Sebelum kembali menemui Nyonya Dinata, Andrea menyempatkan diri untuk membeli sarapan di kantin rumah sakit.
Ia membeli sebungkus roti panggang, dan segelas teh hangat. Tak lupa gadis itu membelikan untuk Arthur, karena pria itu juga belum sarapan.
Selesai sarapan, gadis itu kemudian kembali. Ia hanya melihat Arthur di depan ruang ICU, dan tak mendapati sang nyonya disana.
“Tuan, sarapan dulu.” Ucapnya sembari menyerahkan sebungkus roti isi, dan sebotol air mineral.
“Kamu sudah berganti pakaian?” Tangan pria itu terulur menerima pemberian Andrea, namun matanya tertuju pada penampilan gadis yang terlihat lebih segar dari tadi saat mereka terbangun.
“Ya, nyonya membawakan pakaian ganti. Beliau juga membawa untuk tuan.” Jelas Andrea. Ia mengambil tempat duduk di samping Arthur, dengan menyisakan satu kursi kosong di antara mereka.
Tentu Andrea harus tau diri. Meski semalam mereka tidur saling bersandar, hal itu tak dapat mengubah apapun.
“Mungkin mama ada di depan ruang NICU.” jawab Arthur sembari menikmati sarapan yang di belikan oleh gadis itu.
“Bagaimana keadaan nona?”
Pertanyaan Andrea membuat Arthur menghela nafas pelan. Roti isinya telah habis, pria itu kemudian meneguk air dari dalam botol, sebelum menjawab pertanyaan Andrea.
“Tolong bantu Doa, Rea.“
Jawaban Arthur membuat Andrea menatap lekat pria itu. Ia berusaha mencerna apa maksud ucapan pria tiga puluh tahun itu.
“Aku selalu mendoakan nona, tuan. Tetapi, apa keadaannya belum membaik?”
Kepala Arthur menggeleng.
“Aku tidak tau, dokter belum mengatakan apapun padaku.”
Tak lama kemudian, Seorang suster datang, dan meminta Arthur untuk menemui dokter. Ada hal penting yang ingin disampaikan kepada keluarga Audrey.
Pria itu kemudian bergegas. Ia ingin tau tentang kondisi sang adik yang sebenarnya.
“Nona Audrey mengalami pendarahan post partum, pak. Ini terjadi di karenakan plasenta berada di bawah rahim. Selain itu, nona Audrey juga kekurangan enzim trombin, enzim yang membantu proses pembekuan darah dalam tubuh.”
Jelas dokter ketika Arthur kini sudah duduk di hadapannya.
“Apa pendarahan ini berbahaya, dok?”
Dokter wanita itu menghela nafas pelan.
“Kita hanya bisa berdoa, berserah kepada Tuhan, pak.”
Arthur kembali ke depan ruang ICU, dengan langkah gontai. Jawaban dokter tadi seakan meruntuhkan dunianya. Ia sudah kehilangan sang ayah di masa remajanya. Tak ingin lagi kehilangan orang yang di cintainya.
“Tuan, apa yang dokter katakan?”
Tanya gadis itu, kala melihat sang tuan telah kembali.
Belum sempat Arthur menjawab, nyonya Dinata datang. Ia memberikan pakaian ganti pada sang putra. Arthur kemudian pergi ke ruang VIP yang tadi Andrea gunakan.
“Apa kita tidak boleh melihatnya?”
Tanya nyonya Dinata kepada Andrea.
“Aku tidak tau, nyonya. Tuan tidak berkata apapun. Hanya meminta aku untuk mendoakan nona.”
Nyonya Dinata mengangguk paham. Ia juga tiada henti berdoa untuk kesembuhan sang putri.
Mereka kemudian duduk bersisian pada kursi tunggu. Hampir setengah jam keduanya larut dalam pikiran masing-masing, terdengar suara menginterupsi.
“Keluarga pasien nona Audrey?”
Seorang suster keluar dari ruang ICU, memanggil keluarga Audrey. Panggilan itu membuat Arthur yang baru saja kembali, mematung di tempatnya.
“Ada apa, sus?”
Pertanyaan nyonya Dinata menyadarkan Arthur. Membuat pria itu melangkah mendekati sang mama yang berada di dekat ruang ICU.
“Nona Audrey ingin bertemu dengan keluarganya.”
Deg..
Meski bukan keluarga Audrey, tetapi perasaan Andrea tiba-tiba cemas.
Ia teringat kembali saat-saat terakhir orang tuanya. Suster juga mengatakan hal yang sama.
‘Pasien ingin bertemu keluarganya.’
Arthur dan Nyonya Dinata dengan cepat memasuki ruangan intensif itu. Sementara, Andrea tetap berada di luar.
“Apa nona yang bernama Andrea?” Tanya suster itu.
Gadis itu menganggukkan kepalanya.
“Pasien juga ingin bertemu dengan nona Andrea.”
Jantung Andrea semakin berdegup kencang. Ia berusaha menepis segala hal buruk yang bermunculan di pikirannya.
“Tidak, nona pasti baik-baik saja.”
Andrea pun bergegas masuk ke dalam ruangan itu, menyusul para majikannya.
“Ma, k-kak.."
Suara Audrey lirih dan terbata. Nafas wanita itu mulai putus-putus.
"Iya, sayang."
Arthur mendekat, berdiri di sisi kanan tempat tidur pasien, kemudian menggenggam tangan sang adik. Sementara, sang mama berada di sebelah kiri.
"Terima kasih telah merawat ku selama ini."
Audrey menatap lemah kedua orang yang dicintainya itu.
"Jangan berkata seperti itu, sayang. Sudah tugas mama untuk merawat mu."
Nyonya Dinata mengusap kepala sang putri, kemudian melabuhkan kecupan hangat pada kening Audrey.
"Kak, berjanji lah. Jaga putri ku. Jadikan dia sebagai putrimu."
Audrey kini menatap sang kakak penuh harap.
"Jangan banyak bicara, bukannya aku sudah berjanji sebelumnya?"
Arthur berusaha untuk menahan air matanya. Ucapan dokter kembali terngiang di benaknya.
Kepala Audrey menggeleng lemah.
"Jadikan dia putrimu secara hukum." Ucap wanita itu lemah.
Deg..
Pria itu tersentak mendengar ucapan sang adik. Menjadikan bayi itu anak di mata hukum, itu artinya Arthur harus mempunyai pasangan dan menikah.
"Aku akan melakukan apapun untuk mu. Asal kamu sembuh."
Arthur ikut mengecup kening adiknya.
"Tidak kak. Kakak yang harus berjanji, jadikan dia putrimu secara hukum."
Ulang wanita itu. Nafas Audrey semakin berat dan tersendat.
Nyonya Dinata menatap ke arah sang putra, melalui tatapan mata, ia meminta agar Arthur mengiyakan keinginan adiknya.
"Menikah lah dengan Rea."
Tatapan Audrey mengarah kepada gadis yang berdiri di samping sang mama.
Ketiga orang itu tersentak.
"Rea, sudah berjanji akan menjadi mama untuk anakku."
Kepala Andrea menggeleng kencang. Bagaimana bisa Audrey memintanya menikah dengan Arthur?
"Nona, aku tidak mungkin menikah dengan tuan Arthur."
"Rea, aku mohon."
Dada Audrey naik turun dengan cepat.
"Audrey jangan terlalu banyak bicara. Kamu harus sembuh dulu. Aku berjanji akan melakukan apapun untuk mu."
Arthur berusaha menenangkan sang adik.
Kepala wanita itu kembali menggeleng.
"Katakan kalian akan menikah, dan menjadi orang tua untuk putriku."
Nyonya Dinata kembali menatap sang putra, dan juga Andrea.
“Arth, Rea.”
Kepala wanita paruh baya itu mengangguk kecil. Memberi tanda, agar mereka menjawab iya.
Arthur diam sesaat, ia memikirkan permintaan sang adik. Belum terlintas di benaknya untuk menikah. Walau usianya kini sudah memasuki angka tiga puluh tahun.
Tangan Audrey terulur. Arthur pun meraihnya, wanita itu juga meminta tangan Andrea.
Nyonya Dinata bergeser, memberi ruang bagi Andrea.
“Aku mohon. Hanya kalian harapanku. Aku ingin, putriku memiliki orang tua lengkap, di mata hukum.”
Wanita itu mengenggam jadi satu tangan sang kakak dan juga tangan Andrea di atas perutnya.
“Kak. Maaf jika selama ini aku selalu merepotkan mu. Aku berjanji, ini terakhir kalinya aku meminta. Tolong, jadilah ayah untuk putriku. Menikah lah dengan Rea.”
Genggaman tangan Audrey melemah. Membuat Arthur semakin takut.
“Audrey, sayang. Jangan berkata seperti itu, kamu sama sekali tidak merepotkan aku. I-iya, aku berjanji.” Pria itu menghela nafasnya pelan.
“Aku akan menjadikan dia putriku, secara hukum.“
“Menikahlah, dengan Rea.”
Arthur kembali menghela nafas, di tatapannya sejenak gadis yang di minta menjadi istrinya.
“Iya, aku akan menikah dengan Rea.”
Deg..
Mata Andrea membulat sempurna. Kepalanya menggeleng lemah.
Namun, melihat senyum tipis di wajah Audrey, membuat gadis itu tidak bisa menolak.
“Rea.”
“I-iya, nona. Aku akan menikah dengan tuan Arthur.”
Senyum Audrey semakin terlihat jelas. Mata wanita itu perlahan terpejam. Dan genggaman tangannya pun terlepas.
”AUDREY.”
“NONA.”
.
.
.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 126 Episodes
Comments
Jeankoeh Tuuk
😭😭😭
2024-04-27
0
Eddy Junaedi
setelah permintaan audrey di iakan oleh arthur dan rea aydrey memejamkan mata untuk selamanya
2023-11-12
1
Putri Windasari
berapa byk sihh thor narok bawang disini..kann periihh mata ku 😭😭😭
2023-07-16
0