, hanya tiga lembar saja dan rajin di cuci agar Tama tidak sampai kehabisan baju, alias cuci kering pakai.
" Aku memang jarang berganti-ganti baju, tapi aku tidak masalah karena walaupun memakai baju rombeng sekalipun aku tetap terlihat jauh lebih baik dari pada kalian semua. " semua orang benar-benar di buat terperangah oleh ucapan Tama yang begitu percaya diri, dan sialnya mereka sama sekali tidak bisa membantah ucapan itu karena apa yang dikatakan Tama memang benar adanya. Dengan wajah seperti Tama, tentu saja bila Tama berguling ke lumpur sampai kotor parah dia akan tetap bersinar dan paling tampan.
Mimu tersenyum setelah bernafas dengan lega, yah setidaknya Tama bisa melindungi dirinya sendiri dan tidak terpengaruh oleh ucapan orang lain yang hanya akan membuat rendah diri dan menjadi tidak percaya diri melakukan apapun.
" Kalian harus dengar ini baik-baik ya? Aku sengaja tidak memberikan pakaian yang bagus karena pesona Tama itu terlalu memancar, nanti kalau banyak wanita yang menggoda tentu saja itu akan mengganggu rumah tangga kami berdua. Tama juga adalah orang kaya yang sangat rendah hati tidak seperti kalian semua. "
" Aku bukan rendah hati, tapi aku memang mengatakan apa yang sebenarnya saja. " Sanggah Tama karena memang begitu adanya.
" Cih! Kaya kalau hanya mengakunya saja ya untuk apa? " Osan melirik sinis, entah mengapa dia merasa kalau Tama sebenarnya tidak kaya seperti apa yang di katakan oleh Mimu.
Tama membalas senyum sinis itu dengan tatapan dingin, entah mengapa dia merasa begitu percaya diri dan yakin benar dengan apa yang akan dia katakan nanti.
" Jangan terus banyak bicara, kau ini adalah laki-laki tapi hobi sekali bergosip dan merendahkan istriku. Jangan berlebihan dalam berbicara, nanti aku akan membeli semua perkebunan cengkeh yang kalian banggakan sebagai ladang uang kalian, sekaligus sebagai bukti, bagaimana? " Kali ini Mimu benar-benar tidak tahu apakah kiamat akan datang sebentar lagi ataukah kepalanya akan pecah memikirkan bagaimana menangani omong kosong Tama yang tidak masuk akal itu. Mimu dan yang lainnya hanya bisa terperanglah tak percaya dan kebingungan, bagaimana mereka akan merespon ucapan Tama barusan? Sebenarnya, mereka ingin sekali mengatakan dan mengelak ucapan Tama barusan dengan maksud menjelaskan bahwa itu tidak mungkin terjadi, tapi cara Tama berucap tadi dia benar-benar terlihat sangat serius.
" Ta Tama, mau mau membunuhku atau bagaimana sih?! Membeli perkebunan cengkeh mereka kau ini sedang berkhayal atau bagaimana? Kau tidak tahu betapa luasnya perkebunan cengkeh mereka ya? Butuh seumur hidup kita untuk membeli seperempatnya saja. " Bisik Mimu yang sudah tidak tahan lagi dengan omong kosong Tama. Jelas dia harus segera menghentikan itu sebelum Tama semakin menjadi nantinya.
" Kita pulang saja! " Mimu menarik lengan Tama dan mengajaknya untuk pergi dari sana. Sementara Osan dan lainnya mulai kembali bergosip. Nita yang berada di sana sedari tadi hanya bisa terdiam karena dia merasa yakin Tama bisa melakukan apa yang tadi doa ucapkan. Entah sebenarnya dari kota mana Tama berasal, kalau di lihat postur tubuh, wajah, dan cara bicara Tama sepertinya Tama bukan orang sembarangan.
Selama perjalanan pulang, Mimu tak henti-hentinya mengomeli Tama agar suatu hari nanti tidak perlu mengatakan omong kosong seperti tadi, dan jangan menjawab saja kalau ada yang mengatai dan menghinanya.
" Sebenarnya aku berniat mengajakmu untuk pergi ke pasar dan membeli baju untukmu dari keuntungan pesanan kue tadi, tapi kau malah membuatku kesal aku jadi sudah malas untuk berjalan kaki ke pasar. " Ucap Mimu masihlah dia terlihat kesal meski sudah banyak mengoceh sedari tadi.
" Kenapa aku harus diam saja melihat istriku di hina terus menerus? "
Mimu sontak mengentikan langkahnya, di mematung karena tersentak dengan apa yang di katakan Tama barusan. Istri? Jadi Tama benar-benar menganggapnya istri sungguhan?
" Wa walaupun begitu, kau tidak usah membelaku sampai mengatakan omong kosong seperti tadi. " Mimu melanjutkan langkah kakinya meninggalkan Tama yang terdiam karena bingung sendiri. Maksudnya mulai sekarang dia hanya boleh diam saja dan mendengar kalau Mimu di hina orang begitu?
" Tapi, terimakasih karena sudah membelaku dan menganggapku sebagai istri. "
Tama tersenyum menatap punggung Mimu yang terus menjauh.
" Aneh sekali, tapi aku tidak merasa keberatan dan terganggu. " Gumam Tama lalu melangkahkan kakinya menyusul Mimu.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Naviah
semangat thor
wah Osan dan keluarga nya Nita lemes amat tuh mulut😌
2022-12-19
0
dj u n i
sepi kali lah komen ama like nya ...lanjut lah
2022-10-30
1
Risa Klara
Semangat thorr buat up date y
2022-10-29
1