Untung sorenya Rahel berhasil mengusir Addy pulang karan peria itu sempat kekeh tak mau pergi dari rumah windi dan akan tinggal di sana bersama mereka namun windi tak mau menambah masalah dengan kelurga Addy.
Sehinga ia melakukan berbagai cara dan semuanya tak berhasil akhinya iya memintanya untuk datang besok lagi dan membicarakan masalah menginap dan peria itu langsung setuju segera pulang.
Di malam hari jam sudah menunjuk pukul 11 malam namun windi masih duduk di teras rumah dan belum kembali sama sekali, Adam yg sadar berbicara "Ni cewek jam segini tumben belum tidur." Adam memutuskan untuk menyusulnya.
Di luar ia menemukan gadis itu yg duduk sambil menatap ke langit, Adam memutuskan untuk duduk di dekatnya sambil menatap ke langit "Apa kamu sedang melihat bintang sekarang??" Tiba-tiba Rahel membaringkan kepalanya di bahu Adam dan peria itu sempat terkejut. "Tetaplah seperti ini, aku ingin seperi ini." Adam pun menurut dan gadis itu kembali biacra
"Apa kamu tau, aku merasa bahgia ketika bisa melihat bintang lagi. Dulu ketika Ayah ku masih hidup kami selalu melihat bintang di malam hari sambil bercerita terkadang ibu ku akan membiarkan kami tapi terkadang ibu akan memarahi kami lalu menjewer kuping kami, aku sempat berpikir momen itu akan sering terjadi namun aku salah pada saat usia ku 5 tahun ayah dan ibuku tiada dan aku di asuh oleh nenek ku sejak itu aku sudah tak bisa melihat bintang lagi karna nenek selalu melarang ku keluar malam karna ini di tengah hutan."
Adam menjawabnya "Sekarang kamu tak perlu takut untuk keluar, kamu akan bisa melihat bintang semau mu selagi aku masih ada di sini aku akan menjaga mu."Rahel merasa kehangatan yg ia rasakn ketika bersama Adam dan rasanya ia tak ingin melepaskanya.
Ia mersa sekarang sudah ada orang yg akan melindunginya dari apa pun hal jahat yg akan mengganggunya ia tersenyum bahagia dan Adam yg melihat hal itu "Hel, ketika melihat senyum mu dimalam hari aku merasakan kesejukan seperti seperti Angin malam."
Perkatan Dam membuat Jantung Rahel berdebar kencang dan gadis itu mulai tak fokus ia menggangkat kepalnya "Maaf sepertinya kita harus segera pergi tidur sebelum lampu nanti nanti." Rahel segera bangit dari duduknya dan langsung masuk ke dalam rumah "Ada apa dengan dia??" Adam pun memutuskan untuk mengikutinya dari belakang.
*
*
*
*
*
Tak tetasa sudah dua bulan setelah kematian Adam ayahnya yg selama ini selalu tinggal di rumah sakit kini memutuskan untuk kembali pulang sebentar entah kenapa ia merindukan putranya itu.
Ia masuk ke dalam kamar putrnya tidak lupa ia menyalakan lampu kamar dan ia kembali menitihkan airmatanya ia berjalan perlahan dan duduk di meja kerjanya lalu membuka lacinya untuk mengambil surat terakhir dari putranya ia membaca tiap inci surat itu sambil menangis namu tanpa sengaja ia menyengol berkas milik Adam yg belum di pindahkan itu.
"Sepertinya semua berkas pekerjaanya harus di kerim kembali ke kantor." Pada saat ia memungut berkasa tersebut ia terkejut melihat tulisan putranya "Apa aku salah lihat..."
Ia mengambil surat terakhir putranya lalu membandingkan dengan tulisanya yg berada di beja tersebut bertapa terkejutnya, tulisan di berkas Adam itu rait namun rapi sedangkan di surat terakhir putrnya semunya bertulisan biasa dan bahkan tak rapi sama sekali.
"Apa maksud semua ini??" Ia mencari berkas Adam yg ia tulis dengan tulisan biasa dan ada satu tapi tulisanya sama berbeda dengan yg di surat terakhir putranya "Apa maksud ini semua apa surat terakhir putra ku di tulis oleh orang lain." Tiba-tiba terdengar suara dari luar seperti ada sesorang yg terjatuh "Siapa itu..."
Dan sekor kucing peliharan keluarga Jons masuk "Astaga mimi kau mengejutkan ku saja." Tanpa ia sadari di balik tembok kepala pelayan menutup mulutnya lalu ia segera meninggalkan temapt itu dan memutuskan untuk ke taman rumaha yg sepi dan segera menelfon nyonyanya.
Di rumah Fitri yg sedang maskeran mendapt telfon dari kepala pelayan yg bekerja di rumah keluarga Jons langsung menjawabnya "Halo ada apa??".
Pelayan itu terlihat hawatir "Nona tuan Dion sudah tau bawa surat terakhir tuan itu bukan dari tulisan tanganya." Rahel yg mendenar hal itu di buat terkejut "Apa. Kamu tetap awasi gerak-gerik pak tua itu dan untuk masalah ini biar aku bicarakan dulu dengan Kekasih ku."
Wanita itu mengiyakan lalu mematikan hpnya "Sial pak tua itu menyadarinya aku harus memberi tau Abel dan meminta saran padanya." Rahel menelfon kekasinya itu dan tentu saja langsung di jawab dan terdengar suara seorang peria yg terdengar berat seperti orang yg baru terbangun dari tidurnya dan Fitri pun langsung berbicara.
"Halo sayang, ada hal penting yg ingin aku bicarakan??" Abel keluar dari kamar memeriksa luar dan hanya keheningan ia kembali masuk ke dalam kamar,ia hawatir ibunya akan mendengar pembicaraan mereka karna hari ini ibunya datang menginap di rumahnya ia berbaring di kasurnya.
"Ada apa sayang??" Fitri pun mulai berbicara "Ayah Adam sudah menyadari surat terakhir itu bukan surat yg di tulis anaknya." Abel yg mendenar hal itu terkejut "Apa, bagai mana mungkin kita harus bisa menghancurkan bukti itu."
Fitri setuju dengan pendapat Abel "Kau benar sayang, Aku butuh saran mu apa yg harus ku lakukan." Peria berpikir sejenak dan akhirnya ia memiliki ide "Bagai mana kamu pura pura membersihkan kamar Adam lalu tanpa segaja kamu membung surat itu karan mengira itu sampah, kamukan sudah pak tua itu anggap anak sendri pasti dia takan marah."
Rahel mengerti apa maksud Abel "Baik sayang, besok akan aku lakukan.." Addy pun kembali melanjutkan kata katanya "Kamu juga harus bisa menyiapkan rencana lain siapa tau rencana ku ini gagal dan aku bisa menggunakan rencana lain."Fitri menjawabnya "Tenag saja aku akan menyiapkanya.".
Kesokanya benar saja gadis itu ke rumah Adam dan menemui menemukam peria paruh baya itu di ruang tamu "Asataga papa pada, saat aku kerumah sakit papa gak ada , rupanya papa sudah pulang."
Gadis itu mendekati Dion dan duduk di sebelahnya "Apa papa merindukan kak Adam." Peria itu terlihat serius "Ya sayang tapi papa mendapt informasi penting mengenai kematian Adam, sepertinya dia bukan bunuh diri tapi di di bunuh."
Fitri yg mendengar hal itu di buat terkejut 'Pak tua ini pasti berencan untuk menyerahkan bukti itu kepada polisi tapi sepertinya gak akan pernah terjadi karna aku takan membiarkanya.' Gadis itu mendekati mertuanya "Boleh gak rahel meliht kamar kak Adam, entah kenapa aku merindukan aroma pakianya, sekalin sebgai pengobat rasa rinduku pada dia."
Peria itu tersenyum "Tentu saja, lagi pula aku juga merasa sepertinya kita harus mengosongkan kamar itu. Setiap papa melewati kamar itu hati papa tetasi sedih dan sangat merindukan kehadiranya." Dan Fitri dengan begitu antusiasnya berbicara "Biar Fitri aja yg kosongkan."
Peria sempat terkejut namun Fitri dengan pandainya merayu ayah mertuanya itu "Apa papa gak mau Fitri yg mengosongkan kamar itu.." wanita licik mengelurkan ekspresi sedih dan peria paruh baya yg itu mengangguk "Terserah kamu saja, papa percaya pada mu." Gadis itu brgitu bahgia lalu memeluk Ayah mertuanya itu.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments