Akhir pekan pun berlalu. Kini awal pekan yang sibuk telah kembali menyapa.
Seperti biasa, setelah bangun pagi, Arthur menyempatkan diri untuk membawa Audrey berjemur. Rutinitas baru yang pria itu lakukan sebelum pergi ke kantor.
Dan pagi ini aktivitasnya bertambah, yaitu memandikan bayi mungil itu, karena ia melarang Andrea untuk turun dari tempat tidur.
“Rea nanti siang, akan ada suster dari yayasan penyalur pengasuh bayi. Aku sengaja memilih yang sudah berpengalaman agar kamu juga bisa belajar darinya.” Ucap Arthur sembari menyodorkan sebotol susu kepada Andrea yang sedang memangku Audrey.
“Baik, tuan.”
“Nah kalau menurut begitu, ‘kan bagus.” Ucap pria itu sembari tersenyum tipis.
Andrea tertegun, baru kali ini ia melihat senyum pria itu.
“Apa kamu? Mau di gendong papa lagi?” Arthur berbicara dengan Audrey kecil, karena bayi itu terus memperhatikannya sembari menggerakkan tangan.
Ya, Arthur memang memanggil dirinya papa untuk Audrey kecil. Seperti janjinya pada sang adik, bayi mungil itu akan menjadi anak Arthur. Hanya menunggu waktu kapan dirinya siap, dan yakin untuk menikah.
“Sudah. Kamu disini sama Rea. Papa mau pergi ke kantor.” Pria itu pun sedikit membungkuk, kemudian mengecup kening bayi mungil itu.
Tanpa Arthur sadari, kepalanya berada tepat di depan wajah Andrea. Gadis itu bahkan dapat mencium aroma shampo yang menguar dari rambut pria tampan itu.
Jantung Andrea kembali berdetak lebih cepat. Gadis itu perlahan memundurkan wajahnya, agar tak terlalu dekat dengan kepala sang majikan.
Baru saja wajah gadis menjauh, Arthur justru menoleh kesamping, sehingga tatapan mereka beradu.
“Bernafas lah, Rea.” Ucapnya tepat di depan wajah Andrea. Seketika wajah gadis itu memanas. Ia merasakan udara di sekitarnya menipis. Andrea kemudian memalingkan wajahnya.
Melihat wajah Andrea yang memerah, Arthur pun kembali menegakan tubuhnya.
“Aku titip Audrey.” Ucapnya sembari berlalu keluar kamar.
“Rea, kamu kenapa?” Suara Thomas membuat Andrea tersentak. Gadis itu pun celingukan. Tak ada Arthur disana.
“Kamu mencari Arthur? Dia sudah berada di kamarnya.” Ucap sang kakak sepupu sembari menghempaskan bokongnya di tepi tempat tidur. Pria itu terlihat sudah rapi dengan setelan kerjanya.
“T-tidak.”
Thomas terkekeh, adik kecilnya ini memang tidak pandai menyembunyikan sesuatu darinya.
“Bagaimana keadaanmu? Kata nyonya kamu sakit. Sudah minum obat?” Tangan Thomas terulur meraba kening sang adik.
“Aku pusing, bukan demam.” Andrea menjauhkan kepalanya dari jangkauan sang kakak sepupu.
Thomas tergelak, ia memang suka menggoda gadis itu. Bagaimana pun juga Andrea satu-satunya saudara yang ia miliki, begitu juga sebaliknya.
Suara tawa Thomas pun membuat Audrey yang sedang meminum susunya, terkejut kemudian menjerit.
“Kakak.” Andrea melayangkan tatapan membunuh ke arah pria itu. Ia kemudian turun dari tempat tidur dan menimang bayi itu.
Thomas mendekat, kemudian merangkul bahu Andrea dari samping.
“Adik kecilku ini ternyata sudah pantas menjadi seorang ibu.” Ia kembali menggoda sang adik.
“Kakak.” Gerutu Andrea dengan tatapan nyalang. Andai ia tak sedang menggendong Audrey, mungkin sudah mencubit sang kakak hingga memerah, seperti yang sering ia lakukan jika di goda pria tiga puluh tahun itu.
“Aku bercanda. Kamu masih muda. Nikmati dulu masa muda mu. Raih cita-cintamu.” Ucap Thomas serius.
Andrea membuang nafasnya kasar. Apa ia masih bisa meraih impiannya? Lalu bagaimana dengan Audrey kecil? Ada rasa tak rela jika meninggalkan bayi itu dengan orang lain.
“Jangan hanya memikirkan Audrey, bukannya Arthur sudah mencari pengasuh? Ingat, tugasmu menjaga nona kecil, bukan menjadi pengasuhnya.”
Thomas melihat bayangan Arthur di ambang pintu.
“Ingat janjimu kepada mendiang ayah dan ibu. Kamu akan menjadi koki wanita yang terkenal seperti koki yang di idolakan ibu. Apa kamu sudah lupa?” Thomas sedikit mengeraskan suaranya. Ia ingin Arthur mendengar, dan berhenti menganggap Andrea pengasuh Audrey kecil.
Diingatkan tentang janji kepada mendiang kedua orang tuanya, mata Andrea pun berkaca-kaca.
“Kak.”
“Stt.. sudah jangan menangis. Kamu anak yang kuat dan adikku yang hebat.” Thomas menangkup kedua pipi sang adik. Ia kemudian mengecup kening gadis itu.
“Aku ke kantor dulu. Kamu harus banyak istirahat. Jangan sakit-sakit.”
“Iya, kak.”
Sepanjang perjalanan menuju ke kantor, Thomas melihat atasannya lebih banyak diam. Biasanya, sang atasan akan sibuk dengan ponsel ditangannya. Namun, kali ini Arthur sedang melamun menatap keluar jendela mobil.
Putra bibi Rosi itu yakin, jika Arthur mendengar pembicaraannya dengan Andrea. Thomas tak perduli. Ia ingin Arthur membuka hati, mengingat janji, menjadikan Andrea istri, bukan hanya pengasuh untuk Audrey.
🍃🍃🍃
Dan seperti yang Arthur ucapkan tadi pagi, siang ini, kediaman keluarga Dinata kedatangan seorang wanita berusia tiga puluh lima tahun, dari sebuah lembaga penyalur tenaga kerja, yang telah di hubungi oleh mama Daisy.
Dia adalah suster Rini, wanita yang sudah berpengalaman mengasuh dan merawat bayi.
Mama Daisy sengaja mencari pengasuh yang sudah berusia di atas tiga puluh tahun. Karena sudah pasti memiliki banyak pengalaman.
“Rea, perkenalkan ini suster Rini, yang akan membantumu menjaga Audrey.”
“Dan sus Rini, dia Andrea. Aku harap kamu bisa membantu Rea dengan baik.”
Mama Daisy berbicara dua arah.
“Tentu, nyonya.”
Andrea dan sus Rini saling menjabat tangan.
Mama Daisy kemudian mengajak mereka berdua duduk di atas sofa, ruang tamu.
“Begini aku langsung saja menjelaskan pembagian tugas kalian, karena sus Rini juga memiliki keluarga. Dia hanya akan bekerja di pagi, hingga sore hari. Setelah Audrey mandi sore, sus Rini akan kembali pulang.” Mama Daisy menjelaskan. Itu juga atas permintaan Arthur. Pria itu ingin, agar Audrey tetap tidur bersama Andrea di malam hari.
“Jadi, Rea, di siang hari kamu bisa beristirahat lebih banyak. Atau kamu bisa melakukan hal lain yang kamu inginkan. Menyalurkan hobimu, Misalnya memasak.” Ucap mama Daisy kemudian.
“Baik, nyonya.” Andrea menjawab singkat. Ia tidak ingin menolak. Ataupun protes. Sudah diijinkan tetap bersama Audrey kecil saja, ia sudah sangat bersyukur.
“Baguslah. Kalau begitu, sekarang kamu bawa sus Rini ke atas. Jelaskan semua hal yang berkaitan dengan Audrey.”
“Baik, nyonya.” Andrea mengangguk patuh. Ia kemudian mengajak sus Rini naik ke lantai dua.
.
.
.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 126 Episodes
Comments
Ria dardiri
susnya cipung rayanzza nih,,sus rini makin terkenal Aja😀
2023-04-12
1
devaloka
🤣🤣🤣
2023-03-16
2
Nurak Manies
💪💪💪❤❤❤❤
2022-10-31
0