Mimu merengut sebal sembari menggosok telinganya yang terasa panas, benar-benar tidak sesuai harapan karena tiba-tiba saja Ayahnya datang dan mengacaukan rencananya. Tidak tahu sih dari mana datangnya keinginan seperti itu, yah mungkin saja karena dia melihat secara langsung kemoceng gelap berbulu milik Osan tempo hari sehingga dia terus penasaran dengan benda itu. Duh, bagaimanapun dia kan juga sudah dewasa jadi wajar saja kalau dia penasaran akan hal semacam itu.
" Cih! Kalau dipikir-pikir, apa mereka berdua sudah sering melakukannya ya? " Gumam Mimu membayangkan betapa bodohnya dia selama ini karena tertipu oleh teman baiknya, juga kekasihnya yang adalah pria paling tampan anak si pak kepala desa. Mau merasa rugi, tapi pria yang menjadi tersangka nyatanya adalah pria brengsek macam sampah menyebalkan.
" Kau mau kemana? " Tanya Mimu yang melihat pria tak di kenal tinggal di rumahnya melintas membawa keranjang kecil berisi obat herbal racikan Ayahnya yang selalu dia gunakan untuk mengobati lukanya.
" Ingin ke belakang mengobati luka di bagia dadaku. "
Mimu mengeryit heran.
" Kenapa harus kebelakang? "
" Karena Paman bilang aku tidak boleh sembarangan membuka baju di sini, terlebih di hadapan mu. "
Ih! Kesal sekali dia, kenapa juga sih Ayahnya harus melarang pria itu untuk membuka baju di hadapannya? padahal kalau pria itu membuka baju dan memperlihatkan tubuh uhuy nya kan lumayan juga untuk membuatnya senang.
" Jangan dengarkan ucapan Ayahku! Biarkan aku membantumu ya? "
Tak menunggu tanggapan dari pria itu, Mimu langsung saja membawa pria itu untuk duduk, lalu memaksanya untuk membuka baju tidak perduli pria itu terus menolak dan memasang wajah keberatan.
Ah, ini benar-benar menyenangkan sekali! Sudah ah, dari pada terus melihat tubuh pria itu dan otaknya jadi semakin kotor, lebih baik dia ajak saja bicara, ah, dia bahkan belum tahu siapa nama pria itu.
" Ngomong-ngomong, siapa namamu? " Tanya Mimu tapi tak menghentikan tangannya yang masih mengoleskan obat kedada pria itu.
" Aku tidak tahu. "
" Eh, namamu juga kau tidak tahu? " Tanya Mimu sebentar menatap pria itu dan kembali mengoleskan obatnya.
" Tidak, aku tidak ingat apapun. Aku hanya ingat pesan dari Paman untuk menjauh darimu, jangan sembarangan menyentuh, apalagi membuat mu menyentuh. Kalau paman tahu, dia bilang akan memenggal kepalaku. "
Mimu membuang nafas kasarnya, benar-benar Ayahnya amanat tidak tahu dan tidak paham kalau melihat tubuh pria tampan dan gagah membawa kesenangan tersendiri untuknya.
" Jadi, kau mau dipanggil apa? Tidak mungkin aku memanggilmu pria tanpa nama kan? "
" Aku tidak tahu siapa namaku, terserah saja mau di panggil apa. "
Mimu menjauhkan dirinya dari pria itu sembari berpikir, dia kini sudah duduk di samping pria itu jadi dengan segera dia memakai bajunya sebelum Ayah Gito pulang kerumah.
" Bagaimana kalau namamu Pratama saja? Cocok untukmu kan? "
Pria itu mengernyit menandakan jika dia tidak setuju dengan nama aneh dan kedengaran sangat desa baginya.
" Kenapa harus Pratama? Memang tidak ada yang lain? " Protes pria itu.
" Tidak boleh! Pratama itu artinya pria tanpa nama. Jadi untuk singkatnya aku akan memanggilmu, Tama! Bagaiman? "
Pria itu menghela nafas, masa bodoh saja apa nama yang akan diberikan padanya, toh nanti juga dia akan ingat siapa namanya yang asli.
" Ngomong-ngomong, apa kau ada ingat sedikit saja dari mana kau datang? Maksudku tempat tinggalmu, dimana desamu? "
Tama sebentar diam, dia mencoba mengingat-ingat tapi tak lama dia menggeleng karena memang dia tidak mengingat apapun.
" Ya sudahlah kalau tidak ingat, nanti kita coba pikirkan bagaimana mengingat siapa dirimu ya? "
Tama tersenyum, lalu mengangguk.
" Oh iya, kau panggil saja aku Mimu ya? "
" Aku sudah tau kok. "
" Bagus! Mulai sekarang baik-baik tinggal disini, dan menurut lah padaku ya? " Mimi tersenyum sembari mengusap kepala Tama dengan lembut seperti mengusap kepala adiknya sendiri. Padahal kalau di lihat wajah mereka sepertinya Tama jauh lebih dewasa di bandingkan Mimu, tapi ya sudahlah? Memang siapa yang bisa menolak keinginan Mimu?
Tama terdiam meski dia keberatan ada orang yang mengusap kepalanya hingga rambutnya menjadi berantakan. Dia seperti merasa bahwa dirinya sangat terhormat, tapi dia juga tida berdaya di hadapan Mimi, anak si penyelamat nyawanya.
Tok Tok
Mimu terdiam sebentar memandangi pintu rumahnya, tidak tahu siapa yang datang kerumahnya, tapi dia juga tidak boleh mengabaikan saja tamu yang datang kan? Mimu bangkit dari duduknya, menuju pintu dan membukanya.
Osan, dan juga Nita, mereka ternyata tidak hanya berdua saja, tapi juga bersama orang tuanya Osan dan Nita sendiri. Dari wajah mereka semua jelas lah masalah beberapa waktu lalu membuat mereka jengkel dan mendatanginya.
Beberapa saat kemudian, semua orang kini sudah berada di ruang tamu, sementara Tama menunggu di dapur tak berani keluar karena itu adalah hal yang dilarang oleh Ayah Gito.
" Kau seharusnya tidak melukai putraku meksipun kau kesal kan? Gara-gara kau rahangnya sampai retak, tiga gigi samping juga rontok. Aku sudah menahan diri sampai putraku membaik, jadi hari ini aku akan membuat perhitungan denganmu! " Ucap Ayahnya Osan, matanya melotot kesal dan jari telunjuknya mengarah tegas kepada Mimu.
Mimu menghela nafas, selama ini dia selalu hormat kepada kepala desa karena dia adalah Ayahnya Osan, tapi sekarang dia sudah tidak ingin menghormati orang yang sudah berbicara dengan nada kasar kepadanya.
" Jadi, harusnya aku bagaimana memberi pelayanan anaknya pak kepala desa? Dia dan Nita kan sedang melakukan hal tidak senonoh, ditambah lagi seminggu dari hari itu pernikahan akan di gelar, apakah aku harus berpura-pura tidak tahu saja? "
" Tetap saja, kau sudah mencelakai putraku! "
" Yah, itu karena Osan mau memukulku, aku hanya membela diri saja kok. "
" Sudahlah, kita langsung saja pada intinya. Kedatangan kami kesini adalah untuk membatalkan pernikahan, Osan akan menikahi Nita sebagi mempelai wanitanya di hari yang sudah di tetapkan tanggal pernikahan. Kau urus saja masalahmu, kami tidak ingin ada urusan apapun denganmu. " Ucap Ayahnya Nita dengan tegas, bagaimanapun yang dia tahu dia hanya akan menikahkan putrinya dengan orang yang sudah meniduri putrinya jadi dia tidak perduli masalah hati yang lainnya.
Mimu mengepalkan kedua tangannya, iya benar saja dia sampa lupa kalau dia harus segera mengurus masalah itu, dia harus segera mencari jalak keluar karena hari pernikahan akan berlangsung beberapa hari lagi. Osan jelas selamat karena dia memiliki Nita, tapi dia? Dengan siapa dia akan menikah?
" Mimu, aku benar-benar minta maaf ya? Cinta tumbuh begitu saja di hati kami berdua, jadi kami juga tidak bisa mengendalikan perasaan kami. "
Mimu menatap kesal, benar-benar dia sudah akan memukul wajah sok melas Nita, tapi dia tiba-tiba teringat dengan Tama. Segera dia bangkit dan berjalan cepat menuju dapur.
" Ayo ikut aku! " Tama sebenarnya sudah menolak, tapi tenaga Mimu benar-benar tak main-main sehingga dia tidak bisa menolak lagi.
" Perkenalkan, ini calon suamiku, jadi jangan khawatirkan aku, aku sudah dapat yang lebih baik setelah membuang baju rombeng. "
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Naviah
semangat thor
Mimu udah enggak galau lagi gara-gara Osan karena udah dapet yang lebih tampan🤣🤣🤣🤣🤣👍
2022-12-18
1
Evi
👍👍👍👍👍
2022-12-06
1
masya imut
itu lah seperti membuang sandal tapi dapat sepatu bagus,meninggal kan osan,dapat si tama...
2022-10-19
1