Setelah sampai rumah, Fakhri langsung berlari masuk meninggalkan Farzan yang masih di atas motornya.
Kemudian ia turun dari motor dan menoleh ke jalan.
Melihat Shanti sudah tidak jauh dari rumah, Farzan pun berdiri menunggunya di depan pintu. Namun begitu Shanti sampai, Seperti biasa tanpa mengatakan apapun Shanti berniat masuk melewati Farzan.
"Kita harus bicara Mbak..." ucap Farzan dengan penuh penekanan.
Karena Shanti hanya menoleh sekilas dan kembali melangkah masuk, Membuat Farzan memaksa dan menarik tangan Shanti kemudian memepet tubuhnya di dinding dapur.
"Lepaskan Aku Farzan! Jaga sikap mu!"
"Mbak yang memaksaku bertindak seperti ini, Sampai kapan Mbak diam dan tidak mau bicara dengan ku?!"
"Farzan lepaskan Aku, Nanti Fakhri lihat!"
Farzan melihat Fakhri yang tengah asyik menonton televisi.
Kemudian ia kembali menatap Shanti.
"Dia tidak akan melihat jika Mbak Shanti tidak berteriak dan mau bicara baik-baik dengan ku."
Shanti terdiam dan memalingkan wajahnya dari tatapan mata Farzan yang berjarak hanya beberapa centi. Wajah Farzan yang lebih tampan dari Farhan dengan tubuh sixpack serta bayangan malam itu cukup membuat Shanti gugup, Ia bukan sepenuhnya marah kepada Farzan apa lagi menyalahkan dia sepenuhnya, Namun ia yang tidak bisa melupakan malam itu, Membuatnya tidak mampu berhadapan dengan Farzan.
"Mbak..."
Shanti tersentak dari lamunannya dan kembali menatap Farzan.
"Sampai kapan kita begini?"
"Begini apa maksud mu? Apa kamu lupa jika Aku kakak ipar mu, Istri dari Farhan kakak mu?"
Farzan merenggangkan tangannya dan mengikis jarak antara mereka.
"Setidaknya kita tidak seperti orang asing kan Mbak?' tanya Farzan sembari menundukkan kepalanya.
"Aku masih butuh waktu."
"Baiklah Aku tidak akan memaksakan kehendak ku, Tapi setelah..."
ucapan Farzan terhenti saat ponsel milik Shanti berdering.
Farzan dan Shanti saling memandang melihat nama Farhan tertera di layar ponselnya. Kemudian Farzan melangkah mundur dan memalingkan badan, Membiarkan Shanti mengangkat telepon dari suaminya.
"Hallo..."
"Shanti... Kenapa susah sekali di hubungi?"
"M-maafkan Aku Mas, Sejak kemarin kerjaan banyak di buru-buru terus, suruh cepet selesai."
"Benarkah, Kalau begitu uang kamu sudah banyak dong?"
"Nggak tau Mas, Belum gajian."
"Kalau begitu, Kamu ambil lebih awal yah, Jangan nunggu hari Sabtu."
"Memangnya kenapa Mas?"
"E-Shanti, Mas gak gajian lagi, Gajian Mas habis untuk potongan, Makan dan kebutuhan hari-hari."
Shanti menjauhkan ponsel dari telinganya. Hatinya benar-benar merasa kecewa karena untuk kesekian kalinya bukannya mengirimkan uang dan memenuhi tanggung jawabnya, Justru malah meminta uang darinya.
Farhan yang pergi jauh-jauh meninggalkan keluarga dengan alasan mencari nafkah dengan gaji yang lebih besar dari sebelumnya saat ia kerja di Jakarta, Justru sering kali meminta Shanti untuk mengiriminya uang dengan berbagai macam alasan.
"Apa Mas Farhan minta uang lagi?" tanya Farzan yang dengan jelas mendengar perbincangan mereka.
Shanti hanya mengangguk sedih.
"Mbak tidak perlu mengiriminya." tegas Farzan.
Shanti terdiam mempertimbangkan permintaan Farhan dan masukan dari Farzan.
"Mbak... Ini sudah yang kesekian kalinya Mas Farhan meminta uang pada Mbak, Sebenarnya apa yang ia kerjakan di sana, Kenapa selalu mengatakan tidak gajian, Gajian habis untuk potongan, Makan dan alasan lainnya?"
"Tanyakan saja sama kakak mu!" Shanti menjadi kesal dan berniat meninggalkan dapur. Namun Farzan kembali menghentikannya dengan mencekal lengan Shanti.
"Lepasss...!"
"Kenapa Mbak Shanti jadi marah pada ku?"
"Lalu Aku harus marah kepada siapa, Hah?!"
Farzan terdiam menatap Shanti yang mulai meneteskan air matanya.
"Hampir sepuluh tahun Aku hidup seperti ini, Bahkan sejak awal pernikahan kakak mu tidak pernah bisa memenuhi semua tanggung jawabnya sebagai seorang suami, Aku yang harus bekerja dan berpikir keras bagaimana caranya agar kita tidak sampai kelaparan, Bahkan setelah kehadiran Fakhri pun dia masih tidak berubah, Justru dia seolah merasa tenang karena Aku bisa mencari uang sendiri tanpa bergantung kepada nya."
"Mbak..." Farzan yang mendengar keluh kesah Shanti dengan linangan air matanya ikut merasa sedih.
"Terkadang Aku merasa begitu lelah menjalani ini semua, Aku lelah memiliki suami tapi tidak berfungsi apapun sebagai kepala keluarga."
Melihat Shanti yang semakin tidak bisa menahan suara tangisnya. Farzan kembali mendekati Shanti dan membuat Shanti menyandarkan kepalanya di bahu nya.
Tidak ada kata-kata yang bisa Farzan ucapkan selain berusaha membuat kakak iparnya kembali merasa tenang.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments
Widi Widurai
kayany suaminy yg slingkuh dluan ekwk
2023-02-03
2
Ita rahmawati
jgn² farhan punya bini lain di peratauan...
2022-12-19
0
Nenkz Siska Tea
c Farhan ini kok ya aneh alesannya, patut dicurigai ini 🤔
jangan jadi istri yg selalu manut.... semangat 💪
2022-10-01
0