Melihat Shanti keluar sembari menangis, Farzan yang sedang duduk di teras rumah mengawasi Fakhri yang tengah bermain layang-layang bergegas mendekati Shanti.
"Mbak Shanti apa yang terjadi?" tanya Farzan mencoba melihat wajah Shanti yang terus tertunduk.
Farzan nenjadi begitu terkejut ketika Shanti mengangkat wajahnya. Luka lebam dan sedikit darah di ujung bibirnya seolah memberi jawaban dari pertanyaan Farzan.
"Jadi Mas Farhan memukul Mbak Shanti?!"
Shanti yang sudah tidak bisa lagi menyembunyikan masalahnya hanya mengangguk dan menangis sejadi-jadinya.
Melihat hal itu Farzan yang merasa begitu pilu memegang kedua bahu Shanti, Kemudian membuat Shanti bersandar di dadanya.
Shanti yang merasa begitu sedih tidak menolak apa yang Farzan lakukan, Justru Shanti membenamkan wajahnya di dada Farzan dan terus menangis hingga membasahi bajunya.
"Aku ingin bercerai Farzan... Aku ingin bercerai... Hiks... Hiks... Hiks..." tangis Shanti.
Farzan merasa bingung harus menjawab apa. Di satu sisi ia merasa sedikit senang karena akhirnya Shanti akan terlepas dari pernikahannya yang sudah tidak sehat. Di sisi lain ia merasa bingung biar bagaimanapun Farhan adalah kakaknya.
"Farzan... Bantu Aku lepas darinya, Aku sudah tidak tahan lagi."
"E-ya... Tenanglah Mbak, Ini sudah sore, Mbak beristirahatlah di rumah Bulek Wati, Besok kita bicarakan lagi. Mbak juga tidak bisa mengambil keputusan dalam keadaan seperti ini kan?"
Shanti mengangguk dan mengangkat kepalanya dari dada Farzan. Ia menghapus air matanya dan menjadi canggung ketika netra mereka bertemu.
"Pergilah dulu Mbak, Aku akan memanggil Fakhri."
Shanti mengangguk dan melangkah ke rumah Bulek Wati yang hanya bersebelahan dengan rumahnya.
Rumah orang tua Shanti yang beda kota dengan rumah Farhan membuat Shanti harus menunda kepulangannya ke rumah orang tuanya dan menginap di rumah Bulek Wati untuk sementara waktu.
Sementara Farhan tengah meratapi ponselnya yang tidak bisa lagi di gunakan. Ia semakin merasa frustrasi karena tidak bisa menghubungi istri mudanya.
"Ajeng pasti berpikir macam-macam tentang ku karena nomor ku tidak aktif, Ahhh sialllll...!!!" Farhan kembali melempar ponselnya dengan kesal.
Seperti orang bodoh, Farhan kembali mengambil ponselnya dan mengeluarkan SIM card di dalamnya.
"Sekarang apa yang harus ku lakukan, Shanti meminta cerai, Aku tidak bisa menghubungi Ajeng, Sementara uangku tidak cukup untuk memenuhi janjiku, Aarrrggghhh... Benar-benar menyebalkan!"
"Pusing sendiri kan?" celetuk Farzan yang melihat kegusaran di hati kakaknya.
"Kamu! Ngapain kemari? Apa mau menertawakan ku?!"
"Apa Mas merasa ada yang harus di tertawakan?"
"Tidak usah basa-basi Farzan! Kamu pasti seneng kan Shanti meminta cerai dari ku?!"
"Aku tidak tau harus senang atau sedih, Tapi hubungan kalian memang sudah seperti bom waktu yang akan meledak menunggu waktunya tiba."
"Apa maksud mu Farzan!" dengan kesal Farhan menarik kerah baju Farzan.
"Apalagi Mas, Sudah bertahun-tahun Mas mengabaikan tanggung jawab Mas sebagai seorang Ayah dan suami, Setiap kesabaran memiliki titik lelahnya. Begitu pula dengan Mbak Shanti."
"Jadi kamu mendukungnya? Atau jangan-jangan kamu sudah mengharapkan ini sejak lama?"
"Aku memang mencintai Mbak Shanti, Tapi Aku tidak pernah mengharapkan apapun darinya apalagi sampai menginginkan perceraian kakak ku sendiri. Jika sekarang Mbak Shanti menginginkan perceraian itu murni karena keinginannya sendiri, Karena perilaku Mas sendiri."
"Bre'ngsek kamu Farzan! Tidak tau malu, Kamu mencintai kakak ipar mu sendiri? Istriku? Berrraninya kau... Bhug..." satu tonjokan Farhan layangkan ke perut Farzan hingga membuat Farzan terdorong beberapa langkah ke belakang.
Masih belum puas, Farhan kembali menarik kerah baju Farzan dan kembali ingin menghajarnya. Namun aksi Farhan di hentikan oleh bulek Wati yang datang.
"Farhan...!!!"
Farhan mengurungkan niatnya dan melepaskan cengkraman tangannya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Bulek Wati meraih Farzan ke sisinya.
"Tanyakan pada nya kenapa Aku memukulnya!"
"Tidak ada apa-apa Bulek, Hanya salah paham."
"Dia tidak akan berani mengaku!" saut Farhan kesal.
"Lalu bagaimana dengan Mas, Apa Mas berani mengaku siapa wanita yang membuat kalian bertengkar hebat?" tantang Farzan.
"Sudah... Sudah... Berhentilah berdebat, Kalian itu saudara kenapa seperti kucing dan tikus!"
"Farzan duluan Bulek."
"Mas Farhan yang duluan!"
"Bulek bilang berhenti! Kenapa hadi seperti anak kecil?
Farhan! Sekarang katakan, Apa benar kamu dan Shanti mau bercerai?"
"Aku tidak ingin bercerai Bulek tapi Shanti."
"Shanti tidak mungkin meminta cerai jika tidak memiliki alasan, Dia juga terlihat memar, Apa benar kamu memukulnya?"
Farhan tak bisa mengelak dari Tantenya. Karena percuma saja ia mengelak karena bukti terlihat di depan nyata.
"Diam mu menandakan bahwa kamu benar melakukannya. Sebenarnya apa yang membuat mu tega melakukan itu pada Shanti Farhan? Apa benar kamu memiliki istri lain?"
"Aku terpaksa Bulek."
"Terpaksa bagaimana Farhan, Mana ada menikah lagi terpaksa!"
"Itu benar Bulek, Aku menikah dengan nya karena warga memergoki kami berduaan di kontrakan. Warga mengira kami melakukan perbuatan tak senonoh, Padahal Aku hanya membantunya memasang selang gas, Tidak lebih, Tapi mereka tidak percaya dan langsung menikahkan kami." ujar Farhan mencoba mengelabui Tante dan Adiknya.
Farzan menatap Farhan seolah mencari kebenaran dalam ucapannya. Sementara Bulek Wati yang percaya begitu saja menyuruh Farhan menjelaskan hal tersebut kepada Shanti agar rumah tangganya bisa terselamatkan.
Bersambung...
📌 Masih sepi Nih, Yuk ramein biar nulisnya makin semangat 🤗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments
अयुनिंद्य
jangan mau balik sama Farhan. mending jadi janda 😂
2022-10-23
1
Umi Tum
jangan percaya sama omongan farhan San..
2022-10-17
0
Siti Aisah
lelaki menjijikkan
2022-10-16
0