Nyonya Dinata terkulai lemas tak sadarkan diri, setelah dokter menyatakan jika Audrey telah pergi untuk selamanya.
Pendarahan yang di alami wanita itu, serta beberapa komplikasi pada kehamilannya, membuat Audrey tak bisa bertahan lebih lama. Bahkan ia belum sempat melihat buah hatinya. Karena bayi merah itu belum boleh keluar dari inkubator.
Andrea juga merasakan kesedihan yang sama. Meski ia baru tiga bulan mengenal Audrey, namun kehilangan itu juga ia rasakan.
Gadis itu bahkan merasa dejavu dengan situasi yang terjadi.
Tiga tahun yang lalu, ia juga tak sadarkan diri setelah dokter mengatakan jika kedua orang tuanya telah tiada.
“Ya, Tuhan. Tolong beri tempat terindah untuk nona.” Ucapnya lirih.
”Nyonya, bangun.” Gadis itu kini duduk di samping tempat tidur pasien, dimana nyonya Dinata terbaring tak sadarkan diri.
Sementara, Arthur sedang mengurus segala sesuatu agar jenazah sang adik bisa segera di bawa pulang, untuk di semayamkan, kemudian akan di makamkan esok hari.
Ponsel Andrea berdering, ia melihat sebentar. Nomor tak di kenal tertera pada layar benda pipih itu, membuat ia enggan menjawab.
Ia pun menyimpan kembali ponselnya.
Andrea kembali menatap wajah nyonya Dinata. Wanita paruh baya itu bahkan menangis dalam tidurnya. Andrea dapat merasakan seberapa besar kesedihan yang sedang di alami oleh ibu dua anak itu.
“Nyonya, bangun.”
Gadis itu sedikit mengguncang tangan nyonya Dinata. Berharap, wanita berdarah Inggris itu, segera membuka mata.
Tak ada respon, Andrea hanya mampu menghela nafas pelan. Ia kembali teringat kejadian beberapa saat lalu.
Dirinya dan Arthur, telah berjanji akan menikah, dan menjadikan bayi Audrey sebagai anak mereka.
Meski tidak menikah dengan Arthur sekalipun, Andrea akan tetap menjaga bayi itu. Ia sudah bertekad, akan menjadi pengasuh untuk anak Audrey.
Entah apa yang akan terjadi kedepannya. Gadis berusia dua puluh dua tahun itu, hanya mampu berpasrah.
“Rea.” Suara maskulin Arthur membuat gadis itu tersentak.
“Tuan.”
“Apa mama belum sadarkan diri?” Tanya Arthur sembari melihat ke arah sang mama.
“Belum, tuan.” Jawab Andrea lirih.
Menghela nafas pelan, Arthur kemudian duduk di tepi ranjang sebelah kiri.
Ia genggam dengan lembut tangan kiri sang mama.
“Ma, bangun. Ma. Kita pulang bersama Audrey.”
Dan ucapan Arthur pun mampu membangunkan sang mama. Indera penglihatan wanita paruh baya itu perlahan terbuka.
“Audrey?” Ucapnya lirih.
“Mama”
“Nyonya.”
Ucap Arthur dan Andrea secara bersamaan.
“Arth, Audrey?” Tangis nyonya Dinata kembali pecah.
Arthur bangkit, kemudian berdiri dan mendekap sang mama.
“Tenanglah, ma. Audrey sudah tidak merasakan sakit lagi, sekarang.”
Arthur berusaha menenangkan sang mama, meski dirinya sendiri juga dalam keadaan tak baik-baik saja.
“Kenapa harus Audrey, Arth? Kenapa bukan mama saja.”
Isak kepedihan sangat jelas terasa menusuk hati. Andrea ikut menitikan air mata mendengar ucapan nyonya Dinata.
“Ini yang terbaik untuk Audrey, ma. Tuhan lebih menyayanginya. Karena itu, beliau tidak ingin Audrey lebih lama menahan sakit. Sudah cukup penderitaannya selama ini. Aku yakin, Audrey sekarang sudah bahagia bersama papa di surga.”
Arthur semakin mendekap sang mama. Kesedihan itu tak hanya milik wanita yang telah melahirkannya saja, tetapi pria itu juga merasakan hal yang sama.
Jika bisa meminta, ingin rasanya Arthur menggantikan posisi sang adik di sisi Tuhan.
🍃🍃🍃🍃🍃
Keesokan harinya, setelah melewati serangkaian acara, jenazah Audrey siap untuk di bawa kepemakaman.
Arthur memakamkan sang adik, tepat di samping makam sang papa. Yang bertempat di salah satu pemakaman elit, di kawasan ibukota.
Tubuh nyonya Dinata kembali terkulai lemas, saat peti jenazah itu di masukan kedalam tanah.
Andrea dengan setia mendekap tubuh sang nyonya sejak semalam. Ia sudah menyarankan agar wanita paruh baya itu tidak ikut ke pemakaman. Namun, nyonya Dinata bersikeras, ingin mengantar Audrey ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Hingga tiba saatnya prosesi tabur bunga, air mata nyonya Dinata kembali pecah. Ia menangis menumpahkan segala kesedihan yang di rasakan di atas makam sang putri.
Arthur pun mengambil alih tubuh sang mama, kemudian mendekapnya.
“Tenanglah, ma. Tolong ikhlas kan kepergian Audrey. Jika mama terus seperti ini, Audrey tidak akan tenang. Perjalanannya ke rumah Tuhan akan berat. Mama tidak mau itu terjadi, kan?”
“Maafkan mama, Arth. Tetapi sangat sulit untuk mama menerima semua ini.”
Arthur mengusap lembut punggung sang mama.
“Siapa pun akan sulit menerima kepergian orang yang di cintai untuk selamanya, ma. Tetapi, sesulit apapun itu, kita harus ikhlas. Meskipun itu berat, percayalah Tuhan lebih tau yang terbaik untuk Audrey.”
Nyonya Dinata mengangguk. Arthur kemudian membawa sang mama menuju mobil.
“Nona, aku janji, aku akan menjaga putrimu seperti putriku sendiri. Nona jangan khawatir. Dia tidak akan kekurangan kasih sayang.”
Setelah mengucapkan janjinya, Andrea pun menyusul para majikannya menuju mobil.
Beberapa orang pelayat masih terlihat datang ke rumah keluarga Dinata.
Nyonya Dinata mulai menegarkan diri. Ia menerima setiap ucapan belasungkawa yang di sampaikan oleh para pelayat.
Arthur dapat bernafas sedikit lega melihat perubahan sang mama. Ia sudah hampir frustrasi menenangkan wanita paruh baya itu.
“Kamu mau kemana, Rea?”
Tanya Arthur kepada Andrea, saat melihat gadis itu tidak ikut masuk, namun justru kembali memutar langkah menuju ke luar rumah.
“Aku mau ke rumah sakit, tuan. Kasihan dede bayi sendirian disana.“
“Istrirahatlah sebentar bersama mama. Aku sudah meminta suster menjaga Princess.”
Kepala Andrea menggeleng. Ia baru saja berjanji di atas pusara Audrey. Akan selalu menjaga putri kecilnya.
“Dirumah ini sudah ada banyak orang. Biar nyonya di temani asisten yang lain.“
Andrea menolak secara halus, perintah Arthur.
“Tetapi kamu juga butuh istirahat, Rea.”
Nada bicara pria tiga puluh tahun itu terdengar tegas, dan tak terbantahkan.
Namun, Andrea kembali menggelengkan kepalanya.
“Aku bisa beristirahat di rumah sakit, tuan. Dede sendirian disana. Aku sudah janji akan menjaganya.”
Tanpa menunggu jawaban Arthur, Andrea berlalu begitu saja.
“Gadis itu, apa dia memiliki sifat keras kepala?” Gerutu Arthur sembari menatap punggung gadis yang memiliki tinggi semampai itu.
“Rea, tunggu.”
Dengan langkah lebar, Arthur mengejar, dan menarik lengan Andrea. Dengan sigap, Andrea menahan dada pria itu dengan tangannya yang lain.
Pandangan mereka saling beradu. Tatapan Arthur begitu menusuk, hingga membuat jantung Andrea berdetak lebih cepat.
‘Apa yang pria ini lakukan? Apa tidak melihat, disini masih banyak orang?’
“Ada apa, tuan?”
Gadis itu memberanikan diri untuk bertanya. Ia pun menghempas tangan Arthur dengan pelan.
“Ma-maaf.” Pria itu membuang nafasnya kasar.
“Aku sudah memberi nama bayi itu. Maksudku, nama itu atas permintaan Audrey.”
Andrea menyimak apa yang di ucapkan pria itu.
“Audrey memberi nama putrinya Princess. Menurutmu, nama apalagi yang tepat untuk di sematkan di belakang nama Princess?”
Andrea nampak berpikir sejenak. Gadis itu mengalihkan pandangannya, karena Arthur yang terus menatapnya.
“Audrey.” Ucap gadis itu lirih, namun Arthur masih bisa mendengarnya.
“Iya, ada apa dengan Audrey?” Tanya pria itu tak mengerti.
“Kita beri nama Princess Audrey, tuan. Meski nona sekarang sudah tak bersama kita, tetapi dia akan selalu hidup dalam hati kita.”
Arthur seketika mengangguk setuju.
“Kamu benar. Princess Audrey.”
‘Sayang, apa kamu menyukai nama itu? Princess Audrey. Dan seperti janjiku, dia akan menjadi putriku, dan membawa nama Dinata di belakang namanya. Princess Audrey Dinata.’
Batin Arthur seolah memberitahu sang adik yang kini sudah tak bersamanya lagi.
.
.
.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 126 Episodes
Comments
Jeankoeh Tuuk
Tuhan yg memberi
Tuhan yg mengambil
2024-04-27
1
Eddy Junaedi
gimana nasib pembawa acara temannya audrey yg membuat audrey di lecehkan,depresi sampai sampai kehilangan nyawanya saat melahirkan anaknya
2023-11-12
0
niktut ugis
temennya si Audrey biang kerok mana thor
2023-02-18
3