Mama Daisy sedang sibuk berkutat di meja kerjanya. Wanita berusia lima puluh lima tahun itu, memiliki bisnis di bidang fashion.
Ia mengelola sebuah butik yang di beri nama DA Fashion, diambil dari huruf depan namanya dan sang putri, Audrey.
Butik itu merupakan hadiah dari sang suami, saat anak kedua mereka terlahir perempuan. Karena, mendiang sang suami, begitu ingin memiliki seorang anak perempuan.
Butik ini khusus menjual busana pengantin, dan pesta, dengan mama Daisy sendiri yang menjadi perancang busananya.
“Pagi-pagi tanteku sudah sibuk sekali.” Ucap seorang wanita muda memasuki ruang kerja mama Daisy.
Wanita paruh baya itu tak menghiraukan. Ia tetap fokus pada pekerjaannya.
“Orderan baru, Tan?” Tanya wanita muda itu, sembari melirik goresan tangan sang tante.
“Bukan.”
“Lalu?” Wanita muda yang bernama Jennifer, yang tak lain adalah keponakan dari mendiang sang suami itu pun duduk di berseberangan dengan mama Daisy.
“Ini untuk Andrea.” Jawab mama Daisy singkat.
“Apa Arthur jadi menikahinya?” Sebagai sepupu dari Arthur, tentu Jennifer tau, jika pria itu akan menikah dengan Andrea.
“Hmm.. tentu. Tidak ada alasan untuk membatalkan.”
Wanita yang akrab di sapa, Jenny itu menganggukkan kepalanya.
“Hanya saja, apa tante tidak masalah punya menantu dari kalangan menengah? Apalagi dia yatim piatu.”
“Lebih baik Arthur menikah dengan Andrea, daripada dengan Celine ‘kan?” Kini mama Daisy menghentikan kegiatannya. Menatap sang keponakan serius.
Wanita seusia Arthur itu kembali menganggukkan kepalanya. Ia juga tidak mau jika sang sepupu menikah dengan Celine.
Celine merupakan saingan semasa SMA dulu. Mereka selalu berebut untuk menjadi yang nomor satu. Namun Jenny selalu menjadi yang kedua, karena itu sepupu Arthur itu tidak menyukai Celine.
“Lalu, bagaimana dengan Arthur? Apa dia mau? Kita semua tau, pria itu susah sekali move-on dari Celine. Dia bahkan menolak kencan buta yang selalu aku rencanakan.”
Jenny membuang nafas frustrasi, ia menyandarkan punggung sandaran kursi.
“Aku harap, Arthur bisa membuka diri untuk gadis lain. Ya, mungkin itu Andrea. Dia sudah terlalu banyak membuang waktu menunggu yang tak pasti.”
“Ya, dan semoga anak itu mengerti, Celine bukanlah jodohnya. Meski sekarang wanita itu sudah tidak bersuami, setidaknya Arthur telah terikat janji dengan gadis lain. Tante akan melakukan apapun, agar Arthur dan Andrea menikah.” Ucap mama Daisy dengan pandangan menerawang jauh.
Sebagai seorang ibu, tentu wanita paruh baya itu ingin yang terbaik untuk anak-anaknya. Dan menurut mama Daisy, menikah dengan Andrea adalah pilihan yang terbaik untuk Arthur. Cinta itu mungkin belum ada, namun bisa tumbuh seiring berjalannya waktu.
🍃🍃🍃
Sementara itu, pria yang sedang di perbincangkan oleh dua wanita berbeda usia itu kini tengah sibuk berkutat dengan pekerjaannya di kantor.
Perusahaan yang Arthur kelola mencakup bidang akomodasi perhotelan. Puluhan hotel telah tersebar di seluruh Tanah air. Bahkan hingga ke negara tetangga.
Tentu usaha yang ia miliki saat ini bukan hasil kerja kerasnya sendiri, melainkan peninggalan sang papa, yang ia lanjutkan.
Arthur sebenarnya lulusan sarjana arsitek. Namun, kepergian sang papa setelah ia lulus kuliah, tujuh tahun lalu membuatnya mau tak mau berbelok arah meneruskan usaha mendiang papanya itu.
Suara ketukan pada pintu, menganggu konsentrasi pria tiga puluh tahun itu. Ia pun meminta orang di depan pintu untuk masuk.
“Bos.” Seorang pria seumuran dengan Arthur masuk ke dalam ruangan itu. Pria bernama Thomas, yang tak lain adalah asisten kepercayaan Arthur.
“Ada laporan apa?” Tanya Arthur tanpa mengalihkan perhatiannya dari komputer lipat di hadapannya.
“Aku baru datang dari hotel di pusat kota. Mereka sedang mencari koki baru.” Jelas Thomas sembari duduk di seberang meja.
“Lalu? Apa hubungannya dengan ku? Bukannya itu tugas para manager?” Tanya Arthur yang menghentikan sejenak aktivitasnya.
“Ya, memang tidak ada. Tetapi.” Thomas ragu untuk berbicara. Takut informasi yang akan ia sampaikan, tidak penting untuk sang atasan.
“Apa?” Tanya Arthur dengan mata memicing.
Thomas menghela nafas pelan. Pria yang sudah lima tahun bekerja dengan Arthur itu, merupakan anak kandung dari bibi Rosi.
“Tetapi, salah satu dari pelamar itu bernama Andrea Cecilia.”
Gerakan jemari Arthur di atas papan ketikan seketika melambat. Ia seperti tidak asing dengan nama yang di sebut asistennya itu.
“Apa aku mengenalnya?”
Thomas menganga mendengar pertanyaan sang atasan. Bukannya mereka calon suami istri? Bagaimana tidak tau nama lengkapnya?
“Itu nama adik sepupuku, bos.”
Mendengar jawaban sang asisten. Arthur menghentikan pekerjaannya. Ia sedikit menggeser laptop ke sudut kanan meja.
“Jadi Rea melamar pekerjaan di hotel ku? Kenapa dia tidak mengatakan apapun?”
Tentu Arthur tau jika gadis itu melamar pekerjaan di salah satu hotel. Namun, ia tak tau jika itu hotel miliknya. Segala hal tentang Andrea, hanya ia ketahui dari cerita sang mama. Pria itu pun tak berniat mencari tau lebih lanjut, mengingat gadis itu keponakan bibi Rosi.
Thomas berdecak kesal mendengar ucapan sang atasan.
“Apa kalian pernah mengobrol secara pribadi satu sama lain?”
Kepala Arthur menggeleng kecil. Membuat Thomas kembali berdecak.
“Lalu untuk apa adikku mengatakan padamu? Hubungan kalian tidak sedekat itu, ‘kan?”
Arthur menghela nafasnya pelan. Selama dua minggu ini, mereka memang sering pergi bersama. Namun, tak sekalipun membahas hal pribadi, atau masalah pernikahan. Mereka hanya membahas mengenai Audrey kecil.
“Lalu menurutmu bagaimana, Thom?”
“Apa bos benar ingin menikah dengannya?” Tak hanya para asisten rumah, namun Thomas juga tau tentang janji Arthur dan Andrea kepada mendiang Audrey.
“Tentu, aku sudah berjanji kepada mendiang adikku.”
“Kalau begitu. Ya, lakukanlah.”
“Tetapi kami tidak, maksudku kami belum mengenal satu sama lain, aku takut kedepannya salah satu dari kami ada yang menyesal.” Ucap Arthur dengan mengedikan bahu.
“Maka dari itu, lakukanlah pengenalan terlebih dulu. Atau, bisa saja kalian menikah dulu. Kemudian melakukan pendekatan setelah menikah. Bisa saja, ‘kan? Bukannya pernikahan itu, hanya untuk supaya Audrey kecil memiliki status yang jelas? Setidaknya, pikirkan tentang bayi mungil itu. Jangan egois. Apalagi yang bos tunggu?”
Arthur memikirkan ucapan panjang lebar asistennya itu. Mungkin ada benarnya. Ia sudah dewasa, segala manis pahit kehidupan telah di lalui. Sekarang saatnya memikirkan masa depan Audrey kecil. Bayi itu membutuhkan sebuah status di mata hukum.
“Kalau begitu, kosongkan jadwalku akhir pekan ini.” Pria itu kembali menarik laptop ke hadapannya.
“Apa bos ingin berkencan dengan adikku?” Tanya Thomas antusias.
“Tidak.”
“Lalu?”
“Aku akan berada di rumah membantu Rea menjaga Audrey.”
“Yang benar saja, aku pikir mau mengajak adikku kencan.” Gumam Thomas sembari menyandarkan punggungnya kembali.
“Pendekatan itu bisa di lakukan dimana saja, bukan?”
Kepala Thomas mengangguk sebagai jawaban.
“Ya, sudah.” Jawab Arthur tak acuh.
.
.
.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 126 Episodes
Comments
Eddy Junaedi
waduh art dikasih saran langsung gaspol euy
2023-11-12
0
Nurak Manies
💪💪❤❤❤❤
2022-10-12
1
aniya_kim
Arthur akan memenuhi janjinyaaaaa ..
huhu Tentu karena dia mc nya
2022-10-10
0