Setelah hari itu, Tama benar-benar berusaha sekuat tenaga untuk membantu semua pekerjaan yang bisa dia lakukan. Setidaknya dia tidak perlu mendengar orang menggunjingnya lewat Mimu dan membuat Mimu rendah diri, hari ini dia dengan semangat membantu Mimu untuk menanam sayuran yang rencananya akan mereka jual saat waktunya panen nanti.
" Apa hanya begini cara menanam tomat? " Tanya mengeryit bingung, dia benar-benar tidak tahu kalau menanam tomat ya hanya perlu menaburkan biji buah tomat ketanah saja.
" Iya, nanti kalau sudah tumbuh dan lumayan tinggi, baru di pindahkan ke tempat lain dan mulai merawatnya dengan baik. "
Tama mengangguk paham, lanjut dia mengerjakan pekerjaan lain seperti mencabut rumput, sementara Mimu tengah memberikan pupuk untuk tanaman lainnya.
Sejenak Mimu tersenyum melihat Tama yang begitu bekerja keras untuk membantunya, memang masih terlihat aneh cara Tama memegang alat untuk berkebun, tapi Tama yang seperti ini cukup membuatnya merasa senang dan di hargai.
Hati demi hari berjalan seperti itu, Tama masih terus belajar bagaimana caranya berkebun untuk membantu Mimu, memang masihlah ada waktunya Tama menyebalkan saat dia menemuka cacing ketika berkebun, Tama akan histeris meski tidak berteriak seperti wanita, tapi ya sudahlah karena niat Tama hanyalah untuk meringankan beban Mimu, setidaknya Mimu juga masih bisa memahami dan merasa bersyukur ada yang membantunya dan terlihat perduli padanya kecuali Ayah Gito yang beberapa waktu ini lebih sering menghabiskan waktu untuk mencari tumbuhan obat jadi sangat jarang berada di rumah.
Tiba saatnya makan malam, seperti biasanya Tama akan memperhatikan makanan itu dengan baik, sebentar mencicipinya barulah dia akan memakannya kalau dia merasa menyukai makanan itu.
" Cobalah untuk memakan apapun, Tama. Nanti kalau aku tidak bisa memasak makanan seperti ini terus bagiamana? Besok pagi aku kan harus pergi ke pasar untuk menjual tomat panenan kita tadi sore, jadi besok kau sarapan mie instan saja ya? "
Tama mengeryit karena dia benar-benar ogah membayangkan harus memakan mie instan.
" Tidak mau, mie instan itu kan tidak sehat. " Protesnya yang langsung membuat Mimu menghela nafas sebalnya.
" Mie instan itu adalah makanan mewah untukku, jangan memikirkan sehat dan tidak sehatnya, tapi nikmati saja bagaimana enak dan lezatnya rasa mie instan yang luar biasa. "
Tama menggeleng keheranan melihat wajah aneh Mimu yang tengah mendeskripsikan semua hal tentang mie instan seolah mie instan adalah makanan yang begitu mewah dan juga sangat enak.
" Berhentilah mengkonsumsi makanan serba instan, mereka hanya ingin membunuhmu perlahan-lahan. "
Mimu menaikkan sisi bibirnya, dia benar-benar tidak setuju dengan apa yang dikatakan Tama. Padahal makanan instan semuanya sangat enak dan membuat ketagihan, bagaimana makanan enak bisa di samakan dengan racun?
" Dari mana kau tahu kalau mereka adalah racun? "
Tama tersentak, dia menghentikan tangannya yang baru saja akan memasukkan makanan ke mulutnya. Dari mana dia tahu tentu saja Yama sendiri tidak tahu, dia bahkan tidak menyadari apa yang dia katakan, dan yakin benar jika itu semua adalah benar.
" Sudahlah, makan saja! Ini sudah malam, kita harus segera tidur. "
Mimu tahu kalau Tama sendiri kebingungan, maka tidak usah memperpanjang pembahasan akan lebih baik dari pada terus membuat Tama mengeryit mencari tahu apa yang dia katakan tadi dan dari mana dia begitu yakin bahwa yang dia katakan adalah kebenaran.
Selesai makan malam, Tama dan Mimu sebentar duduk karena tidak mungkin juga selesai makan malam mereka langsung tidur.
" Apa sampai sekarang kau tidak mengingat apapun tentangmu? "
Tama membuang nafasnya sebelum menjawab pertanyaan dari Mimu.
" Tidak ingat, hanya saja dulu sebelum tidur di ranjang yang sama denganmu, aku memimpikan beberapa kejadian yang membuatku sulit tidur. "
" Kejadian seperti apa? "
" Aku bingung bagaimana menjelaskan padamu, tapi aku hanya ingat aku mengendarai mobil, lalu ada benturan besar, aku berdarah, lari, suasana gelap dan aku jatuh saat punggungku seperti ada yang mendorong. Ada wanita juga, dia tersenyum, tapi dia juga terlihat sedih, seorang pria terus menunduk, tapi dia tersenyum jahat, aku melihat sebuah rumah besar, semua itu berkelebatan satu persatu aku bingung bagaimana merangkai apa sebenarnya yang terjadi. Ada juga suara wanita paruh baya yang berbicara, Gorge, itu nama siapa ataukah itu nama asliku? "
Mimu mengingat benar hari pertama dia tidur di ranjang yang sama dengan Tama. Dia benar-benar terlihat sangat gelisah saat tertidur, berkeringat dingin juga, bahkan saat Mimu menyentuh tangan Tama, rupanya tangan Tama benar-benar gemetaran.
" Tidak apa-apa, suatu hari nanti kau kan pasti akan ingat siapa namamu, siapa dirimu yang sebenarnya. " Mimu tiba-tiba merasa sedih karena membayangkan saay hari itu tiba, Tama akan kembali ke kehidupannya karena Tama pasti merindukan keluarganya.
Tama terdiam, dia juga merasakan hal yang sama seperti yang di pikirkan Mimu. Entah mengapa dia juga merasa berat kalau dia tahu siapa dirinya dia harus meninggalkan Mimu dan kembali ke kehidupan yang sesungguhnya.
" Tama, aku penasaran sekali sebenarnya, sebelum kau kehilangan ingatan kau ini orang yang bagaimana? Apakah kau juga sangat pemilih makanan seperti sekarang ini? Apa kau sangat suka menyombongkan diri dengan mengatakan banyak omong kosong? Dengan wajahmu tentu saja ada banyak wanita yang menyukaimu, lalu bagaimana kehidupanmu bersama dengan kekasihmu, atau pasanganmu? Kau yang tidak bisa mengerjakan apapun seperti ini apakah memiliki kemampuan lain yang mengagumkan? "
Tama terus menatap wajah Mimu yang terlihat agak aneh. Dari cara Mimu tersenyum lalu matanya terlihat tidak rela apakah boleh Tama mengartikan bahwa Mimu memiliki perasaan tersendiri untuknya hingga hari dimana Tama bisa mengingat semua tentangnya malah akan membuat Mimu tidak rela.
" Aku tidak tahu harus menjawab apa dari semua pertanyaan yang membuatmu penasaran itu. Aku hanya tahu sekarang aku hidup di sini, ingat atau tidak tentang ku tidak akan merubah fakta bahwa aku hidup disini karena Ayahmu dan kau juga kan? "
" Yah, Ayahku memang sudah membantumu sembuh dari luka di tubuhmu, tapi kau juga menyelamatkan kami berdua dari rasa malu. Itu sudah cukup setimpal kan? " Mimu tersenyum untuk menutupi apa yang dia rasakan sebenarnya. Perasaan suka terhadap Tama benar-benar datang sendiri tak dia inginkan, meskipun dia sadar benar jika Tama bisa saja akan meninggalkannya saat ingat semua hal nanti, tapi dia sulit mencegah perasaannya untuk tidak tumbuh dan merasa khawatir.
" Nyawa tentu saja tidak bisa di samakan dengan rasa malu. "
Tama menatap lurus sembari membuang nafas.
" Mari jangan memikirkan tentang itu lagi, semua mimpi yang aku ingat sepertinya hidupku tidak baik sebelumnya, jadi aku akan lebih bersyukur berada di tempat ini bersama denganmu. "
Mimu terkejut dan sontak menatap Tama. Mereka kini saling menatap dengan perasaan yang sama, perlahan tanpa sadar saling mendekatkan bibir mereka.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Naviah
semangat thor cinta mulai bersemi nih😂
2022-12-19
1
Risa Klara
Up lagi dong thor
2022-11-01
1
Lis Eka
adegan 21+ 🙈
2022-11-01
2