“Arth, Tunggu dulu. Kemarilah. Kita sarapan.” Mama Daisy memanggil sang putra yang hendak menaiki tangga menuju lantai dua.
“Nanti saja, ma. Aku harus memberikan obat untuk Rea.” Pria itu tak beranjak dari tempatnya.
“Rea sedang tidur. Lagipula, Rosi juga sedang membuatkan bubur. Nanti saja berikan obatnya sekalian.”
Arthur membuang nafas kasar. Ia pun melangkah menuju meja makan.
Sepiring nasi goreng dengan potongan telur dadar, dan irisan mentimun sebagai pelengkap telah tersaji di atas meja.
Arthur meletakan kantong berisi obat di atas meja, ia kemudian menyantap makanannya.
“Arth, mama minta kamu pertimbangkan usul mama tempo hari, kita cari pengasuh lain untuk Audrey.” Ucap mama Daisy saat piring di hadapan sang putra kosong. Ia sengaja menunggu Arthur menghabiskan makanannya dulu, baru berbicara. Tak ingin pria itu pergi, dan meninggalkan makanannya.
Arthur kemudian meneguk air minum dari gelas kaca.
“Tapi ma, Rea sangat menyayangi Audrey. Bagaimana jika dia merasa tersinggung?”
“Pikirkan tentang kesehatan gadis itu, Arth. Kasihan dia. Baru seminggu saja tekanan darahnya sudah turun. Setidaknya, ada yang diajak bergantian menjaga Audrey.”
Arthur memikirkan ucapan sang mama. Ada benarnya juga, bagaimana pun juga ia harus memikirkan kesehatan Andrea.
“Baiklah. Aku akan bicara dulu dengan Rea.”
Pria itu kemudian bangkit, dari arah dapur bibi Rosi datang dengan membawa nampan berisi semangkuk bubur dan segelas air putih.
“Apa itu untuk Rea?”
“Iya tuan.”
Arthur meraih kantong obat di atas meja. “Biar aku yang bawa.” Ia kemudian mengambil alih nampan itu.
“Biarkan saja, Ros. Biar mereka lebih dekat.” Ucap mama Daisy setelah Arthur meninggalkan mereka.
“Aku hanya ingin melihat keadaan Rea, nyonya.” Ucap bibi Rosi khawatir. Selama Andrea ikut dengannya, belum pernah gadis itu sakit. Terakhir kali ia sakit, saat kedua orang tuanya meninggal.
“Ada apa dengan Rea, Bu?” Sela Thomas yang datang dari pintu belakang rumah mewah itu.
Bibi Rosi dan sang suami telah bekerja selama sepuluh tahun dengan keluarga Dinata, sehingga di berikan tempat tinggal di paviliun belakang rumah keluarga Dinata. Yang membuat Thomas dengan mudah keluar masuk kediaman sang atasan.
“Rea pusing, tekanan darahnya menurun. Dia sepertinya tidak terbiasa bergadang.” Jelas mama Daisy.
Thomas menghela nafas pelan. Ia sejak awal sudah tidak setuju jika sang adik sepupu ikut bekerja di rumah itu. Tetapi Andrea yang keras kepala itu tidak mendengarkan. Thomas lebih suka jika gadis itu bekerja sesuai keahliannya. Mengejar impian menjadi seorang koki ternama.
Tanpa bicara, pria tiga puluh tahun itu melangkahkan kakinya, meninggalkan ruang makan itu.
“Kamu mau kemana, nak?” Tanya sang ibu.
“Aku mau melihat Rea, Bu. Dia kalau sakit kan manja. Susah disuruh makan.” Cerocos Thomas.
“Sudah, kamu lebih baik sarapan disini bersamaku. Rea sudah di urus oleh Arthur. Nanti saja kamu naiknya, kalau Arthur sudah turun.”
Mama Daisy menarik lengan asisten sang putra. Membuat pria itu duduk di sampingnya.
“Biar lebih dekat.” Ucap wanita paruh baya itu kemudian.
🍃🍃🍃🍃
Andrea merasakan ada yang menguncang lengannya. Perlahan, mata gadis itu terbuka, meski mengerejap beberapa kali.
“Rea. Bangun. Sarapan dulu, setelah itu minum obatmu.”
Mata Andrea yang sudah terbuka sempurna, kembali mengerejap beberapa kali. Ia memastikan jika pandangannya tak salah melihat.
Arthur sedang duduk di tepi ranjang dengan memangku nampan berisi mangkuk dan segelas air.
Andrea pun bangkit, duduk menyandar pada kepala ranjang.
“Makanlah. Dan ini obatmu.”
Arthur mengeluarkan sebotol vitamin dari dalam kantong plastik yang berlogo apotek ternama.
“Minum ini setelah kamu makan.”
Andrea tak bersuara. Ia hanya menganggukkan kepala tanda paham. Menikmati semangkuk bubur dengan kepala menunduk, karena Arthur terus memperhatikannya.
Sebenarnya gadis itu tidak terlalu suka makan bubur, namun keberadaan Arthur membuatnya tak berdaya.
Arthur mengambil alih nampan yang isinya sudah berpindah ke dalam perut Andrea, kemudian meletakan di atas nakas.
“Rea, aku ingin bicara.” Ucap pria itu serius.
“Ada apa, tuan?” Tanya Andrea penasaran.
Arthur pun menghela nafas pelan.
“Aku akan mencari pengasuh untuk Audrey.”
Ucapan Arthur membuat kedua indera penglihatan Andrea membola. Apa ia tak salah dengar? Apa Arthur memecatnya?
“Maksud tuan apa? Apa aku ada salah dalam menjaga nona kecil? Kenapa mencari pengasuh lagi?”
Arthur kembali menghela nafas.
“Bukan seperti itu. Kamu tetap menjadi pengasuh Audrey, tetapi aku mencarikan teman untukmu. Supaya ada yang bergantian menjaganya saat malam.” Pria itu menatap tepat ke arah mata Andrea. Berharap gadis itu mengerti maksud dan tujuannya.
“Rea, pikirkan tentang kesehatan mu. Jika kamu sakit, siapa yang akan menemani Audrey? Jika kamu memiliki teman, maka kamu akan selalu bisa menemani Audrey. Ingat janjimu pada ibunya. Kamu akan menjaga Audrey. Jadi, untuk bisa melakukan itu, kamu harus tetap sehat. Kamu paham maksudku?”
Andrea tertegun. Selain karena ucapan Arthur, tetapi juga karena ini untuk pertama kalinya pria itu berbicara panjang lebar dengannya.
Gadis itu juga menatap manik mata Arthur. Sorot mata Pria itu nampak tegas, dan tak terbantahkan.
“Tapi, tu—
“Rea, apa kamu lupa apa yang aku ucapkan tadi pagi, berhenti membantahku. Dan menurut lah, katakan ‘iya’ saat pertama kali aku perintahkan.”
Andrea menelan ludahnya susah payah. Pancaran mata pria itu kembali mengintimidasi, menusuk hingga ke hulu hati.
“B-baiklah, tuan. A-aku setuju. Tapi, aku mohon, jangan pecat aku. Jangan jauhkan aku dari nona kecil.” Ucap Andrea lirih.
“Astaga, Rea. Siapa yang ingin menjauhkan mu dari Audrey? Aku mencarikan mu teman. Kamu itu seorang lulusan diploma tiga. Itu setara lulusan strata satu. Harusnya kamu itu mengerti maksud ucapanku.”
Perdebatan kedua orang dewasa itu mengusik tidur Audrey kecil. Bayi itu pun menjerit.
“Lihatlah, lagi-lagi karena keras kepalamu, Audrey menangis. Apa susahnya menurut. Lagi pula itu untuk kebaikanmu juga.”
“M-maafkan aku, tuan.”
Dengan cepat Andrea mengambil bayi mungil itu. Kemudian memangkunya.
Arthur bangkit, kemudian membuatkan sebotol susu untuk Audrey.
“Kamu mau menurut padaku? Atau tetap keras kepala?” Tanya pria itu sembari menyodorkan botol susu di hadapan Andrea.
Gadis itu menghela nafas pelan, kemudian meraih botol itu.
“Aku menurut, tuan.”
“Baguslah, untuk menjadi seorang ibu yang baik untuk Audrey, kamu memang harus menurut padaku.”
Deg..
Andrea tersentak. Apa mungkin pendengarannya salah?
“M-maksud, tuan—
“Jangan banyak bicara. Berikan susu itu pada Audrey.”
Pria itu kemudian pergi keluar dari kamar itu.
.
.
.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 126 Episodes
Comments
wahyu widayati
koreksi thor....kl yg setara dg S1 ya D4 thor....
2024-09-17
1
Eddy Junaedi
aduh rea baru di bentak gtu aja udh takut
2023-11-12
0
Eva Rubani
lanjut
2023-03-28
0